Meditasi Harian 28 September 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXVI

MENGIKUTI TANPA KELEKATAN
Bacaan:

Ayb.9:1-12.14-16; Mzm.88:10b-15; Luk.9:57-62

Renungan:

Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikuti Engkau. Apapun yang Kau minta dan Kaurancangkan, seturut kehendak-Mu akan kulakukan dan kutaati. Kupercayakan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas“.

Betapa indahnya perkataan ini, sungguh ideal dan diharapkan, untuk dihidupi oleh seorang rasul Kristus. Akan tetapi, realita hidup kristiani, seringkali memperhadapkan kita pada kebenaran, bahwa untuk melakukan tidaklah semudah mengatakan atau menjanjikannya. Lain di bibir, lain di hati. 

Injil hari ini mengungkapkan itu dengan begitu jelasnya. Banyak orang mengaku siap mengikuti Yesus, tetapi seringkali didapati bahwa jawaban itu disertai berbagai persyaratan. Ingin mengarahkan pandangan ke surga, tetapi hati masih melekat erat pada dunia. Untuk mengikuti Tuhan di “Jalan-Nya“, seringkali menuntut pula kesediaan dari pihak kita untuk meninggalkan berbagai jalan dan pilihan hidup, berbagai pertimbangan dan keberatan, berbagai pertanyaan dan keraguan, agar dapat melangkah dengan bebas dan hati gembira menuju Allah. Panggilan untuk mengikuti Tuhan dalam “libertas filiorum Dei – kemerdekaan anak-anak Allah“, mengharuskan kita dengan bantuan rahmat-Nya, untuk melepaskan diri dari segala kelekatan. 

Banyak rasul-rasul Kristus yang berhenti melangkah, mundur dari pelayanan, meredup dalam semangat kerasulan, menyerah dalam bahtera rumah tangga, tidak sanggup menderita, bahkan mengakhiri hidup dengan cara-caranya sendiri di luar kehendak Allah, hanya karena satu kecenderungan yang bernama “kelekatan“. Kelekatan ini tidak selalu jelas terlihat jahatnya, malah seringkali nampak sangat manusiawi, sebagaimana kita dapati dalam Injil hari ini.  

Kelekatan hadir dalam berbagai bentuk dan situasi, dimana kita sulit melepaskannya, karena itu telah mengganti tempat Allah sebagai yang terkasih di hati. Bagi yang seorang itu bisa dalam bentuk pekerjaannya, bagi orang lain bisa pula keluarganya. Bagi yang satu hobi-hobinya, bagi yang lain cita-citanya. Melepaskan kelekatan tidak selalu berarti mengabaikannya sama sekali, tetapi kalau Tuhan memperkenankan kamu menjalaninya, jalanilah tanpa hatimu melekat pada itu semua. Apapun bentuknya, selama itu tidak dilepaskan, selamanya pula anda akan merasa lelah, bahkan mati di tengah jalan karena kepayahan menapaki jalan Tuhan. Lekatkanlah hatimu pada Hati Tuhan, maka kamu akan menemukan arti kehadiranmu, arti hidupmu, arti karya kerasulanmu. Kamu akan menemukan “kesejatian panggilanmu“. 

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah lebih dahulu memancarkan cahaya Iman tanpa kelekatan, berkenan menolongmu dengan bantuan rahmat Ilahi, untuk melepaskan diri dan hatimu dari segala kelekatan, dan melangkah dengan gembira seirama dengan langkah Tuhan.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 10 Agustus 2015 ~ Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir

image

MILIKILAH IMAN YANG BERSAKSI

Bacaan:
2Kor.9:6-10; Mzm.112:1-2,5-6,7-8,9; Yohanes.12:24-26

Renungan:
Hari ini, Gereja Roma mengajak kita untuk merenungkan dalam perayaan suci akan kemartiran St. Laurensius, seorang Diakon Agung dalam Keuskupan Roma yang menerima mahkota kemartiran pada abad-3.
Kemartiran St. Laurensius mengingatkan kita bahwa mengikuti jejak Kristus (imitatio Christi) berarti menyatakan kesiapsediaan menjadi saksi Kristus, apapun risikonya, termasuk bilamana karena iman akan Dia mengakibatkan kita harus kehilangan segala-galanya, bahkan nyawa kita sendiri.
Tertulianus mengatakan, “Darah para Martir adalah Benih bagi Gereja.
Gereja tumbuh dan berkembang karena kesaksian hidup dan kemartiran putra-putri Gereja.
Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes.12:24)

Kekristenan saat ini berada dalam masa paling suram sejak didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun lalu.
Kita dipanggil untuk mewartakan iman kita dengan berbagai cara, melebihi masa-masa sebelumnya.
Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar-tawar. Di tengah krisis dalam hidup beriman saat ini, kita diingatkan akan panggilan kita untuk bersaksi, apapun risikonya.
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yoh.12:25)
Tidak ada ruang untuk bersikap setengah hati dalam beriman, kita tidak pernah boleh mencintai Allah dan Gereja-Nya dengan hati suam-suam kuku.
Sekalipun mungkin tidak semua orang beriman akan mengalami kemartiran sehebat St. Laurensius, kita tidak boleh lengah untuk menyadari bahwa para pengikut Kristus saat ini diperhadapkan pada berbagai bentuk kemartiran baru. Apapun panggilan, profesi kerja, karya kerasulan dan pelayanan yang kita lakukan, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya, dan jadilah seorang Katolik yang sejati.
Seorang dokter harus berani mempertahankan kehidupan bukan melenyapkan kehidupan, yaitu dengan mengatakan tidak pada aborsi, euthanasia, promosi alat kontrasepsi, dan berbagai tindakan medis lainnya yang bertentangan dengan Iman Kristiani.
Orang tua dalam keluarga Kristiani hendaknya membesarkan anak-anak mereka dalam kelimpahan cinta, dan tidak pernah lupa untuk mewariskan iman.
Seorang hakim menjatuhkan keputusan dengan adil atas suatu perkara, bukannya dibutakan oleh uang suap untuk memenangkan pihak yang bersalah.
Apapun profesi kerjamu, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya untuk menguduskan pekerjaanmu, dan memenangkan jiwa-jiwa karena kerasulan di tengah pekerjaanmu.
Gereja Katolik boleh saja memiliki anggota umat yang sukses, sekolah dan universitas yang bermutu, rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang ternama, bangunan Gereja Katedral dan Basilika yang indah dan megah. Akan tetapi, kalau itu semua tidak disemangati oleh karya kerasulan untuk bersaksi dan berbuah, untuk membawa lebih banyak orang menjadi pengikut Kristus, untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, untuk membawa seluruh dunia ke dalam pangkuan Bunda Gereja, maka segala karya itu adalah karya yang mandul, prestise sia-sia, dan ungkapan iman dangkal yang tidak berbuah.

Anda boleh saja menyebut diri seorang rasul Kristus, tetapi kalau tidak ada jiwa yang dimenangkan, tidak ada yang dikurbankan, sesungguhnya anda bukanlah pengikut Kristus.
Semoga St. Laurensius yang kita peringati hari ini mengingatkan kita, bahwa sebagai putra-putri Gereja, kita dipanggil untuk berdiri di tengah dunia bukan untuk kehilangan nyawa dalam kesia-siaan, melainkan kehilangan nyawa guna memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, sehingga pada akhirnya kita beroleh mahkota kemuliaan dalam kehidupan kekal.
Santa Laurensius, Diakon & Martir, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, Ratu para Martir, sertailah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan III Paskah

image

BERIMAN BAGI DOMBA-DOMBANYA

Bacaan :
Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9.16-17.20; Yoh.6:44-51

Renungan:
Kata-kata Tuhan Yesus yang kita renungan dalam bacaan hari ini, bukanlah sekadar perumpamaan biasa. Ketika Dia mengatakan bahwa Tubuh-Nya, yaitu Sakramen Ekaristi, adalah benar-benar makanan untuk beroleh hidup kekal, itu benar-benar realisme yang tidak memerlukan interpretasi atau penafsiran. Itu bukan kiasan atau perumpamaan. Tentu saja tanpa iman, kata-kata itu kehilangan makna. Seseorang haruslah beriman untuk bisa menemukan kebenaran misteri Ekaristi.
Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis.8:31)
Inilah panggilan Gereja, untuk membuat seluruh dunia mengerti, membimbing sebanyak mungkin orang untuk beriman dan mengambil bagian dalam harta terbesar yang dimilikinya, bukti cinta kasih Allah yang tak terbatas, yakni Ekaristi.
Selain itu, adalah penting juga untuk dimengerti bahwa tidak mungkin ada Ekaristi tanpa seorang Imam. Umat beriman senantiasa diingatkan untuk menghormati para imam, karena dari tangan kemurahan merekalah, kita menerima Ekaristi.
St. Josemaría Escrivá mengingatkan kita, “Seorang imam, siapapun dia, adalah selalu ‘Kristus yang lain’. Betapa kita harus mengagumi kesuci-murnian imamat! Itulah kekayaannya. Tidak ada satupun kekuasaan di dunia ini yang sanggup merenggut mahkota tersebut dari Gereja. Mencintai Tuhan namun tidak menghormati imam…adalah mustahil.”

Gereja saat ini berada dalam masa paling suram sejak berdirinya. Ada berbagai berbagai bentuk semangat zaman yang keliru, ada rupa-rupa penyesatan dari dalam maupun dari luar Gereja, yang mencoba membelokkan hidup beriman umat Allah dari jalan kekudusan, dari ketaatan mutlak pada kemurnian iman Gereja.
Itulah sebabnya, disaat Gereja sekarang ini berada dalam masa paling gelap dalam sejarahnya, di tengah krisis panggilan untuk menjadi seorang imam, seiring dengan itu muncul pula kebutuhan mendesak akan imam-imam yang sungguh beriman dan kudus.
Apakah ini suatu keharusan? Tentu saja.
Seorang imam pertama-tama haruslah menjadi seorang yang “mempertahankan iman” sebagaimana yang diimani oleh Gereja, seorang pribadi yang memiliki pergaulan mesra dengan Allah. Jika tidak demikian, segala karyanya akan menjadi sia-sia dan tidak berbuah. Melalui kemurnian imannya, dia dapat menghadirkan Allah dalam karyanya, dia dapat secara sempurna menjadi “alter Christi“. Bila seorang imam kurang beriman atau tidak setia pada ajaran Gereja, akan selalu ada kekurangan dalam karyanya. Menjadi lebih mendukakan lagi jika seorang imam kendati menyadari kemunduran rohani atau keadaan kurang ber-iman-annya, tetapi dengan sengaja mengharapkan Tuhan menyempurnakan apa yang kurang.
Tentu saja Tuhan dalam kerahiman-Nya sanggup melakukan hal itu, tetapi janganlah menambah luka pada Hati Kudus-Nya dengan kesengajaan yang demikian.

Seorang imam haruslah sungguh-sungguh menjadi seorang “Insan Allah“.
Ketika umat yang digembalakan sungguh-sungguh merasakan bahwa imam mereka adalah seorang Insan Allah, dalam diri mereka yang beriman itu berkobarlah sukacita Injil, bahwa pengharapan tidaklah mengecewakan, karena mereka melihat itu menjadi kenyataan, melalui hidup dan karya imam terkasih mereka.
Keseluruhan hidup beriman Gereja adalah “iman bersama“, bukan personal. Itulah sebabnya, hidup beriman para kudus yang telah mendahului kita, saudara-saudari seiman kita, dan terutama bercahaya dalam diri para imam kita, sangatlah penting agar “iman bersama” itu dapat tumbuh serta berbuah baik.
Sebenarnya, dapat pula dikatakan bahwa iman umat begitu bergantung pada iman dari para imam mereka.
Iman umat seringkali lebih rentan terhadap pencobaan, karena iman mereka sebenarnya atas satu dan berbagai cara, mendapat peneguhan dari dan dalam kebersamaan dengan hidup beriman para imam mereka.
Jika iman dari para imam kuat, demikian juga iman umat gembalaan mereka. Ibarat prajurit, umat tidak akan ragu melangkah ke dalam pertempuran, kendati lawan jauh lebih banyak, karena mereka memandang keberanian panglima perang mereka, yakni para imam, dan mereka menemukan kekuatan untuk bertempur melawan si jahat, karena melihat tidak ada ketakutan dalam diri para imam mereka.
Oleh sebab itu, setiap saat, 24 jam sehari, dan dalam situasi apapun, seorang imam dituntut untuk memiliki hidup beriman yang baik, melebihi domba-domba gembalaannya.
Dia harus memiliki hidup doa, puasa, laku tapa dan mati raga melebihi umatnya, sehingga dia dapat berdiri sebagai benteng perlindungan yang aman bagi umatnya, serta melindungi domba-dombanya dari kawanan serigala dan pencuri.
Kerinduannya untuk memenangkan jiwa-jiwa, haruslah jauh melebihi kerinduan umatnya.
Air mata dan silih yang dilakukannya bagi pertobatan dunia, haruslah tercurah lebih banyak dibandingkan air mata seorang ibu bagi pertobatan anaknya.
Dalam terang Ekaristi, dia hendaknya juga melihat hidupnya sebagai “Roti Hidup” (Yoh.6:48), seorang rasul Ekaristi, yang memecah-mecahkan dirinya, untuk “memberi mereka makan pada waktunya” (bdk.Mat.24:45; Mat.14:16).
Dia harus mengimani apa yang Gereja imani tanpa keraguan, agar dia dapat membimbing kawanan domba yang sesat untuk kembali ke pangkuan Gereja.

Seorang imam tentu saja harus dengan rendah hati mengakui bahwa sebagaimana benih panggilan, iman juga tidak dapat muncul seketika.
Iman harus dihidupi dan bertumbuh seiring dengan semakin mesranya pergaulan seorang imam dengan Allah.
Jangan pernah mengorbankan hidup doa demi karya pastoral, dan jangan pernah pula mengharapkan buah yang baik dalam karya pastoral tanpa doa.
Kesucian tanpa doa adalah mustahil, tidak ada kesucian semacam itu.
Seorang imam dapat mengajar dalam bahasa malaikat, mendirikan sekolah dan rumah sakit, membela hak-hak kaum miskin dan terpinggirkan, melawan rezim yang korup atau menjadi penasihat negara sekalipun, tetapi jika melupakan panggilan dasarnya sebagai seorang imam yang sungguh-sungguh beriman, bila kehilangan kasih dan hidup doa, semua pemberian diri dan karya pastoralnya itu sia-sia dan tak bernilai di mata Allah. Orang yang tidak beriman dan kafir pun bisa melakukan hal yang sama.
Umat beriman dapat merasakan apakah karya pastoral, pelayanan sakramental, dan pewartaan sabda seorang imam bersumber dari hidup doa yang tekun di hadirat Allah, atau hanya berasal dari rancangan manusia belaka dari balik meja kerjanya.
Semoga Allah senantiasa membangkitkan dalam diri para imam, kerinduan akan Dia, ketekunan dalam doa dan merenungkan Sabda-Nya, kesetian untuk mempersembahkan Misa bagi dunia, dan semangat yang berkobar untuk bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Semesta Alam.

NB:
Hari ini Bapa Suci Paus Fransiskus merayakan Pesta Nama Baptisnya (St. Georgius yang diperingati setiap 23 April). Mari kita mendoakan kesehatan Bapa Suci dan bagi intensi-intensinya di bulan ini.
Bersama Prelatur Opus Dei, kita juga memperingati Komuni Pertama (23 April 1912) dari Bapa Pendiri mereka, St. Josemaría Escrivá. Mari kita berdoa bagi para Imam Karya Allah dimanapun berada, agar mereka dapat mempersembahkan Misa Kudus setiap hari dengan setia, serta membawa umat Allah pada kerinduan dan penuh hormat untuk menerima Komuni Kudus setiap hari.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan II Paskah

image

PERCAYA SAJA DAN LAKUKANLAH !

Bacaan:
Kis.5:34-42; Mzm.27:1.4.13-14; Yoh.6:1-15

Renungan:
Siapapun yang hendak memulai perjalanan kerasulannya bagi karya Allah, sedari awal harus selalu ingat bahwa pada akhirnya itu bukan karya kita, melainkan karya Allah.
Pengakuan dan penerimaan sepenuhnya akan kenyataan ini akan sangat membantu bila diperhadapkan pada gerak cinta Tuhan yang seringkali membuat kita bertanya, “Quo vadis, Domine?”
Kemana Tuhan mengarahkan panggilan kita, apa sebenarnya maksud dari tindakan-Nya, bagaimana mungkin sesuatu yang baik bisa muncul dari keadaan ini, bukankah lebih jika Tuhan melakukan begini, dan rupa-rupa pertanyaan lainnya seringkali muncul dalam karya kerasulan.
Para rasul mengalami hal serupa dalam peristiwa perbanyakan roti dan ikan, sebagaimana yang kita renungkan hari ini.
Pahamilah hal ini!
Allah dapat mendatangkan segala yang baik, bahkan dari atau melalui keadaan yang paling buruk sekalipun.
Allah tetap masuk akal, sekalipun seringkali tindakan-Nya, tuntutan-Nya, kehendak dan rencana-Nya terkesan tidak masuk akal.
Kita diminta untuk beriman dan taat. Percaya saja dan lakukanlah!
Dan jangan berharap dorongan atau tuntutan untuk percaya dan taat itu akan datang selalu dari Tuhan melalui pewahyuan pribadi. Panggilan kepada ketaatan suci dapat datang dari uskup-mu, prelat-mu, superior-mu, pembimbing rohanimu, bapa pengakuanmu, komunitasmu, orang-orang terdekat yang lebih maju daripadamu dalam hidup rohani, bahkan jangan heran bilamana itu dapat saja berasal dari orang yang berpapasan denganmu di tengah jalan.
Bila Beata Teresa dari Kalkuta menerima panggilan Tuhan yang berbicara lewat seruan sederhana seorang pengemis, “Aku Haus …”, dan taat melakukannya dengan setia, kendati sesudah itu dia dibawa ke dalam malam gelap, dimana Tuhan seolah tidak pernah berkata-kata dengan begitu jelasnya lagi hingga menjelang akhir hidupnya … tidakkah kamu juga seharusnya tidak perlu terkejut bilamana Tuhan melakukan hal yang serupa denganmu?

Pax, in aeternum.
Fernando

Surat dari Bapa Prelat Opus Dei (Desember 2013)

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini


Dengan ditutupnya Tahun Iman, Bapa Prelat merefleksikan cara-cara untuk memastikan beberapa bulan terakhir ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari.

Anak-anakku yang terkasih : semoga Yesus menjaga putri -putraku untukku!

Uskup Roma telah menutup Tahun Iman. Selama bulan-bulan ini, dengan bantuan Allah, kami telah mencoba untuk menumbuhkan dalam kebajikan teologi ini, akar dari kehidupan Kristen, meminta dengan sangat kepada Tuhan, adauge Nobis fidem,[1] meningkatkan iman kita – dan dengan itu harapan, cinta dan kesalehan kita. Sekarang, dengan dorongan yang kita terima selama bulan-bulan rahmat ini, marilah kita berusaha untuk terus berjalan hari demi hari di jalan ini, yang menghantar kita ke surga. Mari kita meminta bantuan kepada Bunda kita, Guru iman dan kemesraan dengan Allah, sehingga ia mewujudkan keinginan kita untuk setia kepada Puteranya dan kepada Gereja.

Dokumen-dokumen magisterium Gereja ( dan juga baru-baru ini ensiklik Lumen Fidei ) telah menekankan dua karakteristik penting yang terkandung dalam kesejatian iman kita, seperti yang ditampilkan kepada kita dalam Perjanjian Baru. Santo Paulus menekankan bahwa fides ex auditu[2],  bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Allah, dibacakan dan disambut dalam Gereja . Sementara Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia, adalah cahaya sejati yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia[3], memberikan kita kemampuan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Allah. Terang dan Firman, Firman dan Terang , menandai bagi kita aspek yang tidak terpisahkan dari iman yang kita akui. “Karena itu, ada kebutuhan mendesak, untuk melihat sekali lagi bahwa iman adalah terang , karena sekali nyala api iman padam, semua lampu lainnya mulai redup.” [4] Mari kita bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, putri-putraku, untuk terang cahaya yang Roh Kudus, dengan menggunakan magisterium Gereja dan kehidupan para kudus, terus-menerus nyalakan dalam diri kita. Marilah kita bersemangat untuk menerimanya, dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Parakletos dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada pertengahan bulan yang lalu, sebuah konferensi tentang “St. Josemaria dan Pemikiran Teologi” diselenggarakan di Roma. Mereka yang hadir menganalisa bagaimana pewartaan dan kesaksian dari para kudus membawa pencerahan baru untuk menggali lebih dalam akan iman kita dan, sebagai konsekuensinya, untuk memperdalam eksposisi teologis dari doktrin kita. Simposium ini telah memberikan kesempatan baru untuk membuat semakin dikenalnya, di bidang teologi, nuansa khusus dari pesan, yang diterima Bapa Pendiri dari Tuhan pada tanggal 2 Oktober 1928, dengan misi menularkan kepada orang Kristen, terutama mereka yang tenggelam dalam hidup keluarga, profesional, sosial, dan aktivitas lainnya dari kehidupan sehari-hari.

Selama beberapa bulan terakhir, saya telah berfokus pada kebenaran iman yang terkandung dalam pasal-pasal dari Pengakuan Iman (Credo) kita. Sekarang saya ingin menolong kalian, dan menolong diri saya sendiri, menarik konsekuensi yang akan mengilhami kehidupan kita dengan kebajikan ini dalam beberapa bulan mendatang, yaitu, untuk fokus pada bagaimana iman harus ditunjukkan dalam perilaku kita sehari-hari, sehingga itu benar-benar akan menerangi pikiran kita, menguatkan kehendak kita, dan bernyala dalam hati kita, untuk mengungkapkan pengetahuan dan kasih Allah dalam perilaku kita sendiri, dan membawanya kepada semua jiwa .

Titik awalnya adalah kepercayaan penuh bahwa dalam Gereja, kita memiliki kepenuhan sarana pengudusan yang Yesus tinggalkan bagi kita. Secara khusus ini termasuk penerimaan sakramen-sakramen, pemenuhan perintah-perintah Allah dan Gereja, serta doa, sebagaimana dijelaskan dalam ensiklik Lumen Fidei .

Sakramen-sakramen adalah tindakan Kristus dimana Kemanusiaan Yang Mahakudus, mulia di Surga, datang dalam perjumpaan seketika dan langsung dengan jiwa-jiwa, untuk menguduskan mereka. Roh Kudus juga mengikuti jalan lain, yang tidak kita kenal, untuk menarik orang kepada Allah. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Paus : “Budaya kita telah kehilangan arti kehadiran nyata dan karya Tuhan dalam dunia. Kita berpikir bahwa Allah dapat ditemukan di luar, di sisi lain realitas, jauh dari relasi kita sehari-hari. Tapi jika demikian, sekiranya Tuhan tidak bisa berkarya dalam dunia, cinta-Nya tidak akan benar-benar kuat, demikian nyata.” [5]

Mari kita perhatikan sekali lagi ajaran St. Josemaria, yang sudah dirumuskan dengan jelas sejal awal: Adalah perlu untuk percaya bahwa Allah selalu dekat dengan kita. Terlalu sering kita hidup seolah-olah Dia berada di suatu tempat jauh – dimana bintang-bintang bersinar. Dan kita lupa bahwa Ia sebenarnya terus berada bersama kita.

“Karena ia adalah Bapa yang penuh kasih. Dia mengasihi kita masing-masing lebih dari semua ibu di dunia bisa mengasihi anak mereka – menolong kita, menginspirasi kita, memberkati … dan mengampuni . . . Kita harus benar-benar yakin, sungguh-sungguh menyadari, bahwa Allah, yang dekat bagi kita yang ada di surga, adalah Bapa, dan benar-benar Bapa kita.” [6]

Hal ini terutama nyata saat kita menerima Sakramen Pengampunan dan Ekaristi. Tergerak oleh kebenaran iman ini, betapa amannya kita dalam pengampunan dan kedekatan dengan Tuhan , betapa damainya perasaan yang dicurahkan ke dalam jiwa kita, dan betapa rindunya kita untuk menyebarkan kedamaian ini kepada orang-orang di sekitar kita! Oleh karena itu, saya tidak akan pernah bosan mendesak agar, setiap kali kita meminta bantuan dari sakramen-sakramen ini, kita harus melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa Roh Kuduslah yang menarik kita, melalui Kristus, kepada kasih Bapa.

Mari kita menerapkan segala pertimbangan ini untuk pertempuran perjuangan batin kita sendiri. Kita bisa menjadi orang-orang kudus, kita harus menjadi orang-orang kudus, terlepas segala cacat dan kejatuhan kita, karena Allah memanggil kita untuk masuk ke dalam keintiman hidup ilahi-Nya, sebagai anak-anaknya di dalam Kristus, dan Dia menawarkan kepada kita semua obat yang dibutuhkan. Dengan rahmat sakramen-sakramen dan dengan doa, menjadi lebih mudah untuk memenuhi perintah-perintah dari hukum ilahi dan untuk setia kepada tugas-tugas khusus dari situasi hidup setiap orang. “Sepuluh Perintah Allah bukanlah seperangkat perintah negatif, tetapi panduan konkret untuk muncul dari padang pasir keegoisan dan cinta diri, untuk masuk ke dalam dialog dengan Allah, untuk dipeluk oleh rahmat-Nya dan kemudian, untuk membawa rahmat itu kepada orang lain.” [7]

Mari kita memohon supaya Tuhan memberikan kita iman yang kokoh, iman yang akan menghidupkan semua tindakan kita. Tentu saja kita percaya pada firman Allah, kita membaca dan merenungkan Injil dengan kekaguman, tetapi mungkin itu tidak tenggelam ke dalam jiwa kita, ke titik yang mengubahkan kita dan setiap tindakan kita. Dan ketika kesukaran muncul, ketika kita merasa gersang atau menemui penolakan dari lingkungan kita, kita bisa menjadi putus asa. Apa mungkin iman kita telah tertidur? Bukankah kita harus lebih mengandalkan karya Parakletos, yang diam di dalam jiwa kita melalui kasih karunia? Tidakkah terjadi bahwa kadang-kadang kita percaya terlalu mengandalkan kekuatan kita sendiri? Mari kita merenungkan transformasi yang dilalui para rasul pada hari Pentakosta dan mencoba untuk hidup sesuai dengan pedoman ilahi kita temukan disana, yang disampaikan kepada kita juga melalui praktek-praktek kesalehan Kristiani yang selalu disarankan oleh Gereja: doa batin, dan doa-doa lisan ( terutama doa Rosario ), persembahan penyangkalan diri, membuat pemeriksaan batin, dan menunaikan pekerjaan dengan baik di hadirat Allah.

“Kehidupan batin,” sebagaimana diajarkan oleh Bapa kita, “bukan soal perasaan. Ketika kita melihat dengan jelas pentingnya pengorbankan diri kita hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, seumur hidup kita, demi Cinta yang menanti kita di surga: betapa banyak cahaya yang kita terima! Kita harus menyimpan semua cahaya ini, anak-anakku. Kita perlu membuat dalam jiwa kita suatu wadah untuk menangkap semua rahmat ini dari Allah: kejelasan, cahaya, sukacita pemberian diri kita. Kemudian ketika malam datang, kegelapan dan cobaan pahit, kita dapat menarik kekuatan dari persediaan kita, dari air murni kasih karunia Allah. Meskipun saat ini saya mungkin buta, saya bisa melihat, meskipun saya mungkin kering, saya disegarkan oleh air yang mengalir dari Hati Kristus menuju kehidupan kekal. Kemudian, anak-anakku, kita akan bertahan dalam perjuangan.” [8]

Kemudian kita akan dapat membantu orang lain sehingga mereka juga dapat melakukan perjalanan dengan aman di sepanjang perjalanan iman. Karena “iman tidak hanya sekedar mengarahkan pandangan kepada Yesus, tetapi melihat semua hal sebagaimana Yesus sendiri melihat, dengan mata-Nya sendiri:  mengambil bagian dalam cara-Nya melihat.” [9] Pandangan Tuhan kita terarah pada setiap pribadi dan kepada semua orang. Dia datang ke dunia kita ini untuk  setiap pribadi dari antara kita, dan untuk semua orang, Ia terus mengerjakan karya keselamatan-Nya . Misi kita adalah untuk membawa pada perjumpaan dengan Yesus semua orang yang kita temui di jalan kehidupan kita, dimulai dengan orang-orang terdekat kita. Demikianlah orang-orang Kristen perdana bertindak, yang membawa pertobatan dari dunia kafir.

Dalam meditasi terdahulu , St. Josemaria berbicara mengenai teladan saudara-saudari pertama kita dalam iman: “Sebagai orang-orang yang tidak terpelajar, mereka mengetahui akan menghadapi kemartiran dan kematian yang keji. Namun demikian , mereka menerima peran mereka sebagai rekan sekerja Kristus dalam penyelamatan dunia, dan mereka berangkat untuk menggulingkan kekafiran dan menyebarkan kehidupan Yesus Kristus di seluruh dunia. Tidak lama kemudian, Saulus, yang dahulu pernah menjadi penganiaya mereka, bergabung bersama mereka , dia yang telah ‘menendang ke galah rangsang’ ( lih. Kis. 9:5 ), dan yang sekarang menyertai mereka dalam pewartaan, dan dalam usaha mulia dimana mereka memeteraikan iman yang diwartakan dengan darah mereka. Mereka semua, dengan kemurnian mereka, memulai perjalanan untuk membersihkan air keruh dan najis dari dunia kafir. Mereka berusaha untuk memerangi kecenderungan masyarakat akan kenikmatan – melalui kebajikan kecil yang mereka lakukan, dengan kerendahan hati mereka dan kesopanan. . . Mereka mencapai jantung/pusat dunia kuno : Roma. Tapi apa yang bisa mereka lakukan di sana? Sejarah memberi kita jawabannya : Tahta kaisar digulingkan, dan hari ini, setelah dua ribu tahun, Petrus terus menjadi Uskup Roma.” [10]

Sekarang juga, dihadapkan pada tantangan evangelisasi baru, kita harus menjaga harapan kita menyala. Non est abbreviata manus Domini, [11] tangan Tuhan tidak kurang panjang. Tetapi, dibutuhkan pria dan wanita yang beriman untuk memperbaharui keajaiban yang tertulis dalam Kitab Suci. Beberapa hari yang lalu, Paus mengeluarkan seruan apostolik Evangelii Gaudium , dengan kesimpulan dari Sidang Umum Sinode para Uskup baru-baru ini, khususnya tentang evangelisasi baru. Saya mendorong anda sekalian untuk mempelajari tulisan ini, yang menawarkan pemahaman baru untuk memberikan dorongan yang lebih besar bagi usaha besar ini.

Saya tidak ingin mengabaikan fakta bahwa 12 Desember mendatang, Pesta Santa Perawan Maria dari Guadalupe, adalah salah satu peringatan lainnya dari pewahyuan ilahi yang St. Josemaría – melalui kata-kata dari Kitab Suci – dengarkan di tahun 1931. Ini menggema di kedalaman jiwanya, di saat-saat hambatan besar untuk perkembangan Karya: inter medium montium pertransibunt aquae, [12] mata-mata air kehidupan akan mengalir di antara gunung-gunung, mengatasi segala rintangan, semua yang menentang kerajaan Allah dalam jiwa mereka, dalam kehidupan Gereja dan kemanusiaan. Karena inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, iman kita.[13] Dengan demikian kita akan membantu mewujudkan harapan Bapa kita, yang ditemui dari bibirnya dan dari apa yang ia tulis sejak berdirinya Opus Dei : regnare Christum volumus! Kami ingin Kristus meraja.

Hari ini dimulai masa Adven, minggu-minggu persiapan bagi peringatan Kelahiran Tuhan kita. Hari-hari ini bisa menjadi kesempatan yang baik – mengagumi sekali lagi akan kebaikan dan kemurahan Allah Bapa, yang mengutus Anak-Nya ke dalam dunia – untuk memperbaharui keinginan kita untuk tetap terbuka setiap saat bagi terang dan sabda Allah, terutama saat kita membaca dan merenungkan Kitab Suci.

Pintu gerbang menuju perayaan ini adalah Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa: guru iman, harapan kita dan teladan luar biasa akan bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama demi Allah, dengan segenap hati, pikiran dan perasaan kita sepenuhnya tenggelam dalam diri-Nya. Mari kita menempatkan perhatian besar dalam mempersiapkan perayaan ini , yang kini semakin dekat, dengan penuh cinta bakti kepada Ibu kita di Surga.

Dalam doa kita, marilah kita memberikan ruang yang cukup bagi ujud-ujud Gereja dan Paus, untuk rekan-rekan kerjanya, untuk ujud-ujud saya, untuk semua kebutuhan spiritual dan material dari pria dan wanita di zaman ini. Mari kita tidak pernah bergeming ( syukur kepada Allah, saya yakin hal ini tidak terjadi ) pada perhatian akan masalah spiritual dan dunia – pada masa tragedi saat ini – yang mempengaruhi begitu banyak orang di seluruh dunia.

Ada beberapa hari peringatan Karya yang berlangsung di bulan ini, antara lain pembentukan Kolose Roma dari Bunda Kita, pada tahun 1953. Mari kita bersyukur kepada Allah untuk semua tonggak dalam sejarah Karya.

Dengan segenap kasih sayangku, saya memberkati kalian,

Bapamu,

+ Javier

Roma , 1 Desember 2013



[1] Lukas 17:5

[2] Roma 10:17

[3] Yohanes 1:9

[4] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 1913, No.4.

[5] Ibid., No.17

[6] St. Josemaría, Jalan, No.267 .

[7] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.46.

[8] St. Josemaría, Catatan diambil pada pertemuan keluarga, 17 Februari 1974.

[9] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.18.

[10] St. Josemaría, Catatan diambil dari meditasi, 26 Juli 1937.

[11] Yesaya 59:1.

[12] Mazmur 103 ( 104 ): 10 ( Vulg. ).

[13] 1 Yohanes 5:4.

Catatan:

Surat Bapa Prelat Opus Dei bulan Desember ini diterjemahkan dari website resmi Opus Dei Internasional. Ini belum merupakan terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia. Ini hanyalah terjemahan sementara bagi yang memerlukan, sambil menunggu keluarnya terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia yang sementara disusun oleh anggota Opus Dei dari cabang wanita.