Meditasi Harian 28 September 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXVI

MENGIKUTI TANPA KELEKATAN
Bacaan:

Ayb.9:1-12.14-16; Mzm.88:10b-15; Luk.9:57-62

Renungan:

Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikuti Engkau. Apapun yang Kau minta dan Kaurancangkan, seturut kehendak-Mu akan kulakukan dan kutaati. Kupercayakan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas“.

Betapa indahnya perkataan ini, sungguh ideal dan diharapkan, untuk dihidupi oleh seorang rasul Kristus. Akan tetapi, realita hidup kristiani, seringkali memperhadapkan kita pada kebenaran, bahwa untuk melakukan tidaklah semudah mengatakan atau menjanjikannya. Lain di bibir, lain di hati. 

Injil hari ini mengungkapkan itu dengan begitu jelasnya. Banyak orang mengaku siap mengikuti Yesus, tetapi seringkali didapati bahwa jawaban itu disertai berbagai persyaratan. Ingin mengarahkan pandangan ke surga, tetapi hati masih melekat erat pada dunia. Untuk mengikuti Tuhan di “Jalan-Nya“, seringkali menuntut pula kesediaan dari pihak kita untuk meninggalkan berbagai jalan dan pilihan hidup, berbagai pertimbangan dan keberatan, berbagai pertanyaan dan keraguan, agar dapat melangkah dengan bebas dan hati gembira menuju Allah. Panggilan untuk mengikuti Tuhan dalam “libertas filiorum Dei – kemerdekaan anak-anak Allah“, mengharuskan kita dengan bantuan rahmat-Nya, untuk melepaskan diri dari segala kelekatan. 

Banyak rasul-rasul Kristus yang berhenti melangkah, mundur dari pelayanan, meredup dalam semangat kerasulan, menyerah dalam bahtera rumah tangga, tidak sanggup menderita, bahkan mengakhiri hidup dengan cara-caranya sendiri di luar kehendak Allah, hanya karena satu kecenderungan yang bernama “kelekatan“. Kelekatan ini tidak selalu jelas terlihat jahatnya, malah seringkali nampak sangat manusiawi, sebagaimana kita dapati dalam Injil hari ini.  

Kelekatan hadir dalam berbagai bentuk dan situasi, dimana kita sulit melepaskannya, karena itu telah mengganti tempat Allah sebagai yang terkasih di hati. Bagi yang seorang itu bisa dalam bentuk pekerjaannya, bagi orang lain bisa pula keluarganya. Bagi yang satu hobi-hobinya, bagi yang lain cita-citanya. Melepaskan kelekatan tidak selalu berarti mengabaikannya sama sekali, tetapi kalau Tuhan memperkenankan kamu menjalaninya, jalanilah tanpa hatimu melekat pada itu semua. Apapun bentuknya, selama itu tidak dilepaskan, selamanya pula anda akan merasa lelah, bahkan mati di tengah jalan karena kepayahan menapaki jalan Tuhan. Lekatkanlah hatimu pada Hati Tuhan, maka kamu akan menemukan arti kehadiranmu, arti hidupmu, arti karya kerasulanmu. Kamu akan menemukan “kesejatian panggilanmu“. 

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah lebih dahulu memancarkan cahaya Iman tanpa kelekatan, berkenan menolongmu dengan bantuan rahmat Ilahi, untuk melepaskan diri dan hatimu dari segala kelekatan, dan melangkah dengan gembira seirama dengan langkah Tuhan.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 11 Juli 2016 ~ Peringatan St. Benediktus, Abbas

BERDOA KEPADA-NYA DAN BEKERJA BAGI-NYA

Bacaan:

Yes.1:11-17; Mzm.50:8-9.16bc-17.21.23; Mat.10:34 – 11:1


Renungan:

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita memperingati St. Benediktus dari Nursia, Bapa Hidup Monastik Barat dan Pelindung Eropa. Seturut regulanya sebagai Bapa Pendiri, para rahib dan rubiah Benediktin senantiasa hidup dalam semangat, “Ora et Labora – Berdoa dan Bekerja“, dalam kesadaran bahwa keduanya sama pentingnya, sama-sama memiliki nilai Adikodrati, dan bahwa keduanya harus berjalan seiring, tanpa mengabaikan atau hanya mengunggulkan salah satunya. Jangan melulu berdoa tanpa bekerja, demikian pula sebaliknya, jangan tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa berdoa. Doakan apa yang kita kerjakan, dan kerjakan apa yang kita doakan, sehingga doamu menjadi kerjamu, dan kerjamu menjadi doamu. Baik dalam doa maupun dalam kerja, lakukanlah semuanya karena dan bagi Tuhan Semesta Alam. Dengan demikian, hidupmu akan menjadi persembahan yang murni, harum dan berkenan di Hati Tuhan (bdk.Yes.1:11-17 & Mzm.50:8-9.16bc-17.21.23 ). Maka, bila seluruh hidupmu sejatinya milik Tuhan dan seutuhnya dipersembahkan bagi-Nya, adalah suatu konsekuensi iman pula untuk menjadikan kehendak-Nya sebagai prioritas utama di hidup kita, baik dalam doa maupun kerjamu. Jika ini sungguh dihidupi, sesungguhnya perkataan Tuhan kita dalam Injil hari ini tidaklah mengejutkan, dipandang sebagai tuntutan berat, atau menakutkan bagi kita, apalagi mendatangkan pertentangan akan Dekalog 1 dan 4. 

Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat.10:34-38).

Kerasulan yang sejati berarti melayani Tuhan dengan “hati tak terbagi“, sebab Firman Allah “lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh” (Ibr.4:12). Menempatkan kelekatan, keinginan, hobi, ambisi dan relasi apapun melebihi kemesraan kita dengan Allah, berarti mem-berhala-kan segala, yang pada akhirnya mendatangkan permusuhan dengan Sang Segala.

Hari Peringatan St. Benediktus ini mengingatkan kita sekalian akan konsekuensi iman dari “Ora et Labora“. Untuk apa dan bagi siapa kamu berdoa? Untuk apa dan bagi kamu bekerja?” Kalau Tuhan bukanlah jawaban dari pertanyaan itu, itu artinya Tuhan bukanlah “Yang Terkasih” bagimu. Dia belum menjadi “Yang Terutama” bagimu. 

Semoga Perawan Suci Maria senantiasa menyertai hidupmu sebagai Ibu, yang dengan penuh kasih dan kesetiaan menunjukkan kepadamu jalan menuju Yesus, Putranya. Dan sebagaimana St. Benediktus juga dihormati sebagai Pelindung Eropa, berdoalah bagi dunia Barat. Hari demi hari kita menyaksikan, bagaimana mereka semakin memalingkan wajah mereka dari akar Kristiani, dan menggantikannya dengan nilai-nilai baru yang melukai hati Tuhan, serta mendatangkan kemusnahan secara perlahan atas peradaban mereka sendiri. Semoga karena perantaraan doa St. Benediktus, belas kasih Ilahi menyentuh kedalaman jiwa mereka, untuk menyadari akar Kristiani yang memberi mereka hidup dalam segala kelimpahan kasih karunia, dan dengan hati yang penuh pertobatan berbalik kepada Allah, Sang Sumber Hidup.

Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 7 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV


MERASUL TANPA KELEKATAN


Bacaan
:

Hos.11:1.3-4.8c-9; Mzm.80:2ac.3b.15-16; Mat.10:7-15

Renungan
:

Ketika dibaptis, suatu tugas suci telah diletakkan ke dalam hati kita, yaitu mewartakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa. Meskipun banyak di antara kita menerima anugerah pembaptisan sewaktu masih bayi, namun tugas ini tidak pernah boleh dilupakan. Disinilah panggilan keluarga, orang tua dan wali baptis mendapat makna yang adikodrati. Jangan pernah lupa mewariskan iman dan Amanat Agung kerasulan ini. Oleh sakramen pembaptisan, kita telah mengalami hidup dalam segala kepenuhan dan kasih karunia. Hidup sejati sebagai anak-anak Perjanjian. Ini bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Maka sadarilah dan syukurilah kebaikan Tuhan ini. Berhentilah menjalani hidup dalam perhambaan akan dunia. Tinggalkanlah kegelapan dan perbudakan dosa, dan melangkahlah menuju cahaya dengan dikobarkan oleh Api kerasulan.

Hidup beriman saat ini diperhadapkan dengan kemerosotan semangat merasul di tengah dunia. Banyak rasul-rasul Kristus yang kehilangan visi kerasulan, sehingga karya-karyanya tidak berbuah bagi Kerajaan Allah. Cahaya iman mulai meredup, garam cintakasih menjadi tawar, dan kesaksian hidup melemah menjadi seolah tak berpengharapan. Kita tidak boleh lupa bahwa panggilan merasul ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah“, kesadaran sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.

Tanpa kesadaran ini, maka seorang dapat jatuh dalam kegagalan untuk memberi nilai adikodrati dalam segala karya, sehingga menjadi karya manusia belaka, bukannya Karya Tuhan. Jangan pernah lupa bahwa panggilanmu adalah panggilan untuk Kemuliaan. Kemuliaan yang hanya dapat diperoleh bilamana kita menjalankan tugas kerasulan dengan penuh cinta dan ketekunan. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengutus para rasul dengan bersabda, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:7-8).

Kerajaan Allah itulah yang harus kamu wartakan. Wartakanlah itu dengan hidupmu, dengan senantiasa membawa tanda-tanda milik Kristus, dengan sikap heroik beriman yang mendatangkan kekaguman dan membuat seluruh dunia bertanya dan mencari tahu siapa Kristus itu, karena karya-karya agung yang dikerjakan-Nya dalam hidupmu. 

Jalan kerasulan ini bukanlah jalan yang dapat dilalui oleh mereka yang lemah hati. Kuatkanlah hatimu dengan senantiasa melekatkannya kepada Hati Tuhan. Santo Josemaría Escrivá mengatakan, “Hatimu melemah dan engkau mencari pegangan dunia ini. Bagus, tetapi berhati-hatilah agar pegangan yang menopangmu supaya tidak jatuh itu, tidak akan menjadi beban yang justru akan menyeretmu ke bawah, atau rantai yang akan memperbudakmu” (Camino, pasal 159). Kelekatan akan dunia dengan segala tawaran semunya, adalah perangkap si jahat yang harus dihindari oleh setiap rasul Kristus. Kelekatan seringkali disertai kesedihan yang berwujud kemurungan, suam-suam kuku, kemalasan, serta padamnya kerinduan untuk merasul dan mencari wajah Allah dalam diri sesama. 

Dalam surat pastoral kepada putra-putrinya, Prelat Opus Dei Msgr. Javier Echevarría mengingatkan, “Seorang Kristiani yang sungguh menyadari bahwa dia adalah anak Allah tidak akan pernah dikuasai oleh kesedihan… Kita adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah dunia, jadi wajar saja bahwa masalah-masalah mendesak dunia kontemporer saat ini – pergumulan melawan narkoba, berbagai krisis dalam kesatuan keluarga, sikap dingin yang disebabkan individualisme, serta krisis ekonomi, sangat mempengaruhi hidup kita. Diperhadapkan pada kenyataan ini seharusnya tidak membuat kita menjadi sedih. Yakinlah bahwa bila kita tetap dekat dengan Hati Yesus, kita akan selalu beroleh penghiburan, dan itu tidak hanya dialami pada kehidupan kekal” (Surat Bapa Prelat Juli 2016).

Di hari Peringatan Konsekrasi Gereja Santa Perawan Maria dari Torreciudad, marilah kita mohon penyertaan Bunda kita yang tersuci ini, bagi siapa saja yang melayani Yesus Putranya di jalan kerasulan suci. Semoga mereka senantiasa memandang Kristus, dan melayani di tengah dunia tanpa melekatkan hati pada segala yang fana, agar pada akhirnya dapat beroleh ganjaran mahkota surgawi, dalam kemuliaan kekal bersama Allah dan para kudusnya.
Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥ 

Meditasi Harian 15 Januari 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa I

image

IMAN GAYA NEKAT

Bacaan:
1Sam.8:4-7.10-22a; Mzm.89:16-17.18-19; Mrk.2:1-12

Renungan:
Ada kalanya tindakan iman itu beda tipis dengan berbuat nekat. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa “terkadang“, untuk mengalami mujizat atau pertolongan Tuhan, entah bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, kita perlu melakukan hal-hal nekat untuk menggerakkan hati Tuhan.
Penderita kusta yang mendekati Yesus (bacaan kemarin), perempuan yang sakit pendarahan yg menerobos kerumunan untuk menjamah jumbai jubah Tuhan, Zakheus yang mendaki pohon, dan dalam Injil hari ini, keempat orang yang membuka atap untuk menurunkan si lumpuh tepat di depan Tuhan Yesus.

Injil hari ini menyuarakan pesan yang sangat kuat bagi mereka yang melakukan karya kerasulan jiwa-jiwa. Masih ada begitu banyak orang di dunia ini yang belum mengenal dan mengimani Tuhan. Bahkan dalam kalangan mereka yang menyebut diri beriman pun, kita menemukan hidup yang suam-suam kuku.
Injil hari ini adalah tamparan bagi kita yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, para pekerja di kebun anggur-Nya, hamba-hamba Allah yang setia.
Kita dipanggil bukan hanya memenangkan jiwa kita, tetapi membawa sebanyak mungkin jiwa kepada Allah.

Oleh karena itu, sama seperti keempat orang dalam bacaan Injil hari ini, kita pun diminta untuk memiliki sikap beriman gaya nekat. Melakukan segala cara yang mungkin untuk membawa semua orang pada pengenalan sejati akan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus. Mereka yang seperti “orang lumpuh“, yang tidak dapat menjumpai Tuhan dengan kekuatannya sendiri.
Hai para rasul Kristus. Inilah panggilan luhur kita. Untuk membawa mereka semua menemukan Tuhan, disentuh oleh-Nya, dan beroleh kesembuhan dari-Nya. Kesembuhan sejati yang mendatangkan keselamatan, tidak hanya bagi tubuh, melainkan terutama bagi jiwa. Kamu dipanggil untuk menebarkan jala dan menangkap sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Tuhan.

Ini bukanlah suatu panggilan baru, yang serta merta menuntutmu mengambil profesi yang sama sekali baru. Sama sekali tidak. Kamu masih tetap menjalani karyamu saat ini, entah seorang ibu rumah tanggal, petugas kebersihan, polisi, dokter, pengusaha, guru, mahasiswa, atau profesi apapun. Tetapi kamu dipanggil untuk melakukan semua itu dengan kesadaran, bahwa di balik itu semua, panggilan Kristiani menuntutmu untuk memberi nilai Ilahi di dalam segenap hidup dan karyamu. Lakukanlah semuanya itu dengan dedikasi dan semangat misioner untuk membawa orang-orang yang kaujumpai dalam perjalanan, kepada pengenalan akan Kristus, kepada hidup beriman.
Kamu paling tahu siapa orang-orang di sekitarmu yang belum mengenal Tuhan, yang memerlukan Tuhan, yang bagaikan orang-orang lumpuh dan tidak bisa melangkah menuju Tuhan tanpa bantuan.
Untuk merekalah kamu dipanggil. Lakukan segala cara yang baik dan benar, agar mereka pun boleh merasakan sukacita Injil, sebagaimana yang telah kamu alami. Tugas adalah menjadi alat-alat Tuhan, rasul-rasul-Nya, untuk mendatangkan keselamatan atas hidup mereka.
Cintamu hanya cinta yang kerdil bila engkau tidak bersemangat menyelamatkan semua jiwa. Cintamu miskin bila engkau tidak berhasrat untuk menulari rasul-rasul lain dengan kegilaanmu.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá.

Jangan Takut! Bila engkau sungguh memiliki niat suci untuk merasul dan memenangkan jiwa-jiwa, dengan hidup doa yang tekun dan dengan bantuan rahmat-Nya, Allah akan selalu sanggup membuat jala-jala kerasulanmu dipenuhi dengan keberhasilan. Ingatlah pula, bahwa kamu mempunyai seorang Ibu, Perawan Suci Maria, Ratu para Rasul. Dia yang selalu setia menyertaimu dengan doa dan kasih keibuannya. Dialah pula yang akan menjadi penolong yang sejati dalam karya kerasulanmu.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 10 Agustus 2015 ~ Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir

image

MILIKILAH IMAN YANG BERSAKSI

Bacaan:
2Kor.9:6-10; Mzm.112:1-2,5-6,7-8,9; Yohanes.12:24-26

Renungan:
Hari ini, Gereja Roma mengajak kita untuk merenungkan dalam perayaan suci akan kemartiran St. Laurensius, seorang Diakon Agung dalam Keuskupan Roma yang menerima mahkota kemartiran pada abad-3.
Kemartiran St. Laurensius mengingatkan kita bahwa mengikuti jejak Kristus (imitatio Christi) berarti menyatakan kesiapsediaan menjadi saksi Kristus, apapun risikonya, termasuk bilamana karena iman akan Dia mengakibatkan kita harus kehilangan segala-galanya, bahkan nyawa kita sendiri.
Tertulianus mengatakan, “Darah para Martir adalah Benih bagi Gereja.
Gereja tumbuh dan berkembang karena kesaksian hidup dan kemartiran putra-putri Gereja.
Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes.12:24)

Kekristenan saat ini berada dalam masa paling suram sejak didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun lalu.
Kita dipanggil untuk mewartakan iman kita dengan berbagai cara, melebihi masa-masa sebelumnya.
Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar-tawar. Di tengah krisis dalam hidup beriman saat ini, kita diingatkan akan panggilan kita untuk bersaksi, apapun risikonya.
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yoh.12:25)
Tidak ada ruang untuk bersikap setengah hati dalam beriman, kita tidak pernah boleh mencintai Allah dan Gereja-Nya dengan hati suam-suam kuku.
Sekalipun mungkin tidak semua orang beriman akan mengalami kemartiran sehebat St. Laurensius, kita tidak boleh lengah untuk menyadari bahwa para pengikut Kristus saat ini diperhadapkan pada berbagai bentuk kemartiran baru. Apapun panggilan, profesi kerja, karya kerasulan dan pelayanan yang kita lakukan, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya, dan jadilah seorang Katolik yang sejati.
Seorang dokter harus berani mempertahankan kehidupan bukan melenyapkan kehidupan, yaitu dengan mengatakan tidak pada aborsi, euthanasia, promosi alat kontrasepsi, dan berbagai tindakan medis lainnya yang bertentangan dengan Iman Kristiani.
Orang tua dalam keluarga Kristiani hendaknya membesarkan anak-anak mereka dalam kelimpahan cinta, dan tidak pernah lupa untuk mewariskan iman.
Seorang hakim menjatuhkan keputusan dengan adil atas suatu perkara, bukannya dibutakan oleh uang suap untuk memenangkan pihak yang bersalah.
Apapun profesi kerjamu, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya untuk menguduskan pekerjaanmu, dan memenangkan jiwa-jiwa karena kerasulan di tengah pekerjaanmu.
Gereja Katolik boleh saja memiliki anggota umat yang sukses, sekolah dan universitas yang bermutu, rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang ternama, bangunan Gereja Katedral dan Basilika yang indah dan megah. Akan tetapi, kalau itu semua tidak disemangati oleh karya kerasulan untuk bersaksi dan berbuah, untuk membawa lebih banyak orang menjadi pengikut Kristus, untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, untuk membawa seluruh dunia ke dalam pangkuan Bunda Gereja, maka segala karya itu adalah karya yang mandul, prestise sia-sia, dan ungkapan iman dangkal yang tidak berbuah.

Anda boleh saja menyebut diri seorang rasul Kristus, tetapi kalau tidak ada jiwa yang dimenangkan, tidak ada yang dikurbankan, sesungguhnya anda bukanlah pengikut Kristus.
Semoga St. Laurensius yang kita peringati hari ini mengingatkan kita, bahwa sebagai putra-putri Gereja, kita dipanggil untuk berdiri di tengah dunia bukan untuk kehilangan nyawa dalam kesia-siaan, melainkan kehilangan nyawa guna memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, sehingga pada akhirnya kita beroleh mahkota kemuliaan dalam kehidupan kekal.
Santa Laurensius, Diakon & Martir, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, Ratu para Martir, sertailah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando