HARI RAYA KABAR SUKACITA

image

SEANDAINYA DIA MENJAWAB TIDAK

Bacaan I
Yes.7:10-14; 8:10
Mazmur Tanggapan
Mzm.40:7-8a.8b-9.10.11
Bacaan II
Ibr.10:4-10
BACAAN INJIL
Luk.1:26-38

Renungan:

“Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan.” (Lumen Gentium, 56)

Seandainya waktu di dunia ini pernah berhenti, maka itu sangat mungkin terjadi pada hari dimana Perawan Suci menerima Kabar Sukacita dari Allah melalui malaikat Gabriel.
Ada suatu momen keheningan mendalam yang terjadi pada hari itu, saat dimana seluruh penghuni surga membungkuk untuk melayangkan pandangan ke bumi dalam keheningan, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, untuk mendengar jawaban apa yang hendak dia berikan.
Sebuah jawaban yang akan menentukan keselamatan seluruh umat manusia.
Kenyataan bahwa Tuhan begitu menghormati kebebasan manusia, dan tidak memaksakan kehendak-Nya kepada kita, sebagaimana nyata dalam diri Maria di hari itu, semakin membuat momen itu mendebarkan bagi seluruh alam semesta.
Datang atau tidaknya Sang Penyelamat ke dalam dunia, sepenuhnya tergantung pada jawaban Maria.
Maria bisa saja menjawab “Tidak”.

Akan tetapi, dalam diri dan “Fiat/Ya” Maria, setiap orang beriman boleh memandang dan merenungkan dalam kekaguman akan rahmat Allah yang bekerja di dalam diri Maria.
Itulah juga sebabnya kenapa malaikat Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan menyebut dia sebagai yang “penuh rahmat.”
Karena, sama seperti sebelum Allah menciptakan manusia, terlebih dahulu Dia menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dalam kebaikan, sehingga bisa menjadi kediaman yang membahagiakan bagi manusia, demikian pula sebelum mengutus Putra-Nya yang terkasih ke dalam dunia, Allah sungguh-sungguh memilih dan menetapkan wanita terbaik, seorang Perawan Suci, serta menghujaninya dengan segala kelimpahan rahmat sebagai Bunda Allah.

“Fiat” Maria hendaknya menjadi “Fiat” kita juga. Jawaban “Ya” Maria hendaknya menjadi jawaban “Ya” kita juga, tidak hanya disaat kehendak Tuhan begitu jelas kelihatan, melainkan juga disaat jawaban “Ya” itu menuntut kita untuk melangkah di dalam kegelapan malam.
Sama seperti Maria, milikilah keberanian iman untuk percaya sekalipun tidak ada dasar untuk percaya, untuk berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap.
Dalam keadaan sesulit apapun dalam hidup, ketika iman kita diuji, bahkan kendati seluruh dunia mendesak kita untuk mempertanyakan rancangan Tuhan, biarlah suara Tuhan ini selalu bergema di hati kita, “Jangan Takut! Percaya saja!”
Semoga Hari Raya Kabar Sukacita ini mengingatkan kita akan begitu besar belas kasih Allah atas umat-Nya, sambil meneladani Perawan Suci Maria yang menemukan kebebasan sejati dalam penyerahan diri secara total dan bebas kepada kehendak Allah.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat IV Prapaska

image

Yesus mengajar di Sinagoga

JANGAN ABU-ABU

Bacaan:
Keb.2:1a,12-22; Mzm.34:17-18,19-20,21,23; Yoh.7:1-2,10,25-30

Renungan:
Kita dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah, apapun resikonya.
Tidak ada ruang tengah, atau titik aman dalam kerasulan dan pewartaan Injil.
Sama seperti Yesus, kita tidak mungkin menyenangkan semua orang.
Jangan pernah membelokkan pesan Injil, atau merubah tuntutan kerasulan, hanya karena opini publik, ketakutan untuk berbeda dengan kebanyakan orang, keinginan untuk mendapatkan “win-win solution”.
Hanya ada 2 pilihan, berdiri di pihak Allah, atau berdiri di pihak si jahat. Tidak ada pilihan ruang “abu-abu” di tengahnya.
Sekalipun Injil sendiri berarti “Kabar Baik”, pada kenyataannya tidak semua hati terbuka atau sanggup menerima sukacita Injil.
Ini dikarenakan sukacita Injil hanya bisa dialami oleh mereka yang sungguh-sungguh memutuskan untuk berubah, untuk mengalami metanoia, untuk meninggalkan kegelapan menuju cahaya.

Pax, in aeternum.
Fernando