Meditasi Harian ~ JUMAT AGUNG

image

KEBODOHAN SALIB

Bacaan:
Yes.52:13 – 53:12; Mzm.31:2.6.12-13-15-16.17.25; Ibr.4:14-16. 5:7-9; Yoh.18:1 – 19:42

Renungan:

Hari ini seluruh umat Allah berdiam sambil memandang dan merenungkan dalam suatu keheningan mistik akan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus di kayu salib. Kita memandang misteri salib dalam suatu kekaguman dan rasa syukur akan bukti cinta kasih Allah yang terbesar, tindakan yang menyelamatkan, yang memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah yang rusak akibat dosa.

Akan tetapi, hukuman penyaliban sendiri sebenarnya adalah bentuk hukuman paling keji dan hina di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi di masa lalu.
Seorang yang menerima hukuman salib, harus mengalami penderitaan luar biasa selama berjam-jam. Proses kematiannya pun berlangsung sangat lama, perlahan-lahan dan luar biasa menyakitkan. Bahkan, terkadang orang-orang yang menyaksikan hukuman ini harus mengambil inisiatif untuk mematahkan kaki para terhukum salib, agar penderitaan mereka boleh berakhir dan mati.
Begitu mengerikan, tidak manusiawi dan terkutuknya bentuk hukuman ini, sampai hukum Romawi pun mengatur bahwa seorang warga negara Romawi (masyarakat kelas I pada masa itu) tidak pernah boleh dihukum dengan cara seperti itu.

Karena itu, janganlah heran bilamana kita menyaksikan atau menemukan di sepanjang sejarah, sejak zaman para Rasul, bahkan sampai detik ini, orang-orang yang sulit memahami apalagi menerima kenyataan ini dan berkata, “Bagaimana mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, apalagi sampai mati pada sepotong kayu dengan cara yang teramat memalukan, demi keselamatan umat manusia?”
Bagi orang Yahudi, ini sebuah skandal atau batu sandungan, sedangkan bagi mereka yang bukan Yahudi, ini suatu kebodohan. (bdk.1 Kor.1:23)

Akan tetapi, bagi kita yang dipanggil untuk mengikuti jalan Sang Tersalib, wafat-Nya di kayu Salib adalah bukti cinta kasih Allah yang terbesar, yang selamanya kita syukuri dan dengan bangga akui dalam pengakuan iman kita.
Pengakuan iman yang di sepanjang zaman seringkali berakibat kemartiran. Iman akan Kristus yang tersalib menyebabkan para pengikut Kristus dimusuhi oleh dunia, kehilangan sahabat dan kedudukan dalam masyarakat, dikucilkan, dihina, dianiaya, dirajam, dibakar hidup-hidup, dipenggal, bahkan dibunuh secara massal dan membabi-buta.

Salib adalah bagian tak terpisahkan dari hidup seorang Kristen. Tidak mungkin mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat,  tetapi menolak merangkul jalan penderitaan yang berujung pada Salib.
Apa yang bagi orang lain merupakan kebodohan dan batu sandungan, bagi kita adalah suatu keuntungan.
Pilihan untuk mengikuti Sang Tersalib sama sekali bukanlah batu sandungan, kebodohan, atau kesia-siaan.
Mereka yang setia sampai akhir, pada akhirnya akan menerima ganjaran kebangkitan dan hidup kekal bersama Allah.

Oleh karena itu, manakala Gereja Katolik di Jumat Agung ini mengenangkan Sengsara dan Wafat Tuhan, sambil menghormati dan berlutut mencium salib dengan penuh cinta bakti, kita sebenarnya hendak menyatakan iman kita kepada dunia, serentak kembali diingatkan untuk menerima panggilan kita untuk membawa iman akan Sang Tersalib kepada semua orang, apapun resikonya, agar seluruh dunia ini boleh turut memperoleh buah-buah penebusan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Cintailah pengurbanan; karena itu adalah sumber kehidupan rohani. Cintailah Salib, yaitu altar pengurbanan. Cintailah sakit, sampai engkau minum seperti Kristus, hingga tetesan terakhir dari piala itu.” ~ St. Josemaría Escrivá

Pax, in aeternum.
Fernando