Meditasi Harian 27 November 2016 ~ MINGGU I ADVENT

BERJAGA DALAM IMAN

Bacaan:

Yes.2:1-5; Mzm.122:1-2.4-5.6-7.8-9; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Renungan:

Berjaga-jaga adalah sikap beriman, yang senantiasa diharapkan Bunda Gereja dari putra-putrinya. Bacaan kitab suci di awal Masa Advent ini mengingatkan kita, akan satu kenyataan eskatologis dari awal Tahun Liturgi ini. Advent bukan hanya masa persiapan, akan perayaan kenangan kedatangan Tuhan yang pertama di Hari Raya Natal. Akan tetapi, kita juga hendaknya selalu membawa kesadaran, bahwa tempat kediaman kita di dunia ini hanyalah sementara. Maka, Advent juga merupakan masa penantian, yang mengingatkan kita untuk menantikan dengan rindu, akan kedatangan Tuhan kita kedua kalinya pada akhir zaman (Parousia).

Oleh karena itu, “Berjaga-jagalah!(Mat.24:42). Kendati hari dan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi pasti hari dan waktu Tuhan itu akan tiba. Berbahagialah mereka yang senantiasa menantikan dengan rindu, akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus. Malanglah mereka yang didapati tidak siap, bermalas-malasan, dimabukkan oleh kesementaraan dunia, bersikeras hidup dalam dosa. Kesiap-sediaan dalam Iman membuahkan kekudusan hidup, dan semangat untuk menanti dengan hati yang mencinta, ibarat pelita yang menerangi jiwa. Ketidaksiap-sediaan mendatangkan ketakutan, yang timbul sebagai akibat dosa, dan bersumber dari si jahat yang menggelapkan jiwa. Itulah sebabnya dalam Injil kita dapati adanya 2 sikap dalam menantikan Tuhan. 

Sama seperti di zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia (bdk.Mat.24:37). Sebagai putra-putri Advent, kita tidak hanya diingatkan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, melainkan juga berusaha segiat-giatnya lewat karya kerasulan kita, untuk membawa sebanyak mungkin orang pada keselamatan dari Allah, pada sukacita Injil. Wartakanlah kepada para bangsa: “Sungguh, Allah Penyelamat kita akan datang” (Antifon Vesper I Minggu I Advent) .

Tentu saja di dalam Yesus Kristus, kita akan selalu menemukan wajah belas kasih Bapa. Akan tetapi, belas kasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kasih sejati tidak akan pernah membenarkan kekerasan hati untuk hidup dalam dosa. Memang benar bahwa Allah adalah Kasih, tetapi jangan pernah lupa bahwa Dia juga adalah Hakim Yang Adil. Untuk itu milikilah senantiasa hati yang remuk redam dalam pertobatan. Inilah saatnya kita lebih merefleksikan hidup kita. Di awal Tahun Liturgi ini, mulailah untuk lebih bijak mempersiapkan dirimu bagi kekekalan. Semoga pada saatnya nanti, di saat kita akhirnya berdiri di depan Tahta Pengadilan Allah, kita didapatinya telah menjalani hidup yang ditandai dengan kesiap-sediaan, berjaga-jaga dalam doa dan karya, yang bagaikan persembahan harum dan berkenan di hadapan-Nya. Maka, dengan pandangan-Nya yang adil, kita akan menemukan ganjaran kemuliaan bersama para kudus di Surga. 

Santa Perawan Maria, Bunda Pengharapan dan Putri Advent yang sejati. Bimbinglah kami anak-anakmu, untuk senantiasa meneladani kesiap-sediaanmu, dalam menanggapi undangan keselamatan dari Allah, agar kami pun boleh didapati setia sampai akhir.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 19 Januari 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa II

image

PENGHAKIMAN YANG BERBELAS KASIH

Bacaan:
1Sam.16:1-13; Mzm.89:20.21-22.27-28; Mrk.2:23-28

Renungan:
Who am I to judge?” adalah pernyataan Paus Fransiskus yang dianggap kontroversial oleh banyak orang, baik di dalam maupun di luar Gereja Katolik. Tak sedikit pula orang yang kemudian menggunakan pernyataan singkat ini untuk saling menuding kelompok lain sebagai bersalah, ada juga yang menjadikan kata-kata Paus ini sebagai pembenaran atas posisi dan pilihan hidup mereka.
Belajar dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, kita diingatkan bahwa penghakiman yang terburu-buru, seringkali justru dapat merintangi Karya Allah.

Samuel menggunakan pengertiannya sendiri untuk menilai siapa yang layak diurapi sebagai seorang raja. Dia lupa bahwa, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam.16:7)
Dalam hidup beriman, kita pun pernah mendapati saat-saat dimana pengertian pribadi yang terpisah dari relasi pribadi nan mesra dengan Allah dalam doa, seringkali berujung pada pilihan-pilihan yang tidak tepat dan keliru.
Dalam Injil hari ini, kita juga mendapati bentuk kegagalan beriman serupa, dalam diri orang-orang Farisi. Mereka begitu mengagung-agungkan Hukum Tuhan, sehingga Hukum Tuhan yang sejatinya membebaskan, justru dijalankan sebagai belenggu bagi orang banyak, sebagai dasar untuk menyerang Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Perintah Allah ditaati kata demi kata, detik demi detik, tetapi pada kenyataannya hanya dijadikan sebagai aturan hidup di kulit saja, tetapi tidak mengubah hati.
Lebih baik menaati Hukum Tuhan dan membiarkan orang kelaparan, daripada dengan murah hati memberi makan kepada mereka yang lapar. Sikap pertama berasal dari kegagalan mengenal Allah dan kehendak-Nya, sedangkan sikap kedua bersumber dari pengalaman cinta akan Allah dalam doa, dimana hati meluap-luap dalam cinta dan kehausan akan jiwa-jiwa, karena kesadaran bahwa Allah sendiri telah menciptakan setiap orang menurut gambar dan rupa-Nya.

Marilah di tahun Yubileum Kerahiman ini, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma, kita kembali melihat arti panggilan Kristiani kita, yaitu suatu panggilan untuk menghakimi dengan berbelas kasih; untuk bermurah hati kepada sesama, sebagaimana Allah Bapa kita adalah murah hati; untuk melayani, mengampuni, dan mengasihi, sebagaimana Allah telah lebih dahulu melakukan gerak cinta yang sama kepada kita semua.
Dengan demikian, Hukum Tuhan tidak disalahartikan sebagai serangkaian aturan yang membebani, melainkan sebagai pedoman hidup menuju kebebasan sejati anak-anak Allah, dimana karunia Iman benar-benar menjadi sukacita yang tak terkatakan, suatu perjumpaan dengan Allah yang hidup, Yang memanggil kita untuk memberi hidup bagi sesama, serta menjadi saluran rahmat Allah bagi dunia.
Semoga Bunda Maria, Perawan yang amat bijaksana, membimbing kita untuk mencintai kebijaksanaan, yang bersumber dari relasi cinta dengan Putranya, Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XII

image

PENGHAKIMAN DALAM KUASA CINTA

Bacaan:
Kej.12:1-9; Mzm.33:12-13,18-19,20,22; Mat.7:1-5

Renungan:
Sikap “tinggi hati” menjadikan seseorang seolah begitu lihai melihat apa yang dalam pandangannya “kurang” atau salah dari diri sesamanya.
Bersamaan dengan itu, muncul pula godaan si jahat yang menggelapkan hati, untuk begitu disenangkan boleh melihat kekurangan orang lain, dan merasa diri tidak memiliki kekurangan sebagaimana yang dilihatnya.
Kesenangan untuk menghakimi, apalagi secara tergesa-gesa dan keliru, seringkali menjadi perusak persahabatan, rumah tangga, hidup berkomunitas, dan lebih parah lagi, merusak citra Allah dalam diri seseorang.
Kalau Tuhan sanggup menerima segala yang lemah, kurang, maupun terbatas dari diri kita, dan kalau kita seringkali menemukan diri kita pun memiliki banyak kelemahan, kekurangan maupun keterbatasan…kenapa harus kaget melihat kelemahan, kekurangan, dan keterbatasan dalam diri sesama?
Setiap hari akhirilah segala aktifitas harianmu dengan melakukan pemeriksaan batin, untuk merenungkan keseharianmu, maka engkau akan berlutut dengan rendah hati di hadapan Tuhan, karena kesadaran bahwa kamupun tidak luput dari cacat jiwa yang sama.
Berbahagialah mereka yang “rendah hati“, yang selalu berusaha melihat cahaya kebaikan di balik kejatuhan, kegagalan, dan kekurangan sesama.
Sikap rendah hati memampukan kita untuk mencintai sesama bukan dalam segala kelebihannya, melainkan terutama dalam segala kekurangannya.
Ingatlah selalu kata-kata Yesus dalam Injil hari ini, “Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Bagi mereka yang diserahi tugas untuk menghakimi di dunia ini, para pejabat pengadilan, pemegang kuasa pemerintahan, bahkan termasuk pula para pembesar biara dan komunitas, para bapa pengakuan serta pembimbing rohani, Injil hari ini mengingatkan anda sekalian untuk sungguh-sungguh menjatuhkan penghakiman atas dasar pertimbangan yang benar-benar matang. Bawalah segala perkara yang dipercayakan kepadamu ke hadapan tahta Allah Yang Mahabijaksana, dan mohonkanlah selalu kebijaksanaan Ilahi, untuk dapat menghakimi dan memberikan pertimbangan yang adil, baik, dan benar.
Agar supaya akal budi dapat menghakimi secara adil, milikilah hati yang mencinta.
Hanya oleh kuasa cinta, kita sanggup menghakimi secara adil. Dan dalam kuasa cinta yang sama pula, kitapun kelak akan dihakimi, sebagaimana kata St. Yohanes dari Salib, “Pada senja hidup, kita akan diadili menurut (ukuran) cinta.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin V Prapaska

image

AKU MAU KAMU MATI

Bacaan:
Tamb.Dan.13:1-9.15-17.19-30.33-62; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Yoh.8:1-11

Renungan:
Sebenarnya, tidak ada yang salah dari memberikan penghakiman yang “adil” atas suatu perkara.
Namun, penghakiman dapat menjadi sesuatu yang keliru apabila itu dilakukan secara tergesa-gesa, apalagi tanpa bukti yang cukup.
Lebih jauh lagi, penghakiman bisa mendatangkan kejahatan, manakala itu dilakukan untuk menutupi dosa yang serupa atau bahkan lebih besar lagi dari para “pelempar batu”.
Manusia seringkali tergoda untuk mengungkapkan dosa orang lain, agar dosa-dosanya sendiri menjadi tidak terlihat. Lebih mudah menelanjangi orang, daripada menelanjangi diri kita sendiri. Lebih baik membiarkan borok orang lain kelihatan, daripada borok kita sendiri.
Pembelaan Yesus terhadap perempuan yang berzinah bukan berarti Yesus membenarkan dosa. Akan tetapi, kita diingatkan untuk melakukan penghakiman yang “adil” dalam semangat cintakasih.
Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.
Konsekuensi dari panggilan Kristiani untuk mengasihi sesama ialah panggilan untuk memelihara kehidupan, bukannya melenyapkan.
Dalam pernyataan, “Aku mengasihi kamu” terkandung pula pernyataan “Aku tidak ingin kamu binasa”.
Cinta kasih selalu berlawanan dengan kematian. Seseorang tidak mungkin mengatakan, “Aku sungguh mengasihi Tuhan dan sesama”, sementara disaat bersamaan dia juga mengatakan, “Aku ingin kamu dihukum mati atas perbuatanmu”.
Tidak mungkin kita menjalankan kerasulan cinta kasih dengan tangan yang senantiasa memegang batu, yang siap dilemparkan kepada siapa saja yang kita anggap berdosa dan layak dibinasakan.
Itulah juga sebabnya Gereja Katolik dengan tegas dan jelas menentang hukuman mati yang diberlakukan di berbagai negara.
Kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita mengalami kematian yang luar biasa keji di kayu salib “demi” menebus dosa kita, seharusnya menyadarkan kita juga bahwa sebagaimana Yesus mati demi memelihara kehidupan, demikian pula kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.
Disadari atau tidak, tak jarang manusia membunuh sesama dengan kata-kata, penghakiman, maupun perbuatan-perbuatan lainnya.
Oleh sebab itu, marilah kita memohon karunia belaskasih dan kebijaksanaan dari Allah, agar bilamana diperhadapkan pada situasi demikian, sama seperti Tuhan Yesus kita sanggup mengatakan, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Pax, in aeternum.
Fernando