Meditasi Harian ~ Senin dalam Oktaf Paskah

image

HARGA DARI KEBENARAN

Bacaan:
Kis.2:14.22-32; Mzm.16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Mat.28:8-15

Renungan:
Melihat dengan mata kepala sendiri tidak selalu mendatangkan iman akan apa yang dilihat. Inilah yang dialami oleh para penjaga makam Yesus, yang adalah saksi-saksi pertama kebangkitan Tuhan.
Dalam persepakatan jahat dengan imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, mereka menyangkal kebenaran dan menyebarkan dusta.
Penyangkalan dan dusta yang disebabkan oleh ketakutan akan kebenaran, ketakutan untuk beriman, karena untuk menerima kebenaran dan beriman, seseorang harus keluar dari dirinya, keluar dari kelekatannya akan dunia, dan memulai jalan pemurnian untuk tenggelam seutuhnya di dalam Allah.
Inilah harga dari Kebenaran.
Mereka yang menerima kebenaran dan beriman adalah mereka yang telah siap kehilangan dunia, melawan kesaksian-kesaksian palsu, sekalipun karenanya harus kehilangan nyawanya sendiri, dan membiarkan hidupnya diubah oleh Yesus Yang Bangkit, Cahaya Kebenaran dan Sukacita Iman yang sejati.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Suci

image

BERAPA HARGAMU ?

Bacaan:
Yes.50:4-9a; Mzm.69:8-10.21bcd-22.31.33-34; Mat.26:14-25

Renungan:
“Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia?”
Kita sering menemukan kemiripan dari pertanyaan Yudas ini.
Salah satu kegagalan dan kejatuhan besar seorang rasul Kristus, adalah ketika dia menaruh “harga” untuk membuang keselamatan.
Banyak orang sanggup menjual Yesus dan membuang Iman pada “harga yang pas” baginya.
Bagi Yudas harganya adalah 30 keping perak, bagi yang lain harganya mungkin kekuasaan, cinta akan pasangan hidupnya, pengakuan dalam masyarakat, promosi jabatan, gaji yang lebih menggiurkan, popularitas publik, kursi di dewan perwakilan rakyat, penghargaan dalam dunia medis atau sains, keinginan untuk dinikahi karena sudah terlanjur hamil di luar nikah, amplop berisi segepok uang suap, dan masih banyak lagi “harga” lainnya.
Hidup Kristiani saat ini diperhadapkan pada situasi dan kondisi yang menggoda kita untuk bersikap tidak Kristiani, bahkan sampai menyangkal Yesus dan membuang Iman kita.

Tak jarang penyangkalan Iman akan Yesus tersebut dilakukan dengan begitu lihainya sehingga orang-orang di sekitar tidak pernah menduga itu sanggup dilakukan.
Yudas melakukan pengkhianatan dengan begitu cantik dan tersembunyi sehingga bahkan para rasul Yesus yang lain pun tidak pernah menduganya. Mereka bahkan bertanya, “Bukan aku, ya Tuhan?”
Tetapi ingatlah, sekalipun itu tersembunyi di hadapan manusia, tetapi Allah sanggup melihat kedalaman hati manusia.
Seorang Kristiani harus mewaspadai bahaya ini. Jangan sampai kelekatan kita akan dunia membuat kita sanggup menjual Sang Penyelamat. Jangan sampai karena ingin memiliki dunia, kita kehilangan Surga.

Berbeda dengan Setan yang meninggikan dirinya dalam kepemilikan akan segala dan dalam kerakusan untuk melakukan segala; Putra Allah justru ditinggikan dalam kehilangan segala, dalam ketiadaan dan ketelanjangan di Kalvari.
Itulah sebabnya, sama seperti Yesus yang mengosongkan Diri-Nya, bahkan ke-Allah-an-Nya sendiri, dengan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia (kecuali dalam hal dosa), demikian pula seorang rasul Kristus yang sejati harus mengosongkan diri dari segala, sehingga dia bisa menemukan Allah, Sang Segala.
Semoga kita semua menjadi saksi-saksi Kristus yang setia, untuk hidup merasul di tengah dunia serentak mengosongkan diri dari segala kelekatan dunia, serta berkanjang dalam Iman, apapun resikonya.
Iman itu “harga” mati!

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu V Prapaska

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Yeh.37:21-28; MT Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56

Renungan:
Yesus adalah satu-satunya yang ingin disampaikan oleh Allah. Tidak hanya dalam kitab Yehezkiel yang kita renungkan hari ini, melainkan seluruh bagian dari Perjanjian Lama, semua nubuat yang diberikan para nabi, mempersiapkan umat Allah untuk kedatangan Putra Allah. Hidup dan karya Yesus adalah Perjanjian Baru, yang melengkapi seluruh pewahyuan Allah.
Oleh karena itu, penolakan bangsa Yahudi dan persepakatan untuk membunuh Tuhan Yesus, yang juga seolah hendak dimaklumkan dengan nubuat palsu dari Imam Besar Kayafas, merupakan penolakan langsung terhadap perjanjian dan belas kasih Allah.
Mereka yang setiap hari merenungkan Hukum Taurat, menolak menerima kegenapan dari pewahyuan Allah dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Kegagalan mengenal Tuhan Yesus dan penolakan terhadap kabar keselamatan yang diwartakan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Imam Besar, para ahli Taurat, dan para pemuka agama lainnya, bukan tidak mungkin dapat terjadi juga di dalam Gereja.
Mereka yang diserahi tugas luhur untuk menggembalakan umat Allah senantiasa diingatkan untuk menjaga kemurnian ajaran iman Gereja dari bahaya penyesatan. Kiranya Allah menghindarkan kita semua dari kegagalan mengenali kehendak-Nya.

Di tengah serangan yang semakin terang-terangan terhadap pokok-pokok iman dan ajaran sosial Gereja, orang dapat keliru pula dalam memahami pernyataan “Ecclesia semper reformanda”.
Memang benar bahwa Gereja haruslah selalu membaharui diri, untuk dapat menjelaskan imannya dengan lebih baik, agar bisa menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih tepat bagi karya kerasulan saat ini.
Akan tetapi, Ajaran Iman Gereja bukanlah sesuatu yang dapat dirubah sesuai opini publik atau semangat zaman yang keliru. Kita tidak boleh mengabaikan suara-suara kenabian yang mengingatkan kita untuk tetap setia memelihara Iman Katolik secara otentik, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma.
Kemurnian iman adalah harga mati yang tidak dapat dikompromikan.

Saat ini, Gereja begitu diombang-ambingkan oleh arus kehidupan. Menjadi seorang Kristiani di masa sekarang ini seringkali menemui berbagai tantangan dan pergumulan.
Diperhadapkan pada kenyataan demikian, putra-putri Gereja harus senantiasa berjaga-jaga, bertekun dalam iman, menjadikan hidup doa sebagai perisai, agar tidak terjerat pada perangkap si jahat.
Percaya saja tidak cukup, kita harus mengetahui apa yang kita percayai, untuk bisa mengimani dan merangkulnya dengan penuh sukacita.
Setiap anggota Gereja di masa sekarang ini haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang dia imani, sehingga kita bisa selalu menjawab tantangan dunia ini, yang seringkali mengaburkan pandangan kita dalam mengenali Tuhan dan kehendak-Nya.

Berdoalah agar kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang teguh dalam iman, apapun bentuk panggilan hidup dan karya kita. Berdoalah pula bagi para Uskup kita yang terkasih, yang sementara mempersiapkan diri untuk menghadiri  Sinode Keluarga pada bulan Oktober nanti di Roma. Semoga mereka pun, dalam kesatuan dengan Bapa Suci, meneguhkan apa yang baik, benar dan berkenan di hati Allah, serta dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai bagi tantangan keluarga-keluarga Kristiani di masa sekarang ini, tanpa kehilangan kemurnian imannya.

Pax, in aeternum.
Fernando