Meditasi Harian 25 Desember 2015 ~ HARI RAYA NATAL

SUKACITA YANG BERASAL DARI SEORANG BAYI

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2: 11 – 12)

image

Saudara-saudari terkasih,

Hari Raya Natal merupakan suatu perayaan iman akan Allah yang menjadi manusia, karena Kasih. Kata “Natal” sendiri mempunyai suatu makna yang sangat dalam. Bagi banyak orang, termasuk mereka yang belum atau tidak beriman, mendengar atau membayangkan arti kata “Natal” saja sudah membawa kegembiraan, sukacita, dan senyum bahagia. Bagi sebagian orang, Natal mungkin hanya identik dengan pesta, Santa Claus dan hadiah, lampu-lampu hias dan pohon natal yang bernyala dengan indah, atau mungkin aneka kue dan makanan yang lezat.
Akan tetapi, gambaran keliru akan arti Natal yang diciptakan oleh dunia modern saat ini, seringkali mengaburkan kita dari kenyataan dan misteri agung yang terjadi dalam kandang hina di suatu kota kecil bernama Bethlehem.
Diawali dengan kabar sukacita dari Allah melalui malaikat-Nya, Gabriel, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, lalu kepada Yosef, yang kemudian menjadi suami-Nya. Maria mungkin hanyalah seorang gadis sederhana, tetapi jawaban Imannya membuat gadis ini menjadi luar biasa, terberkati di antara semua wanita, mengguncangkan surga dalam sukacita, dan menempatkannya sebagai permata terindah dalam sejarah kekristenan. Seandainya tidak ada “Fiat” Maria, keselamatan tidak akan datang ke dalam dunia, dan selamanya kita akan tinggal dalam kegelapan. Pernyataan “jadilah padaku menurut perkataan-Mu”, menjadikan Maria sebagai saksi pertama dari sukacita Injil bagi seluruh umat manusia.

Dalam diri Yosef, suaminya, kita pun bisa melihat kebesaran hati yang berasal dari relasi pribadi-Nya yang mesra dengan Allah. Ketaatannya kepada hukum Tuhan, semakin sempurna dan nyata dalam ketaatannya menerima tugas sebagai suami Perawan Maria dan bapa pemelihara Tuhan kita Yesus Kristus. Sama seperti Maria, Yosef memberikan kita teladan bagaimana berjalan di tengah kegelapan iman. Kegelapan tidak lagi gelap bagi mereka, karena mereka telah dibutakan oleh cahaya kasih Ilahi.
Melalui permenungan akan peristiwa, tempat, dan tokoh lainnya dari peristiwa Natal ini, kita pun dapat merefleksikan bagaimana kita sendiri menyikapi kedatangan Tuhan dalam hidup kita. Bagaimana Maria tergerak menempuh perjalanan mengunjungi Elisabeth untuk membagikan kabar sukacita, mengajar kita untuk tidak pernah menyimpan segala karunia, talenta, dan berkat Tuhan bagi diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk berbagi, agar orang lain turut mengalami kasih Allah yang mengubahkan itu. Itulah kepenuhan sukacita kita.

Ketiadaan tempat menginap, pintu-pintu yang tertutup, ketukan dan salam tak berbalas, menggambarkan hati manusia yang seringkali tertutup terhadap keselamatan dari Allah, suatu ketakutan untuk meninggalkan manusia lama, keengganan untuk memutuskan persahabatan dengan dosa, suatu tindakan yang melukai hati Tuhan sebab memperlihatkan bagian terburuk dari hati manusia yang tidak mau disentuh dan diubah oleh sentuhan rahmat Ilahi.
Bahwa para Majus dari Timur keluar dari negeri mereka untuk melakukan perjalanan mengikuti cahaya bintang, mengungkapkan suatu sikap iman seperti Abraham yang keluar meninggalkan negerinya menuju Tanah Terjanji. Bagaikan mempelai wanita dalam Kidung Agung yang keluar dari peraduannya untuk mencari Sang Kekasih yang telah melukainya dalam nyala api cinta. Inilah yang dimaksud oleh St. Yohanes dari Salib dalam kata-katanya, “Untuk memperoleh Yesus Kristus, Sang Segala, lepaskanlah segala.

