Meditasi Harian 12 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIX

image

TEGURAN DALAM KASIH PERSAUDARAAN

Bacaan:
Ul.34:1-12; Mzm.66:1-3a,5,16-17; Mat.18:15-20

Renungan:
Injil hari ini berbicara secara khusus tentang pentingnya rekonsiliasi dalam hidup bersama sebagai anggota Gereja. Sebagaimana dalam diri kita masing-masing kita dapati banyak kekurangan, kejatuhan, dan kesalahan bersikap, demikian pula kita hendaknya tidak kaget bila menemukan kekurangan, kejatuhan, dan kesalahan dalam diri sesama.
Sejauh itu bukan didasari keinginan jahat untuk mencari kesalahan, atau kecenderungan daging untuk menghakimi, seorang beriman wajib untuk menegur kesalahan saudara-saudarinya, demi kebaikan orang itu dan dalam kasih persaudaraan akan dia.
Seringkali kita menghindari untuk mengoreksi suatu kekeliruan atau kesalahan karena ingin main aman, menghindari konflik, atau tidak mau menyinggung perasaan orang lain. Padahal, di dalam hati, kita sudah menimbun amarah, kekesalan, kebencian terhadap kesalahan sesama kita. Sikap yang demikian pada akhirnya dapat mematikan kemampuan kita untuk mencinta.
Menutup mata terhadap kesalahan bukanlah kasih yang sejati. Teguran yang nyata, bilamana dilakukan dalam kasih persaudaraan, itu sebenarnya merupakan ungkapan kasih yang sejati.
Ada banyak komunitas, jemaat, umat beriman yang kehilangan kehangatan kasih persaudaraan justru karena pemahaman yang keliru mengenai ungkapan kasih.

Kasih bukanlah pembiaran, mendiamkan masalah dalam keheningan, ketiadaan komunikasi yang berujung pada konflik berkepanjangan.
Kasih yang nyata selalu mendorong adanya komunikasi, dialog, bahkan teguran bilamana perlu. Harus ada hati yang berani menegur, dan harus ada pula hati yang siap ditegur.
Oleh karena itu, mohonkanlah selalu rahmat Allah, agar manakala diperhadapkan pada situasi yang demikian, kita diberikan kebijaksanaan untuk melakukan teguran dalam kasih persaudaraan dan demi kebaikan bersama. Demikian pula sebaliknya, manakala kita yang ditegur, kita pun diberikan kebesaran hati untuk menerima koreksi dari orang lain, dan berbalik dari kesalahan itu.
Hidup menggereja akan dipenuhi sukacita iman bilamana putra-putri Gereja selalu siap untuk mengucapkan kata, “Aku bersalah, ampunilah kesalahanku,” dan “Aku memaafkanmu.”
Semoga Santa Perawan Maria, Ratu pencinta damai, selalu memohonkan perdamaian dan rekonsiliasi bagi anak-anaknya, sehingga karena melihat kasih persaudaraan dalam Gereja, seluruh dunia dapat diubahkan oleh tanda Kekristenan yang paling nyata, yaitu cintakasih.

Pax, in aeternum.
Fernando