Berita Duka dari Keuskupan Prelatur Opus Dei


Pada pukul 21:20 hari ini (12 Desember waktu Roma), bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria, Bunda kita dari Guadalupe, telah berpulang Yang Mulia Uskup kita yang terkasih Javier Echevarria (Bapa Prelat Opus Dei), pada usia 84 tahun. Beliau adalah penerus ke-2 dari Santo Josemaria Escriva, Bapa Pendiri Opus Dei. Vikaris Auksilier Opus Dei, Msgr. Fernando Ocariz, beroleh kesempatan memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit (Minyak Suci) kepada beliau, beberapa jam sebelum berpulangnya.

Sebelumnya, Yang Mulia Bapa Uskup Echevarria telah dirawat di Campus Bio-Medico University Hospital (Roma) sejak 5 Desember yang lalu, dikarenakan pneumonia. Beliau menerima serangkaian antibiotik untuk melawan infeksi paru-paru. Dalam jam-jam terakhir terjadi komplikasi, hingga akhirnya meninggal. 
Sebagaimana telah diatur dalam Statuta Prelatur, tampuk pemerintahan sementara Opus Dei kini berada di tangan Vikaris Auksilier, Msgr. Fernando Ocariz. Beliau nantinya harus memanggil Dewan, untuk memilih Bapa Prelat yang baru. Ini harus dilangsungkan dalam kurun waktu 3 bulan, dan setelah hasil pemilihan keluar, nantinya diajukan ke Paus, untuk beroleh pengesahan.
Yang Mulia Echevarria lahir pada 1932 di Madrid, dan disanalah dia bertemu dengan St. Josemaria Escriva. Dia kemudian menjadi Sekretaris St. Josemaria dari 1953 sampai 1975. Kemudian, dia ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Opus Dei, dan pada 1994 terpilih sebagai Bapa Prelat, menggantikan Beato Alvaro Del Portillo. Pada 6 Januari 1995, dia ditahbiskan sebagai Uskup Prelatur Opus Dei oleh Paus St. Yohanes Paulus II di Gereja Basilika St. Petrus.
Berikanlah istirahat kekal kepadanya, Ya Tuhan. Semoga terang abadi menyinarinya, agar beristirahat dalam ketentraman karena kerahiman Tuhan. Amen.

Meditasi Harian 10 Juli 2016 ~ MINGGU BIASA XV

BUKA MATA BUKA HATI

Bacaan:

Ul.30:10-14; Mzm.69:14.17.30-31.33-34.36ab.37; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37

Renungan:

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan suatu pertanyaan penting akan arti kehadiran putra-putri Gereja bagi dunia, yaitu: “Siapakah sesamaku?

Para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi lainnya, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.

Keledai melanbangkan Sakramen Pembaptisan, sarana yang membawa kita ke “Tempat Penginapan”, yaitu Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri dan masuk ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang hambaDan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara begitu keras, untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa. Injil hari ini berbicara bagi mereka yang memilih untuk menutup pintu belas kasih, daripada membukanya lebar-lebar dan turun ke jalan mencari yang hilang, yang sakit dan menderita, yang dirampas hak dan martabatnya, yang disamun untuk dibiarkan mati di tengah jalan. 

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.

Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.

Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk.10:27).

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.

Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.

Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita. Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.

Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan sebagai “satu-satunya jawaban” bagi dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup. Mulailah membuka mata dan membuka hati. 

Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 18 November 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXXIII

image

MELAWAN TEROR DENGAN IMAN
Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilika St. Petrus dan Gereja Basilika St. Paulus di luar Tembok

