Meditasi Harian 18 November 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXXIII

image

MELAWAN TEROR DENGAN IMAN
Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilika St. Petrus dan Gereja Basilika St. Paulus di luar Tembok

Bacaan:
2Mak.7:1.20-31; Mzm.17:1.5-6.8b.15; Luk.19:11-28

Renungan:
Kitab Makabe dalam bacaan Liturgi hari ini mengisahkan, bagaimana seorang Ibu bersama 7 anaknya mempertahankan Iman mereka dihadapan penguasa dan orang-orang, yang hendak menjadikan mereka murtad.
Dengan detail diceritakan bagaimana si Ibu menyaksikan sendiri, di hari yang sama, ketujuh anaknya satu-persatu menjemput ajal dengan cara yang teramat keji. Lidah mereka dipotong, kepala dikuliti hidup-hidup, tubuh dimutilasi, kemudian potongan-potongan tubuh mereka dilemparkan ke dalam kuali untuk digoreng di atas api yang membara.
Kita pun membaca kebesaran hati si Ibu, yang menghibur dan menguatkan Iman anak-anaknya, untuk bertahan dalam penderitaan yang teramat hebat itu, dimana ketujuh anak-anaknya menjemput ajal dengan sikap beriman yang begitu heroik, hingga akhirnya kemartiran yang sama dialami pula oleh Ibu mereka.

Sebenarnya, sama seperti Ibu dan ke-7 anaknya ini, demikianlah pula Gereja Katolik yang Kudus ibarat seorang Ibu, setiap hari, terlebih di masa sekarang ini menyaksikan putra-putrinya harus mengalami rupa-rupa penolakan, ketidakadilan, penderitaan, penganiayaan, bahkan tak jarang dibunuh dengan cara yang teramat keji, semata-mata karena Iman Kristiani mereka.
Di tengah segala bentuk teror dalam hidup beriman, kita semua diingatkan untuk tidak goyah dan tetap berdiri teguh dalam Iman.
Tidak ada pembenaran bagi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Oleh karena itu, putra-putri Gereja senantiasa diingatkan untuk menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesaksian cintakasih, sambil tetap berpegang teguh pada satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan, dalam Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Berbagai kecenderungan dunia saat ini pun mengingatkan kita bahwa Iman Kristiani kita adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan.
Memang benar bahwa Gereja harus jeli melihat tanda-tanda zaman, untuk membaharui diri, agar selalu bisa menemukan cara-cara baru dan tepat untuk mewartakan Imannya.
Akan tetapi, semangat dan kesadaran itu tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengedepankan gagasan teologi “kerahiman yang keliru” yang membenarkan dosa, dengan merubah Ajaran/Doktrin Iman yang telah kita pegang teguh selama hampir 2000 tahun sejak Gereja Katolik didirikan, apalagi melihat tanda-tanda zaman dan kecenderungan-kecenderungan jahat dunia ini seolah Wahyu Ilahi, untuk membenarkan diri bahwa Gereja Katolik harus masuk dan terbawa hanyut oleh arus zaman.

Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam telah mempercayakan kepada kita masing-masing rupa-rupa karunia dan talenta. Janganlah melihatnya sebagai beban, tetapi lihatlah itu sebagai tanda cinta Tuhan, yang dengan murah hati mempercayakan semuanya itu kepadamu, untuk dilipat gandakan, sehingga mendatangkan sukacita bagimu, serta dipersembahkan demi kemuliaan Allah dan Kerajaan-Nya.
Ini bukan tugas yang membebani, melainkan suatu panggilan cinta Tuhan bagi kita hamba-hamba-Nya. Santo Agustinus dalam kesadaran akan hal ini pun tanpa ragu mengatakan bahwa sesungguhnya, “Cinta tidak pernah membebani“.
Percayalah bahwa bersamaan dengan karunia dan talenta, sebesar apapun itu, Tuhan selalu menyertakan pula rahmat dan kebijaksanaan yang cukup, asalkan kita pun memiliki penyerahan diri total dan cinta bakti yang seutuhnya kepada-Nya.

Semoga Santa Perawan Maria dari Lourdes, Pelindung Perancis dan seluruh dunia, menyertai kita dengan doa-doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita senantiasa menimba dari aliran air kehidupan kekal yang mengalir dari Hati Kudus Putra-Nya, sehingga kita dapat selalu berdiri teguh dalam Iman, melayani dan mengusahakan segala karunia dan talenta dari-Nya dengan hasil yang berlipat ganda, serta menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini bukan dengan kekerasan dan teror, melainkan dengan kuasa Cintakasih.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 5 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXVII

image

AKU TELAH DITEMUKAN – MAKA KINI AKU MENEMUKAN

Bacaan:
Yun.1:1-17 dan 2:10; MT Yun.2:2.3.4.5.8; Luk.10:25-37

Renungan:
Injil hari ini mengajak kita merenungkan pertanyaan penting ini, “Siapakah sesamaku?

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus.
Kebanyakan dari para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah lambang Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh jahat yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.
Tempat penginapan adalah lambang Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang manusia.
Dan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara dengan begitu kerasnya untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa.

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.
Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.
Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27)

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.
Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.
Kita dapat saja menolak mencinta dan membawa seruan pertobatan serta cahaya keselamatan seperti penolakan untuk diutus sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yunus dalam bacaan pertama hari ini.
Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita.
Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.
Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan satu-satunya jawaban atas dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup.
Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XI

image

KEKRISTENAN ADALAH CINTA

Bacaan:
2Kor.8:1-9; Mzm.146:2.5-6.7.8-9a; Mat.5:43-48

Renungan:
Nietzsche, seorang filsuf ateis terkemuka, pernah mengajukan pertanyaan kritis yang sungguh amat mengena mengenai Iman Kristiani. Beliau mengatakan, “Kalau orang-orang Kristen menghendaki agar kita percaya akan Sang Penebus mereka, mengapa mereka tidak sedikit lebih menunjukkan, bahwa mereka benar-benar telah ditebus?
Kritik Nietzsche seolah menemukan dasar pijakan ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa seringkali kita, yang berbangga telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan, justru berperilaku seperti orang yang tidak ditebus dan diselamatkan, serta menjalani hidup seakan-akan tidak pernah mengenal Tuhan.
Kita menyapa Allah sebagai Cinta (Kasih), dan dalam doa-doa pribadi terkadang terlalu menuntut Dia untuk mencintai kita, seakan-akan cinta-Nya masih kurang, padahal kita sendiri justru enggan berbelas kasih terhadap sesama, dan mencinta secara bersyarat.
Cinta tidak serta-merta sama dengan berbuat baik, karena berbuat baik dapat saja dilakukan tanpa harus didasarkan oleh cinta.
Cinta berarti mempedulikan keberadaan hidup orang lain, menerima diri mereka seutuhnya, termasuk borok-borok mereka, serta memperhatikan mereka dengan tulus. Ini berarti pula memberikan diri, meskipun terkadang harus mengorbankan diri. Bahkan, dapat saja terjadi bahwa cinta sejati membawa kita untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup.
Cinta sejati menuntut kesediaan untuk melupakan diri, suatu pengingkaran diri.
Kita hanya dapat menemukan diri dengan jalan melupakan diri.
Dengan demikian, sebenarnya dengan mencintai sesama seutuhnya, kita justru menemukan keutuhan diri kita sendiri, hakekat diri kita yang tercipta karena cinta.
Kita seharusnya menjadi tanda-tanda hidup bagi dunia, rasul-rasul Cinta, yang menulari seluruh dunia dengan kegilaan yang sama. Dunia yang semakin memalingkan wajahnya dari Sang Cinta, yang menanyakan apa Tuhan itu ada atau tiada, apa Ia hidup atau sudah mati, untuk apa kita tercipta dan kemana kita pergi setelah ini. Di tengah dunia yang mengajukan rupa-rupa pertanyaan semacam inilah, seharusnya mereka yang bertanya dapat menemukan jawaban dengan perantaraan kita, para pengikut Kristus.
Jawaban yang mereka temukan bukan sekadar dalam kata-kata, melainkan sungguh nyata dalam kesaksian hidup yang berlimpah cinta dan sukacita Injil, dengan hati yang terbuka untuk mencinta dan dicinta.
Tidak mungkin mengatakan, “Aku mencintaimu“, kepada yang seorang, tetapi mengatakan kepada yang lain, “Aku benci kamu! Tiada maaf bagimu! Mati saja kau!
Bila itu terjadi, berarti cinta kita belumlah sempurna, demikian pula identitas Kekristenan kita cacat karenanya.
Inilah inti kekristenan, bukan sekedar hirarki, organisasi, atau doktrin, melainkan “Cinta“.
Bahasa kita adalah bahasa cinta. Panggilan kita adalah panggilan untuk mencinta.
Inilah “Trademark” kita, dengan tanda inilah dunia seharusnya mengenal kita. Kekristenan adalah Cinta.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan VI Paskah

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Kis.16:11-15; Mzm.149:1-2.3-4.5-6a.9b; Yoh.15:26 – 16:4a

Renungan:
Akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.” (Yoh.16:2)
Kekristenan sekarang menghadapi penganiayaan paling buruk dalam sejarahnya di milenium ini.
Hampir setiap hari kita membaca dan mendengar berita, serta melihat saudara-saudari seiman kita menghadapi rupa-rupa ketidakadilan, pengusiran, teror, penganiayaan, bahkan dibunuh, semata-mata karena menjadi pengikut Kristus.
Penganiayaan ini datang di saat Gereja sendiri sedang mengalami berbagai bentuk kemunduran rohani, disaat si jahat juga sedang menyerang dari dalam, untuk membelokkan Gereja dari Iman yang sejati.
Tetapi, jangan takut! Sadarilah hal ini. Darah para martir adalah ladang subur bagi tumbuhnya Iman Kristiani. Berbahagialah kamu yang hidup di zaman ini, karena kamu beroleh kesempatan untuk menjadi saksi-saksi sukacita Injil bagi dunia, untuk dengan lantang mewartakan “Credo” sebagaimana Gereja Perdana, apapun resikonya.
Dan jika karena Iman Kristiani ini kamu harus menderita berbagai penganiayaan, bahkan menghadapi bahaya kematian karenanya, semoga Roh Penghibur, Roh Kebenaran yang berasal dari Bapa meneguhkan hatimu agar tidak goyah dan dengan berani menjemput mahkota kemartiran, sebagaimana para Rasul dan putra-putri Gereja lainnya, yang dengan berani memelihara imannya sampai tetes darah terakhir.
Iman Kristiani adalah harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan.
Saat ini Gereja memang berada dalam masa paling sulit dalam sejarahnya.
Si jahat berkeliling mengepung Gereja dari berbagai sisi bagaikan binatang buas yang siap menerkam.
Tetapi, jangan takut! Berdirilah teguh dalam Iman, maka si jahat tidak akan pernah menang. Pada akhirnya nanti, ibarat emas yang diuji dalam api, Gereja yang keluar dari kesusahan besar ini akan menjadi Gereja yang dimurnikan, serta menjadi cahaya keselamatan bagi seluruh dunia.

Pax, in aeternum.
Fernando