Meditasi Harian, 19 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV

KEMESRAAN DAN SEMBAH BAKTI


Bacaan:

Kel.3:1-6.9-11; Mzm.103:1-2,3-4,6-7; Mat.11:25-27


Renungan
:

Hidup kita adalah untuk menyatakan kemuliaan Allah. Luapan hati seorang beriman untuk memuji Dia, bersumber dari kesadaran dan keterpesonaan akan karya Allah yang dinyatakan dalam hidupnya. Namun, kita seringkali gagal menyadari karya Allah yang bekerja di setiap detik kehidupan kita. Kebijaksanaan dan kepandaian duniawi tak jarang mengaburkan pandangan rohani kita untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, bahkan melalui perkara-perkara yang terlampau kecil dan sederhana dalam pandangan kita. Dia berkarya di setiap hembusan nafas kita, mulai dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, melalui senyum sapa yang kita terima dari sesama. Kehadirannya nampak dalam ciptaan seperti lebah madu yang mengambil sari bunga di taman atau kicauan burung gereja, dalam tetesan embun pagi di dedaunan pohon, melalui kerja keras para buruh di pabrik dan para pekerja yang masuk ke lorong-lorong gelap di pertambangan, bahkan dalam tugas sederhana seorang ibu rumah tangga yang mempersiapkan makan malam di ruang makan bagi suami dan anak-anaknya. Tanpa jatuh dalam “pantheisme“, hendaknya disadari oleh kita semua bahwa Allah hadir dan berkarya di dalam segala sesuatu. Kaum bijak dan pandai seringkali gagal memahami kebenaran ini.

Itulah sebabnya karya Allah yang indah dalam segala hal, hanya dapat dilihat, dimengerti, dan disyukuri oleh mereka yang kecil dan sederhana, mereka yang rendah hati, yang karena kesadaran akan semuanya itu kemudian berseru, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” (Mzm.103:1)
Mereka yang bergaul mesra dengan Allah, adalah mereka yang sanggup melihat karya-Nya dalam segala. Dengan demikian, dapat pula dikatakan bahwa mereka yang mencintai Allah dalam segala, adalah pula mereka yang dalam kuasa cinta juga meratapi kecenderungan jahat manusia yang merusak segala. Ensiklik Laudato Si’, yang dimaklumkan Bapa Suci Paus Fransiskus, merupakan panggilan Gereja yang menyerukan umat manusia untuk memandang dan mencintai Allah dalam segala, dalam karya ciptaan-Nya.

Perjumpaan Musa dengan Allah dalam rupa semak-belukar yang bernyala, seolah mengingatkan kita, bahwa semakin kita merusak alam ciptaan, kita pun akan semakin sulit berjumpa dan memandang Allah dalam karya ciptaan-Nya. Seorang tidak bisa mengatakan bahwa ia telah bergaul mesra dengan Allah, atau menyebut dirinya seorang insan Allah, seorang pendoa, seorang rasul Kristus, kalau pada kenyataannya ia tidak memiliki kepedulian akan lingkungan hidup, merusak alam semesta, menghilangkan jejak-jejak Allah dalam karya ciptaan-Nya. Sama seperti Musa yang terdorong hormat dan sembah bakti sambil menutupi wajah-Nya juga menanggalkan kasutnya untuk mendekati Allah dalam semak-belukar yang bernyala, demikian pula ketika seorang beriman mendekati Allah dan bergaul mesra dengan-Nya, sikap dan cara bergaulnya dengan Allah akan semakin penuh hormat dan ditandai sembah bakti yang sungguh nampak melalui hidup dan karyanya. Dia akan bersikap lebih hormat untuk menyambut Komuni Kudus dan tanpa ragu berlutut di hadapan keagungan Allah yang ia sambut dengan lidahnya, berusaha memelihara alam ciptaan agar dapat tetap melihat jejak-jejak Allah dan berjumpa dengan-Nya, dengan berani membela martabat hidup dan menentang segala bentuk pembenaran medis maupun sosial untuk melenyapkan hidup, serta melakukan banyak tindakan heroik beriman lainnya. Ia akan memiliki hati seperti Hati Allah. Segala karya yang ia lakukan akan memiliki motif adikodrati dan bernilai pengudusan. Inilah kemesraan dan sembah bakti yang sejati, suatu kurban yang harum dan berkenan di Hati Allah. 

Ya Santa Perawan Maria, engkaulah cermin kekudusan tahta kebijaksanaan. Tuntunlah kami dengan kasih keibuanmu untuk merindukan kemesraan dengan Allah, mendekati Dia penuh hormat dan sembah bakti.