Bacaan:
2Mak.7:1.20-31; Mzm.17:1.5-6.8b.15; Luk.19:11-28

Renungan:
Kitab Makabe dalam bacaan Liturgi hari ini mengisahkan, bagaimana seorang Ibu bersama 7 anaknya mempertahankan Iman mereka dihadapan penguasa dan orang-orang, yang hendak menjadikan mereka murtad.
Dengan detail diceritakan bagaimana si Ibu menyaksikan sendiri, di hari yang sama, ketujuh anaknya satu-persatu menjemput ajal dengan cara yang teramat keji. Lidah mereka dipotong, kepala dikuliti hidup-hidup, tubuh dimutilasi, kemudian potongan-potongan tubuh mereka dilemparkan ke dalam kuali untuk digoreng di atas api yang membara.
Kita pun membaca kebesaran hati si Ibu, yang menghibur dan menguatkan Iman anak-anaknya, untuk bertahan dalam penderitaan yang teramat hebat itu, dimana ketujuh anak-anaknya menjemput ajal dengan sikap beriman yang begitu heroik, hingga akhirnya kemartiran yang sama dialami pula oleh Ibu mereka.

Sebenarnya, sama seperti Ibu dan ke-7 anaknya ini, demikianlah pula Gereja Katolik yang Kudus ibarat seorang Ibu, setiap hari, terlebih di masa sekarang ini menyaksikan putra-putrinya harus mengalami rupa-rupa penolakan, ketidakadilan, penderitaan, penganiayaan, bahkan tak jarang dibunuh dengan cara yang teramat keji, semata-mata karena Iman Kristiani mereka.
Di tengah segala bentuk teror dalam hidup beriman, kita semua diingatkan untuk tidak goyah dan tetap berdiri teguh dalam Iman.
Tidak ada pembenaran bagi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Oleh karena itu, putra-putri Gereja senantiasa diingatkan untuk menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesaksian cintakasih, sambil tetap berpegang teguh pada satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan, dalam Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Berbagai kecenderungan dunia saat ini pun mengingatkan kita bahwa Iman Kristiani kita adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan.
Memang benar bahwa Gereja harus jeli melihat tanda-tanda zaman, untuk membaharui diri, agar selalu bisa menemukan cara-cara baru dan tepat untuk mewartakan Imannya.
Akan tetapi, semangat dan kesadaran itu tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengedepankan gagasan teologi “kerahiman yang keliru” yang membenarkan dosa, dengan merubah Ajaran/Doktrin Iman yang telah kita pegang teguh selama hampir 2000 tahun sejak Gereja Katolik didirikan, apalagi melihat tanda-tanda zaman dan kecenderungan-kecenderungan jahat dunia ini seolah Wahyu Ilahi, untuk membenarkan diri bahwa Gereja Katolik harus masuk dan terbawa hanyut oleh arus zaman.

Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam telah mempercayakan kepada kita masing-masing rupa-rupa karunia dan talenta. Janganlah melihatnya sebagai beban, tetapi lihatlah itu sebagai tanda cinta Tuhan, yang dengan murah hati mempercayakan semuanya itu kepadamu, untuk dilipat gandakan, sehingga mendatangkan sukacita bagimu, serta dipersembahkan demi kemuliaan Allah dan Kerajaan-Nya.
Ini bukan tugas yang membebani, melainkan suatu panggilan cinta Tuhan bagi kita hamba-hamba-Nya. Santo Agustinus dalam kesadaran akan hal ini pun tanpa ragu mengatakan bahwa sesungguhnya, “Cinta tidak pernah membebani“.
Percayalah bahwa bersamaan dengan karunia dan talenta, sebesar apapun itu, Tuhan selalu menyertakan pula rahmat dan kebijaksanaan yang cukup, asalkan kita pun memiliki penyerahan diri total dan cinta bakti yang seutuhnya kepada-Nya.

Semoga Santa Perawan Maria dari Lourdes, Pelindung Perancis dan seluruh dunia, menyertai kita dengan doa-doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita senantiasa menimba dari aliran air kehidupan kekal yang mengalir dari Hati Kudus Putra-Nya, sehingga kita dapat selalu berdiri teguh dalam Iman, melayani dan mengusahakan segala karunia dan talenta dari-Nya dengan hasil yang berlipat ganda, serta menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini bukan dengan kekerasan dan teror, melainkan dengan kuasa Cintakasih.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 5 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXVII

image

AKU TELAH DITEMUKAN – MAKA KINI AKU MENEMUKAN

Bacaan:
Yun.1:1-17 dan 2:10; MT Yun.2:2.3.4.5.8; Luk.10:25-37

Renungan:
Injil hari ini mengajak kita merenungkan pertanyaan penting ini, “Siapakah sesamaku?

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus.
Kebanyakan dari para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah lambang Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh jahat yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.
Tempat penginapan adalah lambang Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang manusia.
Dan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara dengan begitu kerasnya untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa.

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.
Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.
Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27)

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.
Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.
Kita dapat saja menolak mencinta dan membawa seruan pertobatan serta cahaya keselamatan seperti penolakan untuk diutus sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yunus dalam bacaan pertama hari ini.
Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita.
Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.
Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan satu-satunya jawaban atas dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup.
Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 20 Agustus 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

image

IA MENGUNDANGMU, DATANGLAH !
Peringatan Wajib St. Bernardus dari Clairvaux

Bacaan:
Hak.11:29-39a; Mzm.40:5,7-10; Mat.22:1-14

Renungan:
Ibarat seorang Raja yang mengadakan jamuan makan, kita beroleh keistimewaan boleh menerima undangan dari-Nya. Lihatlah betapa besar kasih Allah bagi kita. Dengan berbagai cara dan melalui berbagai situasi hidup, berulang kali dia mengundang kita untuk mendekat pada-Nya. Undangan paling mendesak, tindakan cinta terbesar yang dilakukan-Nya, ialah dengan mengutus Putra-nya sendiri, yang membawa undangan damai, yang memulihkan relasi cinta kita dengan-Nya yang rusak karena dosa.
Tetapi dari perumpamaan dalam bacaan Injil hari ini, dikatakan bahwa (dan memang seringkali demikianlah adanya) undangan kasih dari Allah ditanggapi dingin oleh umat kesayangan-Nya. Berulang kali Ia mengetuk pintu hati kita, tetapi berulang kali pula Ia mendapati hati yang bebal, yang tidak mau peduli, acuh tak acuh. Kita membiarkan Sang Cinta berdiri di depan pintu yang tertutup, seolah harus mengemis cinta dari kita, malah tak jarang Ia ditendang dan diusir pergi karena kita melihat konsekuensi jalan kekudusan dari-Nya sebagai beban, bukannya rahmat.
Kita tidak mau meninggalkan persahabatan dengan dosa, enggan melepaskan kelekatan kita.
Padahal setiap hari Ia mengundang kita ke dalam Perjamuan Surgawi, yaitu Misa Kudus.
Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus sendiri yang mengundang kita, dan Ia sendiri yang menjadi santapan untuk memberi hidup kekal bagi siapapun yang menyantap-Nya.
Namun, tak jarang mereka yang menyebut diri putra-putri Gereja, adalah justru mereka yang dengan sengaja mengabaikan Misa Kudus, serta bersikap tidak pantas saat menyambut Hosti Kudus.

Ada yang sanggup antri berjam-jam bahkan membayar mahal untuk menghadiri suatu kebaktian atau konser rohani karena iming-iming mujizat maupun urapan dari tangan seorang manusia biasa dalam topeng kerohanian, yang diselenggarakan di hotel mewah dan di stadion terbuka berbalutkan cahaya lampu panggung superstar yang gemerlap.
Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, hadiah terbesar dari Allah yang dianugerahkan secara gratis tanpa bayar, kita sering terlambat dan menuda-nunda, langkah kaki terasa begitu berat. Waktu Misa Kudus yang hanya sesaat dirasakan terlalu lama, Homili dilewatkan begitu saja karena dianggap tidak menarik, Konsekrasi dikaburkan oleh pelanturan dan skrupel. Kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam kesederhanaan Hosti Kudus, sama seperti raja Herodes yang tidak mengenali Sang Juruselamat dalam kelemah-lembutan seorang Bayi mungil di kandang hina Bethlehem.
Ada pula yang menghadiri undangan pejabat dunia, maupun pesta pora yang memabukkan dengan pakaian kebesaran dari koleksi baju terbaik. Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, untuk melangkah ke depan altar dan menyambut Raja Segala Raja dalam Komuni Kudus, tanpa rasa bersalah dan ketiadaan hormat kita datang mengenakan pakaian yang jauh dari kepantasan, mempertontonkan bagian tubuh yang tidak semestinya dijadikan tontonan, padahal Misa Kudus adalah Perjamuan Tuhan, bukan tempat hiburan malam.

