14 Desember: Pesta St. Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga

Santo Yohanes dari Salib

Santo Yohanes dari Salib

Bacaan I: 1 Korintus 2: 1-10a

Mazmur Tanggapan : Mzm. 37: 3-4, 5-6, 30-31

Bacaan Injil: Lukas 14: 25-33

Catatan:

Bacaan Khusus Pesta St. Yohanes dari Salib mungkin berbeda dengan Kalender Litugi Konferensi Waligereja / Keuskupan setempat, yang hanya menjadikannya Peringatan Wajib, bukan Pesta.

Mencari Sang Tersembunyi

Hari ini saya teringat akan sebuah kisah rabbinik yang dicatat oleh Elie Wiesel. Tentang anak kecil bernama Jehel, yang berlari ke kamar kakeknya Barukh, seorang Rabbi terkenal.  Air mata mengalir dari pipinya. Dia menangis sekeras-kerasnya sambil berkata, “Temanku menyerah begitu saja terhadapku. Dia sangat tidak adil dan jahat padaku.” “Hhhmmm, bisakah kamu lebih memperjelas lagi apa yang kamu maksudkan?” tanya sang kakek. “Baiklah”, jawab anak kecil itu. “Kami sedang bermain petak-umpet. Aku bersembunyi dengan sangat baik hingga ia tidak bisa menemukanku. Tetapi kemudian dengan mudahnya dia menyerah, lalu pulang ke rumahnya. Tidakkah itu perbuatan yang sangat jahat?” Bagi anak kecil itu, tempat bersembunyi yang paling menggembirakan telah kehilangan kegembiraan, karena temannya berhenti bermain dan tidak mau lagi mencarinya.

Sang Guru kemudian mengusap wajah cucunya. Matanya sendiri juga sekarang terlihat berkaca-kaca penuh air mata. Dia lalu berkata, “Benar anakku, perbuatan temanmu memang tidak baik. Tetapi coba perhatikan, sebenarnya demikian pula halnya dengan Allah. Dia tersembunyi, dan kita tidak mencari-Nya. Coba bayangkan! Dia tersembunyi,  dan kita malah tidak tergerak sama sekali untuk mencari-Nya.”

Dalam kisah sederhana ini, saya rasa kita bisa menemukan misteri yang sangat tua dari iman akan Allah yang tersembunyi. Tidakkah mendukakan hati Allah, bahwa Dia, Sang Cinta, tersembunyi dan menanti kita dengan penuh cinta,  tetapi kita yang tercipta karena cinta, malah tidak tergerak sama sekali untuk mencari-Nya?

Dia selalu menanti jawaban “Ya” kita, untuk keluar dan mencari Dia, sehingga di tempat dimana Dia berada, kitapun berada, agar kemuliaan-Nya menjadi kemuliaan kita juga, agar sukacita-Nya menjadi sukacita kita juga. Namun, kitalah yang justru tidak mau mencari Dia, karena itu berarti kita harus menjawab “Ya” dan keluar mencari Dia.  Banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi sedikit yang mau selalu menjawab “Ya”, karena jawaban “Ya” ini menuntut dari kita suatu lompatan iman untuk “keluar”, melepaskan segala sesuatu yang selama ini menghalangi kita untuk menemukan Dia. Injil hari ini berbicara dengan keras dan jelas akan tuntutan iman ini. “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” [1]

Akan tetapi, jawaban “Ya” inilah yang diserukan oleh Yohanes dari Salib sepanjang hidupnya. Jawaban inilah yang membuatnya layak menjadi seorang kudus. Yohanes dari Salib menjadi seorang kudus karena dia, terdorong oleh penyerahan diri tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas, memberanikan diri untuk keluar demi mencari Sang Kekasih, yang telah melukai bahkan menghanguskan dia dalam kobaran api cinta. Seorang insan Allah, yang saking tergila-gila dalam cinta, melewati lorong-lorong di malam gelap dan melalui segala bahaya dalam pendakian gunung rohani kehidupannya. Dia melepaskan segala-galanya, untuk memperoleh Kristus, Sang Segala. “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” [2] Ini bukan berarti kita harus mengabaikan segala tugas dan karya kita, atau membuang segala harta milik kita. Tidak demikian. Kita diminta untuk tidak melekat kepada segala yang kita miliki, dan mempergunakannya semata-mata bagi perluasan Kerajaan Allah.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa tidak ada jalan mudah ke surga. Orang-orang yang menyebut diri kristen,  namun hanya mau mencari urapan, mujizat, kemakmuran, kemapanan finansial, kehidupan yang serba nyaman, tanpa kerinduan untuk merangkul salib penderitaan, berarti mereka adalah pendusta. Mereka bukanlah anak-anak Allah. Iblislah bapa mereka. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” [3]Kekristenan tanpa salib adalah palsu.

Lihatlah hidup Yohanes dari Salib dan belajarlah darinya. Dengan memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus[4], dan sambil bergantung sepenuhnya pada kekuatan Allah[5], dia memikul salibnya dengan penuh sukacita. Dia berhasil melalui segala kesukaran dan beroleh mahkota kemuliaan. Semoga hidup dan karya Yohanes dari Salib boleh menjadi lilin penerang, yang menuntun perjalanan rohani kita, menuju persatuan mesra dengan Allah yang tersembunyi.

“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya…maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” [6]


[1] Lukas 14:26

[2] Lukas 14:33

[3] Lukas 14:27

[4] 1 Korintus 2:2

[5] Bdk. 1 Korintus 2:5b

[6] Mazmur 37: 5a & 4