Regnare Christum volumus!

 Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 3 Februari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa IV

image

KEAKRABAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:
2Sam.24:2.9-17; Mzm.32:1-2.5.6.7; Mrk.6:1-6

Renungan:
Salah satu penghalang bagi Karya Allah dalam hidup kita adalah kelekatan. Dalam Injil hari ini, kita mendapati suatu bentuk kelekatan yang seringkali membutakan mata rohani seseorang terhadap sapaan Tuhan, yaitu “keakraban“.
Ada pepatah dari dunia Barat yang mengatakan, “familiarity breeds contempt“, yaitu bahwa keakraban atau kedekatan kita dengan seseorang, jika dijalani secara keliru, seringkali dapat berbuah pada penolakan, kebencian, dan rasa tidak hormat terhadap diri orang itu.
Inilah yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus, ketika dia kembali ke kampung halamannya, Nazaret.
Sanak-saudara-Nya dan warga sekampungnya justru menolak Karya Allah yang diwartakan-Nya, semata-mata karena mereka “beranggapan” bahwa mereka telah begitu mengenal siapa Dia, seluk-beluk kehidupan-Nya, masa lalu-Nya, keluarga dan profesi-Nya, sebagaimana terungkap dalam kata-kata mereka, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk.6:3)

Dalam karya kerasulan, keakraban dapat menjadi rintangan bagi sukacita Injil untuk dialami. Anda menolak kabar sukacita semata-mata karena telah begitu mengenal hidup “manusiawi” seseorang, sampai gagal melihat karya “Ilahi” yang sedang bekerja dalam dirinya. Anda takjub dan heran akan karya ajaib dan buah-buah Roh yang dihasilkannya, tetapi menolak diubahkan oleh-Nya, sehingga tidak dapat mengalami mukjizat Tuhan yang seharusnya juga terjadi dalam hidupmu.
Kegagalan yang bersumber dari keakraban yang “cacat rohani” seperti ini, pada akhirnya menjadi sumber kebencian, perpecahan, kegersangan, kekurangan sukacita, ketiadaan kasih, dan kehilangan buah-buah Roh. Seperti penyakit yang menggeroti hidup beriman dan menggereja, yang memadamkan Api Roh dan merintangi Karya Allah.

Belajarlah memiliki kerendahan hati, kepekaan rohani, dan “kasih persaudaraan” yang sejati. Dengan demikian keakraban atau perasaan sudah begitu mengenal, tidak menjadi penghalang bagi Karya Allah dinyatakan dalam hidupmu, keluargamu, lingkungan kerjamu, komunitasmu, parokimu, dan berbagai peristiwa hidup lainnya.
Dalam karya kerasulan, milikilah kebijaksanaan untuk menyadari bahwa dibalik “dia” yang begitu kamu kenal, ada “DIA” yang sejak awal penciptaan telah mengenal kamu, jauh melebihi orang-orang yang terdekat sekalipun.
Jangan mengandalkan pengertian sendiri, dan mulailah menaruh kepercayaan pada gerak cinta Tuhan, yang seringkali justru bergerak dengan kegerakan yang di luar apa yang kamu pikir telah kamu ketahui secara “pasti“.
Belajarlah dari mukjizat St. Blasius, bahwa seringkali “tulang ikan” yang menghambat “tenggorokan rohanimu” untuk menjawab “Ya” pada Allah, berawal dari kerakusanmu untuk menelan utuh berbagai peristiwa hidup, tanpa mengunyahnya secara perlahan dan bijaksana, sehingga gagal berbuah “kontemplasi“.

Semoga kita senantiasa memiliki hati seperti Ibu Maria. Dia begitu mengenal siapa Tuhan Yesus, Putranya, melebihi siapapun. Tetapi, keakrabannya dengan Sang Putra adalah keakraban yang bersumber dari “Cinta Sejati”, dari hati seluas samudera, yang sekalipun takjub dan heran, tidak berbuah penolakan, tetapi “memandang dalam kuasa cinta“, membenamkannya dalam lautan kerahiman, menyimpannya dalam hati yang mencinta, sehingga hidupnya diubahkan oleh Sang Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 15 Juli 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV

image

KEMESRAAN DAN SEMBAH BAKTI
(Peringatan St. Bonaventura, Uskup & Doktor Gereja)