Bagaimana mungkin seorang begitu memikirkan bagaimana bersikap dan berbusana saat akan bertemu manusia biasa, menghabiskan berjam-jam untuk memilih baju demi menghadap seorang pejabat dunia yang korup, membungkukkan badan serendah-rendahnya untuk bersalaman dengan pemimpin lalim dunia ini, tetapi sebaliknya seolah tidak peduli bagaimana bersikap dan berpakaian di hadapan Tuhan Allah Semesta Alam, yang berkuasa baik atas hidupmu selagi di dunia, maupun hidupmu sesudah meninggalkan dunia ini nanti?
Bagaimana mungkin seorang menyambut Tubuh Tuhan dengan tangannya tanpa menunjukkan sikap hormat, sementara hati dan pikirannya sedari awal memasuki pintu masuk Gereja sampai keluar tidak pernah sedetikpun terarah kepada Allah?
Kegagalan kita dalam bersikap di hadapan Allah, dan pergaulan kita yang tidak hormat dengan Dia, merupakan indikasi jelas bahwa kita sebenarnya miskin dalam cinta akan Dia. Mengatakan cinta pada-Nya dengan bibir, tetapi tidak dengan hati dan segenap diri kita.
Santo Bernardus dari Clairvaux yang kita peringati hari ini mengatakan, “Ukuran mencintai Allah, adalah mencintai tanpa ukuran.

Injil hari ini berbicara tentang undangan kasih dari Allah. Kita dipanggil untuk menjawab undangan itu dengan datang ke dalam Misa Kudus, sebagaimana diumpamakan dan dilambangkan sebagai Pesta Perjamuan dalam Injil.
Dan karena kita beroleh keistimewaan untuk diundang, datanglah dengan mengenakan pakaian Pesta, putuskanlah ikatan persahabatanmu dengan belenggu dosa si jahat, dan melangkahlah dengan hati yang terarah karena cinta kepada-Nya, kemudian sambutlah Dia sebagai santapan surgawi dengan sikap penuh kekaguman dan hormat, seperti Musa di gunung Sinai yang bergaul begitu mesra dan penuh hormat dengan Allah.

Mulailah melihat hidup berimanmu secara lebih serius dan bertanggung jawab. Sudahkah saya menanggapi undangan Tuhan dalam Misa Kudus, bukan karena kebutuhan, bukan pula karena rutinitas atau kewajiban belaka, melainkan karena kerinduan akan Dia? Apakah saya sudah bersikap penuh hormat, berpakaian rohani maupun jasmani yang sepantasnya saat menyambut Sakramen Ekaristi?
Semoga Perawan Suci Maria dengan kasih keibuan menghantar kita pada kekaguman akan Yesus Putranya. Suatu kekaguman yang membuat kita tersungkur dengan hati yang remuk redam dan dipenuhi rasa syukur karena boleh diundang ke dalam Perjamuan Kasih-Nya, serta didorong oleh kobaran api cinta yang menggerakkan kita untuk melangkah ke depan Altar dan menyambut Komuni Kudus, Tubuh Tuhan sendiri sebagai santapan, sementara wajah kita berlinangan air mata kebahagiaan atas anugerah Sakramen Ekaristi.
Memang benar bahwa “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih“. Karena itu bertekunlah dalam Iman, mohonkanlah agar Tuhan selalu menambah karunia cinta akan Misa Kudus dalam hatimu, agar kamu tidak hanya merasa terpanggil, tetapi pada akhirnya juga menjadi yang terpilih untuk beroleh mahkota kemuliaan di surga.
Santa Maria, Bunda Ekaristi, doakanlah kami.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan VII Paskah

