Meditasi Harian 19 September 2016 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXV

BERCAHAYA DALAM KEGELAPAN

Bacaan:

Ams.3:27-34; Mzm.15:2-5; Luk.8:16-18

Renungan:

Segenap umat beriman kristiani, dimana pun mereka hidup, melalui teladan hidup serta kesaksian lisan mereka wajib menampilkan manusia baru, yang telah mereka kenakan ketika dibaptis, maupun kekuatan Roh Kudus, yang telah meneguhkan mereka melalui sakramen Krisma. Dengan demikian sesama akan memandang perbuatan-perbuatan mereka dan memuliakan Bapa (lih. Mat 5:16), dan akan lebih penuh menangkap makna sejati hidup manusia serta ikatan persekutuan semesta umat manusia” (Ad Gentes 11).

Injil hari ini mengingatkan panggilan dan tugas luhur ini. Sama seperti pelita yang diletakkan di atas kaki dian, untuk menerangi seluruh rumah, demikian pula kita diingatkan, bahwa anugerah keselamatan yang telah kita terima dalam Sakramen Baptis serta diteguhkan dalam Sakramen Krisma, di dalamnya terkandung pula misi kerasulan agar seluruh dunia pula beroleh keselamatan yang sama, melalui hidup dan karya kita.

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya” (Luk.8:16).  Kedalam dunia yang dipenuhi kegelapan yang membinasakan, disitulah kita dipanggil untuk membawa cahaya. Apapun profesi hidup kita, kita dipanggil untuk membawa nilai-nilai kristiani ke dalamnya, agar dunia melihat keselamatan yang datang dari Allah. “Orang-orang harus dapat mengenali Sang Guru dalam diri para murid-Nya“, demikian kata St. Josemaría Escrivá. Bila dijalani dengan segala keutamaan Kristiani, hidup dan karya kita pada akhirnya akan membawa banyak orang pada pengenalan iman akan Kristus. Seorang ibu yang mengurus rumah tangga, melayani suami dan membesarkan anak dalam kelimpahan cinta; seorang dokter yang memberikan diagnosa dan tindakan medis yang tepat pada para pasiennya, dan menolak tawaran menggiurkan perusahaan-perusahaan farmasi untuk melakukan sebaliknya; seorang supir taksi yang mengantarkan pelanggannya sampai ke tujuan, tanpa sengaja menyesatkan perjalanan mereka demi mendapatkan penghasilan lebih; seorang imam yang setiap hari duduk berjam-jam dalam doa di bilik pengakuan, terdorong oleh cinta kasih akan umat gembalaannya, dan tidak pernah menutup pintu karena tidak mau diganggu; serta berbagai sikap heroik kristiani lainnya. 

Apapun itu, kamu dipanggil untuk membawa cahaya di dalam semuanya, bukannya mendatangkan kegelapan. Akan tetapi, jangan pernah lupa bahwa cahaya para murid adalah pantulan cahaya Sang Guru. Kejatuhan seorang rasul Kristus seringkali diawali kesombongan, untuk melihat buah-buah kerasulan sebagai hasil kerja kerasnya semata, dan lupa akan Karya Allah, yang senantiasa hadir serta bekerja di dalam dan melalui dirinya. Bersyukurlah selalu dalam kesadaran, betapa Allah Yang Mahakuasa berkenan menjadikanmu, yang tercipta oleh-Nya dari debu tanah, sebagai rekan kerja dalam karya keselamatan-Nya. Selama kamu menjalani hidup dan karya kerasulanmu dalam kesadaran ini, kamu pasti tidak akan pernah kehilangan sukacita iman. Kuk itu akan selalu terasa enak, dan bebanpun terasa begitu ringan. 

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, senantiasa mengingatkan kita semua untuk bercahaya di tengah kegelapan dunia ini. Cahaya yang akan memalingkan pandangan mereka dari si jahat, dan mengarahkan pandangan dalam kuasa cinta kepada Puteranya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Cahaya dan Kebenaran Sejati. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 9 Juli 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

JANGAN SALAH PILIH !

Bacaan:

Yes.6:1-8; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Mat.10:24-33


Renungan:

Kendati berawal dari Timur, Iman Kristiani sama sekali tidak mengenal atau memiliki paham mistik Timur “Yin-Yang“. Analogi demikian “mungkin” dapat dibenarkan dalam penerapan hidup bermasyarakat lainnya, tetapi tidak pernah boleh ada dalam hidup beriman seorang Kristen. Kita tidak pernah dibenarkan untuk mencari titik keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan, atau antara Terang dan Gelap. Iman Kristiani tidak mengenal daerah neutral. Sikap suam-suam kuku, berdiri di antara 2 pilihan, haram hukumnya bagi seorang Kristen. Hanya ada 2 pilihan: Anda berdiri di pihak ALLAH, atau berdiri di pihak Si Jahat. Jangan salah pilih! Kesalahan memilih berakibat kehilangan hidup kekal dan kemuliaan surgawi. Pilihlah ALLAH dan lakukanlah Karya-Nya! Memilih ALLAH berarti menolak Setan dengan segala perbuatan dan tawarannya.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.10:32-33). 

Seperti serafim yang memurnikan kenajisan dengan sentuhan bara pada bibir Yesaya (Yes.6:6-7), demikian pula santapan Ekaristi telah menyentuh bibir rohani kita. Daya hidup Ekaristi telah mengalir dan memurnikan panggilan kita, serta mengobarkan Api Kerasulan yang mendorong kita untuk bekerja segiat-giatnya bagi Kerajaan Allah. Jangan jadi orang Kristen setengah-setengah!

Semoga Santa Perawan Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada ALLAH, menyertai perjalanan panggilan kita agar setiap kali Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, kita menjadi rasul-rasul Ekaristi yang dengan lantang menjawab,  “Ini aku, utuslah aku!” (Yes.6:8).
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan II Paskah

image

BERCAHAYA DALAM KEGELAPAN

Bacaan:
Kis.5:17-26; Mzm.34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh.3:16-21

Renungan:
Di balik segala penemuan, terobosan, dan kemajuan zaman, kita menemukan kenyataan menarik bahwa manusia telah melakukan berbagai cara untuk menciptakan cahaya. Mulai dari keberhasilan primitif untuk membuat api oleh manusia pra-sejarah, lilin dari lemak ikan yang bermula di China, penemuan lampu listrik oleh Edison, hingga berbagai bentuk penerangan masa kini, berbagai usaha telah dibuat manusia untuk menciptakan cahaya.
Menariknya juga, belum pernah ada orang (sejauh pengamatan pribadi), yang berniat menciptakan kegelapan atau melenyapkan cahaya.
Ini seolah hendak menunjukkan bahwa, disadari atau tidak, kita semua sebenarnya bukan anak-anak kegelapan. Kita adalah putra-putri Cahaya yang merindukan hidup bermandikan Terang Ilahi.
Setiap orang, tanpa terkecuali, dipanggil untuk melangkah ke dalam cahaya, bukannya berdiam dalam kegelapan.
Hanya di dalam Tuhan hidup kita menemukan arti. Tanpa Tuhan, kita akan selamanya berada dalam kehampaan.
Dosalah yang merusak citra Allah dalam diri manusia, dan menanamkan benih kejahatan untuk lebih menyukai kegelapan, yang berujung pada penolakan dunia untuk menerima Sang Terang, Cahaya dan Sukacita Paskah yang sejati.
Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh.3:19)
Kegagalan dan penolakan manusia untuk menerima Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, adalah kegagalan dan penolakan manusia untuk menyadari martabat luhur dari kemanusiaan itu sendiri.
Semakin seseorang menjauh dari Allah, dia justru akan semakin kehilangan kemanusiaannya.
Mendekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekat kepadamu.
Berbahagialah mereka yang berani melangkah mendekati cahaya supaya dimurnikan, karena bagi merekalah ganjaran hidup kekal itu telah tersedia (bdk.Yoh.3:16).
Inilah panggilan kita, untuk mendekati Sang Cahaya sehingga menjadi satu dengan-Nya, agar kemudian boleh menjadi pelita yang mengeyahkan kegelapan dosa dan maut dari dunia ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan II Paskah

image

DALAM TUNTUNAN CINTA

Bacaan:
Kis.4:32-37; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Yoh.3:7-15

Renungan:
Kedalaman kasih Tuhan adalah samudera belas kasih yang sanggup menyentuh kedalaman hati manusia pada kekaguman akan kebesaran cinta-Nya, sekaligus pada kesadaran akan betapa kita seringkali tidak menanggapi cinta-Nya.
Perbincangan Nikodemus yang kita renungkan kemarin, dalam bacaan hari ini berlanjut dengan penyingkapan misteri salib oleh Yesus.
Nikodemus adalah salah satu dari segelintir orang dalam Kitab Suci yang beroleh kesempatan untuk berbincang hanya berdua saja dengan Tuhan, dan mungkin juga salah satu dari sedikit orang di luar para rasul, dimana Tuhan secara pribadi mengungkapkan misteri salib yang akan menanti Dia sebelum peristiwa penyaliban itu terjadi, saat dimana Tuhan dan Penyelamat kita nantinya ditinggikan, demi memberikan hidup kekal bagi semua orang yang memandang dan mencari keselamatan dari salib (bdk.Yoh.3:14-15).
Nikodemus pada akhirnya menjadi dia yang datang ke makam untuk mengurapi tubuh Tuhan kita dengan campuran mur dan gaharu (bdk.Yoh.19:39), suatu pengakuan iman penuh makna akan “Dia Yang Diurapi” oleh Allah.
Cinta-Nya akan Tuhan telah menuntun Nikodemus masuk dalam awan ketidaktahuan, dan menemukan iman yang sejati dalam awan itu.
Misteri Tuhan adalah sesuatu yang tidak selalu harus dimengerti, tetapi harus selalu diimani. Hidup seorang Kristiani bukanlah hidup yang ditandai dengan pengertian sepenuhnya akan kehendak Allah, melainkan suatu perjalanan iman dimana seseorang tak jarang dituntut untuk berjalan dalam kegelapan, kekeringan, ketiadaan hiburan dan jawaban atas doa-doa, dukacita dan air mata, dalam ketidakmengertian.
Beranilah untuk melangkah ke dalam awan ketidaktahuan itu. Biarlah getaran hati yang mencinta akan Tuhan membimbingmu, sebagaimana Dia membimbing Nikodemus dengan kelembutan hati dan belas kasih-Nya.
Pada akhirnya, kamu akan menemukan dirimu menyentuh tubuh-Nya yang dipenuhi luka, tangan dan kaki-Nya yang berlubang karena paku, dan lambung-Nya yang tertikam dengan tombak, tetapi kamu akan menemukan Dia bukan sebagai Dia yang mati dalam kebinasaan, melainkan Dia yang bangkit dengan jaya.
Bila Tuhan berkenan, pada saat itu kamu tidak hanya akan menemukan imanmu, tetapi beroleh juga karunia air mata pengertian akan kelahiran baru dalam Roh, yang selama ini telah membimbingmu dengan setia.
Seiring dengan mengalirnya air mata itu, mengalirlah juga dosa-dosamu.
Pada saat itu, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Hidupmu akan begitu hebatnya dihempas oleh hembusan Roh Tuhan (bdk.Yoh.3:8), dan dalam cinta yang menghanguskan itu, sekiranya di depan tatapan belas kasih-Nya engkau tidak binasa dan masih dimampukan untuk berkata-kata dari dalam kobaran api cinta yang memurnikan itu, air mata kelahiran baru dalam Roh yang kamu terima pada waktu itu akan menggetarkan hatimu seperti St. Agustinus dari Hippo untuk berseru, “Terlambat, Ya Tuhan. Terlambat aku mencintai-Mu.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ KAMIS PUTIH

image

PANGGILAN DI TENGAH MALAM

Bacaan:
Kel.12:1-8.11-14; Mzm.116:12-13.15-16bc.17-18; 1Kor.11:23-26; Yoh.13:1-15

Renungan:

“Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita menyatakan Iman kita.”

Seruan “Anamnese” ini mengungkapkan dengan begitu indah dan tepat maksud terdalam dari perayaan malam Kamis Putih.
Malam ini, “Passover” atau “Paskah” Yahudi sebagai kenangan saat Allah melawati Israel umat-Nya, menemukan makna baru dan kepenuhannya dalam Kristus, Roti Kehidupan yang sejati.
Malam ini seluruh alam semesta menyaksikan belas kasih Tuhan yang tanpa batas, bahkan sampai saat-saat terakhir.
Malam ini kita mengenangkan anugerah cinta terbesar dari-Nya, yaitu “Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus“.
Sebagaimana para rasul merayakan perjamuan terakhir di ruang atas untuk menyantap Tubuh dan Darah Tuhan, demikianlah kita melakukan kembali kenangan yang sama.
Setiap kali umat beriman berkumpul di sekeliling altar untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, pada saat itulah kita menyatakan Iman Kristiani kita secara paling sempurna.
Gereja tanpa Ekaristi adalah mati.

Akan tetapi, malam ini kita tidak hanya mengenangkan penetapan Ekaristi.
Kamis Putih tidak dapat dipisahkan dari “Malam di Taman Zaitun“, yang didahului peristiwa Yesus membasuh kaki para rasul.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan itu memang tepat, sebab sungguh demikian. Maka dari itu kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki satu sama lain.” (bdk.Yoh.13:13-14)
Pembasuhan kaki melambangkan panggilan kita untuk menerima bagian-bagian terburuk dan paling hina dari kemanusiaan, baik diri sendiri maupun sesama.
Akan tetapi, pembasuhan kaki sebenarnya juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu panggilan untuk menjemput kematian sebagai seorang hamba yang taat dan setia.
Setelah selesai membasuh kaki para murid, Yesus memulai bagian akhir dan parirpurna dari karya penebusan-Nya sebagai Putra Allah.
Hari ini Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam gelap untuk berdoa dalam sakratul maut di Taman Zaitun, ditinggalkan dalam kesendirian oleh orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa batas, dikhianati Yudas dengan sebuah kecupan, ditangkap oleh para prajurit Bait Allah, disangkal Petrus, digiring ke dalam pengadilan Sanhedrin yang penuh konspirasi serta ketidakadilan, hingga kemudian diserahkan kepada Pilatus untuk menerima penyaliban.
Marilah kita merenungkan sejenak rangkaian peristiwa malam di Taman Zaitun ini, karena disinilah terkandung rahasia penebusan kita.

image

Ke dalam malam yang ditandai dengan kehilangan komunikasi dan kemampuan untuk saling memandang ini, Yesus masuk untuk mengembalikan komunikasi yang terputus dengan Allah, sehingga semua orang boleh memandang Allah dalam diri-Nya tanpa harus binasa.
Di tengah kegelapan dimana si Iblis yang menjauhi Cahaya boleh leluasa menebar kematian, disaat segala sesuatu menjadi tak terpahami dan ketika kebenaran seolah terselubung, disitulah Yesus bercahaya dan mengenyahkan kegelapan, untuk menjadi jawaban dan pilihan terbaik, sehingga semua orang beroleh hidup dalam kebenaran.

Saat Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam, Ia hendak mengingatkan kita bahwa sebuah pelita tidaklah berguna di dalam terang.
Para kudus yang beroleh mahkota dan bermandikan cahaya kemuliaan di surga, adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya telah berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dunia ini, mengatasi ketakutan dan kelemahan pribadi mereka, untuk membawa cahaya dan menerangi semua orang di sepanjang perjalanan hidup mereka, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Mereka yang kehilangan hidupnya karena bercahaya seperti pelita sampai sehabis-habisnya, pada akhirnya akan memperoleh hidup dan sukacita surgawi bersama Allah.
Seorang Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya ke dalam dunia dan mengenyahkan kegelapan malam dimanapun Tuhan menempatkan kita untuk hadir dan berkarya.
Oleh karena itu, sebagaimana Yesus melangkah ke dalam malam di Taman Zaitun, demikianlah kita juga dipanggil melewati malam dunia ini.
Bagaimana kita bertahan melalui malam ini dengan pelita yang bernyala, dan keluar sebagai pemenang, sangat ditentukan oleh 3 sikap ini.

Pertama: Milikilah kerendahan hati untuk berlutut. Injil mencatat bagaimana Tuhan Yesus mengajar kita untuk berlutut dalam doa (bdk.Luk.22:41). Bahkan, Matius dan Markus mencatat lebih lagi, yaitu Yesus bersujud dan merebahkan diri ke tanah (bdk.Mat.26:39; Mrk.14:35), sebagaimana yang dilakukan oleh Imam dalam liturgi Jumat Agung. Seorang Kristiani yang dapat berlutut dengan rendah hati di hadapan Allah, akan sanggup berdiri melawan kejahatan dunia dan tipu muslihat Si Jahat, karena berserah sepenuhnya pada kekuatan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

Kedua: Bersikaplah selayaknya seorang anak. Dalam doa-Nya saat mengalami sakratul maut di Taman Zaitun, Tuhan Yesus menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa” (bdk.Mrk14:36). Ini bukanlah sapaan yang biasa, melebihi sapaan “Ayah“, lebih seperti seorang anak kecil menyapa Papanya. Di dalamnya terkandung makna keakraban yang sangat dekat sebagai seorang anak, suatu ungkapan yang sangat berani untuk ditujukan kepada Allah. Maka, bilamana sebagai seorang Kristiani kita beroleh keistimewaan untuk menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa“, kita dituntut pula untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang anak. Kita harus senantiasa memelihara hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Kita dipanggil untuk selalu menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Ketiga: Jawablah selalu “Ya” kepada Allah dan “Tidak” kepada Si Jahat. Di Taman Zaitun, Yesus mengungkapkan sikap ini dengan begitu mengagumkan dalam doa-Nya, “Tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (bdk.Mrk.14:36)
Iman seorang Kristiani untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, mengandung pula konsekuensi kepasrahan untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita tanpa syarat dan dengan kepercayaan tanpa batas, terutama di saat rancangan dan jalan Tuhan berlawanan dengan apa yang kita rancangkan atau inginkan untuk dijalani.

Semoga sama seperti Tuhan Yesus menemukan kekuatan untuk merangkul Salib setelah melewati malam di Taman Zaitun, kita pun menemukan kekuatan yang sama untuk menjadi pelita di tengah kegelapan zaman ini, serta memenangkan seluruh dunia karena Salib Kristus. Semoga santapan Tubuh dan Darah Tuhan dalam Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus, senantiasa menjadi sumber kekuatan dan daya hidup kita. Dan kiranya doa dan kasih keibuan Santa Perawan Maria, Bunda Penolong yang baik, menghantar kita untuk menemukan sukacita Injil di balik misteri Salib.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu IV Prapaska

image

Yesus mengajar di Sinagoga

SIAPAKAH YESUS BAGIMU ?

Bacaan:
Yer.11:18-20; Mzm.7:2-3,9bc-10,11-12; Yoh.7:40-53

Renungan:
Sebelum memulai karya kerasulan, setiap pengikut Kristus, tanpa kecuali, harus terlebih dahulu mengajukan pertanyaan ini pada dirinya, “Siapakah Yesus bagiku?”
Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat menentukan bagaimana seorang Kristen bersikap di tengah badai, dan bagaimana ia melalui rupa-rupa tantangan maupun rintangan di jalan kerasulannya.
Kegagalan kaum Farisi dan ahli Taurat menjawab pertanyaan ini berbuah penolakan terhadap Sang Juruselamat.
Oleh karena itu, renungkanlah pertanyaan ini setiap hari, terutama di saat anda mengalami keraguan Iman, karena jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat menentukan apakah anda akan tetap berdiam dalam kegelapan atau melangkah menuju cahaya, apakah anda akan memilih meninggalkan salib atau meminta kekuatan untuk terentang pada salib.

Pax, in aeternum.
Fernando