Meditasi Harian 26 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXI

image

BERHENTILAH BERTOPENG !

Bacaan:
1Tes.2:9-13; Mzm.139:7-8,9-10,11-12ab; Mat.23:27-32

Renungan:
Lokasi pekuburan Palestina di zaman Tuhan Yesus seringkali berada di depan jalan-jalan umum. Hidup dan aturan keagamaan Yahudi yang begitu ketat soal halal dan tidak halal, tahir dan tidak tahir, najis dan tidak najis, juga berdampak pada segenap sendi kehidupan, termasuk soal pekuburan. Kuburan-kuburan disana, karena banyak yang terletak di pinggir jalan, umumnya dilaburi atau dicat putih untuk dapat terlihat jelas di bawah matahari, lebih-lebih mendekati hari-hari besar keagamaan Yahudi, guna menghindarkan orang-orang yang lewat dari menyentuhnya secara tidak sengaja, karena berakibat menajiskan siapa saja yang menyentuh, serta membuatnya tidak layak untuk mengikuti upacara-upacara keagamaan.
Maka, dalam kecamannya terhadap para ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus mengumpamakan sikap keagamaan mereka seperti kuburan yang berlabur putih bersih, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang-belulang dan pelbagai jenis kotoran lainnya. Hidup keagamaan mereka secara lahiriah kelihatan benar, tetapi batin mereka sebenarnya dipenuhi kemunafikan dan kedurjanaan.

Tentu kita akan setuju dan membenarkan kritikan Yesus. Kita pun membenci kemunafikan dan kedurjanaan.
Tetapi, tidakkah kita menemukan kesamaan sikap beriman antara hidup kita dengan hidup para ahli Taurat dan orang Farisi?
Bukankah kita pun pernah, atau mungkin seringkali melakukan hal yang sama, bertopengkan kekudusan guna menutup borok-borok kedosaan kita dari pandangan publik? Menjatuhkan penilaian negatif mengenai cara hidup orang-orang di sekitar kita, padahal diri kita pun memiliki kekurangan yang sama, bahkan lebih banyak?
Memang benar bahwa menegur sesama saudara-saudari dalam iman dan dilandasi kasih persaudaraan adalah suatu kewajiban suci.
Tetapi, luangkanlah waktu di setiap akhir hari menjelang beristirahat, untuk melihat hidup harian kita. Sudahkah kita bersikap jujur di hadapan Allah dan sesama, tanpa kemunafikan dan kedurjanaan?
Pemeriksaan batin setiap hari, sebagaimana dianjurkan oleh para Kudus, adalah sarana yang sangat membantu seorang beriman untuk mengoreksi diri dan bersikap jujur di hadapan Allah dan sesama.
Mereka yang senantiasa rajin memeriksa batin, adalah mereka yang kemudian bergegas ke ruang pengakuan dosa, serta tidak akan lagi berbantah di hadapan Tuhan dan sesama dengan mengatakan bahwa dia tidak merasa berdosa atau mengklaim tidak pernah melakukan dosa, karena dalam pemeriksaan batinnya setiap hari, dia justru mendapati ada banyak kekurangan dan dosa yang ia lakukan dalam satu hari saja.

