Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan IV Paskah

image

BERNYALA SAMPAI AKHIR

Bacaan:
Kis.12:24-13:5a; Mzm.27:2-3.5.6.8; Yoh.12:44-50

Renungan:

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” ~ Yoh.12:46

Selama dunia menolak untuk menerima cahaya sukacita Injil, selamanya pula dunia akan tetap berada dalam kegelapan.
Sebagaimana cahaya ada untuk menerangi kegelapan, demikian pula Sabda Allah dalam diri Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menerangi kegelapan.
Dunia ini tidak mungkin hidup tanpa cahaya. Semua makhluk hidup memerlukan cahaya. Sebagaimana cahaya membawa kehangatan dan energi, membuat benih untuk bertunas serta semua yang hidup tumbuh dan berkembang, demikianlah cahaya kebenaran Tuhan membuat semua orang yang beriman kepada-Nya tumbuh dan berkembang serta mengalami hidup dalam segala kelimpahan rahmat yang berasal dari-Nya.
Kata-kata Yesus memberi kehidupan, yakni hidup Allah sendiri, bagi siapapun yang menerimanya dengan penuh sukacita dalam iman.
Ini bukanlah berarti ketiadaan masalah atau pergumulan hidup, melainkan kepastian bahwa di tengah semuanya itu, kita akan selalu menemukan sukacita dan rasa syukur di dalam Tuhan.
Jika kita tetap bersikeras untuk menolak cahaya sukacita Injil dan tuntutan hidup sebagai seorang Kristiani yang sejati, itu artinya kita telah secara tahu dan mau memilih untuk hidup dalam kegelapan rohani.

Hari ini (29 April), bersama Gereja Katolik sedunia, kita juga memperingati St. Katarina dari Siena. Beliau hidup pada masa suram dalam Gereja, saat para petinggi Gereja dan Negara hidup dalam kebobrokan rohani serta kerakusan duniawi luar biasa. Di tengah kerapuhan Gereja pada waktu itu, St. Katarina dari Siena tampil sebagai seorang wanita kudus yang tidak menghakimi atau membangkang terhadap Hirarki, melainkan dengan penuh kesetiaan dan cinta menasehati para gembala untuk kembali menemukan sukacita Injil di dalam panggilan mereka. Kendati mendapat banyak perlawanan, tanpa kenal lelah St. Katarina dari Siena menulis begitu banyak surat yang mengungkapkan kedalaman cinta Ilahi untuk menasihati para pejabat Gereja maupun Negara. Kata-katanya yang penuh hikmat dan kesetiaan mutlaknya pada Iman Katolik, pada akhirnya mendatangkan pertobatan dan bahkan sampai menyentuh hati Paus, yang kembali disadarkan akan tugas kegembalaan yang dipercayakan Kristus kepadanya.
Oleh karena itu, di masa suram yang kurang lebih sama saat ini, hidup dan karya St. Katarina dari Siena kiranya boleh juga meneguhkan iman kita, untuk setia dalam iman, taat pada Hirarki, serta tanpa kenal lelah dengan berbagai cara menopang para Uskup dan Imam terkasih kita dalam karya, demi kemuliaan Allah.

Dalam salah satu nasehat rohaninya, St. Katarina dari Siena menggambarkan hidup dan panggilan kita seperti sebuah lilin, yang bercahaya dengan lembut dan hangat. Untuk bernyala dengan baik sampai habis, sumbu lilin harus benar-benar tertancap dengan tepat dan lurus di tengah. Bila sumbunya tidak benar-benar tegak lurus, bentuk lilinnya akan tidak bagus, nyalanya tidak elok, bahkan mungkin akan padam dalam perjalanan dan tidak terbakar habis seluruhnya.
Sama seperti lilin itu, demikian pula hidup beriman kita haruslah lurus, stabil, konsisten. Sumbu iman kita haruslah tertancap kuat dan berakar dalam Kristus serta dalam kesetiaan kepada ajaran iman Gereja Katolik secara otentik, tanpa pernah berpikir untuk berdiri di ruang abu-abu. Saat berbicara soal iman, kita tidak boleh bengkok sana-sini dan kompromistis karena takut mengecewakan pendengar.
Untuk dapat bernyala dan membakar seluruh dunia serta menghanguskan dunia dalam ketergila-gilaan cinta akan Allah, sumbu iman kita harus tertancap kuat pada Ekaristi Kudus dan doa tak kunjung putus, sebagai Sumber Hidup yang memampukan kita untuk terus berkobar dan bercahaya menerangi dunia, agar hidup dan karya kita selalu menghasilkan buah yang baik.
Kesetiaan mengikuti Misa Kudus untuk menyambut Tubuh Tuhan, dan ketekunan dalam doa menjadikan setan semakin kehilangan ruang gerak, dan dia tidak mendapat tempat dalam hidup kita, karena hidup kita begitu dipenuhi oleh cinta Tuhan.
Jika tidak demikian, maka datanglah si jahat untuk berbisik di lubuk hati kita agar jatuh dalam dosa dan kehilangan ketakutan yang suci akan Allah.
Dosa akan menjadi ibarat air yang disiramkan ke atas lilin yang bernyala, sehingga lilin itu tidak lagi bercahaya dengan lembut dan hangat, melainkan akan mendesis, berasap, bahkan mati. Lilin hanya dapat bernyala kembali dengan indahnya apabila dikeringkan. Disinilah rahmat Sakramen Tobat membawa pemurnian, mengeringkan kita dari ketenggelaman dalam dosa, sehingga kita dapat kembali bercahaya.
Malanglah mereka yang tidak mencintai Ekaristi, tidak memelihara hidup doa, dan dengan angkuhnya merasa tidak perlu mengaku dosa sesering mungkin.
Jangan heran bila hidupmu tidak berbuah baik, karena cintamu sedikit. Cintamu sedikit karena kamu tidak pernah menimba daya hidup cinta yang berasal dari Ekaristi, doa, dan pertobatan sejati.
Semoga kita senantiasa mendekat kepada Tuhan dan menyentuh Hati Allah karena cinta akan Dia, sehingga pada akhirnya kita akan sanggup menyentuh hati semua orang dan menghanguskan mereka dalam kuasa cinta.

“Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu.” ~ St. Katarina dari Siena

Pax, in aeternum.
Fernando