Meditasi Harian 12 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIX

image

TEGURAN DALAM KASIH PERSAUDARAAN

Bacaan:
Ul.34:1-12; Mzm.66:1-3a,5,16-17; Mat.18:15-20

Renungan:
Injil hari ini berbicara secara khusus tentang pentingnya rekonsiliasi dalam hidup bersama sebagai anggota Gereja. Sebagaimana dalam diri kita masing-masing kita dapati banyak kekurangan, kejatuhan, dan kesalahan bersikap, demikian pula kita hendaknya tidak kaget bila menemukan kekurangan, kejatuhan, dan kesalahan dalam diri sesama.
Sejauh itu bukan didasari keinginan jahat untuk mencari kesalahan, atau kecenderungan daging untuk menghakimi, seorang beriman wajib untuk menegur kesalahan saudara-saudarinya, demi kebaikan orang itu dan dalam kasih persaudaraan akan dia.
Seringkali kita menghindari untuk mengoreksi suatu kekeliruan atau kesalahan karena ingin main aman, menghindari konflik, atau tidak mau menyinggung perasaan orang lain. Padahal, di dalam hati, kita sudah menimbun amarah, kekesalan, kebencian terhadap kesalahan sesama kita. Sikap yang demikian pada akhirnya dapat mematikan kemampuan kita untuk mencinta.
Menutup mata terhadap kesalahan bukanlah kasih yang sejati. Teguran yang nyata, bilamana dilakukan dalam kasih persaudaraan, itu sebenarnya merupakan ungkapan kasih yang sejati.
Ada banyak komunitas, jemaat, umat beriman yang kehilangan kehangatan kasih persaudaraan justru karena pemahaman yang keliru mengenai ungkapan kasih.

Kasih bukanlah pembiaran, mendiamkan masalah dalam keheningan, ketiadaan komunikasi yang berujung pada konflik berkepanjangan.
Kasih yang nyata selalu mendorong adanya komunikasi, dialog, bahkan teguran bilamana perlu. Harus ada hati yang berani menegur, dan harus ada pula hati yang siap ditegur.
Oleh karena itu, mohonkanlah selalu rahmat Allah, agar manakala diperhadapkan pada situasi yang demikian, kita diberikan kebijaksanaan untuk melakukan teguran dalam kasih persaudaraan dan demi kebaikan bersama. Demikian pula sebaliknya, manakala kita yang ditegur, kita pun diberikan kebesaran hati untuk menerima koreksi dari orang lain, dan berbalik dari kesalahan itu.
Hidup menggereja akan dipenuhi sukacita iman bilamana putra-putri Gereja selalu siap untuk mengucapkan kata, “Aku bersalah, ampunilah kesalahanku,” dan “Aku memaafkanmu.”
Semoga Santa Perawan Maria, Ratu pencinta damai, selalu memohonkan perdamaian dan rekonsiliasi bagi anak-anaknya, sehingga karena melihat kasih persaudaraan dalam Gereja, seluruh dunia dapat diubahkan oleh tanda Kekristenan yang paling nyata, yaitu cintakasih.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 28 Juli 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XVII

image

KAMULAH SAHABATKU

Bacaan:
Kel.33:7-11 – 34:5b-9.28; Mzm.103:6-13; Mat.13:36-43

Renungan :
Untuk mengkomunikasikan Allah kepada dunia secara meyakinkan, seorang beriman terlebih dahulu harus punya komunikasi yang baik dengan Dia, sama seperti Musa yang bergaul akrab dengan Allah, berbicara muka dengan muka.
Pergaulan akrab dengan Dia dalam doa juga memampukan seorang insan Allah dalam hidup menggereja, maupun dalam karya, untuk lebih jeli membedakan mana lalang mana gandum, mana gandum yang terkadang  disalah mengerti orang sebagai lalang, dan mana lalang yang dengan lihainya menipu penilaian manusiawi karena menyamar seperti gandum.
Tanpa relasi yang mesra dengan Allah, seorang pemimpin rohani, pelayan atau rasul Kristus, dapat keliru atau menyerah terhadap gandum (jiwa) yang dikiranya lalang, dan dapat pula salah mempercayakan pelayanan dan karya kerasulan pada lalang yang berkedok sebagai gandum.
Perumpamaan lalang di antara gandum juga mengajar kita untuk rendah hati, bahwa meskipun Gereja adalah Kudus, kita sering menjumpai, baik diri kita sendiri maupun sesama anggota Gereja dalam ketidaksempurnaan, dalam kecacatan, dalam rupa-rupa kerapuhan.
Teladanilah sikap para rasul yang mendekati Yesus untuk mencari pemahaman, untuk dengan rendah hati mau diajar dan dibukakan pengertian, untuk mau dibentuk dan disempurnakan.

Tuhan selalu menjumpai dan hadir bagi umat-Nya tanpa terkecuali, tetapi sungguh sedikit dari antara umat kesayangan-Nya yang layak disebut “sahabat“.
Kita dipanggil untuk menanggapi cinta-Nya, serta melangkah perlahan, setapak demi setapak dalam tuntunan cinta dan mendekat pada-Nya sebagai sahabat.
Tidak semua cinta dapat menyamai kedalaman cinta seorang sahabat. Ini karena dalam persahabatan terjadi relasi cinta dua arah, dimana Allah mencinta dan kita menanggapi cinta-Nya. Relasi cinta dalam persahabatan pun dilandasi kerendahan hati untuk menerima segala, serta sikap murah hati untuk memberi diri secara total.
Semoga Allah menemukan dalam diri kita tanah yang subur bagi benih yang ditaburkan-Nya untuk berbuah, dan hati seorang sahabat yang selalu menanggapi panggilan-Nya untuk bergaul mesra dengan Dia dalam keakraban dan sembah bakti.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ HARI RAYA PENTAKOSTA

image

PENTAKOSTA VS BABEL

Bacaan:
Kis.2:2-11; Mzm.104: 1ab.24ac.29bc.30.31.34; Gal.5:16-25; Yoh.15:26-27. 16:12-15

Renungan:
Pentakosta adalah perayaan kesatuan umat dalam iman, pemahaman, kesaksian, dan komunikasi kasih.
Umat manusia saat ini dengan bangganya menyatakan bahwa dirinya semakin menjadi dekat satu dengan yang lain karena kemajuan dalam komunikasi, transportasi, teknologi, dan berbagai kemajuan zaman lainnya. Batasan-batasan geografis, suku, agama, dan budaya, seakan mulai sirna.
Kendati demikian, kitapun menyaksikan bahwa justru di tengah berbagai usaha manusia untuk mendekatkan diri satu sama lain dengan berbagai sarana dari kemajuan tersebut, peradaban kita saat ini semakin ditandai pula dengan berbagai bentuk kebencian, konflik, semakin sulitnya komunikasi dan kesepahaman antara generasi, kecenderungan untuk semakin menutup diri dan terjebak dalam arus jejaring sosial yang membuat manusia kehilangan komunikasi yang lebih nyata dan personal, pemaksaan nilai-nilai baru yang justru merusak martabat manusia, dan egoisme serta kerakusan untuk memenangkan kepentingannya sendiri dengan berbagai cara.
Jikalau demikian, dapatkah benar-benar dikatakan bahwa umat manusia zaman sekarang lebih dekat dibanding sebelumnya, semakin bersatu, semakin saling memahami dan saling berbagi?
Tidakkah usaha manusia saat ini memiliki kesamaan dengan keadaan di masa lalu saat menara Babel dibangun?

Kisah Babel adalah gambaran kemanusiaan yang ingin bersatu, ingin semakin saling memahami dan memiliki bentuk komunikasi yang sama agar lebih mendekatkan diri satu dengan yang lain, serta tidak ingin lagi tercerai-berai. Tetapi, segala usaha ini dilakukan tanpa Tuhan. Mereka merasa dapat menciptakan sendiri jalan ke surga, dan didorong oleh hasrat untuk menciptakan surga serta berkuasa atas hidupnya tanpa Tuhan.
Dan lihatlah, pada akhirnya yang terjadi justru kekacauan dan kehancuran.

