Meditasi Harian 7 Agustus 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XVIII

image

SANGKAL DIRI ~ PIKUL SALIB

Bacaan:
Ul.4:32-40; Mzm.77:12-16,21; Mat.16:24-28

Renungan:
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat.16:24)
Pesan Injil hari ini begitu jelas, namun seringkali gagal dimengerti dalam kepenuhan makna oleh kita, para pengikut Kristus.
Sebelum benar-benar menyebut diri pengikut Kristus, seorang beriman harus sungguh memahami dan menghidupi 2 hal berikut ini.

Pertama, penyangkalan diri. Artinya siapapun kamu, sebesar atau sedasyat apapun rahmat Tuhan yang bekerja di dalam dan melalui dirimu, jangan pernah sekali-kali tergoda untuk menjadikan dirimu sebagai pusat perhatian. Dalam karya kerasulanmu, dalam pelayanan kasihmu, hendaknya Kristus semakin besar dan dirimu semakin kecil. Kristus-lah yang harus dikenal, bukan dirimu. Kristus-lah yang harus dipuji, bukannya dirimu. Milikilah kerendahan hati untuk menyadari bahwa kamu semata-mata adalah alat. Sebuah kuas dapat menghasilkan lukisan yang indah pada kanvas, tetapi pada akhirnya sebuah kuas tetaplah sebuah kuas. Mahakarya yang dihasilkan melalui dia semata-mata lahir dari ketaatan dan kesetiaannya untuk digerakkan oleh Sang Seniman, yaitu Kristus sendiri.
Suatu ketaatan dan kesetiaan yang nampak paling nyata dan teruji dalam ketaatan serta kesetiaanmu kepada Bapa Suci, para Uskup dan Pembesarmu.
Hidup seorang rasul Kristus yang sejati harus senantiasa berpusat pada Kristus, berkarya di tengah dunia sambil tetap mengarahkan pandangan dan seluruh pemberian diri sebagai persembahan terbaik dan berkenan bagi Kristus.
Tidak ada ruang untuk pemuliaan diri, karena perkara kerasulan dan pelayanan bukanlah soal “aku”, melainkan “DIA”.

Kedua, memanggul salib. Seorang harus memiliki kesiapsediaan untuk mati. Tidak mungkin menyatakan diri siap memanggul salib, tanpa kesediaan untuk mati di puncak kalvari.
Salib bukan aksesoris, bukan kebanggaan semu, dan bukan pembenaran untuk menolak diberi kuk lebih besar. Oleh karena itu, manakala seseorang menyatakan diri siap memanggul salib, hendaknya pernyataan ini sungguh telah direfleksikan secara mendalam dan didasari kesiapsediaan untuk menerima segala konsekuensi dari salib itu. Ini berarti “ada-ku” menjadi “ada-Nya”. Aku mati terhadap diriku untuk beroleh makna dan kepenuhan hidup di dalam Dia.

Tentu saja semua orang beriman, tanpa kecuali, akan mendapati dirinya seringkali sulit untuk memposisikan hidup dan karya kerasulannya sejalan dengan 2 tuntutan suci ini.
Kita semua perlu banyak bersabar terhadap diri kita, sebagaimana Tuhan kita selalu bersabar terhadap kita. Sekalipun jalan pemurnian ini tidak mudah, milikilah kerendahan hati dan penyerahan diri untuk senantiasa mau dibentuk dan disempurnakan oleh Tuhan, Kekasih jiwa kita.
Hidup yang berpusat pada Ekaristi sungguh membantu dalam menguatkan kita di jalan kesempurnaan ini. Adalah baik pula meluangkan waktu, misalnya pada setiap hari Jumat, baik secara pribadi maupun dalam komunitas, untuk merenungkan sengsara dan wafat Tuhan melalui devosi Jalan Salib.
Dengan demikian, seorang beriman dapat belajar menghayati dan merangkul salib dan mati terentang pada salibnya, karena telah memeditasikan dalam pandangan cinta di setiap devosi Jalan Salib akan kenyataan iman ini. Dengan merenungkan setiap perhentian Via Crucis, dia telah mendapati bahwa Tuhan dan Penyelamat-nya telah lebih dahulu menapaki tapak-tapak derita itu, dan telah mengubahnya menjadi tapak-tapak cinta.

Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Penolong Yang Baik, senantiasa menyertai kita di jalan pemurnian ini, dalam naungan mantol ke-Ibu-annya, sehingga pada senja hidup kita didapati Putra-nya sebagai sahabat yang setia, dan beroleh ganjaran mahkota kemuliaan.

Pax, in aeternum.
Fernando