Berita Duka dari Keuskupan Prelatur Opus Dei


Pada pukul 21:20 hari ini (12 Desember waktu Roma), bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria, Bunda kita dari Guadalupe, telah berpulang Yang Mulia Uskup kita yang terkasih Javier Echevarria (Bapa Prelat Opus Dei), pada usia 84 tahun. Beliau adalah penerus ke-2 dari Santo Josemaria Escriva, Bapa Pendiri Opus Dei. Vikaris Auksilier Opus Dei, Msgr. Fernando Ocariz, beroleh kesempatan memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit (Minyak Suci) kepada beliau, beberapa jam sebelum berpulangnya.

Sebelumnya, Yang Mulia Bapa Uskup Echevarria telah dirawat di Campus Bio-Medico University Hospital (Roma) sejak 5 Desember yang lalu, dikarenakan pneumonia. Beliau menerima serangkaian antibiotik untuk melawan infeksi paru-paru. Dalam jam-jam terakhir terjadi komplikasi, hingga akhirnya meninggal. 
Sebagaimana telah diatur dalam Statuta Prelatur, tampuk pemerintahan sementara Opus Dei kini berada di tangan Vikaris Auksilier, Msgr. Fernando Ocariz. Beliau nantinya harus memanggil Dewan, untuk memilih Bapa Prelat yang baru. Ini harus dilangsungkan dalam kurun waktu 3 bulan, dan setelah hasil pemilihan keluar, nantinya diajukan ke Paus, untuk beroleh pengesahan.
Yang Mulia Echevarria lahir pada 1932 di Madrid, dan disanalah dia bertemu dengan St. Josemaria Escriva. Dia kemudian menjadi Sekretaris St. Josemaria dari 1953 sampai 1975. Kemudian, dia ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Opus Dei, dan pada 1994 terpilih sebagai Bapa Prelat, menggantikan Beato Alvaro Del Portillo. Pada 6 Januari 1995, dia ditahbiskan sebagai Uskup Prelatur Opus Dei oleh Paus St. Yohanes Paulus II di Gereja Basilika St. Petrus.
Berikanlah istirahat kekal kepadanya, Ya Tuhan. Semoga terang abadi menyinarinya, agar beristirahat dalam ketentraman karena kerahiman Tuhan. Amen.

Meditasi Harian 22 April 2016 ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

LAIN DI BIBIR LAIN DI HATI

Bacaan:
1Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Berbagai ras, suku, budaya, bahasa, agama, dan berbagai bentuk pluralisme lainnya, tentu atas satu dan berbagai cara mempengaruhi seorang pengikut Kristus untuk merasul di tengah dunia. Semangat nasionalisme serta hidup berbangsa dan bernegara pun menuntut kita untuk mengungkapkan iman dengan sikap heroik, sebagaimana dikatakan oleh St. Josemaría Escrivá, yakni menjadi seorang “Katolik berarti cinta tanah air“.

Tantangan hidup beriman seorang Katolik Indonesia di masa sekarang ini, adalah bagaimana menjadi 100% Indonesia dan 100% Katolik yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi disaat bersamaan, kita pun harus senantiasa memiliki semangat misioner untuk mewartakan Injil secara otentik. Seorang beriman tidak pernah dibenarkan untuk mengerdilkan hidup berimannya demi pluralisme. Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa “Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan“. Iman itu harga mati, sebab Gereja Katolik adalah Gereja para Martir. Darah mereka telah menjadi ladang yang subur bagi benih iman.

Itulah sebabnya, kita dituntut untuk menjalani hidup beriman kita secara terpercaya dan meyakinkan, tanpa jatuh dalam fanatisme atau radikalisme.
Ada bahaya besar dalam hidup menggereja saat ini, dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus hanya menjadi Jalan, Kebenaran, dan Hidup di bibir saja, tetapi tidak di hati.

Berbagai institusi pendidikan, kesehatan, maupun sosial karitatif, dengan bangga menyandang label “Katolik“, tetapi dijalankan dengan gaya sekuler yang kental, jauh dari jiwa Katolik. Demi pluralisme, kerasulan misioner dikesampingkan, tidak ada baptisan baru disitu, lupa akan tugas luhurnya untuk “menjadikan semua bangsa murid Tuhan, dan untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Bahkan untuk mengawali dan mengakhiri doa dengan Tanda Salib pun, harus pikir seribu kali demi pertimbangan toleransi? Iman Kristiani menjadi tidak lebih dari label yang menjamin mutu, atau salah satu mata kuliah yang wajib dipelajari. Seringkali terjadi bahwa tidak ada pewartaan dan keteladanan yang memenangkan jiwa disitu. Bahkan tak jarang, Salib pun diturunkan dari ruangan selain Kapel, semua atas nama toleransi.
Jikalau tidak demikian, “Apa bedanya kamu dengan  institusi pendidikan, kesehatan, dan lembaga-lembaga sekuler lainnya? Bahkan tanpa label Katolik, orang yang tidak beriman dan tidak mengenal Allah pun melakukan hal yang sama. Apa bedanya kamu dengan mereka?
Kekristenan tidak pernah bertentangan dengan pluralisme. Sebab Katolik itu sendiri berarti Universal.

Injil hari ini mengajak kita semua untuk merenungkan kedalaman hidup beriman kita. Sebagaimana kepada Musa, ALLAH mengungkapkan Diri-Nya dengan pernyataan, “AKU adalah AKU” (Kel.3:14), demikian pula YESUS mengungkapkan ke-ALLAH-an-Nya dengan mengatakan, “AKU-lah JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”.
Tidak ada pendiri agama, nabi, rasul, atau manusia manapun yang sanggup membuat klaim demikian. Hanya ALLAH yang dapat melakukannya.

Maka, “Jangan salah pilih Jalan! Wartakanlah sukacita Injil dalam Kebenaran, tanpa ditutup-tutupi, dan tanpa terjebak dalam tembok pluralisme semu yang mematikan kerasulan. Dengan demikian, kamu akan beroleh Hidup.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, meneguhkan imanmu untuk tidak dikompromikan dengan berbagai situasi hidup, yang dapat berujung pada kehilangan rasa beriman. Anda bukan warga negara yang setengah-setengah, maka jangan juga menjalani imanmu setengah-setengah. Jangan hanya mengatakan diri beriman dengan ucapan bibir. Berimanlah dengan Hati.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 13 Januari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa I

image

KERASULAN NOL BESAR

Bacaan:
1Sam.3:1-10.19-20; Mzm.40:2.5.7-8a.8b-9.10; Mrk.1:29-39

Renungan:
Disadari atau tidak, Allah telah memberi dalam hati setiap orang suatu luka cinta. Luka ini begitu istimewa, sebab luka ini memurnikan cinta dan sanggup menghanguskan jiwa, tetapi sekaligus pula mendatangkan sukacita tak terkatakan, karena menumbuhkan dalam jiwa kita suatu kerinduan untuk senantiasa mencari Dia.
Semua orang mencari Tuhan“. (bdk.Mrk.1:37)
Demikianlah diungkapkan oleh St. Markus dalam bacaan Injil hari ini. Kalimat sederhana dan begitu kuat ini seharusnya membuka mata iman kita, untuk menyadari keluhuran panggilan kita sebagai rasul-rasul Kristus.
Kita dipanggil bukan hanya mencari Tuhan dalam peziarahan iman kita. Hidup kita seharusnya ibarat buku yang terbuka, yang bercerita tentang Kristus secara benar dan otentik.
Orang-orang harus menemukan pengenalan yang sejati akan Kristus melalui kita, para pengikut-Nya, yaitu anda sekalian dan saya.
Jangan menjalani hidup Kristiani secara sia-sia, jangan “menahan diri atau membiarkan bibirmu terkatup” (bdk.Mzm.40:9-10).
Hidupmu seharusnya “menceritakan Kristus“.
Sebagaimana kamu dikenal, demikianlah Kristus dapat dikenal.
Maka, bilamana dunia mendapatkan gambaran atau pengenalan yang keliru tentang siapa Kristus itu, dan memilih berdiam dalam kegelapan ketimbang mendekati cahaya sejati yang dibawa-Nya, itu seringkali disebabkan karena para pengikut-Nya, mereka yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, telah gagal menghadirkan Dia dalam hidup dan karya mereka. Kegagalan itu bersumber dari kurangnya kesadaran akan landasan utama dari semangat kerasulan itu sendiri, yaitu Doa.

Berbeda dengan kebohongan yang ditanamkan oleh “si jahat” (Bapa segala dusta), setiap orang beriman yang ingin berbuah dalam karya kerasulan, apapun itu, perlu memahami kenyataan berikut ini.
Kerasulan tanpa Doa itu “0” besar. Tidak ada omong kosong seperti itu.
Anda tidak akan pernah menjadi seorang rasul Kristus yang suci tanpa doa.
Tidak mungkin menyebut diri seorang rasul Kristus, namun tenggelam dalam kesibukan karya kerasulan tersebut sampai lupa atau enggan menjadikan doa sebagai prioritas utama. Anda haruslah menjadi seorang rasul Kristus yang pertama-tama mencintai Misa Kudus, tekun mendoakan Brevir, dengan Rosario di tangan dan Salam Maria didaraskan, dengan puasa dan laku tapa, dengan melakukan mati raga dan silih, dengan mendengarkan Dia dalam Lectio Divina, dan berbagai bentuk doa lisan maupun batin lainnya. Lakukanlah itu dengan hati dan ketekunan yang suci, agar tidak jatuh dalam kejenuhan dan rutinitas.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang di tengah kesibukan-Nya untuk memaklumkan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, tidak pernah lupa untuk pergi ke tempat sunyi dan “berdoa” (bdk.Mrk.1:35).
Kalau Tuhan Yesus sendiri menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan bagian penting dalam Hidup dan Karya-Nya, bagaimana mungkin kamu tidak demikian?

Panggilan untuk berdoa sama sekali bukan berarti meninggalkan karya kerasulan, atau mengabaikan dunia dengan menjadi pertapa. Tidak semua dipanggil untuk menjadi pertapa dalam kesunyian suci yang demikian. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi pendoa, seorang insan Allah, sehingga sekalipun melangkah di tengah dunia, mata batin kita senantiasa terarah ke surga, karya kerasulan kita menjadi ibarat siraman air yang membasahi tanah di sepanjang perjalanan dan memberi hidup.
Jangan pernah lupa bahwa ada nilai adikodrati dari segala karya kerasulan kita. Belajarlah dari semangat suci para misionaris di masa lalu. Mereka melakukan berbagai karya kerasulan, pertama-tama dan terutama adalah untuk memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, bukan sekadar berbuat kebaikan tanpa nilai adikodrati. Sebab jikalau demikian, maka karyamu itu tidak ubahnya seperti yayasan amal, NGO, atau organisasi sosial karitatif sekuler yang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
Jangan pernah lupa bahwa kamu dipanggil untuk menghadirkan Kristus, menjala manusia ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Itulah Misimu!

Mempunyai rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik, mendirikan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang paling unggul, mencanangkan program kerja yang sangat sistematis dan terukur untuk mensejahterakan umat, berada dalam komunitas yang aturan hidupnya disusun sedemikian rupa dan membanggakannya dalam idealisme yang keliru, bahkan bila kamu membangun rumah tangga dan membesarkan keluarga dengan pengetahuan akan psikologi maupun ekonomi rumah tangga yang cemerlang sekalipun, semuanya itu “NOL BESAR” tanpa “DOA“.
Anda boleh saja melabeli segala karya kerasulan itu dengan menambahkan kata “Katolik“, entah di depan atau di belakang, tetapi semuanya itu tidak akan menghasilkan buah bagi karya kerasulan yang sejati tanpa doa.
Kerasulan yang “memenangkan jiwa-jiwa” adalah kerasulan yang dilandasi doa.

Saat ini kita menyaksikan begitu banyaknya institusi (pernikahan, keluarga, komunitas, sekolah, rumah sakit, ordo, dll.) yang dalam kepongahannya berbangga memakai label “Katolik“, tetapi tidak punya keberanian untuk mengangkat tinggi-tinggi Salib; jatuh dalam kenyamanan dan kelekatan duniawi, mengalah pada desakan arus zaman, kehilangan kewarasan untuk berakar dalam doktrin dan ajaran sosial Gereja, tumpul hati dan tidak tergila-gila untuk mewartakan iman secara berani dan otentik; mengabaikan tugas suci untuk menghasilkan baptisan-baptisan baru yang teruji; tak peduli dan mengabaikan kewajiban untuk mewariskan iman kepada putra-putrinya, agar mereka kemudian tidak ragu-ragu menampilkan identitas ke-Katolik-an secara “benar” dan “tepat” dalam situasi sesulit apapun, termasuk pada kemungkinan merangkul kemartiran karenanya.
Inilah realita pahit dari hidup kekristenan saat ini yang mendesak untuk disikapi.
Kalau tidak, pada akhirnya dari institusi-institusi itu anda mungkin menghasilkan darinya manusia-manusia yang berkualitas menurut ukuran dunia, tetapi mereka bukanlah insan-insan Allah, kekurangan kesadaran untuk memandang Allah dalam keterpesonaan Cinta, dan kekurangan kehausan akan jiwa-jiwa.
Tidak turut berduka bersama dukacita Allah. Tidak meratapi apa yang diratapi Dia, tidak merindukan apa yang dirindukan-Nya, tidak mengingini apa yang diingini-Nya, tidak menolak apa yang dibenci-Nya, tidak mengasihi apa yang dikasihi-Nya.
Hidup keKristenanmu hanya akan menjadi kesaksian yang benar-benar hidup, otentik dan meyakinkan apabila engkau terlebih dahulu adalah seorang pendoa.

Kekudusan tanpa doa? Aku tidak percaya akan kekudusan semacam itu. Jika engkau bukan seorang pendoa, aku tidak percaya akan ketulusan niatmu saat engkau mengatakan bahwa engkau bekerja untuk Kristus.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá, seorang Kudus besar, yang telah mengajarkan kita jalan suci tersebut setelah lebih dahulu melakukannya.
Jika kamu merasa sulit mengikuti hidup Kristus dan tuntutan-tuntutan Suci dari Injil-Nya, itu karena engkau tidak melakukannya di dalam doa.
Karena itu, bertekunlah dalam doa. Dalam kekeringan rohani dan situasi seburuk apapun, bertekunlah dalam doa. Doa selalu membuahkan hasil. Bahkan jika kamu tidak tahu bagaimana caranya mulai untuk berdoa, atau apa yang harus dikatakan, bilamana kamu dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Allah, maka Hati-Nya pasti tergerak oleh belas kasihan, dan lihatlah betapa terkagum-kagumnya kamu nanti saat menyaksikan dan menyadari gerakan cinta Tuhan yang dengan penuh kelembutan menarikmu kepada-Nya. Dia sendiri yang akan mengajarimu berdoa.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” (1Sam.3:10)
Serviam! Serviam! Serviam!

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu Tuhan dan Ibu kita, menuntun putra-putri Gereja pada pengenalan dan persatuan sempurna dengan Putra-nya dalam doa, serta menyertai kita dalam karya kerasulan untuk membawa api yang sanggup menghanguskan seluruh dunia dalam kobaran Nyala Api Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 18 November 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXXIII

image

MELAWAN TEROR DENGAN IMAN
Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilika St. Petrus dan Gereja Basilika St. Paulus di luar Tembok

Bacaan:
2Mak.7:1.20-31; Mzm.17:1.5-6.8b.15; Luk.19:11-28

Renungan:
Kitab Makabe dalam bacaan Liturgi hari ini mengisahkan, bagaimana seorang Ibu bersama 7 anaknya mempertahankan Iman mereka dihadapan penguasa dan orang-orang, yang hendak menjadikan mereka murtad.
Dengan detail diceritakan bagaimana si Ibu menyaksikan sendiri, di hari yang sama, ketujuh anaknya satu-persatu menjemput ajal dengan cara yang teramat keji. Lidah mereka dipotong, kepala dikuliti hidup-hidup, tubuh dimutilasi, kemudian potongan-potongan tubuh mereka dilemparkan ke dalam kuali untuk digoreng di atas api yang membara.
Kita pun membaca kebesaran hati si Ibu, yang menghibur dan menguatkan Iman anak-anaknya, untuk bertahan dalam penderitaan yang teramat hebat itu, dimana ketujuh anak-anaknya menjemput ajal dengan sikap beriman yang begitu heroik, hingga akhirnya kemartiran yang sama dialami pula oleh Ibu mereka.

Sebenarnya, sama seperti Ibu dan ke-7 anaknya ini, demikianlah pula Gereja Katolik yang Kudus ibarat seorang Ibu, setiap hari, terlebih di masa sekarang ini menyaksikan putra-putrinya harus mengalami rupa-rupa penolakan, ketidakadilan, penderitaan, penganiayaan, bahkan tak jarang dibunuh dengan cara yang teramat keji, semata-mata karena Iman Kristiani mereka.
Di tengah segala bentuk teror dalam hidup beriman, kita semua diingatkan untuk tidak goyah dan tetap berdiri teguh dalam Iman.
Tidak ada pembenaran bagi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Oleh karena itu, putra-putri Gereja senantiasa diingatkan untuk menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesaksian cintakasih, sambil tetap berpegang teguh pada satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan, dalam Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Berbagai kecenderungan dunia saat ini pun mengingatkan kita bahwa Iman Kristiani kita adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan.
Memang benar bahwa Gereja harus jeli melihat tanda-tanda zaman, untuk membaharui diri, agar selalu bisa menemukan cara-cara baru dan tepat untuk mewartakan Imannya.
Akan tetapi, semangat dan kesadaran itu tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengedepankan gagasan teologi “kerahiman yang keliru” yang membenarkan dosa, dengan merubah Ajaran/Doktrin Iman yang telah kita pegang teguh selama hampir 2000 tahun sejak Gereja Katolik didirikan, apalagi melihat tanda-tanda zaman dan kecenderungan-kecenderungan jahat dunia ini seolah Wahyu Ilahi, untuk membenarkan diri bahwa Gereja Katolik harus masuk dan terbawa hanyut oleh arus zaman.

Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam telah mempercayakan kepada kita masing-masing rupa-rupa karunia dan talenta. Janganlah melihatnya sebagai beban, tetapi lihatlah itu sebagai tanda cinta Tuhan, yang dengan murah hati mempercayakan semuanya itu kepadamu, untuk dilipat gandakan, sehingga mendatangkan sukacita bagimu, serta dipersembahkan demi kemuliaan Allah dan Kerajaan-Nya.
Ini bukan tugas yang membebani, melainkan suatu panggilan cinta Tuhan bagi kita hamba-hamba-Nya. Santo Agustinus dalam kesadaran akan hal ini pun tanpa ragu mengatakan bahwa sesungguhnya, “Cinta tidak pernah membebani“.
Percayalah bahwa bersamaan dengan karunia dan talenta, sebesar apapun itu, Tuhan selalu menyertakan pula rahmat dan kebijaksanaan yang cukup, asalkan kita pun memiliki penyerahan diri total dan cinta bakti yang seutuhnya kepada-Nya.

Semoga Santa Perawan Maria dari Lourdes, Pelindung Perancis dan seluruh dunia, menyertai kita dengan doa-doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita senantiasa menimba dari aliran air kehidupan kekal yang mengalir dari Hati Kudus Putra-Nya, sehingga kita dapat selalu berdiri teguh dalam Iman, melayani dan mengusahakan segala karunia dan talenta dari-Nya dengan hasil yang berlipat ganda, serta menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini bukan dengan kekerasan dan teror, melainkan dengan kuasa Cintakasih.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 5 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXVII

image

AKU TELAH DITEMUKAN – MAKA KINI AKU MENEMUKAN

Bacaan:
Yun.1:1-17 dan 2:10; MT Yun.2:2.3.4.5.8; Luk.10:25-37

Renungan:
Injil hari ini mengajak kita merenungkan pertanyaan penting ini, “Siapakah sesamaku?

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus.
Kebanyakan dari para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah lambang Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh jahat yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.
Tempat penginapan adalah lambang Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang manusia.
Dan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara dengan begitu kerasnya untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa.

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.
Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.
Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27)

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.
Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.
Kita dapat saja menolak mencinta dan membawa seruan pertobatan serta cahaya keselamatan seperti penolakan untuk diutus sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yunus dalam bacaan pertama hari ini.
Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita.
Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.
Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan satu-satunya jawaban atas dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup.
Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

KESELAMATAN HANYA ADA DI DALAM DIA

Bacaan:
Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh.14:6)
Sejarah kita telah menampilkan begitu banyak tokoh dunia di sepanjang zaman, yang begitu bijaksana dan mendatangkan kekaguman dalam pandangan dunia, tanpa harus disebutkan satu-persatu. Mereka mengajarkan bagaimana orang dapat memilih jalan yang tepat, dalam hal apa seseorang dapat dibenarkan dan menemukan kebenaran, dan mereka pun mengajarkan bagaimana caranya supaya kita dapat hidup dengan baik.
Mereka semua berbicara mengenai jalan, kebenaran dan hidup. Akan tetapi, tidak ada satupun diantara mereka yang sanggup meng-klaim dirinya sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini.
Hanya Yesus satu-satunya Pribadi yang bisa mengatakan, “Akulah Jalan. Akulah Kebenaran. Akulah Hidup“.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus bukanlah sekadar orang bijaksana yang menulis buku-buku pedoman bagi umat manusia. Dia bukan sekadar seorang yang dicerahkan sesudah meditasi bertahun-tahun, atau salah satu di antara guru besar dalam sejarah kemanusiaan.
Yesus, Sang Putra Allah, adalah satu-satunya Jalan, satu-satunya Kebenaran, dan satu-satunya Hidup.
Berbahagialah mereka yang telah menemukan kebenaran iman ini dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Iman inilah yang akan menghantar kita kepada keselamatan kekal.
Extra ecclesiam nulla salus“, di luar Gereja tidak ada Keselamatan.
Kebenaran iman ini adalah mutlak adanya.
Tetapi, ini sama sekali tidak mengurangi penghormatan Gereja Katolik terhadap setiap hal yang baik dan benar dalam saudara-saudari seiman lainnya, maupun agama-agama lain. Injil hari ini dan pernyataan di luar Gereja tidak ada keselamatan, haruslah dimengerti secara benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Magisterium Gereja.
Gereja mengajarkan bahwa semua orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya, namun tetap mencari Allah dan mengikuti suara hati dengan tulus, bisa mencapai keselamatan kekal. Namun, orang yang telah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah ‘Jalan, Kebenaran, dan Hidup’, tetapi tidak bersedia mengikuti Dia, tidak dapat mencapai keselamatan melalui cara lain” (bdk.YouCat).
Karena itu, “Janganlah gelisah hatimu! Jangan takut! Percaya saja!

Pax, in aeternum.
Fernando