Meditasi Harian 22 April 2016 ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

LAIN DI BIBIR LAIN DI HATI

Bacaan:
1Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Berbagai ras, suku, budaya, bahasa, agama, dan berbagai bentuk pluralisme lainnya, tentu atas satu dan berbagai cara mempengaruhi seorang pengikut Kristus untuk merasul di tengah dunia. Semangat nasionalisme serta hidup berbangsa dan bernegara pun menuntut kita untuk mengungkapkan iman dengan sikap heroik, sebagaimana dikatakan oleh St. Josemaría Escrivá, yakni menjadi seorang “Katolik berarti cinta tanah air“.

Tantangan hidup beriman seorang Katolik Indonesia di masa sekarang ini, adalah bagaimana menjadi 100% Indonesia dan 100% Katolik yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi disaat bersamaan, kita pun harus senantiasa memiliki semangat misioner untuk mewartakan Injil secara otentik. Seorang beriman tidak pernah dibenarkan untuk mengerdilkan hidup berimannya demi pluralisme. Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa “Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan“. Iman itu harga mati, sebab Gereja Katolik adalah Gereja para Martir. Darah mereka telah menjadi ladang yang subur bagi benih iman.

Itulah sebabnya, kita dituntut untuk menjalani hidup beriman kita secara terpercaya dan meyakinkan, tanpa jatuh dalam fanatisme atau radikalisme.
Ada bahaya besar dalam hidup menggereja saat ini, dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus hanya menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup di bibir saja, tetapi tidak di hati.

Berbagai institusi pendidikan, kesehatan, maupun sosial karitatif, dengan bangga menyandang label “Katolik“, tetapi dijalankan dengan gaya sekuler yang kental, jauh dari jiwa Katolik. Demi pluralisme, kerasulan misioner dikesampingkan, tidak ada baptisan baru disitu, lupa akan tugas luhurnya untuk “menjadikan semua bangsa murid Tuhan, dan untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Bahkan untuk mengawali dan mengakhiri doa dengan Tanda Salib pun, harus pikir seribu kali demi pertimbangan toleransi? Iman Kristiani menjadi tidak lebih dari label yang menjamin mutu, atau salah satu mata kuliah yang wajib dipelajari. Seringkali terjadi bahwa tidak ada pewartaan dan keteladanan yang memenangkan jiwa disitu. Bahkan tak jarang, Salib pun diturunkan dari ruangan selain Kapel, semua atas nama toleransi.
Jikalau tidak demikian, “Apa bedanya kamu dengan  institusi pendidikan, kesehatan, dan lembaga-lembaga sekuler lainnya? Bahkan tanpa label Katolik, orang yang tidak beriman dan tidak mengenal Allah pun melakukan hal yang sama. Apa bedanya kamu dengan mereka?
Kekristenan tidak pernah bertentangan dengan pluralisme. Sebab Katolik itu sendiri berarti Universal.

Injil hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kedalaman hidup beriman kita. Sebagaimana kepada Musa, ALLAH mengungkapkan Diri-Nya dengan pernyataan, “AKU adalah AKU” (Kel.3:14), demikian pula YESUS mengungkapkan ke-ALLAH-an-Nya dengan mengatakan, “AKU-lah JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”.
Tidak ada pendiri agama, nabi, rasul, atau manusia manapun yang sanggup membuat klaim demikian. Hanya ALLAH yang dapat melakukannya.

Maka, “Jangan salah pilih Jalan! Wartakanlah sukacita Injil dalam Kebenaran, tanpa ditutup-tutupi, dan tanpa terjebak dalam tembok pluralisme semu yang mematikan kerasulan. Dengan demikian, kamu akan beroleh Hidup.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, meneguhkan imanmu untuk tidak dikompromikan dengan berbagai situasi hidup, yang dapat berujung pada kehilangan rasa beriman. Anda bukan warga negara yang setengah-setengah, maka jangan juga menjalani imanmu setengah-setengah. Jangan hanya mengatakan diri beriman dengan ucapan bibir. Berimanlah dengan Hati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 28 Maret 2016~SENIN DALAM OKTAF PASKAH

image

PERJUMPAAN DENGAN KEBENARAN

Bacaan:
Kis.2:14,22-32; Mzm.16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Mat.28:8-15

Renungan:
Disadari atau tidak, Kekristenan adalah suatu perjumpaan dengan peristiwa. Peristiwa ini bukanlah peristiwa biasa, karena untuk memahami dan merangkulnya sebagai Kebenaran, seseorang memerlukan Iman. Itulah sebabnya, diperhadapkan dengan berbagai peristiwa hidup yang tak dimengerti, manusia seringkali sulit menerima itu sebagai kebenaran.
Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, setelah mendengar kebenaran kebangkitan Tuhan, yang diberitakan para serdadu, justru menjadi takut dan memilih menutupi kebenaran.
Lain halnya dengan para wanita pengikut setia Tuhan kita. Ketika menemukan kebenaran bahwa makam telah kosong, mereka mengalami kegelapan iman yang menakutkan, namun seketika juga mendatangkan sukacita yang besar. Sukacita iman yang membuat mereka berlari dalam kuasa cinta untuk membagikan kabar sukacita Injil ini.
Disini kita melihat 2 sikap yang berbeda dalam menanggapi kebenaran janji Tuhan.
Anda dapat memilih menjadi “saksi” dari kebenaran itu dan mewartakannya dalam hidup dan karya, atau memilih “diam” dan mengubur kebenaran itu,  karena telah nyaman dalam kesementaraan kemuliaan duniawi yang membinasakan baik tubuh maupun jiwa.
Berdirilah teguh dalam Iman, peganglah janji Tuhan, dan saksikanlah bagaimana dia melakukan perkara-perkara besar dalam dan melalui hidupmu.
Suatu sikap beriman yang dengan begitu indah diungkapkan hari ini oleh pemazmur, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm.16:8)
Hari ini biarlah sapaan Tuhan dan Penyelamat kita kembali bergema, “Jangan Takut!” (Mat.28:10)
Semoga kita sekalian, sebagaimana Ibu kita Maria, senantiasa diterangi oleh cahaya iman, agar dapat mengambil sikap yang tepat disaat peristiwa hidup menghantar kita pada perjumpaan dengan Sang Kebenaran.
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (Kis.2:32)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Agustus 2015 ~ Pesta St. Bartolomeus, Rasul

image

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Bacaan:
Why.21:9b-14; Mzm.145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh.1:45-51

Renungan:
Rasul St. Bartolomeus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini, adalah salah satu dari 12 Rasul dari Tuhan kita Yesus Kristus. Ia dikenal pula dengan nama “Natanael“. Di kemudian hari setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Rasul St. Bartolomeus mewartakan Injil ke jazirah Arabia, termasuk Syria dan Persia, bahkan sampai ke India. Pada akhir hidupnya, ia mewartakan Injil ke Armenia, dan berhasil menobatkan Polymius, seorang Raja Armenia, hingga akhirnya dia minta dibaptis oleh Rasul St. Bartolomeus. Peristiwa tersebut mendatangkan kemarahan Astyages, adik Raja Polymius, yang kemudian memerintahkan sang Rasul untuk dibunuh. Rasul St. Bartolomeus menerima mahkota kemartiran dengan cara dikuliti hidup-hidup kemudian wafat disalib dalam posisi terbalik pada akhir abad ke-1 Masehi di Albanopolis, Armenia.
Di kemudian hari jenasahnya dipindahkan dari Armenia, dan saat ini sebagian besar dari potongan tulang jenasahnya disemayamkan dengan penuh hormat dalam Gereja Katolik Basilika St. Bartolomeus, yang terletak di sebuah pulau di tengah sungai Tiber (Roma).
Hidup Rasul St. Bartolomeus memancarkan suatu kesaksian iman akan Allah yang luar biasa. Dalam bacaan Injil hari ini pun, dikatakan bahwa Tuhan Yesus memuji kejujuran hidup Rasul St. Bartolomeus dengan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!

Kejujuran adalah salah satu kebajikan dalam hidup Kristiani yang menyukakan hati Tuhan.
Jika “Ya“, katakan “Ya“. Jika “Tidak“, katakan “Tidak“.
Seorang Katolik tidak boleh bersikap abu-abu atau suam-suam kuku.
Dalam hidup menggereja, dalam pelayanan kasih, karya kerasulan dalam bentuk apapun, termasuk dalam profesi kerja dan panggilan apapun yang kita jalani, seorang Katolik harus selalu menghindari bahaya “kepalsuan” dalam hidup.
Tidak boleh menjadi orang Katolik yang setengah-setengah. Mengatakan menyembah Allah, tetapi masih memelihara berhala-berhala dab berpegang pada hal atau benda yang bukan bersumber dari kuasa Allah.
Jadilah teladan kejujuran dalam pekerjaanmu, sesederhana apapun itu. Jalanilah panggilan hidupmu dengan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah lilin yang bernyala sampai titik penghabisan, kendati disaat semua orang disekitarmu memilih menjadi lilin yang padam di tengah jalan, karena tidak sanggup melawan desakan untuk turut serta dalam kegelapan.

Kejujuran di hadapan sesama hanya mungkin dilakukan bilamana kita terlebih dahulu telah bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Bukankah Tuhan Mahatahu, bahkan tak sehelai rambutmu pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya?
Jikalau demikian, bagaimana mungkin kamu menjalani hidup dalam kebusukan dosa yang dikubur dalam-dalam, berusaha menyembunyikannya dalam topeng kepalsuan, sambil tetap melayani Tuhan dan menyembut dirimu hamba yang setia, seolah Tuhan bisa dibodohi atau didustai?
Meskipun anak-anak kegelapan mencoba menyamar sebagai malaikat terang dan menipu banyak orang, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi.
Maka, bila kamu memang adalah putra-putri Cahaya, jujurlah di hadapan Sang Cahaya. Jangan berusaha bercahaya, sambil tetap memelihara kegelapan dalam jiwa. Kendati demikian, jangan pernah menjadikan alasan “masih punya dosa“, sebagai pembenaran untuk menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Kejujuran bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, ketiadaan cacat, atau tidak pernah melakukan kesalahan.
Kejujuran berarti kesadaran akan kerapuhan diri, yang mendorong kita untuk meletakkannya ke dalam tangan belas kasih Tuhan, untuk diubahkan. Mereka yang berani jujur dan merendahkan diri di hadapan Allah dalam penyerahan diri total, akan mendapati ketidaksempurnaan dalam dirinya secara perlahan disempurnakan oleh Allah.
Jalanilah hidup setiap hari bagaikan di tengah medan pertempuran antara membiarkan dirimu dikalahkan dan jatuh dalam kepalsuan si jahat, atau untuk menjadi pemenang dalam kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.

Anda dan saya tahu, dalam hal apa secara spesifik kita sering bersikap tidak jujur. Ketidakjujuran orang yang satu mungkin berbeda dengan orang yang lain. Tetapi, kendati bentuk, situasi, atau tindakannya berbeda, pada hakikatnya untuk dapat mengikuti Tuhan secara “bebas“, kepalsuan demikian haruslah “dilepaskan“.
Semoga Rasul St. Bartolomeus menjadi teladan kita, akan bagaimana untuk hidup tanpa kepalsuan, dan bagaimana memiliki keberanian beriman untuk mewartakan kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Tak Bercela, membimbing kita di jalan kejujuran menuju Yesus Putranya, Sang Kebenaran Sejati.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan VI Paskah

image

KAMU ADA KARENA DIA

Bacaan:
Kis.17:15.22 – 18:1; Mzm.148:1-2.11-12ab.12c-14a.14bcd; Yoh.16:12-15

Renungan:
Hidup kita kehilangan arti tanpa Tuhan. Hidup kita hanya akan menemukan makna di dalam Tuhan, karena hanya di dalam Dia, kita “hidup, bergerak, dan ada” (bdk.Kis.17:28a).
Disadari atau tidak, setiap orang yang mencari kebenaran, sebenarnya mencari Allah. Demikian pula setiap orang yang mencari kebahagiaan, sebenarnya mencari Allah. Allah itulah Kebenaran. Dialah kebahagiaan yang sejati yang kamu cari selama ini. Banyak orang bijak dan pandai menurut ukuran dunia, yang mencari kebenaran, tetapi tidak pernah menemukannya, karena mereka menolak menerima Yesus, Putra Allah, Sang Kebenaran, serta menolak sukacita Injil yang diwartakan oleh Gereja. Demikian pula ada begitu banyak orang yang jatuh dalam kebahagiaan palsu, yang hadir dalam berbagai bentuk kenikmatan dunia, pelarian diri dari kenyataan hidup, dan persahabatan dengan dosa.
Kendati kita telah menjadi putra-putri Gereja, dengan rendah hati harus diakui bahwa kitapun seringkali menyangkal kebenaran dan memilih diam tanpa suara, serta jatuh dalam kebutaan yang sama, sehingga merasa tidak bahagia.
Oleh karena itu, mohonkanlah pembaharuan iman dan daya hidup Roh Kudus, agar oleh hembusan dan gerak cinta-Nya yang lembut, kita dituntun-Nya untuk menemukan kebenaran dan kebahagiaan sejati.
Berdirilah dengan teguh dalam iman, tinggalkan kegelapan dan mulailah melangkah menuju cahaya, tanpa pernah menoleh lagi ke belakang.
Terlalu lama si jahat membuatmu terpuruk di sudut yang gelap dalam ketiadaan cinta, pengharapan, dan kebahagiaan.
Padahal, sejak awal kamu justru diciptakan dalam kelimpahan cinta oleh Sang Cinta, dan dipanggil untuk bercahaya sebagai saksi-saksi kebenaran, sehingga pada akhirnya beroleh mahkota kebahagiaan surgawi.
Berjuanglah dalam pertempuran suci yang heroik guna memenangkan jiwamu, untuk meninggalkan segala hal yang selama ini menjadi rintangan terbesar bagimu dalam mendekati dan menyentuh Hati Tuhan.
Dekatilah api cinta-Nya, dan sekalipun sakit, bahkan hangus oleh kobaran api cinta-Nya, biarlah dirimu dimurnikan karena-Nya.
Milikilah kerendahan hati untuk membiarkan dirimu dikuasai sepenuhnya oleh cinta-Nya yang membimbing.
Semoga tiba saatnya dalam perjalanan rohanimu, dimana engkau akan meletakkan tongkat peziarahanmu dan akhirnya berhenti mencari. Itulah saat dimana wajahmu dibasahi air mata, bukan karena dukacita, melainkan sukacita karena kamu telah menemukan Dia yang dengan penuh kelembutan menyapa, “Ini Aku. Beristirahatlah.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

KESELAMATAN HANYA ADA DI DALAM DIA

Bacaan:
Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh.14:6)
Sejarah kita telah menampilkan begitu banyak tokoh dunia di sepanjang zaman, yang begitu bijaksana dan mendatangkan kekaguman dalam pandangan dunia, tanpa harus disebutkan satu-persatu. Mereka mengajarkan bagaimana orang dapat memilih jalan yang tepat, dalam hal apa seseorang dapat dibenarkan dan menemukan kebenaran, dan mereka pun mengajarkan bagaimana caranya supaya kita dapat hidup dengan baik.
Mereka semua berbicara mengenai jalan, kebenaran dan hidup. Akan tetapi, tidak ada satupun diantara mereka yang sanggup meng-klaim dirinya sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini.
Hanya Yesus satu-satunya Pribadi yang bisa mengatakan, “Akulah Jalan. Akulah Kebenaran. Akulah Hidup“.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus bukanlah sekadar orang bijaksana yang menulis buku-buku pedoman bagi umat manusia. Dia bukan sekadar seorang yang dicerahkan sesudah meditasi bertahun-tahun, atau salah satu di antara guru besar dalam sejarah kemanusiaan.
Yesus, Sang Putra Allah, adalah satu-satunya Jalan, satu-satunya Kebenaran, dan satu-satunya Hidup.
Berbahagialah mereka yang telah menemukan kebenaran iman ini dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Iman inilah yang akan menghantar kita kepada keselamatan kekal.
Extra ecclesiam nulla salus“, di luar Gereja tidak ada Keselamatan.
Kebenaran iman ini adalah mutlak adanya.
Tetapi, ini sama sekali tidak mengurangi penghormatan Gereja Katolik terhadap setiap hal yang baik dan benar dalam saudara-saudari seiman lainnya, maupun agama-agama lain. Injil hari ini dan pernyataan di luar Gereja tidak ada keselamatan, haruslah dimengerti secara benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Magisterium Gereja.
Gereja mengajarkan bahwa semua orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya, namun tetap mencari Allah dan mengikuti suara hati dengan tulus, bisa mencapai keselamatan kekal. Namun, orang yang telah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah ‘Jalan, Kebenaran, dan Hidup’, tetapi tidak bersedia mengikuti Dia, tidak dapat mencapai keselamatan melalui cara lain” (bdk.YouCat).
Karena itu, “Janganlah gelisah hatimu! Jangan takut! Percaya saja!

Pax, in aeternum.
Fernando