Meditasi Harian, 20 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

KELEKATAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:

Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“. Apa yang harus dilepaskan? Dosa. Kenapa harus dilepaskan? Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Karenanya kita merasa begitu kepayahan, terbebani, malah seringkali dengan hebatnya; depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi. Bahkan tak jarang seorang rasul Tuhan mengalami kebinasaan, dikarenakan beban dosa yang amat berat itu. Maka, ketika Tuhan kita mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan-Nya yang lemah lembut ini bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya. Siapapun yang merindukan kelegaan, yang perlu ia lakukannl hanya satu, “melepaskan“. Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan merupakan bentuk kelekatan akan dosa yang dapat sangat menyulitkan, memayahkan, bahkan bisa mematikan panggilan seorang beriman dan perjuangannya untuk beroleh mahkota kemuliaan. Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat seperti apa, atau cacat dan kedosaan manakah, yang selama ini telah menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah. Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, atau apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”. Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah. Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“. Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, serta dengan komitmen teguh untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilan kita adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya. Per Mariam ad Iesum.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 28 September 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXVI

MENGIKUTI TANPA KELEKATAN
Bacaan:

Ayb.9:1-12.14-16; Mzm.88:10b-15; Luk.9:57-62

Renungan:

Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikuti Engkau. Apapun yang Kau minta dan Kaurancangkan, seturut kehendak-Mu akan kulakukan dan kutaati. Kupercayakan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas“.

Betapa indahnya perkataan ini, sungguh ideal dan diharapkan, untuk dihidupi oleh seorang rasul Kristus. Akan tetapi, realita hidup kristiani, seringkali memperhadapkan kita pada kebenaran, bahwa untuk melakukan tidaklah semudah mengatakan atau menjanjikannya. Lain di bibir, lain di hati. 

Injil hari ini mengungkapkan itu dengan begitu jelasnya. Banyak orang mengaku siap mengikuti Yesus, tetapi seringkali didapati bahwa jawaban itu disertai berbagai persyaratan. Ingin mengarahkan pandangan ke surga, tetapi hati masih melekat erat pada dunia. Untuk mengikuti Tuhan di “Jalan-Nya“, seringkali menuntut pula kesediaan dari pihak kita untuk meninggalkan berbagai jalan dan pilihan hidup, berbagai pertimbangan dan keberatan, berbagai pertanyaan dan keraguan, agar dapat melangkah dengan bebas dan hati gembira menuju Allah. Panggilan untuk mengikuti Tuhan dalam “libertas filiorum Dei – kemerdekaan anak-anak Allah“, mengharuskan kita dengan bantuan rahmat-Nya, untuk melepaskan diri dari segala kelekatan. 

Banyak rasul-rasul Kristus yang berhenti melangkah, mundur dari pelayanan, meredup dalam semangat kerasulan, menyerah dalam bahtera rumah tangga, tidak sanggup menderita, bahkan mengakhiri hidup dengan cara-caranya sendiri di luar kehendak Allah, hanya karena satu kecenderungan yang bernama “kelekatan“. Kelekatan ini tidak selalu jelas terlihat jahatnya, malah seringkali nampak sangat manusiawi, sebagaimana kita dapati dalam Injil hari ini.  

Kelekatan hadir dalam berbagai bentuk dan situasi, dimana kita sulit melepaskannya, karena itu telah mengganti tempat Allah sebagai yang terkasih di hati. Bagi yang seorang itu bisa dalam bentuk pekerjaannya, bagi orang lain bisa pula keluarganya. Bagi yang satu hobi-hobinya, bagi yang lain cita-citanya. Melepaskan kelekatan tidak selalu berarti mengabaikannya sama sekali, tetapi kalau Tuhan memperkenankan kamu menjalaninya, jalanilah tanpa hatimu melekat pada itu semua. Apapun bentuknya, selama itu tidak dilepaskan, selamanya pula anda akan merasa lelah, bahkan mati di tengah jalan karena kepayahan menapaki jalan Tuhan. Lekatkanlah hatimu pada Hati Tuhan, maka kamu akan menemukan arti kehadiranmu, arti hidupmu, arti karya kerasulanmu. Kamu akan menemukan “kesejatian panggilanmu“. 

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah lebih dahulu memancarkan cahaya Iman tanpa kelekatan, berkenan menolongmu dengan bantuan rahmat Ilahi, untuk melepaskan diri dan hatimu dari segala kelekatan, dan melangkah dengan gembira seirama dengan langkah Tuhan.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 7 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV


MERASUL TANPA KELEKATAN


Bacaan
:

Hos.11:1.3-4.8c-9; Mzm.80:2ac.3b.15-16; Mat.10:7-15

Renungan
:

Ketika dibaptis, suatu tugas suci telah diletakkan ke dalam hati kita, yaitu mewartakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa. Meskipun banyak di antara kita menerima anugerah pembaptisan sewaktu masih bayi, namun tugas ini tidak pernah boleh dilupakan. Disinilah panggilan keluarga, orang tua dan wali baptis mendapat makna yang adikodrati. Jangan pernah lupa mewariskan iman dan Amanat Agung kerasulan ini. Oleh sakramen pembaptisan, kita telah mengalami hidup dalam segala kepenuhan dan kasih karunia. Hidup sejati sebagai anak-anak Perjanjian. Ini bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Maka sadarilah dan syukurilah kebaikan Tuhan ini. Berhentilah menjalani hidup dalam perhambaan akan dunia. Tinggalkanlah kegelapan dan perbudakan dosa, dan melangkahlah menuju cahaya dengan dikobarkan oleh Api kerasulan.

Hidup beriman saat ini diperhadapkan dengan kemerosotan semangat merasul di tengah dunia. Banyak rasul-rasul Kristus yang kehilangan visi kerasulan, sehingga karya-karyanya tidak berbuah bagi Kerajaan Allah. Cahaya iman mulai meredup, garam cintakasih menjadi tawar, dan kesaksian hidup melemah menjadi seolah tak berpengharapan. Kita tidak boleh lupa bahwa panggilan merasul ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah“, kesadaran sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.

Tanpa kesadaran ini, maka seorang dapat jatuh dalam kegagalan untuk memberi nilai adikodrati dalam segala karya, sehingga menjadi karya manusia belaka, bukannya Karya Tuhan. Jangan pernah lupa bahwa panggilanmu adalah panggilan untuk Kemuliaan. Kemuliaan yang hanya dapat diperoleh bilamana kita menjalankan tugas kerasulan dengan penuh cinta dan ketekunan. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengutus para rasul dengan bersabda, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:7-8).

Kerajaan Allah itulah yang harus kamu wartakan. Wartakanlah itu dengan hidupmu, dengan senantiasa membawa tanda-tanda milik Kristus, dengan sikap heroik beriman yang mendatangkan kekaguman dan membuat seluruh dunia bertanya dan mencari tahu siapa Kristus itu, karena karya-karya agung yang dikerjakan-Nya dalam hidupmu. 

Jalan kerasulan ini bukanlah jalan yang dapat dilalui oleh mereka yang lemah hati. Kuatkanlah hatimu dengan senantiasa melekatkannya kepada Hati Tuhan. Santo Josemaría Escrivá mengatakan, “Hatimu melemah dan engkau mencari pegangan dunia ini. Bagus, tetapi berhati-hatilah agar pegangan yang menopangmu supaya tidak jatuh itu, tidak akan menjadi beban yang justru akan menyeretmu ke bawah, atau rantai yang akan memperbudakmu” (Camino, pasal 159). Kelekatan akan dunia dengan segala tawaran semunya, adalah perangkap si jahat yang harus dihindari oleh setiap rasul Kristus. Kelekatan seringkali disertai kesedihan yang berwujud kemurungan, suam-suam kuku, kemalasan, serta padamnya kerinduan untuk merasul dan mencari wajah Allah dalam diri sesama. 

Dalam surat pastoral kepada putra-putrinya, Prelat Opus Dei Msgr. Javier Echevarría mengingatkan, “Seorang Kristiani yang sungguh menyadari bahwa dia adalah anak Allah tidak akan pernah dikuasai oleh kesedihan… Kita adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah dunia, jadi wajar saja bahwa masalah-masalah mendesak dunia kontemporer saat ini – pergumulan melawan narkoba, berbagai krisis dalam kesatuan keluarga, sikap dingin yang disebabkan individualisme, serta krisis ekonomi, sangat mempengaruhi hidup kita. Diperhadapkan pada kenyataan ini seharusnya tidak membuat kita menjadi sedih. Yakinlah bahwa bila kita tetap dekat dengan Hati Yesus, kita akan selalu beroleh penghiburan, dan itu tidak hanya dialami pada kehidupan kekal” (Surat Bapa Prelat Juli 2016).

Di hari Peringatan Konsekrasi Gereja Santa Perawan Maria dari Torreciudad, marilah kita mohon penyertaan Bunda kita yang tersuci ini, bagi siapa saja yang melayani Yesus Putranya di jalan kerasulan suci. Semoga mereka senantiasa memandang Kristus, dan melayani di tengah dunia tanpa melekatkan hati pada segala yang fana, agar pada akhirnya dapat beroleh ganjaran mahkota surgawi, dalam kemuliaan kekal bersama Allah dan para kudusnya.
Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥ 

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan Biasa XI

image

MELEKATLAH KEPADA ALLAH

Bacaan:
2Kor.11:18,21b-30; Mzm.34:2-3,4-5,6-7; Mat.6:19-23

Renungan:
Kita pasti sudah pernah mendengar perkataan bahwa, “Hidup di dunia ini hanya sementara.
Kendati demikian, banyak orang menjalani hidup seolah-olah tidak akan pernah berjumpa dengan “saudari maut“, dan tidak sedikit pula kita jumpai mereka, termasuk di antaranya saudara-saudari seiman, yang menghadapi detik-detik terakhir hidupnya dalam penolakan, serta bersikap seolah-olah mereka tidak pernah hidup.
Kelekatan seringkali menjadi penyebab utama.
Bagaimana seorang beriman menghadapi kematian, sangat ditentukan oleh bagaimana dia memandang dan menjalani hidup.
Kematian bagi mereka yang menjalani hidup tanpa kelekatan akan dunia ini, adalah saat yang sungguh membahagiakan, sedangkan bagi mereka yang begitu melekat dan tenggelam dalam dunia ini, kematian dapat menjadi peristiwa yang menakutkan, yang begitu bodohnya berusaha dihindari dengan berbagai cara.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengingatkan kita, “Dimana hartamu berada, disitu hatimu berada“.
Iman Kristiani tidak pernah melarang kita untuk menginginkan atau memiliki sesuatu dalam hidup.
Seorang pekerja mengharapkan gaji yang lebih baik, promosi jabatan, atau bonus tahunan. Sebuah keluarga muda akhirnya memiliki rumah impian dari hasil tabungan mereka selama bertahun-tahun. Seorang pengusaha ingin melakukan ekspansi bisnis agar usahanya semakin berkembang. Seorang petani bersukacita karena hasil yang baik dari panenan tahun ini.
Tidak ada yang salah dari semuanya itu.
Menjadi keliru bilamana hati kita melekat pada apa yang kita sebut sebagai “kepunyaan, harta, atau milik” itu. Segala usaha dan kerja kita hendaknya menjadi sarana bagi kita untuk menguduskan diri dan sesama, sambil tetap mengarahkan hati kita untuk melekat kepada Allah.
Salah satu cara untuk menghindari kelekatan adalah dengan setiap hari merenungkan kata “cukup“.
Ensiklik “Laudato Si’” yang kemarin dimaklumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus, dilatarbelakangi oleh keprihatinan pastoral melihat kerakusan manusia yang tidak pernah merasa cukup.
Bahkan, doa Bapa Kami, yang kita renungkan perikopnya kemarin, dengan jelas berseru kepada Allah Bapa kita untuk memberi rezeki/makanan yang “secukupnya“.
Kelekatan dan kerakusan akan harta/milik pun merupakan salah satu sumber ketidakbahagiaan terbesar manusia di segala zaman.
Belajarlah merasa cukup.
Kalau diberi karunia makanan berlimpah, belajarlah berbagi dengan yang kelaparan. Kalau mobil yang lama masih layak dan baik kondisinya, tidak perlu membeli mobil yang baru, apalagi dengan uang yang bukan hakmu. Kalau gaji suami hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan, janganlah memaksakan diri untuk membeli tas atau barang bermerek.
Belajarlah merasa cukup untuk berbahagia. Mereka yang berbahagia adalah mereka yang tahu bersyukur.
Hendaknya dimengerti pula bahwa harta yang menjadi kelekatan kita tidak selalu berarti uang. Itu dapat berupa hobi, minuman keras, gosip, bahkan tontonan pornografi atau hiburan yang menjerumuskan orang ke dalam kegelapan.
Oleh karena itu hari ini renungkanlah, “Apa hartaku yang paling berharga, yang membuat hatiku tidak melekat pada Allah?
Mohonkanlah rahmat Allah untuk melepaskan kelekatan itu, dan mulailah mengarahkan pandangan “mata-mu” kepada Allah, supaya hidupmu bercahaya dan mendatangkan keselamatan atasmu dan semua orang yang berjumpa dan disentuh olehmu dalam peziarahan di dunia yang sementara ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa VIII

image

MELEPASKAN SEGALA UNTUK BEROLEH SEGALA

Bacaan:
Sir.35: 1-12; Mzm.5:5-6.7-8.14.23;. Mrk.10:28-31

Renungan:
Kelekatan adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan, dan penghalang terbesar bagi setiap orang Kristen untuk mengalami kepenuhan dari hidup berimannya.
Orang dapat saja memiliki segalanya, namun tetap tidak bahagia. Kita boleh memiliki sebuah keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan finansial yang mapan, pertemanan, hobi atau talenta, dan berbagai hal lain yang kita sebut sebagai “milik“.
Akan tetapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar “Janganlah hatimu melekat padanya.”
Ketika seorang anak enggan melepaskan mainan kesayangannya untuk disumbangkan kepada tempat penampungan anak terlantar, itulah kelekatan. Ketika seorang konglomerat, jatuh dalam depresi akibat kehilangan jutaan dollar dalam suatu investasi yang merugikan, itulah kelekatan. Ketika seorang wanita menghabiskan uang begitu banyaknya karena tidak mau tubuhnya mengalami perubahan seiring usia, itulah kelekatan. Ketika seorang Imam setengah hati untuk taat pada Uskupnya, yang memberi tugas ke tempat baru, sehingga ia harus meninggalkan umat yang begitu ia kasihi selama ini, itulah kelekatan.

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbahagia dan bersukacita. Maka, bilamana hidup kita ditandai dengan rupa-rupa ketidakbahagiaan dan ketiadaan sukacita, itu berarti ada kelekatan yang harus kita lepaskan.
Saat orang mulai mencari dan menemukan kebahagiaan pada kepemilikan, pada saat itulah dia sebenarnya mulai kehilangan kebahagiaan. Tidak ada satupun yang abadi dari kepemilikan seperti itu. Kita hanya akan menemukan kebahagiaan dan sukacita yang sejati, apabila hati kita melekat erat dan bersatu sepenuhnya dalam Hati Tuhan.
Oleh karena itu, berjalanlah di tengah dunia, tetapi hindarilah dirimu dari keinginan untuk menggenggam sesuatu dalam perjalanan, untuk menjadikannya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melangkahlah seperti seorang peziarah yang dipimpin oleh Roh kemiskinan yang suci, sehingga sekalipun memiliki, namun hatimu tidak melekat pada semua itu, sebab hatimu hanya senantiasa memandang Allah.

St. Yohanes dari Salib mengungkapkan paradoks kristiani ini dengan begitu indahnya dengan mengatakan bahwa, “untuk beroleh Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“.
Seringkali terjadi bahwa kelekatanlah yang membuat kita sulit untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, atau mengalami Dia sebagai Pribadi yang terlalu banyak menuntut. Ketidakmampuan kita untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan, disebabkan oleh kelekatan. Hari ini renungkanlah, apa saja kelekatan-kelekatan yang membuat kita seringkali jatuh dalam dosa yang sama, yang berulang kali melukai hati Tuhan dengan kecenderungan-kecenderungannya yang jahat?
Hari ini Tuhan menunggu jawaban darimu, “Jika engkau benar-benar mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu, lepaskanlah itu“.

Pandanglah Ibu Maria, dan belajarlah darinya. Dia adalah hamba Allah yang paling setia dan gambaran kesempurnaan Gereja. Perawan Maria dikatakan berbahagia, hidupnya selalu dipenuhi sukacita dan dipuji oleh segala bangsa, karena sepanjang hidupnya dia senantiasa memenuhi hatinya dengan cinta akan Allah, Kekasih jiwanya. Hatinya begitu melekat erat dan bersatu dalam Allah, sebab dia tidak pernah mengijinkan satu bagian pun dalam ruang-ruang hatinya bagi kelekatan atau “milik” yang harus dipertahankan.
Inilah kebahagiaannya. Inilah sukacitanya. Suatu kepenuhan mistik yang Ilahi, sebagaimana diutarakan oleh St. Teresa dari Avila, yaitu “Allah saja cukup ~ solo Dios basta“.
Semoga Roh Allah memurnikan cinta kita, agar menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam kelepasan akan segala, sehingga pada akhirnya kita semua beroleh Kristus Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando