Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan II Paskah

image

DALAM TUNTUNAN CINTA

Bacaan:
Kis.4:32-37; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Yoh.3:7-15

Renungan:
Kedalaman kasih Tuhan adalah samudera belas kasih yang sanggup menyentuh kedalaman hati manusia pada kekaguman akan kebesaran cinta-Nya, sekaligus pada kesadaran akan betapa kita seringkali tidak menanggapi cinta-Nya.
Perbincangan Nikodemus yang kita renungkan kemarin, dalam bacaan hari ini berlanjut dengan penyingkapan misteri salib oleh Yesus.
Nikodemus adalah salah satu dari segelintir orang dalam Kitab Suci yang beroleh kesempatan untuk berbincang hanya berdua saja dengan Tuhan, dan mungkin juga salah satu dari sedikit orang di luar para rasul, dimana Tuhan secara pribadi mengungkapkan misteri salib yang akan menanti Dia sebelum peristiwa penyaliban itu terjadi, saat dimana Tuhan dan Penyelamat kita nantinya ditinggikan, demi memberikan hidup kekal bagi semua orang yang memandang dan mencari keselamatan dari salib (bdk.Yoh.3:14-15).
Nikodemus pada akhirnya menjadi dia yang datang ke makam untuk mengurapi tubuh Tuhan kita dengan campuran mur dan gaharu (bdk.Yoh.19:39), suatu pengakuan iman penuh makna akan “Dia Yang Diurapi” oleh Allah.
Cinta-Nya akan Tuhan telah menuntun Nikodemus masuk dalam awan ketidaktahuan, dan menemukan iman yang sejati dalam awan itu.
Misteri Tuhan adalah sesuatu yang tidak selalu harus dimengerti, tetapi harus selalu diimani. Hidup seorang Kristiani bukanlah hidup yang ditandai dengan pengertian sepenuhnya akan kehendak Allah, melainkan suatu perjalanan iman dimana seseorang tak jarang dituntut untuk berjalan dalam kegelapan, kekeringan, ketiadaan hiburan dan jawaban atas doa-doa, dukacita dan air mata, dalam ketidakmengertian.
Beranilah untuk melangkah ke dalam awan ketidaktahuan itu. Biarlah getaran hati yang mencinta akan Tuhan membimbingmu, sebagaimana Dia membimbing Nikodemus dengan kelembutan hati dan belas kasih-Nya.
Pada akhirnya, kamu akan menemukan dirimu menyentuh tubuh-Nya yang dipenuhi luka, tangan dan kaki-Nya yang berlubang karena paku, dan lambung-Nya yang tertikam dengan tombak, tetapi kamu akan menemukan Dia bukan sebagai Dia yang mati dalam kebinasaan, melainkan Dia yang bangkit dengan jaya.
Bila Tuhan berkenan, pada saat itu kamu tidak hanya akan menemukan imanmu, tetapi beroleh juga karunia air mata pengertian akan kelahiran baru dalam Roh, yang selama ini telah membimbingmu dengan setia.
Seiring dengan mengalirnya air mata itu, mengalirlah juga dosa-dosamu.
Pada saat itu, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Hidupmu akan begitu hebatnya dihempas oleh hembusan Roh Tuhan (bdk.Yoh.3:8), dan dalam cinta yang menghanguskan itu, sekiranya di depan tatapan belas kasih-Nya engkau tidak binasa dan masih dimampukan untuk berkata-kata dari dalam kobaran api cinta yang memurnikan itu, air mata kelahiran baru dalam Roh yang kamu terima pada waktu itu akan menggetarkan hatimu seperti St. Agustinus dari Hippo untuk berseru, “Terlambat, Ya Tuhan. Terlambat aku mencintai-Mu.

Pax, in aeternum.
Fernando