Meditasi Harian 10 Juli 2016 ~ MINGGU BIASA XV

BUKA MATA BUKA HATI

Bacaan:

Ul.30:10-14; Mzm.69:14.17.30-31.33-34.36ab.37; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37

Renungan:

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan suatu pertanyaan penting akan arti kehadiran putra-putri Gereja bagi dunia, yaitu: “Siapakah sesamaku?

Para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi lainnya, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.

Keledai melanbangkan Sakramen Pembaptisan, sarana yang membawa kita ke “Tempat Penginapan”, yaitu Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri dan masuk ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang hambaDan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara begitu keras, untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa. Injil hari ini berbicara bagi mereka yang memilih untuk menutup pintu belas kasih, daripada membukanya lebar-lebar dan turun ke jalan mencari yang hilang, yang sakit dan menderita, yang dirampas hak dan martabatnya, yang disamun untuk dibiarkan mati di tengah jalan. 

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.

Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.

Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk.10:27).

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.

Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.

Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita. Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.

Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan sebagai “satu-satunya jawaban” bagi dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup. Mulailah membuka mata dan membuka hati. 

Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 3 Februari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa IV

image

KEAKRABAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:
2Sam.24:2.9-17; Mzm.32:1-2.5.6.7; Mrk.6:1-6

Renungan:
Salah satu penghalang bagi Karya Allah dalam hidup kita adalah kelekatan. Dalam Injil hari ini, kita mendapati suatu bentuk kelekatan yang seringkali membutakan mata rohani seseorang terhadap sapaan Tuhan, yaitu “keakraban“.
Ada pepatah dari dunia Barat yang mengatakan, “familiarity breeds contempt“, yaitu bahwa keakraban atau kedekatan kita dengan seseorang, jika dijalani secara keliru, seringkali dapat berbuah pada penolakan, kebencian, dan rasa tidak hormat terhadap diri orang itu.
Inilah yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus, ketika dia kembali ke kampung halamannya, Nazaret.
Sanak-saudara-Nya dan warga sekampungnya justru menolak Karya Allah yang diwartakan-Nya, semata-mata karena mereka “beranggapan” bahwa mereka telah begitu mengenal siapa Dia, seluk-beluk kehidupan-Nya, masa lalu-Nya, keluarga dan profesi-Nya, sebagaimana terungkap dalam kata-kata mereka, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk.6:3)

Dalam karya kerasulan, keakraban dapat menjadi rintangan bagi sukacita Injil untuk dialami. Anda menolak kabar sukacita semata-mata karena telah begitu mengenal hidup “manusiawi” seseorang, sampai gagal melihat karya “Ilahi” yang sedang bekerja dalam dirinya. Anda takjub dan heran akan karya ajaib dan buah-buah Roh yang dihasilkannya, tetapi menolak diubahkan oleh-Nya, sehingga tidak dapat mengalami mukjizat Tuhan yang seharusnya juga terjadi dalam hidupmu.
Kegagalan yang bersumber dari keakraban yang “cacat rohani” seperti ini, pada akhirnya menjadi sumber kebencian, perpecahan, kegersangan, kekurangan sukacita, ketiadaan kasih, dan kehilangan buah-buah Roh. Seperti penyakit yang menggeroti hidup beriman dan menggereja, yang memadamkan Api Roh dan merintangi Karya Allah.

Belajarlah memiliki kerendahan hati, kepekaan rohani, dan “kasih persaudaraan” yang sejati. Dengan demikian keakraban atau perasaan sudah begitu mengenal, tidak menjadi penghalang bagi Karya Allah dinyatakan dalam hidupmu, keluargamu, lingkungan kerjamu, komunitasmu, parokimu, dan berbagai peristiwa hidup lainnya.
Dalam karya kerasulan, milikilah kebijaksanaan untuk menyadari bahwa dibalik “dia” yang begitu kamu kenal, ada “DIA” yang sejak awal penciptaan telah mengenal kamu, jauh melebihi orang-orang yang terdekat sekalipun.
Jangan mengandalkan pengertian sendiri, dan mulailah menaruh kepercayaan pada gerak cinta Tuhan, yang seringkali justru bergerak dengan kegerakan yang di luar apa yang kamu pikir telah kamu ketahui secara “pasti“.
Belajarlah dari mukjizat St. Blasius, bahwa seringkali “tulang ikan” yang menghambat “tenggorokan rohanimu” untuk menjawab “Ya” pada Allah, berawal dari kerakusanmu untuk menelan utuh berbagai peristiwa hidup, tanpa mengunyahnya secara perlahan dan bijaksana, sehingga gagal berbuah “kontemplasi“.

Semoga kita senantiasa memiliki hati seperti Ibu Maria. Dia begitu mengenal siapa Tuhan Yesus, Putranya, melebihi siapapun. Tetapi, keakrabannya dengan Sang Putra adalah keakraban yang bersumber dari “Cinta Sejati”, dari hati seluas samudera, yang sekalipun takjub dan heran, tidak berbuah penolakan, tetapi “memandang dalam kuasa cinta“, membenamkannya dalam lautan kerahiman, menyimpannya dalam hati yang mencinta, sehingga hidupnya diubahkan oleh Sang Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 29 Desember 2015 ~ Hari Kelima dalam Oktaf Natal

image

CINTA TIDAK SAMA DENGAN TUTUP MATA

Bacaan:
1Yoh.2:3-11; Mzm.96:1-2a.2b-3.5b-6; Luk.2:22-35

Renungan:
Perbedaan penting dalam hidup beragama bukanlah antara mereka yang beribadah dan yang tidak beribadah, melainkan mereka yang mengasihi dan yang tidak mengasihi.
Maka, mereka yang benar-benar menaati perintah dan hukum Tuhan, seharusnya adalah yang terdepan dalam mengasihi.
Kasih akan Allah yang berbuah kasih pada sesama, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Yohanes dalam bacaan pertama hari ini,
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” (1Yoh.2:4-5.9)

Panggilan hidup Kristiani adalah panggilan untuk “mencinta“. Cinta yang siap untuk terluka, tetapi juga senantiasa mau mengampuni. Kita tidak boleh kecewa manakala ketekunan kita untuk menghadirkan Hukum Cintakasih kepada sesama, siapapun dia, seringkali pula akan menghadapi penolakan dan permusuhan. Inilah konsekuensi dari iman kita akan Kristus.
Dalam Injil hari ini, Nabi Simeon telah menubuatkan bahwa kelahiran Sang Raja Damai dan Terang Sejati, akan menjadi suatu “tanda perbantahan” (bdk.Luk.2:34) bagi dunia yang menolak berdamai, dan lebih suka berdiam dalam kegelapan.
Tanda perbantahan yang sama juga dibawa oleh para pengikut Kristus, yang sungguh-sungguh menjalani hidup berimannya secara otentik.
Kemartiran St. Thomas Becket, Uskup Agung Canterbury, yang kita peringati juga pada hari ini, menjadi salah satu dari sekian banyak kesaksian hidup itu.
Kedekatan persahabatannya dengan Raja Henry II, tidak menjadi kelekatan dan penghalang baginya untuk mengungkapkan Iman, apalagi menutup mata terhadap kejahatan.
Kerasulan cintakasih dan perdamaian yang sejati adalah kerasulan yang juga berani menentang apa yang jahat, serta membela apa yang baik dan benar.
Damai dan cinta tidak sama dengan sikap diam dan pasrah.
Cinta yang sejati tidak berarti menutup mata, melainkan membuka mata lebar-lebar, untuk kemudian melakukan tindakan iman yang mendatangkan api cinta Tuhan yang menghanguskan.
Seorang Kristiani hendaknya menjadi suara kenabian bagi dunia ini melalui hidup dan karyanya.
Jangan Takut!

Kemartiran St. Thomas Becket yang dibunuh saat sedang berdoa di depan Sakramen Mahakudus hendak mengingatkan kita bahwa keberanian Iman bersumber dari kesadaran untuk senantiasa memandang Allah, dalam persatuan cinta dengan-Nya.
Oleh karena itu, Ekaristi hendaknya menjadi pusat hidup kita, sumber kekuatan dan sukacita kita.
Berbahagialah mereka yang mencintai Misa Kudus, dan menyambut Tubuh Tuhan setiap hari. Suatu ketekunan yang baik, dan hendaknya didasarkan pada kerinduan akan Tuhan setiap saat.

Semoga Santa Perawan Maria menyertai segala harapan dan niat-niat baik kita, agar sukacita Natal yang telah kita terima dari kemurahan hati Tuhan, juga terpancar dalam hidup dan karya kita.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 19 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXIX

image

MENEMUKAN HARTA YANG SEJATI

Bacaan:
Rm.4:20-25; MT Luk.1:69-70.71-72.73-75; Luk.12:13-21

Renungan:
Siapapun yang pernah secara langsung maupun tidak langsung berhadapan dengan perselisihan mengenai pembagian uang maupun harta warisan, pasti memahami betapa rumitnya penyelesaian masalah demikian.
Ini adalah persoalan yang tidak mudah diselesaikan, apalagi bila pihak-pihak yang berselisih, tidak sepaham mengenai berapa bagian dari uang atau harta yang berhak mereka terima, akan siapa yang layak menerima lebih banyak dan siapa yang layak menerima lebih sedikit.
Bahkan, dalam berbagai perkara, perselisihan semacam ini seringkali berujung di pengadilan, merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, menjadikan mereka yang bertikai untuk saling membenci seumur hidup, dan lebih jauh lagi untuk saling menyakiti atau membunuh karena dendam dan sakit hati.

Kenapa Tuhan Yesus menolak permintaan seorang dari khalayak untuk menjadi hakim atau penengah sengketa warisannya?
Karena Tuhan, yang telah melihat jauh ke dalam lubuk hati manusia, tahu bahwa akar dari permintaannya bukanlah tuntutan keadilan atau pembagian yang sama rata.
Permintaan orang itu berasal dari dosa kerakusan dan iri hati. Jeritan yang tidak murni, karena berasal dari ketamakan dan dorongan jahat untuk tidak pernah merasa cukup.

Kekristenan menuntut kita untuk memiliki, tanpa melekatkan hati pada kepemilikan.
Kita boleh memiliki segalanya, karena dalam penciptaan, Allah sendiri yang telah mempercayakan semuanya itu untuk kebahagiaan kita.
Tidak ada sesuatu yang berdosa dari kekayaan, sejauh itu diperoleh dari kerja keras dan diusahakan secara halal.
Akan tetapi, kebijaksanaan dan cintakasih hendaknya selalu menyertai kekayaan, agar kita tidak terpisah dari Allah karenanya.
Kita dipanggil bukan untuk melekat pada pemberian, melainkan kepada Dia, Sang Pemberi, yang kepada-Nya kita berdoa, “berikanlah kepada kami pada hari ini rezeki (makanan) kami yang secukupnya” (bdk. Pater Noster).
Dekalog (10 Perintah Allah) pun sebenarnya dapat disimpulkan menjadi 2 perintah sederhana ini, “Jangan menyembah berhala, dan jangan mengingini (iri hati) akan milik sesamamu“.
Dan tentu saja, semua hukum Tuhan mendapat kepenuhan dan terangkum dalam Hukum Cintakasih yakni, “Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu“.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus tidak hanya memperingati saudara yang mengajukan pertanyaan itu, tetapi juga kepada kita semua, para pengikut-Nya, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Luk.12:15).

Ketamakan berlawanan dengan Kasih. Karena disaat Kasih mempersatukan semua orang, ketamakan justru memisahkan dan membawa perpecahan bagi banyak orang, bahkan mereka yang terikat oleh ikatan darah dan keluarga sekalipun.
Banyak pernikahan, keluarga, persahabatan, komunitas, dan bangsa yang terpecah belah karena ketamakan akan uang dan harta kekayaan.
Maka, siapapun yang hendak menghindari dosa kerakusan dan ketamakan, hendaknya senantiasa memenuhi hatinya dengan kasih akan Allah dan sesama.
Berdoalah senantiasa agar hidup kita senantiasa dipenuhi kesempurnaan kasih, sehingga entah beroleh kekayaan atau tidak, kita tidak menjadi tamak, rakus, dan iri hati karenanya.
Barangsiapa senantiasa mengenakan kasih, akan menemukan dirinya tidak pernah berada dalam keadaan berkekurangan, melainkan dalam segala kelimpahan dan kepenuhan rahmat Allah.
Berbahagialah mereka yang menemukan kekayaan sejati, yang jauh berbeda dari kekayaan menurut ukuran dunia ini.
Sebab kekayaan dunia ini sementara adanya, laksana bayang berlalu. Maut akan menghentikan semuanya.
Akan tetapi, mereka yang telah menemukan kekayaan sejati di dalam Allah, tidak akan pernah gentar menghadapi maut, karena mereka telah menjalani kesementaraan peziarahan dunia ini, sambil tetap mengarahkan dan mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal.

Maka, jalanilah hidup dengan sikap beriman yang tepat. Dengan mengarahkan segala harta dan kepemilikan, segenap usaha dan kerja,  semua talenta dan karunia yang telah Tuhan  percayakan di tanganmu, untuk kemuliaan-Nya, sebagai persembahan kasih yang harum dan berkenan di Hati-Nya.
Sebagaimana Abraham dibenarkan dan menjadi Bapa Kaum Beriman, karena kesanggupannya untuk melepaskan segala demi Allah, Sang Segala, demikianlah kita pun dipanggil untuk mengalami kebebasan sejati yang sama.
Semoga Santa Perawan Maria, teladan kemurahan hati dan ketaatan, senantiasa menyertai perjalanan iman kita menuju Putra-nya, satu-satunya Harta Yang Paling Berharga dalam hidup, baik di dunia ini, maupun dalam kehidupan mendatang dalam keabadian.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 5 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXVII

image

AKU TELAH DITEMUKAN – MAKA KINI AKU MENEMUKAN

Bacaan:
Yun.1:1-17 dan 2:10; MT Yun.2:2.3.4.5.8; Luk.10:25-37

Renungan:
Injil hari ini mengajak kita merenungkan pertanyaan penting ini, “Siapakah sesamaku?

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus.
Kebanyakan dari para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah lambang Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh jahat yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.
Tempat penginapan adalah lambang Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang manusia.
Dan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara dengan begitu kerasnya untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa.

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.
Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.
Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27)

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.
Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.
Kita dapat saja menolak mencinta dan membawa seruan pertobatan serta cahaya keselamatan seperti penolakan untuk diutus sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yunus dalam bacaan pertama hari ini.
Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita.
Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.
Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan satu-satunya jawaban atas dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup.
Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++