Meditasi Harian ~ Selasa dalam Oktaf Paskah

image

GETARAN SUARA CINTA

Bacaan:
Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18

Renungan:
Dukacita mendalam karena cinta akan Sang Kekasih seringkali menyebabkan jiwa diliputi kedukaan sedemikian sehingga bila tidak disadari, jiwa dapat gagal mengenali kehadiran Sang Kekasih.
Inilah yang dialami Maria Magdalena yang tidak mengenali Tuhan Yang Bangkit, bahkan ketika Yesus telah berdiri di hadapannya, Maria yang menyangka orang itu adalah penunggu taman kemudian berkata,”Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” (bdk.Yoh.20:15)
Kegagalan Maria seringkali pula menjadi kegagalan kita. Di saat mengalami duka kehilangan orang yang dikasihi, kegagalan dalam karya, di saat hati kita diliputi kegelapan iman karena rupa-rupa pergumulan hidup, kita tidak bisa mengenali dan memandang Tuhan di balik itu semua.
Orang dapat saja tergoda untuk mencari jawaban “di luar” itu semua, padahal jawabannya sebenarnya sejak awal ada “di dalam” awan ketidakmengertian itu.
Belajarlah untuk menantikan Tuhan dengan setia di dalam badai, di tengah kegelapan dan dukacita, di dalam ketidaktahuan.
Pada akhirnya, mereka yang tetap setia mencinta dalam ketidakmengertian, akan menyentuh hati Tuhan.
Sama seperti Maria Magdalena, pada waktu yang tepat, seturut waktu Tuhan, di tengah kegelapan, dukacita, badai pergumulan hidup dan kebisingan dunia, kita akan mendengar suara yang penuh kelembutan itu menyapa, “Maria“.
Getaran suara cinta dari Allah sanggup menembus kedalaman jiwa siapapun, yang beroleh anugerah “luka cinta” dari Tuhan, ibarat seorang anak yang sungguh mengenal suara ibunya.
Hanya jiwa yang sungguh mencintai Tuhan dan memiliki relasi pribadi yang mesra dengan-Nya dalam doa dan karya, dapat mengenali suara itu.
Bagaikan domba yang mengenal suara Sang Gembala (bdk.Yoh.10:27), dia yang mencinta kemudian akan sanggup menjawab Sang Cinta dan berseru, “Rabboni“.
Semoga hidup kita selalu dipenuhi cinta akan Allah dan sesama, sehingga kita dapat selalu mendengar suara-Nya yang memanggil kita dari dan ke dalam dunia.

Pax, in aeternum.
Fernando