Apa yang terjadi di zaman Babel, memiliki kesamaan dengan masa sekarang ini, hidup kita saat ini. Berbagai kemajuan dan ilmu pengetahuan telah memberi kita kekuatan untuk mendominasi kekuatan alam, untuk memanipulasi unsur-unsur dalam kehidupan kita, untuk mereproduksi makhluk hidup, hampir ke titik penciptaan manusia yang seutuhnya. Dalam situasi demikian, berdoa kepada Allah seolah menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman, sia-sia, karena kita dapat membangun dan menciptakan apapun yang kita inginkan tanpa Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa atas satu dan berbagai cara, kita sebenarnya menghidupkan kembali pengalaman yang sama seperti Babel.
Ada suatu paradoks, bahwa kendati dengan bangganya kita mengatakan atau mengklaim bahwa berbagai kemajuan saat ini telah membuat kita semakin dekat, semakin komunikatif, semakin bersatu, dan semakin saling memahami satu dengan yang lain, pada kenyataannya justru kita semakin enggan untuk saling memahami, semakin merasa tidak percaya, curiga, takut, terancam, menjatuhkan satu dengan yang lain.
Kalau demikian, apa yang sebenarnya yang salah? Bagaimana kita dapat benar-benar memiliki hidup dalam keharmonisan yang sejati?

Jawabannya ada dalam Kitab Suci: persatuan hanya bisa ada dan nyata bila Roh Allah juga berkarya di dalamnya. Sebab hanya oleh Roh-Nya kita dapat diberi hati yang baru dan lidah baru, kemampuan baru untuk berkomunikasi. Inilah yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada pagi itu, lima puluh hari setelah Paskah, angin kuat bertiup di atas Yerusalem, dan api Roh Kudus turun atas para murid yang berkumpul disitu. Roh Allah dalam rupa lidah-lidah api itu turun dan menetap di atas kepala masing-masing dari mereka, dan memicu di dalamnya api ilahi, api cinta yang mampu mengubah segala hal. Ketakutan mereka menghilang, hati mereka dipenuhi dengan kekuatan baru, lidah mereka dikendurkan dan mereka mulai berbicara dengan bebas, sedemikian rupa sehingga semua orang yang menyaksikan dan mendengar mereka, beroleh kesaksian akan Kristus yang bangkit. Pada hari Pentakosta, dimana ada perpecahan dan ketidaksepahaman, persatuan dan kesepahaman lahir.

Injil hari ini mengungkapkan penegasan Yesus akan hal ini dengan begitu indahnya: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh.16:13).
Dalam Injil hari ini, Yesus hendak juga menjelaskan bagaimana Gereja seharusnya menampilkan dirinya di tengah dunia, yakni kita dipanggil untuk menjadi tempat dimana semua orang dapat menemukan persatuan yang sejati, komunikasi kasih tanpa kepalsuan, jalan yang aman untuk bersatu dengan Allah. Gereja harus menjadi tempat dimana semua orang menemukan hati yang terbuka dan mencinta, dimana martabat manusia dihargai, dan dimana kehidupan senantiasa diperjuangkan dan memperoleh makna.

Dengan demikian, orang dapat melihat dengan jelas mengapa Pentakosta adalah Pentakosta, dan Babel adalah Babel.
Kitapun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, yang memperingatkan kita untuk senantiasa dipimpin oleh Roh, dan menjauhi kedagingan.
Pentakosta ditandai dengan buah-buah Roh, sedangkan Babel mengalami kehancuran karena didasarkan pada keinginan-keinginan daging.
Kita tidak bisa memiliki keduanya. Kita harus memiliki keberanian untuk memilih di pihak mana kita berdiri.
Semoga Perawan Suci Maria, Mempelai Roh Kudus, menjadi Bintang Timur yang menunjukkan jalan yang benar bagi kita, mengingatkan kita di pihak mana kita harus berdiri, agar sebagaimana Bunda Maria, kita senantiasa terbuka terhadap pimpinan Roh, kita pun membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dalam hidup kita, sehingga pada akhirnya kita boleh menemukan kesatuan, pemahaman, komunikasi kasih, dan iman yang sejati, yang membawa kita untuk beroleh keselamatan yang kekal di dalam Allah.

Veni Sancte Spiritus !

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Minggu Paskah VII

image

MINGGU KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE-49

Bacaan:
Kis.1:15-17.20a.20c-26; Mzm.103:1-2.11-12.19-20ab; 1 Yoh.4:11-16; Yoh.17: 11b-19

Renungan:
Gereja Katolik mengajarkan kita bahwa “Keluarga” adalah “Gereja Kecil“, “Gereja Rumah Tangga” (Ecclesia Domestica). Di dalam keluarga yang lengkap, Iman dapat tumbuh dengan lebih baik. Bagaimana cara kita dibesarkan dalam keluarga, nilai-nilai apa yang ditanamkan dalam keluarga, cara kita dididik dan dibesarkan dalam keluarga, sangat menentukan menjadi pribadi seperti apakah kita kelak.
Untuk menjadi Keluarga Katolik yang sejati, kita perlu mengkomunikasikan iman kita secara baik, benar, dan tepat.
Hari ini marilah kita merenungkan Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus di Minggu Komunikasi Sosial Sedunia Ke-49 ini, untuk melihat arti Keluarga Katolik sebagai tempat perjumpaan cintakasih dan bagaimana mengkomunikasikan keluarga di tengah berbagai bentuk kegagalan komunikasi dunia saat ini.

Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus

Untuk Hari Komunikasi Sedunia ke-49

Mengkomunikasikan Keluarga: Tempat Istimewa Perjumpaan Karunia Kasih

KELUARGA adalah sebuah pokok refleksi mendalam Gereja dan sebuah proses yang melibatkan dua Sinode: Sinode luar biasa baru-baru ini dan Sinode biasa yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. Maka, hemat saya, tepatlah bila tema untuk Hari Komunikasi Sedunia yang ke-49 semestinya menjadikan keluarga sebagai titik acuannya.

Bagaimanapun juga, dalam konteks keluarga itulah kita pertama-tama belajar bagaimana berkomunikasi. Memusatkan perhatian pada konteks ini dapat membantu menjadikan komunikasi kita lebih autentik dan manusiawi, seraya pada saat yang sama membantu kita melihat keluarga dalam perspektif baru.

Kita dapat menimba ilham dari perikop Injil yang mengisahkan kunjungan Maria kepada Elisabet (Luk 1:39-56). ”Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: ‘Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu’” (ay. 41-42).

Kisah perikop itu sekali lagi memperlihatkan bagaimana komunikasi itu pada dasarnya juga melibatkan bahasa tubuh. Respon Elisabet atas salam Maria pertama-tama diekspresikan oleh bayi di dalam kandungannya yang melonjak kegirangan. Merasakan sukacita karena berjumpa sesama –suatu pengalaman personal yang kita alami, bahkan sebelum lahir pun- dalam arti tertentu merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi.

Rahim adalah “sekolah” komunikasi yang pertama, tempat mendengarkan dan kontak fisik di mana kita mulai mengakrabkan diri dengan dunia luar dalam sebuah lingkungan yang terlindung, dengan suara yang menenteramkan dari detak jantung sang ibu. Pertemuan di antara dua orang, yang saling terkait begitu erat namun tetap berbeda satu sama lain, sebuah pertemuan yang sarat janji, adalah pengalaman komunikasi kita yang pertama. Ini adalah pengalaman yang kita semua miliki, karena masing-masing kita terlahir dari seorang ibu.

Bahkan setelah kita terlahir ke dunia, dalam arti tertentu kita masih tetap berada dalam sebuah “rahim”, yakni keluarga. Sebuah rahim terdiri dari berbagai orang yang saling terkait: keluarga adalah tempat “di mana kita, meskipun berbeda, belajar hidup bersama orang lain” (Evangelii Gaudium, 66). Betapapun ada perbedaan jenis kelamin dan usia di antara mereka, namun para anggota keluarga menerima satu sama lain karena ada ikatan di antara mereka. Semakin lebar cakupan relasi ini dan semakin besar perbedaan usia, maka akan semakin kaya lingkungan hidup kita. Ikatan inilah yang merupakan akar bahasa, yang pada gilirannya memperkuat ikatan tersebut. Kita tidak menciptakan bahasa kita; kita dapat menggunakan bahasa karena kita telah mewarisinya. Di dalam keluarga inilah kita belajar menuturkan “bahasaibu”, yaitu bahasa dari mereka yang telah mendahului kita. (Bdk. 2 Makabe 7:25, 27). Di dalam keluarga kita menyadari bahwa ada orang-orang lain yang telah mendahului kita, mereka memungkinkan kita untuk berada dan pada gilirannya kita mesti menghasilkan kehidupan dan melakukan sesuatu yang baik lagi indah. Kita mampu memberi karena kita telah menerima. Lingkaran luhur ini merupakan intipati kemampuan keluarga untuk berkomunikasi di antara para anggotanya dan dengan orang-orang lain. Secara umum, lingkaran tersebut adalah model untuk semua komunikasi.

Pengalaman tentang relasi yang “mendahului” kita memungkinkan keluarga untuk menjadi latar di mana bentuk komunikasi yang paling dasar, yaitudoa, diwariskan. Ketika para orangtua menidurkan anak-anak mereka yang baru lahir, mereka sering kali mempercayakan anak-anak itu kepada Tuhan, seraya memohon agar Ia menjaga mereka. Ketika anak-anak itu bertambah usia, para orangtua membantu mereka untuk mendaraskan beberapa doa sederhana, seraya mengenang kasih sayang orang-orang lain, seperti kakek-nenek, para kerabat, orang-orang sakit dan menderita, dan semua orang yang membutuhkan pertolongan Tuhan. Di dalam keluarga itulah sebagian besar kita mempelajari dimensi rohani komunikasi, yang di dalam Kekristenan diresapi dengan kasih, yaitu kasih yang Allah anugerahkan kepada kita dan yang kemudian kita bagikan kepada orang-orang lain.

Di dalam keluarga itulah kita belajar bagaimana masing-masing bisa saling berbagi dan mendukung, belajar mampu mengartikan secara tepat ekspresi wajah orang dan membaca isi hatinya sekalipun diam tak berkata-kata; kita tertawa dan menangis bersama pribadi-pribadi yang tidak saling memilih tetapi begitu berarti satu sama lain. Realitas ini tentu saja sangat membantu kita untuk memahami makna komunikasi sebagai kedekatan pertalian batin yang saling meneguhkan dan mempertautkan.

Manakala kita mengurangi jarak dengan bertumbuh lebih dekat dan saling menerima, maka kita mengalami rasa syukur dan sukacita. Salam Maria dan lonjakan sukacita anaknya merupakan sebuah berkat bagi Elisabet; disusul madah indah Magnificat, di mana Maria memuji rencana kasih Allah bagi dirinya dan bagi kaumnya. Sebuah “ya” yang diujarkan dengan iman dapat memiliki dampak yang melampaui diri kita dan tempat kita di dunia ini.

”Mengunjungi” berarti membuka pintu, tidak tinggal tertutup di dunia kecil kita, melainkan pergi mendatangi orang-orang lain. Demikian pula keluarga menjadi hidup lantaran ia melampaui dirinya. Keluarga-keluarga yang melakukan hal demikian mengkomunikasikan pesan mereka tentang hidup dan persekutuan, seraya memberikan penghiburan dan pengharapan kepada keluarga-keluarga yang lebih rapuh, dan dengan demikian membangun Gereja itu sendiri, yang merupakan keluarga semua keluarga.

Lebih daripada apa pun juga, keluarga adalah tempat di mana kita setiap hari mengalami anekaketerbatasan kita sendiri dan keterbatasan orang-orang lain, pelbagai masalah besar dan kecil yang termaktub dalam kehidupan yang damai dengan orang-orang lain. Sebuah keluarga yang sempurna tidak ada. Kita tidak perlu takut akan cacat cela, kelemahan atau bahkan konflik, tetapi sebaliknya belajar untuk mengatasi semuanya secara konstruktif. Keluarga, di mana kita tetap mengasihi satu sama lain meskipun ada serba keterbatasan dan dosa-dosa kita, karenanya merupakan sebuahsekolah pengampunan. Pengampunan itu sendiri merupakan sebuah proses komunikasi. Ketika penyesalan diungkapkan dan diterima, maka ada kemungkinan untuk memulihkan dan membangun kembali komunikasi yang putus. Seorang anak yang belajar dalam keluarga bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana berbicara dengan hormat dan mengungkapkan pandangannya tanpa menafikan orang lain, akan menjadi sebuah kekuatan bagi dialog dan rekonsiliasi di tengah masyarakat.