Pemeriksaan batin adalah salah satu check list kita terhadap realita hidup, dan akan apa sesungguhnya yang menjadi motivasi kita ketika melakukan sesuatu.
Jangan sampai di balik karya pelayanan kita, keaktifan menggereja kita, pemberian derma dan berbagai kegiatan sosial karitatif kita, justru bukan dilandasi oleh kerinduan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan, melainkan justru pemuliaan diri, kerakusan dan kehausan untuk berkuasa, diakui dan dihormati, keinginan untuk dipuji dan dianggap saleh, serta berbagai niat-niat yang tidak murni lainnya.
Anda mungkin mengklaim diri bekerja bagi Allah, tetapi ingatlah selalu bahwa pada akhirnya, dari buahnyalah akan kelihatan, apakah itu benar Karya Allah, atau karya manusia.
Sikap peduli tampilan luar ketimbang tampilan dalam, bukan hanya terjadi dalam karya yang semata-mata rohani saja.
Manusia saat ini diperhadapkan pada budaya instan. Konsumerisme, narsisme, dan hedonisme membuat banyak orang untuk terlalu menjaga kemudaan fisik, mempertontonkan kekayaan dan kesuksesan, bahkan hal-hal yang sifatnya pribadi atau personal, kini menjadi tontonan publik dalam bentuk reality show yang menyimpang dari hiburan yang sehat.
Orang begitu mempedulikan opini publik terhadap hidup lahiriah mereka, dan justru mengabaikan apa yang paling penting dan sungguh amat menentukan, yaitu bagaimana mempersiapkan diri untuk berdiri di hadapan Tahta Pengadilan Allah, dalam keadaan kudus dan tak bercela.

Injil hari merupakan teguran iman bagi kita semua, untuk tidak hanya mempedulikan atau mendedikasikan seluruh waktu kehidupan kita dengan memoles bagian luar, melainkan juga untuk memoles bagian dalam. Betapa disayangkan memiliki segala hal yang dapat dikatakan bahagia menurut ukuran dunia yang sementara dan fana ini, tetapi kehilangan kebahagiaan kekal karena tidak pernah memikirkan, apalagi merindukan kehidupan sesudah peziarahan kita di bumi ini.
Jangan hanya pandai berinvestasi untuk hidup nyaman di dunia. Ingatlah pula untuk berinvestasi bagi kekekalan, yang tidak akan dimakan ngengat dan karat.
Jangan kelihatan bercahaya di luar karena berbalutkan perhiasan ratna mutu manikam, padahal hati kita begitu gelap dan menjijikkan untuk menjadi kediaman Tuhan Yesus, Sang Raja segala raja.
Semoga St. Perawan Maria, Bunda Kesalehan sejati, senantiasa menuntun dan memurnikan panggilan dan karya kita dengan doa dan kasih keibuannya, untuk tidak bertopeng di hadapan Allah dan sesama, untuk menyilaukan pandangan orang bukan karena balutan lahiriah yang penuh kebohongan, melainkan menerangi dunia karena keluar dari hati yang selalu siap sedia untuk dimurnikan dalam kuasa cinta Ilahi.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 24 Agustus 2015 ~ Pesta St. Bartolomeus, Rasul

image

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Bacaan:
Why.21:9b-14; Mzm.145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh.1:45-51

Renungan:
Rasul St. Bartolomeus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini, adalah salah satu dari 12 Rasul dari Tuhan kita Yesus Kristus. Ia dikenal pula dengan nama “Natanael“. Di kemudian hari setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Rasul St. Bartolomeus mewartakan Injil ke jazirah Arabia, termasuk Syria dan Persia, bahkan sampai ke India. Pada akhir hidupnya, ia mewartakan Injil ke Armenia, dan berhasil menobatkan Polymius, seorang Raja Armenia, hingga akhirnya dia minta dibaptis oleh Rasul St. Bartolomeus. Peristiwa tersebut mendatangkan kemarahan Astyages, adik Raja Polymius, yang kemudian memerintahkan sang Rasul untuk dibunuh. Rasul St. Bartolomeus menerima mahkota kemartiran dengan cara dikuliti hidup-hidup kemudian wafat disalib dalam posisi terbalik pada akhir abad ke-1 Masehi di Albanopolis, Armenia.
Di kemudian hari jenasahnya dipindahkan dari Armenia, dan saat ini sebagian besar dari potongan tulang jenasahnya disemayamkan dengan penuh hormat dalam Gereja Katolik Basilika St. Bartolomeus, yang terletak di sebuah pulau di tengah sungai Tiber (Roma).
Hidup Rasul St. Bartolomeus memancarkan suatu kesaksian iman akan Allah yang luar biasa. Dalam bacaan Injil hari ini pun, dikatakan bahwa Tuhan Yesus memuji kejujuran hidup Rasul St. Bartolomeus dengan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!

Kejujuran adalah salah satu kebajikan dalam hidup Kristiani yang menyukakan hati Tuhan.
Jika “Ya“, katakan “Ya“. Jika “Tidak“, katakan “Tidak“.
Seorang Katolik tidak boleh bersikap abu-abu atau suam-suam kuku.
Dalam hidup menggereja, dalam pelayanan kasih, karya kerasulan dalam bentuk apapun, termasuk dalam profesi kerja dan panggilan apapun yang kita jalani, seorang Katolik harus selalu menghindari bahaya “kepalsuan” dalam hidup.
Tidak boleh menjadi orang Katolik yang setengah-setengah. Mengatakan menyembah Allah, tetapi masih memelihara berhala-berhala dab berpegang pada hal atau benda yang bukan bersumber dari kuasa Allah.
Jadilah teladan kejujuran dalam pekerjaanmu, sesederhana apapun itu. Jalanilah panggilan hidupmu dengan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah lilin yang bernyala sampai titik penghabisan, kendati disaat semua orang disekitarmu memilih menjadi lilin yang padam di tengah jalan, karena tidak sanggup melawan desakan untuk turut serta dalam kegelapan.

Kejujuran di hadapan sesama hanya mungkin dilakukan bilamana kita terlebih dahulu telah bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Bukankah Tuhan Mahatahu, bahkan tak sehelai rambutmu pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya?
Jikalau demikian, bagaimana mungkin kamu menjalani hidup dalam kebusukan dosa yang dikubur dalam-dalam, berusaha menyembunyikannya dalam topeng kepalsuan, sambil tetap melayani Tuhan dan menyembut dirimu hamba yang setia, seolah Tuhan bisa dibodohi atau didustai?
Meskipun anak-anak kegelapan mencoba menyamar sebagai malaikat terang dan menipu banyak orang, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi.
Maka, bila kamu memang adalah putra-putri Cahaya, jujurlah di hadapan Sang Cahaya. Jangan berusaha bercahaya, sambil tetap memelihara kegelapan dalam jiwa. Kendati demikian, jangan pernah menjadikan alasan “masih punya dosa“, sebagai pembenaran untuk menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Kejujuran bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, ketiadaan cacat, atau tidak pernah melakukan kesalahan.
Kejujuran berarti kesadaran akan kerapuhan diri, yang mendorong kita untuk meletakkannya ke dalam tangan belas kasih Tuhan, untuk diubahkan. Mereka yang berani jujur dan merendahkan diri di hadapan Allah dalam penyerahan diri total, akan mendapati ketidaksempurnaan dalam dirinya secara perlahan disempurnakan oleh Allah.
Jalanilah hidup setiap hari bagaikan di tengah medan pertempuran antara membiarkan dirimu dikalahkan dan jatuh dalam kepalsuan si jahat, atau untuk menjadi pemenang dalam kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.

Anda dan saya tahu, dalam hal apa secara spesifik kita sering bersikap tidak jujur. Ketidakjujuran orang yang satu mungkin berbeda dengan orang yang lain. Tetapi, kendati bentuk, situasi, atau tindakannya berbeda, pada hakikatnya untuk dapat mengikuti Tuhan secara “bebas“, kepalsuan demikian haruslah “dilepaskan“.
Semoga Rasul St. Bartolomeus menjadi teladan kita, akan bagaimana untuk hidup tanpa kepalsuan, dan bagaimana memiliki keberanian beriman untuk mewartakan kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Tak Bercela, membimbing kita di jalan kejujuran menuju Yesus Putranya, Sang Kebenaran Sejati.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++