Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Suci

image

BERAPA HARGAMU ?

Bacaan:
Yes.50:4-9a; Mzm.69:8-10.21bcd-22.31.33-34; Mat.26:14-25

Renungan:
“Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia?”
Kita sering menemukan kemiripan dari pertanyaan Yudas ini.
Salah satu kegagalan dan kejatuhan besar seorang rasul Kristus, adalah ketika dia menaruh “harga” untuk membuang keselamatan.
Banyak orang sanggup menjual Yesus dan membuang Iman pada “harga yang pas” baginya.
Bagi Yudas harganya adalah 30 keping perak, bagi yang lain harganya mungkin kekuasaan, cinta akan pasangan hidupnya, pengakuan dalam masyarakat, promosi jabatan, gaji yang lebih menggiurkan, popularitas publik, kursi di dewan perwakilan rakyat, penghargaan dalam dunia medis atau sains, keinginan untuk dinikahi karena sudah terlanjur hamil di luar nikah, amplop berisi segepok uang suap, dan masih banyak lagi “harga” lainnya.
Hidup Kristiani saat ini diperhadapkan pada situasi dan kondisi yang menggoda kita untuk bersikap tidak Kristiani, bahkan sampai menyangkal Yesus dan membuang Iman kita.

Tak jarang penyangkalan Iman akan Yesus tersebut dilakukan dengan begitu lihainya sehingga orang-orang di sekitar tidak pernah menduga itu sanggup dilakukan.
Yudas melakukan pengkhianatan dengan begitu cantik dan tersembunyi sehingga bahkan para rasul Yesus yang lain pun tidak pernah menduganya. Mereka bahkan bertanya, “Bukan aku, ya Tuhan?”
Tetapi ingatlah, sekalipun itu tersembunyi di hadapan manusia, tetapi Allah sanggup melihat kedalaman hati manusia.
Seorang Kristiani harus mewaspadai bahaya ini. Jangan sampai kelekatan kita akan dunia membuat kita sanggup menjual Sang Penyelamat. Jangan sampai karena ingin memiliki dunia, kita kehilangan Surga.

Berbeda dengan Setan yang meninggikan dirinya dalam kepemilikan akan segala dan dalam kerakusan untuk melakukan segala; Putra Allah justru ditinggikan dalam kehilangan segala, dalam ketiadaan dan ketelanjangan di Kalvari.
Itulah sebabnya, sama seperti Yesus yang mengosongkan Diri-Nya, bahkan ke-Allah-an-Nya sendiri, dengan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (kecuali dalam hal dosa), demikian pula seorang rasul Kristus yang sejati harus mengosongkan diri dari segala, sehingga dia bisa menemukan Allah, Sang Segala.
Semoga kita semua menjadi saksi-saksi Kristus yang setia, untuk hidup merasul di tengah dunia serentak mengosongkan diri dari segala kelekatan dunia, serta berkanjang dalam Iman, apapun resikonya.
Iman itu “harga” mati!

Pax, in aeternum.
Fernando