Bacaan:
Kel.3:1-6.9-11; Mzm.103:1-2,3-4,6-7; Mat.11:25-27

Renungan:
Hidup kita adalah untuk menyatakan kemuliaan Allah. Luapan hati seorang beriman untuk memuji Dia, bersumber dari kesadaran dan keterpesonaan akan karya Allah yang dinyatakan dalam hidupnya.
Namun, kita seringkali gagal menyadari karya Allah yang bekerja dalam setiap detik kehidupan kita. Kebijaksanaan dan kepandaian duniawi tak jarang mengaburkan pandangan rohani kita untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, bahkan dalam perkara-perkara yang terlampau kecil dan sederhana dalam pandangan kita.
Dia berkarya dalam setiap hembusan nafas kita, dalam matahari yang terbit di ufuk timur, dalam peredaran waktu, dalam senyum sapa yang kita terima dari sesama, dalam lebah madu yang mengambil sari bunga di taman, dalam kicauan burung gereja, dalam tetesan embun pagi di dedaunan pohon, dalam kerja keras para buruh di pabrik dan para pekerja yang masuk ke lorong-lorong gelap di pertambangan, bahkan dalam tugas sederhana seorang ibu rumah tangga yang mempersiapkan makan malam di ruang makan bagi suami dan anak-anaknya.
Tanpa jatuh dalam Pantheisme, hendaknya disadari oleh kita semua bahwa Allah hadir dan berkarya di dalam segala sesuatu.
Orang bijak dan orang pandai seringkali gagal memahaminya.
Itulah sebabnya karya Allah yang indah dalam segala hal, hanya dapat dilihat, dimengerti, dan disyukuri oleh mereka yang kecil dan sederhana, mereka yang rendah hati, yang dalam kesadaran akan semuanya itu kemudian berseru, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” (Mzm.103:1)

Mereka yang bergaul mesra dengan Allah, adalah mereka yang sanggup melihat karya-Nya dalam segala. Oleh karena itu, dapat pula dikatakan bahwa mereka yang mencintai Allah dalam segala, adalah pula mereka yang meratapi kecenderungan jahat manusia yang merusak segala.
Ensiklik Laudato Si’, yang dimaklumkan Bapa Suci Paus Fransiskus, merupakan panggilan Gereja yang menyerukan umat manusia untuk memandang dan mencintai Allah dalam segala, dalam karya ciptaan-Nya.

Perjumpaan Musa dengan Allah dalam semak-belukar yang bernyala, seolah mengingatkan kita, bahwa semakin kita merusak alam ciptaan, kita pun akan semakin sulit berjumpa dan memandang Allah dalam karya ciptaan-Nya.
Anda tidak bisa mengatakan bahwa anda telah bergaul mesra dengan Allah, atau menyebut diri anda seorang insan Allah, seorang pendoa, seorang rasul Kristus, kalau pada kenyataannya anda tidak memiliki kepedulian akan lingkungan hidup, merusak alam semesta, menghilangkan jejak-jejak Allah dalam karya ciptaan-Nya.
Sama seperti Musa yang dalam rasa hormat dan sembah bakti menanggalkan kasutnya untuk mendekati Allah dalam semak-belukar yang bernyala sambil menutupi wajahnya, demikian pula ketika seorang beriman mendekati Allah dan bergaul mesra dengan-Nya, sikap dan cara bergaulnya dengan Allah akan semakin penuh hormat dan dipenuhi sembah bakti.
Dia akan bersikap lebih hormat untuk menyambut Komuni Kudus dan tanpa ragu berlutut di hadapan keagungan Allah yang ia sambut dengan lidahnya, dia akan semakin memelihara alam ciptaan agar dapat tetap melihat jejak-jejak Allah dan berjumpa dengan-Nya, dia akan dengan berani membela martabat hidup dan menentang segala bentuk pembenaran medis maupun sosial untuk melenyapkan hidup, dia akan mengalami suatu metanoia sejati dan memutuskan segala ikatan yang merusak kemurnian baik tubuh jasmani maupun jiwanya. Intinya, dia akan memiliki hati seperti Hati Allah. Segala karya yang ia lakukan akan memiliki motif adikodrati dan bernilai pengudusan.

Inilah kemesraan dan sembah bakti yang sejati, suatu kurban yang harum dan berkenan di Hati Allah.
Semoga teladan St. Bonaventura yang kita peringati hari ini, menyadarkan kita untuk tidak hanya bijak dan pandai menurut ukuran dunia, tetapi juga tahu diri untuk selalu memohonkan karunia kerendahan hati,  agar dapat melihat karya Allah dalam segala.
Santo Bonaventura, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando