Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 18 Agustus 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan:

Yeh.36:23-28; Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Mat.22:1-14


Renungan:

Ada dukacita yang tersembunyi di balik perumpamaan Injil hari ini. Itulah dukacita Tuhan. Adalah kita, umat kesayangan-Nya, yang seringkali didapati dalam sikap dingin serta acuh tak acuh menanggapi undangan cintakasih Allah. Setiap hari Tuhan mengundang kita untuk mendekat pada-Nya, ke dalam suatu relasi cinta yang ditandai komitmen total dan kepercayaan tanpa batas akan kasih-Nya. Bahkan, Ia tidak hanya mengundang kita untuk datang makan dari meja perjamuan. Lebih dari sekadar mengundang, Ia sendirilah yang menjadi Santapan Ilahi, Roti Surgawi bagi kita.

Inilah keindahan dan keagungan Sakramen Ekaristi. Suatu panggilan ke dalam persekutuan cintakasih, untuk bersatu dengan Sang Cinta, yang disantap dari Roti yang satu dan sama. Maka, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kegagalan mencinta, ketidaksanggupan berkomitmen secara total, dan keengganan melangkah masuk untuk tenggelam dalam lautan cintakasih Allah, merupakan tanda jelas bahwa kita belum sepenuhnya menghargai dan menyadari anugerah agung Ekaristi.

Itulah sebabnya, menjadi sangat penting pula bagi kita, untuk senantiasa memelihara hidup dalam keadaan berahmat. Ini tidak serta-merta jatuh dari langit. Perlu perjuangan dan pengorbanan, bahkan tak jarang kita harus kehilangan segalanya, termasuk nyawa kita sendiri, untuk beroleh hidup. 

Injil hari ini adalah suatu ajakan bagi kita, untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Tuhan, baik dalam Ekaristi Kudus setiap hari, maupun pada senja hidup kita. Jangan jadi orang Kristen rata-rata. Jadilah seorang Kudus. Ini bukanlah cita-cita semu yang dilandasi kesombongan, melainkan suatu cita-cita adikodrati, yang dilandasi kesadaran bahwa Allah Yang MahaKudus, hanya dapat didekati dalam kekudusan. Mereka yang enggan mengejar kekudusan, sebenarnya tidak sungguh-sungguh merindukan Tuhan. Orang yang demikian mungkin merindukan perbuatan-perbuatan Tuhan, tindakan dan karya agung-Nya, bimbingan dan pertolongan-Nya, tetapi hanya berhenti sampai disitu. Tidak mau melangkah lebih jauh, sebab dia tahu, bahwa dengan demikian dia harus “berubah“dan “diubahkan“. Kesadaran akan dosa seharusnya tidak pernah boleh membuat orang melangkah mundur, dan menolak undangan perjamuan. Justru sebaliknya, ia harus berani melangkah maju di jalan pemurnian, jalan pertobatan. Itulah satu-satunya cara bagimu untuk memperoleh “pakaian pesta“.

Maka, dalam kesadaran akan hal ini, kita pun menemukan kenyataan, bahwa sebenarnya Sakramen Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Tobat. Untuk menjawab undangan Perjamuan Tuhan dengan sukacita, seorang beriman haruslah pula memiliki kerinduan yang sama besarnya, untuk melangkah masuk ke bilik Pengakuan Dosa. Menurunnya kerinduan untuk mengaku dosa, berakibat menurunnya pula penghormatan akan Ekaristi. Maka, berbagai usaha saat ini untuk membaharui liturgi, sia-sia jika tidak disertai kesadaran untuk menumbuhkan kesadaran umat beriman akan Sakramen Tobat. Semakin sering seorang beriman mengaku dosa, pergaulannya dengan Allah akan semakin ditandai dengan sikap hormat, dan sembah bakti yang sejati. Dan seiring dengan mengalirnya air mata penyesalan dan hati yang remuk redam, kamu akan keluar dari bilik Pengakuan Dosa dengan langkah yang semakin ringan, dan kamu akan mendapati dirimu mulai berjalan seirama dengan langkah Tuhan. Itulah saat dimana kamu sungguh telah memiliki “hati yang baru“, yang sungguh siap menjawab “Ya” kepada undangan kasih Tuhan. 

Memang banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Banyak yang menyapa Tuhan sebagai Kekasih, tetapi sangat sedikit yang sungguh mengarahkan hati, jiwa, dan segenap hidup mereka kepada-Nya. Semoga Perawan Suci Maria,  cermin kekudusan, memantulkan cahaya Ilahi untuk menerangi jalan peziarahan kita menuju Allah. Kiranya teladan hidup Santa Helena, yang kita peringati pula hari ini, meneguhkan keyakinan kita, bahwa bila kita sungguh mencari Tuhan dengan penuh kerinduan, Ia akan memperkenankan Diri-Nya ditemukan oleh kita. Pada saat itu, seperti St. Agustinus, kita pun akan berseru, “Terlambat, Ya Tuhan…Terlambat aku mencintai-Mu.
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 10 Juli 2016 ~ MINGGU BIASA XV

BUKA MATA BUKA HATI

Bacaan:

Ul.30:10-14; Mzm.69:14.17.30-31.33-34.36ab.37; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37

Renungan:

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan suatu pertanyaan penting akan arti kehadiran putra-putri Gereja bagi dunia, yaitu: “Siapakah sesamaku?

Para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi lainnya, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.

Keledai melanbangkan Sakramen Pembaptisan, sarana yang membawa kita ke “Tempat Penginapan”, yaitu Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri dan masuk ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang hambaDan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara begitu keras, untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa. Injil hari ini berbicara bagi mereka yang memilih untuk menutup pintu belas kasih, daripada membukanya lebar-lebar dan turun ke jalan mencari yang hilang, yang sakit dan menderita, yang dirampas hak dan martabatnya, yang disamun untuk dibiarkan mati di tengah jalan. 

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.

Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.

Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk.10:27).

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.

Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.

Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita. Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.

Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan sebagai “satu-satunya jawaban” bagi dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup. Mulailah membuka mata dan membuka hati. 

Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 29 Maret 2016~SELASA DALAM OKTAF PASKAH

image

DIALAH SEGALANYA BAGIKU

Bacaan:
Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18

Renungan:
Dalam kisah Injil hari ini, kita mendapati dan diajak untuk merenungkan dukacita seorang  wanita yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Kendati sering disalah mengerti dalam sejarah keselamatan, Maria Magdalena mungkin dapat dikatakan adalah wanita Kudus yang paling mengasihi Tuhan kita, setelah Santa Perawan Maria, Bunda-Nya.
Hati wanita ini begitu terarah kepada Allah. Diselubungi airmata ketidaktahuan mistik saat menemukan malam telah kosong, dia menangis tersedu-sedu, dan dari balik tangisan itu, keluarlah kata-kata yang hanya dapat timbul dari hati yang mencinta, “Mereka telah mengambil Tuhanku…” (bdk.Yoh.20:13d)
Inilah seruan dari seorang yang senantiasa memandang Allah dalam ketepesonaan cinta, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur, “Jiwaku menanti-nantikan Tuhan“. (bdk.Mzm.33:20)

Bagi Maria Magdalena, Tuhan Yesus adalah harta paling berharga baginya. Dialah Kekasihnya. Dialah Segalanya baginya.
Hidup Maria Magdalena, hatinya yang mencinta, seolah membawa kita pada permenungan pribadi perihal kedalaman cinta kita akan Allah. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan kita? Sudahkah kita melayani Dia seutuhnya?
Sebagian orang memanggil Allah sebagai kekasih, padahal Ia tidak sungguh-sungguh menjadi yang terkasih, karena hati mereka tidak pernah terarah kepada Allah,” demikian kata St. Yohanes dari Salib.

Semoga sukacita Paskah juga mengobarkan dalam hati kita kerinduan untuk selalu memandang wajah Tuhan, dan mengungkapkan cinta kita kepada-Nya, bukan hanya dengan menyapa Dia sebagai “Kekasihku“, tetapi mengungkapkannya secara nyata dalam hidup dan karya.
Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan dan hatimu benar-benar selalu terarah pada-Nya, kalau memang Dia sungguh adalah yang terkasih dalam hidupmu; Buktikanlah! Mulailah bersikap sebagaimana layaknya seorang kekasih. “Dilige et quod vis fac ~ Cintailah dan lakukan apa saja yang kamu kehendaki” (St. Agustinus dari Hippo).
Semoga Bunda Maria senantiasa menjadi Bintang Timur, penunjuk jalan yang aman menuju Putranya. Kiranya Santa Maria Magdalena menyertai peziarahan batinmu di tengah dunia ini, agar kamu selalu dapat mengenali suara lembut Sang Guru (Rabboni). Sebab Dialah Cahaya Paskah yang sejati. Dialah Sukacitamu. Dialah Kekasihmu.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Juli 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XVI

image

ALLAH MEMANGGILMU UNTUK BERBUAH

Bacaan:
Kel.20:1-17; Mzm.19:8-11; Mat.13:18-23

Renungan:
Dengan berbagai cara, Allah selalu mengkomunikasikan diri-Nya kepada manusia di sepanjang sejarah keselamatan.
Dia bersabda melalui perantaraan para Nabi, para rasul, dan terutama dan teristimewa melalui Putra-Nya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus.
Bagaikan benih yang ditabur ke atas bumi, demikianlah Firman Tuhan diterima oleh hati manusia.
Tentu saja bagaimana Firman itu diterima oleh hati berbeda satu dengan yang lain.
Sama seperti bangsa Israel saat menerima “Dekalog” (10 Perintah Allah), ada yang menerima dalam ketakutan sejati dan ketaatan mutlak, yang melihatnya sebagai aturan hidup yang membantu mereka untuk menjadi umat Allah yang kudus. Akan tetapi, ada pula yang merasa terbebani, yang secara keliru takut akan Allah, seolah Allah itu selalu ingin menghukum, suatu ketakutan yang berasal dari si jahat, dan pada akhirnya berbuah pelanggaran dan pemberontakan terhadap hukum Tuhan.
Firman Allah itu benar, mendatangkan kehidupan dan menyegarkan jiwa, namun hati manusialah yang seringkali menanggapinya dengan cara yang berbeda-beda.

Ada yang tidak menghiraukannya sama sekali ibarat benih yang jatuh di pinggir jalan. Ada yang didengar tetapi sulit diterima karena dihimpit oleh rupa-rupa ambisi pribadi, hawa nafsu, kerakusan, serta berbagai bentuk kelekatan dan dosa lainnya, ibarat benih yang jatuh di semak berduri. Ada yang didengar, diterima, tetapi tidak terukir di hati, sehingga manakala badai cobaan menerpa, disaat cinta Tuhan membawa jiwa untuk bergumul bersama Allah dalam malam pemurnian, disaat doa seolah tak terjawab dan air mata seolah tak diindahkan, cintanya akan Allah berhenti, karena sejak semula hatinya sulit diarahkan kepada Allah. Dia berhenti melangkah di jalan kesempurnaan dan meninggalkan Sang Kekasih Jiwa karena kecewa, ibarat benih yang tidak berakar karena jatuh di tanah yang berbatu-batu.

Akan tetapi, Allah kita panjang sabar serta berlimpah kasih setia.
Meskipun sedikit, pasti akan selalu ada hati yang terbuka bagaikan tanah yang subur, yang siap menanggapi dan membalas kasih-Nya, yang mau dibimbing oleh cinta Allah ke dalam penyerahan diri total, kepercayaan tanpa batas, pengharapan yang tidak pernah putus, dan hati yang siap mencinta Allah dan sesama dalam situasi apapun.
Mari kita senantiasa berdoa, agar hati kita dapat selalu menjadi tanah yang subur bagi Firman Allah untuk tumbuh dan berbuah.
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbuah. Celakalah mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi tidak pernah berbuah!

Maukah engkau menjadi tanah yang subur bagi Firman Tuhan? Maukah engkau berbuah dan memenangkan jiwamu sendiri, jiwa anggota keluarga dan orang terdekatmu, serta jiwa banyak orang lain bagi Allah?
Mulailah dengan berusaha untuk selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami agar hidup dan karya kami dapat menghasilkan buah yang baik, demi Putramu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 16 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

image

MELEPASKAN BEBAN DOSA DAN MEMIKUL SALIB
(Peringatan St. Perawan Maria dari Gunung Karmel)

Bacaan:
Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“.
Apa yang harus dilepaskan?
Dosa.
Kenapa harus dilepaskan?
Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah, yang membuat kita merasa begitu kepayahan, terbebani dengan hebatnya, depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi, bahkan tak jarang mengalami kebinasaan karena beban dosa yang amat berat itu.
Maka, ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan lembut Tuhan itu bagaikan panggilan di tengah padang gurun untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya.
Untuk beroleh kelegaan, hanya satu yang perlu kamu lakukan yaitu “melepaskan“.

Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?
Keengganan untuk melepaskan merupakan kelekatan dengan dosa, yang tidak akan membuatmu mencapai mahkota kemuliaan.
Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat apa, atau dosa apa yang menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah.
Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”.
Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah.
Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“.
Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan.

Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, dengan komitmen untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah.
Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia.
Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan.
Panggilanmu adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala.

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, yang kita peringati hari ini, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya.
Per Mariam ad Iesum.
Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando