Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan III Paskah

image

TERCIPTA KARENA CINTA

Bacaan:
Kis.8:1b-8; Mzm.66:1-3a.4-5.6-7a; Yoh.6:35-40

Renungan:
Allah adalah Cinta. Kita diciptakan karena Cinta. Tubuh fana kita yang tercipta dari debu tanah, dihidupkan oleh hembusan Roh Cinta. Kita memasuki fajar hidup, berada, berkarya, menjemput senja hidup, karena dan demi Sang Cinta.
Oleh karena itu, manakala dunia saat ini dipenuhi dengan ketidakbahagiaan, kelaparan dan kehausan baik secara materi maupun spiritual, penyakit dan budaya kematian, serta segala bentuk dosa dan kejahatan, sebenarnya akar penyebab dari semuanya itu hanyalah satu, yakni ketiadaan Cinta.
Satu-satunya pilihan terbaik, obat ilahi yang menyembuhkan, jawaban sejati dari segala bentuk ketiadaan Cinta itu hanya bisa ditemukan di dalam Allah, Sang Cinta Yang Sejati.
Hanya dalam kesadaran inilah, kita bisa memahami perkataan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, dalam bacaan hari ini.
Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh.6:35)
Kebahagiaan yang kita cari memiliki nama, Roti Hidup yang dapat memuaskan dahaga dan kelaparan yang kita rindukan memiliki nama, Sang Cinta yang sanggup mengisi ketiadaan Cinta yang kita dambakan memiliki nama.
Namanya adalah Yesus.
Semua yang datang dan percaya kepada-Nya tidak akan menjadi yang terbuang, hilang, apalagi binasa.
Barangsiapa datang dan percaya kepada-Nya akan dibangkitkan pada akhir zaman dan hidup dalam kekekalan. (bdk.Yoh.6:37-40)
Berbahagialah mereka yang datang dan percaya kepada-Nya, merekalah para kekasih sejati yang telah melalui kesusahan besar untuk dapat menari bersama gerak cinta Allah. Pada saat yang membahagiakan itu, bersama St. Agustinus dari Hippo, kita pun dapat berkata, “Dilige et quod vis fac ~ Bercintalah dan lakukanlah apa saja yang kau kehendaki.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan II Paskah

image

BERCAHAYA DALAM KEGELAPAN

Bacaan:
Kis.5:17-26; Mzm.34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh.3:16-21

Renungan:
Di balik segala penemuan, terobosan, dan kemajuan zaman, kita menemukan kenyataan menarik bahwa manusia telah melakukan berbagai cara untuk menciptakan cahaya. Mulai dari keberhasilan primitif untuk membuat api oleh manusia pra-sejarah, lilin dari lemak ikan yang bermula di China, penemuan lampu listrik oleh Edison, hingga berbagai bentuk penerangan masa kini, berbagai usaha telah dibuat manusia untuk menciptakan cahaya.
Menariknya juga, belum pernah ada orang (sejauh pengamatan pribadi), yang berniat menciptakan kegelapan atau melenyapkan cahaya.
Ini seolah hendak menunjukkan bahwa, disadari atau tidak, kita semua sebenarnya bukan anak-anak kegelapan. Kita adalah putra-putri Cahaya yang merindukan hidup bermandikan Terang Ilahi.
Setiap orang, tanpa terkecuali, dipanggil untuk melangkah ke dalam cahaya, bukannya berdiam dalam kegelapan.
Hanya di dalam Tuhan hidup kita menemukan arti. Tanpa Tuhan, kita akan selamanya berada dalam kehampaan.
Dosalah yang merusak citra Allah dalam diri manusia, dan menanamkan benih kejahatan untuk lebih menyukai kegelapan, yang berujung pada penolakan dunia untuk menerima Sang Terang, Cahaya dan Sukacita Paskah yang sejati.
Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh.3:19)
Kegagalan dan penolakan manusia untuk menerima Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, adalah kegagalan dan penolakan manusia untuk menyadari martabat luhur dari kemanusiaan itu sendiri.
Semakin seseorang menjauh dari Allah, dia justru akan semakin kehilangan kemanusiaannya.
Mendekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekat kepadamu.
Berbahagialah mereka yang berani melangkah mendekati cahaya supaya dimurnikan, karena bagi merekalah ganjaran hidup kekal itu telah tersedia (bdk.Yoh.3:16).
Inilah panggilan kita, untuk mendekati Sang Cahaya sehingga menjadi satu dengan-Nya, agar kemudian boleh menjadi pelita yang mengeyahkan kegelapan dosa dan maut dari dunia ini.

Pax, in aeternum.
Fernando