image

AKAL BUDIMU ADALAH UNTUK TUHAN

Bacaan:
Kis.19: 1-8; Mzm.68: 2-3.4-5ac.6-7ab; Yoh.16:29-33

Renungan:
Orang-orang Kristen sekarang ini haruslah menjadi orang-orang beriman yang cerdas, terdidik, dan menggunakan segenap akal budinya untuk mengenal apa yang ia Imani, sehingga dapat mengkomunikasikannya secara benar, tepat, dan meyakinkan kepada dunia. Itulah sebabnya, ada kebutuhan mendesak saat ini bahwa Teologi bukan hanya didalami oleh para Imam dan Biarawan-biarawati, melainkan juga oleh kaum Awam, sehingga karya kerasulan untuk mewartakan Injil dan menguduskan umat manusia, semakin menghasilkan buah yang melimpah.
Iman akan Allah bukanlah sekedar mitos, sebagaimana yang kita temukan dalam hidup Hesiodos dan Orpheus. Iman tidak pernah bertentangan dengan akal budi.  Manusia-lah yang selalu berusaha mempertentangkan iman melawan akal budi, maupun sebaliknya. Akan tetapi, sejatinya, akal budi adalah salah satu anugerah Ilahi terindah dari Karya Penciptaan, yang diberikan kepada manusia, agar ia dapat mengenal dan mencintai secara benar akan “Pribadi” yang telah menciptakannya dari ketiadaan.
Demikian pula, Akal Budi dapat menjadi sangat keliru, sesat, bahkan melenyapkan kehidupan, bilamana tanpa terang Iman yang sejati.

Karena ketiadaan Iman dan memberhalakan akal budi-lah, maka umat manusia saat ini semakin memalingkan wajah mereka dari Sang Pencipta, dan merasa bisa menyelesaikan segala persoalan dunia ini tanpa Tuhan.
Para ilmuwan melakukan rekayasa genetika untuk menemukan obat dari berbagai penyakit, tetapi untuk melakukan itu mereka membenarkan tindakan penghancuran benih-benih kehidupan;
atas nama kemanusiaan, seorang dokter melakukan euthanasia bagi pasien yang ingin mengakhiri hidupnya, dan seorang ibu merasa berhak melakukan aborsi untuk membunuh darah dagingnya sendiri karena tidak menginginkan anak itu;
demi pemahaman keliru akan hak asasi dan kesetaraan, undang-undang kini disahkan di banyak negara yang memberi definisi baru pada martabat pernikahan suci, yang tidak lagi diartikan sebagai persatuan kasih antara pria dan wanita, dan bahwa keluarga tidak lagi berarti suatu kesatuan kasih antara seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak sebagai adalah buah cinta mereka berdua.
Bahkan di dalam tubuh Gereja sendiri, terang akal budi yang keliru dan sesat saat ini berjuang dengan berbagai cara untuk membelokkan Gereja dari Ajaran Iman yang sejati.

Ke dalam dunia seperti inilah, ke dalam kegagalan akal budi semacam inilah, saat ini kita dipanggil untuk “menebarkan jala“. Dan untuk menebarkan jala secara benar, seseorang haruslah mengenal imannya, sehingga hidupnya dapat kesaksian dari sukacita Injil, dan dia dapat mewartakan imannya itu dengan berani, benar, dan tepat, tanpa keraguan.
Celakalah mereka, yang karena kelalaiannya sendiri, merasa tidak perlu mendalami Iman Katolik-nya dengan tekun, bersikap acuh tak acuh dan cuci tangan seperti Pilatus, dengan menyerahkan tugas itu hanya kepada para Imam dan Biarawan-biarawati.
Jadilah putra-putri Katolik yang tangguh, yang sungguh mengenal imannya, dan berdiri teguh di atasnya, melawan badai dan kegelapan dunia ini.

Bercahayalah! Jadilah Terang!
Mohonkanlah dalam Novena Roh Kudus selama hari-hari ini, karunia kebijaksanaan dan pengertian, sehingga kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang meyakinkan, serta memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Allah.
Kiranya suara Tuhan dalam Injil hari ini meneguhkan imanmu, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh.16:33)

Pax, in aeternum.
Fernando