Penolakan Herodes dan nafsu membunuhnya yang berujung pada pembantaian kanak-kanak suci Bethlehem, menunjukkan bahwa ketika manusia secara sukarela menjadi budak dosa dan maut, dia sanggup melakukan hal-hal yang merupakan kekejian dan jahat di mata Tuhan, serta merusak citra Allah dalam diri-Nya. Kita pun bisa melihat hal yang sama saat ini di sekitar kita, dimana orang sanggup membunuh saudara dan saudarinya dalam nama Tuhan maupun ideologi yang keliru, bahkan lebih jahat dari Herodes, setiap hari kita pun mendengar maupun melihat banyak ibu yang tega menggugurkan kandungannya, membunuh darah dagingnya sendiri.

Kenyataan bahwa para penggembala adalah yang pertama tiba untuk memberi hormat di depan Sang Bayi mungil Bethlehem, seolah memberikan suatu kenyataan bahwa seringkali misteri Ilahi lebih mudah diterima oleh hati yang sederhana, mereka yang merangkul putri kemiskinan adalah mereka yang pada akhirnya beroleh mutiara yang paling berharga. Mereka yang lemah lembut hatinyalah yang pada akhirnya akan memandang Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Perayaan Natal pun adalah suatu perayaan keluarga. Sebagaimana Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dan dibesarkan dalam sebuah Keluarga Kudus yang mencintai hukum Tuhan serta saling mengasihi, demikian pula peristiwa Natal mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya untuk memelihara kehidupan bukannya melenyapkannya, untuk berpegang teguh pada moral Kristiani dan Ajaran Sosial Gereja. Tentu saja ini merupakan tantangan dan perjuangan Iman tersendiri di tengah dunia yang semakin mengerdilkan peran keluarga dalam membangun dunia, di saat penghargaan akan martabat manusia semakin rendah, dan di saat banyak orang mencoba memberikan makna dan bentuk baru yang keliru akan pernikahan dan keluarga. Di tengah kemerosotan tatanan hidup yang demikian, keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya sukacita Natal, dan menghalau kegelapan. Jadilah keluarga yang kudus dan merasul! Jadilah putra-putri Gereja yang dengan dipenuhi sukacita Injil.

Kita kini hidup di tengah dunia yang semakin kehilangan sentuhan dengan yang ilahi. Gambaran-gambaran yang keliru dan kegemerlapan perayaan Natal palsu yang ditampilkan oleh dunia sekuler saat ini, telah mengaburkan iman kita dari kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dalam sebuah kandang hina Bethlehem. Ini pulalah yang selalu membawa Gereja pada kesadaran akan misinya bagi kaum miskin papa dan menderita, sekaligus mengingatkan Gereja untuk tidak jatuh dalam bahaya kemapanan dan kegemilangan harta. “Bagi saya, lebih baik Gereja itu rapuh, terluka dan kotor karena turun ke jalan-jalan, ketimbang Gereja yang sakit lantaran tertutup dan sibuk memperhatikan kemapanannya sendiri,” demikian kata Bapa Suci Paus Fransiskus.

Saudara-saudari terkasih,

Makna Natal yang sejati adalah perayaan kasih Allah akan dunia. Suatu kabar sukacita yang secara sempurna terangkum dalam kata-kata St. Yohanes Rasul, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Sang Bayi mungil dari Bethlehem ini menjadi tanda bahwa kebesaran Allah bukan saja terlihat pada kemahakuasaan-Nya, melainkan juga dalam kelemah lembutan dan kerendahan hati-Nya. Di saat banyak pemimpin dunia yang mencoba menunjukkan bahwa kekuasaan dan kehormatan hanya bisa didapat dari ketakutan, peperangan, pemaksaan kehendak, perbudakan dan dorongan untuk menghalalkan segala cara, serta melihat jabatan dan kekuasaan sebagai milik yang harus dipertahankan, di tengah segala semuanya itu misteri Natal menjadi tanda perbantahan, dimana Tuhan, Sang Raja Alam Semesta, justru memancarkan kemuliaan dan kuasa-Nya dalam kerapuhan dan ketidakberdayaan seorang Bayi. Dia dihormati dan disembah oleh surga dan bumi, karena kesediaan-Nya untuk mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya, dan menjadi manusia. “Allah menjadi manusia, supaya manusia menjadi (partisipatif) Allah,” demikian gambaran indah dan tepat dari St. Athanasius mengenai misteri agung ini.

Marilah kita berdoa agar di Tahun Yubileum Kerahiman ini, kita semua semakin menyadari belas kasih Bapa yang mengutus Putra-Nya untuk masuk ke dalam dunia. Kedatangan Kristus telah membuka Pintu Kerahiman Allah bagi dunia.
Berdoalah bagi mereka yang saat ini harus merayakan Natal dalam berbagai situasi sulit kehidupan, dalam penganiayaan dan peperangan, dalam kesepian dan keterasingan, dalam penjara dan belenggu dosa, dalam kemiskinan dan ketidakadilan, dalam sakit dan sakratul maut. Semoga cahaya Kristus menerangi hidup kita semua, mendatangkan perubahan hati untuk memandang Bayi Kudus di Bethlehem, dalam keheningan yang mendamaikan serta membebaskan.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi penunjuk jalan yang aman bagi kita menuju Yesus, Putera-Nya, agar lewat tuntutan kasih keibuan dan doa-doanya, kita semakin dipenuhi sukacita yang berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem. Dia yang lahir dalam kesederhanaan, dalam kerapuhan seorang bayi, kiranya membuat kita tersungkur dalam kekaguman akan misteri agung cintakasih Allah ini.

Bersama dengan St. Josemaria Escriva, saya berdoa bagi anda sekalian, “Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.

Regnare Christum volumus !

SELAMAT NATAL

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 7 Oktober 2015 ~ Pesta Santa Maria Ratu Rosario Suci

image

DOA MENGUBAH SEGALANYA

Bacaan:
Kis.1:12-14 atau Yun.4:1-11; Mzm.86:3-6.9-10; Luk.1:26-38 atau Luk.11:1-4

Renungan:
Doa selalu sanggup mengubah segala sesuatu. Pertempuran di Lepanto adalah salah satu dari sekian banyak bukti kuasa doa, terutama doa Rosario. Bagaimana dalam keadaan dimana kemenangan seolah mustahil, armada Kristen yang kalah jumlah dapat mengalahkan armada Kesultanan Turki, tepat pada tanggal 7 Oktober 1571.
Itulah sebabnya, sebagai rasa syukur, hari ini dan sepanjang bulan ini, dipersembahkan oleh Gereja Kudus kepada St. Maria Ratu Rosario Suci.
Karena doa Rosario dan ke-pengantara-an Maria, Tuhan Allah berkenan menganugerahi umat beriman kemenangan dan sukacita di dalam Dia.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi-Nya. Seringkali rahmat Tuhan itu semakin dirasakan justru dalam peristiwa-peristiwa paling menyulitkan, paling mendukakan, paling mencekam dalam hidup kita.
Dalam keadaan dimana segala daya upaya manusia seolah tak membuahkan hasil, pada waktu itu roh yang dihembuskan ke dalam jiwa kita sewaktu penciptaan berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan, membuat jiwa semakin rendah hati untuk berlutut dalam doa dengan tangan terentang ke atas, dengan pandangan ke arah salib, untuk memohon belas kasih Allah.

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam. Yang senantiasa berseru, “Abba – Bapa“. Bahwa kita boleh menyapa Allah sebagai Bapa, itupun seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, yang memberanikan kita untuk menapaki padang gurun dunia ini. Suatu keyakinan bahwa Bapa tidak mungkin menelantarkan anak-Nya, apalagi membiarkannya binasa.
Di dalam Dia, tidak ada doa yang dibiarkan tak terjawab. Entah jawabannya, “Ya“, “Tidak“, atau “Belum Saatnya“, Tuhan selalu mendengarkan dan menjawab doa kita.

Akar kerisauan kita, ketidakmengertian kita, maupun kesulitan kita untuk menerima jawaban Tuhan, sebenarnya bersumber dari kegagalan kita untuk berlaku sebagai seorang anak.
Kita menyapa Dia “Bapa“, namun itu tidak disertai dengan cinta bakti sebagaimana layaknya seorang “Anak“.
Kita berteriak memanggil Dia “Bapa“, tetapi dalam hidup harian tak jarang kita tidak berlaku sebagaimana seharusnya seorang “Anak.”
Meminta pengampunan, tetapi tidak mau mengampuni; meminta pertolongan, tetapi tidak pernah menolong; meminta rezeki, tetapi tidak pernah memberi, apalagi untuk memberi dari kekurangan; meminta keselamatan jiwa sendiri, tetapi tidak mau merasul untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa sesama; mengharapkan hujan berkat, tetapi menutup keran berkat bagi orang lain; meminta kekudusan, tetapi dengan tahu dan mau berulang kali jatuh dalam dosa yang sama; mengarahkan pandangan ke surga, tetapi tidak mau peduli untuk mengajak orang lain agar mengarahkan pandangan yang sama ke surga, malah lebih jahat lagi, turut serta menjadi rekan kerja si jahat, dan menyeret sesamanya ke dalam jurang kebinasaan, ke dalam kegelapan kekal.

Maka, sebenarnya doa tidak pernah tak terjawab. Doa itu selalu terjawab. Bagaimana kita memahami jawaban Tuhan, sangat ditentukan oleh relasi pribadi kita dengan Dia. Suatu relasi mesra, sebagaimana dimiliki oleh Ibu kita, Maria.
Keterpesonaan cinta yang memampukan Maria dalam segala situasi hidup, seberat apapun itu, bahkan sekalipun diselubungi awan ketidakmengertian, namun Maria tetap bersukacita dan berseru, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk.1:38)

Maria adalah teladan kerasulan doa. Dia tidak hanya menjadi teladan para guru rohani di puncak gunung kemuliaan, melainkan terlebih merupakan teladan bagi mereka yang baru mulai menapaki pendakian rohani menuju Allah. Lewat lereng dan lembah hidup, selama engkau melangkah dengan Rosario di tangan, Salam Maria didaraskan dari bibirmu, dan asalkan kamu sungguh mau merendahkan diri untuk dibentuk Tuhan, maka perjalananmu dalam doa perlahan-lahan akan mulai memurnikan dan membawa jiwamu pada kesempurnaan.
Jangan pernah mau dibodohi oleh si jahat untuk berhenti berjalan naik, untuk berhenti mendaki dalam doa. Rosario adalah senjata yang sangat ampuh mengalahkan setan dan segala kuasa jahatnya. Doa Rosario itu semakin bernilai apabila dilakukan dalam kekeringan dan ketiadaan niat untuk berdoa. Oleh karena itu, berdoalah senantiasa.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam.

Dengan meneladani dan memiliki cinta yang sempurna seperti Maria, yang mencari kehendak Tuhan siang dan malam, setiap orang beriman pada akhirnya akan menyadari bahwa sejatinya doa itu bukanlah soal meminta, melainkan “mencinta“.
Pada saat engkau menyadari itu, pada waktu itulah mata rohanimu akan terbelalak karena menyadari bahwa “Sungguh…doa mengubah segala sesuatu.
Suatu kesadaran yang disertai keheningan dalam kekaguman serta rasa syukur.

Semoga doa yang diajarkan oleh Tuhan kita, tidak hanya memberanikan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, melainkan juga menyadarkan kita untuk sungguh bersikap sebagaimana layaknya seorang anak.
Dan kiranya St. Maria Ratu Rosario Suci membimbing kita dengan tuntunan kasih keibuannya, agar di Bulan Rosario ini kita menjadi pribadi, keluarga, dan komunitas yang berdoa.
Semoga Salam Maria yang kita daraskan menjadi rangkaian bunga mawar yang indah di Tahta “Abba – Bapa” kita.
Tetaplah berdoa bagi Sinode Keluarga, yang kini memasuki hari-4, dan mohonkanlah karunia pertobatan dan doa bagi semua orang, khususnya mereka yang masih bersikeras mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa, tanpa Tuhan.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Umat Kristen menanggapi ISIS

Video Inspiratif ini dibuat oleh umat Kristen sebagai respon terhadap misi ISIS yang ingin melenyapkan kekristenan dan ingin mengancurkan Kota Suci Roma.
Video dengan judul, “A Letter from the People of the Cross to ISIS” ini semakin populer di dunia maya akhir-akhir ini dan telah diterjemahkan juga ke dalam bahasa Arab.
Berikut transkrip teks bahasa Inggris dalam video. Bagi yang ingin membaca terjemahannya dalam Bahasa Indonesia, silakan gunakan fitur google translate yang tersedia pada sudut kanan atas.

TRANSCRIPT

The world is talking about you
Your apocalyptic dreams and spectacular sins
Are now awakening the middle east
In your holy war, come to holy ground
Come children of Abraham come
The people of the cross gathers at your gates with a message

Love is coming after you.
Like a rush of wind grazing over the pacific
From hills of the mount of olives to the desert winds of Jordan
From the cedars of lebanon to the silk roads of the East
An army comes. With no tanks or soldiers
But an army of martyrs faithful unto death
Carrying a message of life
The people of the cross 
Comes to die at your gates. 
If you wont hear our message with words
Then we will show you with our lives
Laid down.

For every throat you slit and every woman you rape
For every man you burn and every child you turn to dust
There is blood on your hands brother

But Come Brothers Come

Come with your bloodstained hands,
Come with your eyes full of murder for the people of the Cross,
Come lay your guns and your knives at the foot of the cross
A love that is overdue and overwhelming
Breathes through your cities

Though your sins are like scarlet
They can be washed white as snow
Though you call yourselves servants
He will make you into Sons
Where can you run from His love?
Even the darkness cannot hide you

Come Brothers Come
There is the sound of a rushing rain
To remove your sins and bind your wounds
You die for your god but our God died for us 
The King of Kings comes to be the sacrificial lamb
Slain on the altar where we should have been
Jesus Christ, Isa Al Masih
Walks through the Middle East

There is forgiveness tonight oh brother
There is healing for your sins oh brother
We are no different.
Apart from Christ, we are no better than the worst jihadist
Christ has been crucified once. and for All.
To make sinners like you and me into brothers
Even you.
Even now.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan III Paskah

image

BAHAYA KEKRISTENAN PALSU

Bacaan:
Kis.6:8-15; Mzm.119:23-24.26-27.29-30; Yoh.6:22-29

Renungan:
Hidup Kristiani zaman sekarang seringkali diselubungi dengan gambaran yang keliru akan kehadiran Tuhan dan rahmat-Nya.
Gambaran yang keliru ini menyebabkan banyak orang yang mencari Yesus dengan motivasi yang tidak tepat.
Hal yang sama kita temukan dalam Injil hari ini.
Sesudah mukjizat perbanyakan roti, orang-orang mencari Yesus dengan harapan bahwa Yesus akan mengenyangkan mereka. Tetapi, mereka gagal melihat arti sebenarnya dari tanda atau mukjizat perbanyakan roti itu.
Kegagalan yang sama juga dialami oleh banyak pengikut Kristus saat ini. Mencari mukjizat dan urapan, mencari kemakmuran dan kemapanan finansial, mencari berbagai bentuk variasi ibadah untuk lebih memuaskan kelemahan rohani yang merendahkan liturgi suci dan hanya melihatnya sebagai sarana pemuasan diri.
Malahan, bahaya penyesatan saat ini nampak begitu jelas dalam mereka yang menyebut diri “gereja” dan mengedepankan “makanan yang tidak mengenyangkan” itu layaknya barang jualan untuk mencari pengikut, yang merendahkan evangelisasi pada level advertising.
Mereka tidak ada bedanya dengan pedagang barang-barang palsu di pinggir jalan, atau makanan yang dari luar kelihatan menggiurkan tetapi begitu busuk di dalamnya.
Para pengikut kekristenan palsu demikian ibarat kutu loncat, yang berpindah-pindah, tidak mengakar, dan mencari Tuhan hanya demi kekenyangan sementara.
Jangan pernah mendasari pencarianmu akan Tuhan dan rahmat-Nya, pada ketidakmurnian iman yang demikian. Jangan menempatkan hidup berimanmu dalam Gereja pada tingkatan yang serendah itu, sehingga apabila kekenyangan semu demikian tidak ditemukan, anda tidak berhenti mengikuti Yesus.
Kekristenan yang didasarkan pada kenyamanan palsu yang demikian telah menyebabkan kejatuhan banyak putra-putri Gereja di sepanjang sejarah.
Jangan ikut Yesus karena motivasi cinta yang tidak murni semacam itu, sehingga cintamu tidak didasarkan pada apa yang Tuhan beri atau apa yang tidak kamu dapatkan di dalam Dia.
Cinta semu yang demikian akan membuatmu selalu lapar dan tidak pernah merasa kenyang.
Kenyangkanlah dirimu dengan makanan yang tidak dapat binasa, untuk membuatmu bertahan sampai kekekalan, yakni Yesus, Roti Kehidupan Sejati.
Dia selalu memberikan Diri-Nya sebagai santapan rohani dalam Misa Kudus.
Kerjakanlah keselamatanmu dengan tekun dan setia menyambut Ekaristi Kudus, sesering mungkin.
Kekristenan tanpa Ekaristi adalah cacat dan tidak tahan uji.
Jika Kristus tidak ingin membubarkan orang-orang Yahudi tanpa makanan di padang gurun karena takut mereka mungkin akan ambruk di tengah jalan, ini untuk mengajarkan kepada kita bahwa sangat berbahaya untuk mencoba pergi ke Surga tanpa bekal Roti Surgawi (Sakramen Ekaristi),” demikian kata St. Hieronimus.
Mereka yang menjadi rasul-rasul Ekaristi dengan tekun dan setia, pada akhirnya menjadi mereka yang benar-benar memahami dan menghidupi kata-kata St. Teresa dari Avila, “Solo Dios basta – Good alone is enough – Allah saja cukup.
Kesadaran sejati bahwa “Allah saja cukup” itulah yang membawa kita pada keberanian iman seperti St. Stefanus dan para martir iman lainnya di sepanjang sejarah Gereja.
Keberanian yang memampukan seorang kristen sejati untuk kehilangan segalanya, bahkan nyawanya sendiri, demi memperoleh Kristus, Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando

MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

image

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan Injil (sebelum perarakan Palma)
Mrk.11:1-10 atau Yoh.12:12-16
Madah Perarakan Palma
Hosanna Filio David
Bacaan I
Yes.50:4-7
Mazmur Tanggapan
Mzm.22:8-9.17-18a.19-20.23-24
Bacaan II
Flp.2:6-11
BACAAN INJIL
Mrk.14:1 – 15:47
Catatan: Sejalan dengan Tradisi Suci, Bacaan Injil mengenai Kisah Sengsara Tuhan ini wajib “dilagukan/dinyanyikan”.

Renungan:
Penderitaan adalah bagian dari kemanusiaan. Siapapun yang berkeinginan untuk mengenyahkan penderitaan, haruslah juga menyingkirkan Cinta atau Kasih itu sendiri, karena seseorang tidak mungkin mencintai secara sempurna tanpa penderitaan, luka, dan rasa sakit.
Kesejatian cinta mengandung pula kesediaan untuk mengurbankan diri.
Inilah ukuran kedewasaan rohani dan ke-sejati-an cinta seseorang, yakni seberapa besar kesediaannya untuk mengurbankan segala-galanya, termasuk nyawanya sendiri.
Inilah juga yang semakin hilang dari dunia ini. Banyak orang tidak dapat lagi melihat, atau lebih tepatnya menolak konsekuensi dari cinta, yaitu penderitaan.
Mereka sulit menerima kenyataan bahwa cinta yang sejati haruslah terluka.
Akibatnya, banyak orang pun sulit sekali menerima kenyataan yang kedua dari cinta, yakni sebagaimana cinta haruslah siap terluka dan menderita, cinta yang sejati juga harus selalu mengampuni.
Pengampunan adalah bagian terindah dari cinta, paripurna dari pengurbanan diri yang sejati.
Ketiadaan dari sikap bersedia untuk terluka, menderita, dan mengampuni, berarti pula ketiadaan cinta.
Setiap orang yang mengurbankan dirinya untuk mencintai sampai terluka, menderita, dan mengampuni dengan sendirinya menyempurnakan martabat manusiawinya, dan menjadikan dirinya semakin Ilahi.
Mereka yang menolak hakekat cinta ini berarti hatinya membatu dan egois (cinta diri yang keliru), menolak untuk menerima dan mengasihi orang lain sebagaimana Allah menerima dan mengasihi mereka.
Kalau Allah menerima dan mengasihi bagian-bagian terburuk dari kemanusiaan dan bersedia mengampuni dan menyembuhkannya, demikian pula setiap orang beriman, tanpa kecuali, dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Jadi, bilamana Gereja Katolik hari ini memperingati Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, sebenarnya hendak mengajak seluruh dunia untuk memandang keagungan cinta Tuhan, dan serentak mengajak kita untuk merenungkan panggilan Kristiani kita untuk mencintai sampai sehabis-habisnya.
Kendati Tuhan Yesus memasuki Yerusalem diiringi sorak-sorai dan kehormatan sebagai Raja, di balik sukacita itu sebenarnya Tuhan dan Penyelamat kita sedang memulai perjalanan akhir-Nya untuk merangkul penderitaan, yang akan memuncak pada kematian-Nya di Salib.
Dia sepenuh-Nya tahu bahwa di balik sorak-sorai dari mereka yang berseru, “Hosanna! Hosanna!”, sebagian besar dari mereka beberapa hari ke depan akan menjadi orang yang sama yang akan berteriak histeris, “Salibkan Dia! Bunuh Dia!”

O Cinta yang mengagumkan…Cinta sehabis-habisnya dari Tuhan dan Penyelamat kita.

Dialah Raja Damai yang datang menunggangi keledai, bukannya kuda perang. Di saat dunia mengartikan kuasa sebagai penindasan terhadap orang lain, mencari kehormatan dengan kekerasan, mencari pembenaran untuk membantai sesama pada ideologi agama dan pembelaan yang keliru atas nama Tuhan, di tengah ketiadaan cinta dari dunia ini, di Minggu Palma ini Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa kebesaran seorang Penguasa, kebesaran Tuhan Allah semesta alam, justru nampak dalam kelemahan lembutan Hati-Nya.

Inilah ke-Katolik-an. Inilah iman Kristiani kita. Kita dipanggil untuk mencinta.
Jangan disilaukan oleh sukacita dan kegembiraan sambutan khalayak di Yerusalem, sampai tidak bisa melihat “Kalvari” di balik semuanya itu.
Kiranya kita senantiasa mengarahkan pandangan pada Salib Tuhan sebagai sumber kekuatan kita untuk mengasihi sampai sehabis-habisnya, dan semoga Santa Perawan Maria, hamba Allah yang menyimpan semua perkara dalam hatinya yang penuh cinta sampai digelari “Mater Dolorosa” (Bunda Dukacita), menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya. Ibu Maria, doakanlah kami, agar setia dalam cinta di jalan salib Yesus, Putramu.

Selamat memasuki Pekan Suci.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa V Prapaska

image

KEGAGALAN MEMANDANG SALIB

Bacaan:
Bil.21:4-9; Mzm.102:2-3.16-18.19-21; Yoh.8:21-30

Renungan:
Salah satu kegagalan Kekristenan terbesar di masa sekarang ini adalah kegagalan untuk “memandang” Salib.
Sama seperti Musa dan bangsa Israel di padang gurun mengalami bahaya kebinasaan oleh ular-ular tedung dengan racun yang mematikan, demikian pula dunia kita saat ini dipenuhi dengan berbagai macam racun dan ular yang mematikan yang hadir dalam rupa-rupa bentuk dan cara seperti konsumerisme, seks bebas, pornografi, korupsi, atheisme praktis, penyembuhan alternatif yang tidak kristiani, aborsi, euthanasia, pernikahan sesama jenis, rekayasa genetika, dan masih banyak lagi.
Kita gagal memandang dan menemukan kekuatan dari Salib.
Tak jarang, kita mengkompromikan Iman dengan dalih supaya lebih sesuai dengan tuntutan zaman.
Bahkan dalam banyak gereja, adalah jauh lebih mudah membicarakan mukjizat, urapan, kemakmuran dan hidup yang selalu diberkati dalam Tuhan dengan kelimpahan susu dan madu, daripada membicarakan tentang penderitaan dan Salib serta menemukan kekuatan darinya.
Untuk mengalahkan dunia dengan segala kejahatannya, dan untuk memampukan kita menolak semua tawaran si jahat, para pengikut Kristus harus belajar mencintai dan merangkul Salib.
Kekristenan tanpa Salib adalah dusta.
Satu-satunya obat dan penawar racun dunia saat ini hanyalah Salib Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.
Setiap orang yang “memandangnya” akan tetap “hidup”.

Pax, in aeternum.
Fernando