Ketika bersinggungan dengan tantangan dalam berkomunikasi, maka keluarga-keluarga yang memiliki anak-anak dengan keterbatasan fisik maupun mental mengajarkan banyak hal kepada kita.  Keterbatasan gerak (motorik), perasaan (sensorik) atau mental dapat menjadi alasan untuk kemudian menutup diri, namun sebaliknya –berkat kasih orangtua, saudara kandung dan teman—juga bisa menjadi pendorong untuk terbuka, kemauan berbagi dan kesiapan  menjalin komunikasi dengan siapa saja. Hal ini juga bisa membantu sekolah, paroki, dan kelompok-kelompok orang untuk semakin terbuka dan inklusif bagi siapa pun.

Di dunia nyata dimana orang sering kali dengan gampangnya mengumpat, menggunakan kata-kata kasar, membicarakan kejelekan orang lain, menabur pertentangan dan meracuni pergaulan sosial dengan gosip, maka keluarga menjadi acuan tentang bagaimana seharusnya memahami komunikasi sebagai rahmat. Dalam banyak situasi yang secara nyata dikekang oleh nafas kebencian dan aroma kekerasan, dimana banyak keluarga terpisah satu sama lain oleh kokohnya tembok batu atau jurang pemisah lantaran prasangka buruk dan rasa tidak suka, dimana terjadi situasi yang memungkinkan mengatakan ‘cukuplah sudah sekarang ini!’, rasanya hanya dengan berkah daripada kutukan, dengan jalan berkunjung daripada mengusir, dengan menerima daripada mengajak ribut, maka kita akan mampu mematahkan rantai spiral kejahatan; juga mampu memperlihatkan bahwa kebaikan itu selalu saja mungkin dan mendidik anak-anak kita untuk menghargai pertemanan.

Dewasa ini media modern, yang merupakan bagian hakiki dari kehidupan kaum muda khususnya,dapat menjadi bantuan namun juga halangan bagi komunikasi di dalam dan di antara keluarga. Media bisa merupakan halangan jika dijadikan cara untuk mencegah kita mendengarkan orang lain, untuk mengelakkan kontak fisik, untuk mengisi setiap saat hening dan istirahat, sehingga kita lupa bahwa “keheningan adalah bagian terpadu dari komunikasi; tanpa keheningan, kata-kata yang kaya pesan tak akan ada”, (BENEDIKTUS XVI, Pesan Untuk Hari Komunikasi Sedunia Tahun 2012 ). Media dapat menjadi bantuan bagi komunikasi ketika media memungkinkan orang untuk berbagi kisah, untuk tetap menjalin kontak dengan teman-teman yang jauh, untuk mengucapkan terima kasih kepada orang lain atau meminta pengampunan mereka, dan untuk membuka pintu bagi perjumpaan-perjumpaan baru. Dengan berkembang setiap hari dalam kesadaran kita akan betapa pentingnya berjumpa dengan orang-orang lain, “peluang-peluang baru” ini, maka kita akan memakai teknologi secara bijaksana, alih-alih membiarkan diri kita dikuasai media. Di sini juga, para orangtua adalah pendidik utama, tetapi mereka tidak boleh dibiarkan sendirian. Komunitas Kristen dipanggil untuk membantu mereka mengajarkan anak-anak bagaimana hidup dalam sebuah lingkungan media secara sepadan dengan martabat mereka sebagai pribadi manusia dan demi melayani kesejahteraan umum.

Tantangan besar yang kita hadapi saat ini ialah untuk mempelajari kembali bagaimana berbicara satu sama lain, tidak sekadar bagaimana untuk menghasilkan dan memakai informasi. Yang terakhir tadi adalah kecenderungan yang dapat didorong oleh media komunikasi modern kita yang terbilang penting dan berpengaruh. Informasi memang penting, tetapi tidak cukup. Sekian sering hal-hal disederhanakan, aneka posisi dan sudut pandang berbeda diadu satu sama lain, dan orang-orang diajak memihak, alih-alih melihat hal-hal itu secara utuh.

Kesimpulannya, keluarga bukanlah pokok bahasan atau sumber darimana pertentangan ideologis muncul. Melainkan, keluarga harus dipandang sebagai ruang sosial dimana kita semua belajar berkomunikasi yang ditandai oleh pengalaman akan keakraban satu sama lain. Keluarga adalah ruang sosial dimana komunikasi itu terjadi, sebuah komunitas manusia yang saling berkomunikasi. Keluarga adalah suatu komunitas yang senantiasa menyediakan pertolongan, yang menyegarkan kehidupan dan membuahkan hasil.  Begitu kita menyadari hal ini, maka kita sekali lagi akan dimampukan melihat bahwa keluarga senantiasa menjadi sumber daya manusia yang begitu kaya manakala bila bertabrakan dengan masalah. Banyak kali, media suka menampilkan keluarga lazimnya sebuah model abstrak yang bisa ditolak, dibela atau diserang dan bukannya pertama-tama melihatnya sebagai realitas sosial yang hidup. Sering juga keluarga diperlakukan sebagai sumber darimana pertentangan ideologis itu muncul daripada melihatnya sebagai ruang sosial dimana kita semua ini belajar apa artinya berkomunikasi dalam bingkai kasih yang diwarnai semangat saling memberi-menerima. Berpijak pada pengalaman nyata inilah kita menjadi sadar bahwa ternyata hidup kita ini terjalin bersama sebagai suatu realitas tunggal, bahwa kita masing-masing itu banyak perbedaannya namun sekali lagi setiap orang pada dasarnya tetaplah pribadi yang unik.

Keluarga-keluarga harus dilihat sebagai sumber daya alih-alih sebagai masalah bagi masyarakat. Keluarga-keluarga berkomunikasi secara aktif melalui kesaksian mereka tentang keindahan dan kekayaan relasi antara lelaki dan perempuan, dan antara para orangtua dan anak-anak. Kita tidak sedang berjuang untuk membela masa lalu. Sebaliknya, dengan kesabaran dan kepercayaan, kita bekerja untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi dunia di mana kita hidup.

Diberikan di Vatikan, 23 Januari 2015, Vigilii Pesta Santo Fransiskus dari Sales

Semoga Pesan Bapa Suci Paus Fransiskus di Minggu Komunikasi Sosial Sedunia ke-49, mengingatkan kita akan panggilan luhur dari setiap Keluarga Katolik untuk mengkomunikasikan Iman Kristiani kita dalam keluarga dan di tengah dunia.

Pax, in aeternum.
Fernando

Vatikan meminta bantuan Konsultan terkenal dunia untuk meningkatkan sarana komunikasi di Tahta Suci

Vatikan Press Office

Vatikan Press Office

Vatican City – Kantor Berita Tahta Suci hari ini menerbitkan komunike berikut :

“Pada tanggal 18 Desember , atas inisiatif dari Komisi Kepausan untuk Referensi Organisasi untuk Struktur Ekonomi – Administrasi dari Tahta Suci , melalui tender rensmi dan prosedur seleksi , peran penasehat telah dipercayakan kepada McKinsey & Company untuk pengembangan – dalam kerjasama erat dengan para kepala kantor/departemen yang relevan dalam Tahta Suci – bagi perencanaan yang terintegrasi untuk membuat sarana komunikasi organisasi dalam Tahta Suci, agar lebih fungsional , efektif dan modern.

Proyek konsultasi akan bertujuan untuk memberikan kepada Komisi terkait, informasi yang dibutuhkan untuk membuat rekomendasi yang tepat kepada Bapa Suci .

Pada saat yang sama, bekerja sama dengan Komisi Kepausan untuk Referensi Organisasi bagi Struktur Ekonomi – Administrasi dari Tahta Suci , melakukan tindakan yang diperlukan untuk menyelaraskan prosedur akuntansi dari semua instansi Tahta Suci agar semakin sesuai dengan standar internasional .

Kolaborasi dari proyek ini telah dipercayakan, melalui tender dan proses seleksi, kepada KPMG International Network, sebuah firma terkemuka dunia dalam urusan konsultasi finansial dan administratif.”

Vatikan memiliki berbagai oulet dan kantor komunikasi yang beroperasi secara independen satu dengan yang lain. Di antaranya termasuk, Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial; L’Osservatore Romano (Koran Vatikan); Radio Vatikan (Stasiun Radio tertua di dunia); Stasiun Televisi Vatikan (CTV);  Layanan Informasi Vatikan (VIS); Ruang Konferensi Vatikanl; Kantor Berita Misioner Fides; Website Resmi Vatikan (vatikan.va) dan Website Berita Vatikan (news.va); Rumah Penerbit Vatikan (LEV); dan Percetakan Vatikan.