Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan II Paskah

image

LAHIR BARU DALAM ROH

Bacaan:
Kis.4:23-31; Mzm.2:1-3.4-6.7-9; Yoh.3:1-8

Renungan:
Kedatangan Nikodemus dalam kegelapan di waktu “malam” (bdk.Yoh.3:2) untuk bertemu dengan Yesus, melambangkan kurangnya cahaya iman.
Pemilihan waktu bertemu ini juga menyiratkan kekuatiran dan ketakutan Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin yang dikenal sebagai otoritas tertinggi dalam hidup keagamaan Yahudi, untuk secara terbuka dan berani mengakui imannya akan Yesus.
Meskipun Nikodemus menyapa Yesus sebagai “Rabbi” (bdk.Yoh.3:2), yang adalah pengakuan akan kuasa dan wibawa Ilahi dari pengajaran Yesus, dia masih jauh dari iman yang sejati.
Yesus mengatakan bahwa untuk memiliki iman yang sejati, seseorang harus “lahir baru” (bdk.Yoh.3:3.7).
Lahir baru dalam Roh berarti masuk dalam kumpulan orang-orang dimana Allah disembah dan ditaati, dimana hukum-hukum-Nya bukan hanya tertulis dalam kitab hukum yang mati, melainkan terukir dalam hati yang dipenuhi luapan cinta akan Hukum Tuhan.
Sakramen Pembaptisan adalah pintu masuk kelahiran baru itu. Dengan dibaptis, kita menyatakan diri kita sebagai putra-putri Allah, manusia-manusia Paskah, yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah dalam cahaya kebangkitan Kristus.
Dengan demikian, kita akan memiliki keberanian iman dan kepenuhan Roh Kudus seperti Petrus dan Yohanes untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dan “melaksanakan segala sesuatu yang telah ditentukan Tuhan bagi kita sejak semula” (bdk.Kis.4:28).

Pax, in aeternum.
Fernando

Surat dari Bapa Prelat Opus Dei ( November 2013 )

Opus Dei Prelate

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Bapa Prelat menegaskan bahwa merenungkan “hal-hal terakhir,” tentang kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal, akan memenuhi diri kita dengan sukacita karena kepercayaan akan kerahiman Allah yang tiada batasnya.

01/November/2013

Putra-putriku yang terkasih: semoga Yesus menjaga kalian semua !

Beberapa minggu lagi Tahun Iman akan berakhir. Bapa Suci akan menutup Tahun Iman pada Hari Raya Kristus Raja, tanggal 24 yang akan datang. Dalam rangka perayaan ini saya ingin mengajak kalian untuk membaca lagi beberapa kata yang ditulis oleh Bapa Pendiri kita dalam salah satu homilinya: “Bila kita mendaraskan syahadat, kita menyatakan bahwa kita percaya akan Allah Bapa Yang Mahakuasa, dan akan Putra-Nya Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit kembali, dan akan Roh Kudus, Tuhan dan Pemberi hidup. Kita menegaskan, bahwa Gereja satu, kudus, katolik dan apostolik, adalah Tubuh Kristus, dihidupi oleh Roh Kudus. Kita bersukacita atas pengampunan dosa dan atas harapan akan kebangkitan. Tetapi apakah kata-kata itu menembus ke dalam hati kita? Atau apakah kata-kata itu di bibir kita saja?[1]

Hari Raya Semua Orang Kudus yang kita peringati hari ini, dan peringatan semua arwah besok pagi, adalah suatu undangan untuk mengingat  tujuan hidup kita yang abadi. Perayaan-perayaan liturgi ini mencerminkan artikel terakhir dari Credo. ” Syahadat Kristen – pengakuan iman kita akan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta karya-Nya yang menciptakan, menebus, dan menguduskan – berpuncak pada pewartaan bahwa orang-orang yang mati akan bangkit pada akhir zaman dan bahwa ada kehidupan abadi”. [2]

Credo menringkaskan ‘hal-hal terakhir’ baik pada tingkat individu maupun kolektif-yang akan dialami setiap orang dan seluruh alam semesta. Akal budi manusia dapat menangkap, jika berfungsi dengan benar, bahwa setelah hidup kita di bumi ini, ada kehidupan “lebih lanjut” di mana keadilan yang begitu sering dilanggar di bumi ini akan ditegakkan kembali sepenuhnya. Tetapi hanya dengan terang wahyu ilahi, dan terutama melalui terang dari inkarnasi, wafat dan kebangkitan Kristus, kebenaran-kebenaran tersebut tampak lebih jelas, walaupun masih diselubungi oleh tabir misteri.

Berkat ajaran Tuhan Yesus, kenyataan-kenyataan akhir tidak lagi mengandung kemuraman dan makna yang fatal bagi banyak pria dan wanita sepanjang sejarah dan sampai sekarang juga. Kematian jasmani adalah kenyataan yang jelas untuk semua orang, namun dalam Kristus, kematian memperoleh makna yang baru. Kematian bukan hanya suatu konsekuensi dari hakikat suatu makhluk material, dengan badan yang cenderung hancur. Bukan juga, sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama, merupakan suatu hukuman karena dosa. St Paulus menegaskan:  bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan .Dan di lain tempat St Paulus menambahkan:   Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; [3]  ” Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristiani terdapat di dalam hal ini: Melalui Pembaptisan warga Kristiani secara sakramental sudah “mati bersama Kristus”, supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan “mati bersama Kristus” ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya: ” [4]

Gereja adalah Bunda kita. Gereja melahirkan kita kembali dalam air Pembaptisan, dan memberi hidup Kristus kepada kita, sekaligus janji akan kehidupan yang tak ada akhirnya di masa depan. Kemudian melalui sakramen-sakramen lain, terutama Sakramen Pengakuan dan Ekaristi Kudus, Bunda Gereja memastikan bahwa “menjadi” dan “berjalan” dalam Kristus akan selalu diperkuat dalam jiwa kita. Apa bila masa sakit parah tiba dan, terutama, pada saat ajal kita, Bunda Gereja sekali lagi akan berusaha untuk menguatkan putra dan putrinya melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Komuni dalam bentuk viaticum. Gereja memberi kita segala yang kita butuhkan agar kita dapat menghadapi, dengan pengharapan dan kedamaian yang penuh sukacita, perjalanan terakhir yang, dengan rahmat Allah, akan berakhir dalam pelukan Allah Bapa surgawi. St Josemaría, seperti banyak orang kudus sebelum dan sesudahnya, bila menjelaskan tentang kematian Kristiani, menulis dengan kata-kata yang jelas dan optimis: “Jangan takut akan kematian. Terimalah dari sekarang, dengan murah hati … apa bila Tuhan menghendaki, di mana saja dan bagaimana saja Tuhan menghendaki. Jangan ragu-ragu: kematian akan tiba pada saat, di tempat dan dengan cara yang terbaik: yang ditentukan oleh Allah-Bapa kita. Hendaknya kita menyambut kematian sebagai saudara kita! ” [5]

Terlintas dalam benak kita begitu banyak orang -pria dan wanita anggota Opus Dei, dan keluarga, kawan-kawan, dan kooperator- yang mungkin pada saat ini berada di titik penyerahan jiwa kepada Allah. Bagi mereka semua, saya mohon rahmat agar mereka meninggal dengan cara yang kudus, penuh dengan kedamaian, dan erat bersatu dengan Yesus Kristus. “Kebangkitan Tuhan adalah harapan yang tidak pernah gagal, yang tidak pernah mengecewakan (lih.Rom   5:5). Betapa sering harapan lenyap dalam hidup kita, betapa sering angan-angan yang kita miliki dalam hati sia-sia!  Namun, harapan kita sebagai umat Kristiani teguh dan tak tergoyahkan di dunia ini, di mana Allah telah memanggil kita untuk hidup. Dan harapan ini menuju ke keabadian karena bersandar pada Allah yang selalu setia. ” [6]

Dalam bulan yang didedikasikan bagi para umat yang telah meninggal dunia, saya sarankan kalian membaca dan merenungkan paragraf dari  Katekismus Gereja Katolik tentang hal-hal terakhir. Kalian akan menemukan dasar pengharapan dan optimisme supranatural, serta dorongan baru untuk perjuangan rohani setiap hari. Bahkan kunjungan ke makam-makam dalam bulan ini, yakni suatu kebiasaan saleh di banyak tempat, adalah kesempatan bagi kita untuk membantu teman-teman dalam kerasulan untuk merenungkan kebenaran abadi, dan mencari kehadiran Tuhan yang senantiasa mendampingi kita dan memanggil kita dengan kasih sayang-Nya sebagai seorang ayah.

Dengan kematian, waktu untuk berbuat baik dan memperoleh pahala di hadapan Allah berakhir, dan pengadilan jiwa setiap orang segera terjadi. Karena ini adalah suatu bagian dari iman Gereja bahwa ” Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan surgawi ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya  ” [7]

Fokus utama dari pengadilan ini adalah cinta kasih kita kepada Allah dan sesama, yang diwujudkan dalam memenuhi perintah Allah dan tugas-tugas hidup kita. Di zaman sekarang banyak orang yang menutup mata pada kenyataan ini seolah-olah dengan demikian mereka dapat menghindari pengadilan Allah (yang penuh belas kasih). Kita, anak-anak Allah “tidak perlu takut akan hidup atau mati,” kata St Josemaria. Jika hidup kita berjangkar dalam iman, jika kita menghadap kepada Tuhan dengan penuh penyesalan dalam Sakramen Tobat, setelah berdosa terhadap-Nya atau guna memurnikan ketidaksempurnaan kita; jika kita sering menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, tidak ada alasan bagi kita untuk takut akan saat ajal kita. Renungkan apa yang ditulis oleh Bapa Pendiri kita beberapa tahun yang lalu: “Aku tertawa senang mendengar engkau berbicara tentang “perhitungan” yang akan Tuhan minta darimu. Karena bagimu, Dia bukanlah hakim dalam arti yang sesungguhnya. Bagimu Dia adalah Yesus “. Kata-kata ini yang ditulis oleh seorang uskup yang suci, telah menghibur hati banyak orang yang mengalami kesulitan, dan juga dapat menghibur hatimu juga. ” [8]

Selain itu (hal ini sungguh-sungguh menggembirakan hati kita), bahkan setelah kematian Gereja tidak meninggalkan anak-anaknya. Dalam setiap Misa Kudus, Gereja berdoa, sebagai ibu yang baik, bagi jiwa-jiwa para umat yang telah, dan memohon agar mereka diterima dalam kemuliaan. Terutama pada bulan November, perhatian Gereja (pada jiwa-jiwa )membuat Gereja berdoa dengan lebih intens. Dalam Opus Dei, suatu”bagian kecil” dari Gereja, kita menyerukan dengan lantang keinginan Gereja itu, dengan memenuhi dengan penuh kasih dan syukur rekomendasi St Josemaría untuk minggu-minggu ini, yaitu mempersembahkan Kurban Misa Kudus dan Komuni Kudus bagi umat Opus Dei, anggota keluarga dan kooperator yang telah mendahului kita, dan untuk semua jiwa-jiwa di api penyucian. Tidakkah engkau menyadari bahwa merenungkan hal-hal terakhir bukannya membuat kita sedih, melainkan merupakan sumber sukacita supranatural? Dengan penuh kepercayaan kita menunggu panggilan definitif dari Allah dan penyempurnaan dunia di akhir jaman, bila Kristus akan datang kembali disertai oleh semua malaikat untuk menguasai Kerajaan-Nya. Setelah itu, akan terjadi kebangkitan seluruh umat manusia, pria dan wanita, yang pernah hidup di bumi, dari yang pertama sampai yang terakhir.

Katekismus Gereja Katolik   menunjukkan bahwa” Iman akan kebangkitan orang-orang mati sejak awal merupakan satu bagian hakiki dari iman Kristen.”[9]  Sejak awal Iman Kristiani akan kebangkitan menghadapi salah pengertian dan pertentangan. Pada umumnya orang berpendapat bahwa kehidupan pribadi manusia sesudah kematian bersifat rohani. Tetapi bagaimana orang dapat percaya bahwa tubuh ini yang nyata-nyata mati, akan bangkit lagi untuk kehidupan abadi? ” [10]  Dan inilah yang sebenarnya akan terjadi pada akhir zaman, karena kemahakuasaan Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam Credo Athanasius secara eksplisit: “semua orang akan bangkit kembali dengan tubuh mereka, dan harus memberi pertanggungan jawab atas perbuatan mereka masing-masing. Dan mereka yang telah berbuat baik akan masuk ke hidup yang kekal, dan mereka yang telah berbuat jahat akan masuk ke api yang kekal. ” [11]

Sungguh menakjubkan cinta kasih Allah Bapa. Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang terdiri dari jiwa dan raga, roh dan tubuh, dan bahwa kita akan kembali kepada-Nya dengan jiwa dan raga, untuk menikmati kebaikan, keindahan dan kebijaksanaan-Nya dalam hidup yang kekal. Oleh kehendak Allah yang tunggal, seorang makhluk telah mendahului kita dan bangkit dengan mulia: Santa Perawan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, yang diangkat ke kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Satu alasan lagi untuk harapan dan optimisme penuh kepercayaan!

Mari kita selalu mengingat janji-janji ilahi, yang tidak pernah gagal, terutama di saat-saat kita sedih, lelah, atau menderita. Hendaknya kita mencamkan bagaimana St Josemaría mengungkapkan hal-hal terakhir dalam khotbahnya di suatu kesempatan: “Tuhan, aku percaya bahwa aku akan bangkit lagi, aku percaya bahwa badanku akan bersatu kembali dengan jiwaku untuk hidup bersama Dikau selama-lamanya  berkat jasa-jasa Tuhan Yesus yang tiada batas, melalui perantaraan Bunda-Mu , karena kasih-Mu yang besar padaku. ” [12]  Saya sangat berharap kalian tidak menganggap surat ini bernada pesimis. Justru sebaliknya, hendaknya isi surat ini  mengingatkan kita bahwa pelukan Tuhan menanti kita, jika kita setia.

Setelah kebangkitan orang mati, pengadilan terakhir akan berlangsung. Tidak ada perubahan sehubungan dengan apa yang sudah diputuskan dalam pengadilan khusus, tetapi dalam pengadilan akhir  kita akan memahami arti yang terdalam dari seluruh karya ciptaan dan seluruh tata keselamatan dan akan mengerti jalan-jalan-Nya yang mengagumkan, di mana penyelenggaraan ilahi  membawa segala sesuatu menuju tujuannya yang terakhir. Pengadilan Terakhir, “sebagaimana disimpulkan oleh   Katekismus Gereja Katolik, ” akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidak-adilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cinta-Nya lebih besar dari kematian .” [13]

Tentu saja, tidak ada yang tahu kapan atau bagaimana sejarah akan berakhir, atau apa pun tentang pembaharuan dunia material yang akan menyertainya, hanya Penyelengaraan Ilahi yang tahu Tugas kita adalah selalu waspada karena, seperti yang telah Tuhan umumkan berkali-kali, sebab  kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. [14]

Dalam salah satu katekese tentang Syahadat, Paus Fransiskus menganjurkan: “semoga Pengadilan Terakhir tidak membuat kita takut: Pengadilan terakhir justru mendorong kita untuk hidup lebih baik sekarang ini. Allah menawarkan masa ini penuh dengan belas kasih dan kesabaran, supaya kita belajar mengenal Dia setiap hari dalam diri orang miskin dan hina. Mari kita berjuang demi kebaikan dan waspada dalam doa dan cinta. ” [15]  Renungan akan kebenaran abadi memperoleh sifat lebih supranatural  oleh  rasa takut yang suci, suatu karunia Roh Kudus yang mendorong kita, sebagaimana St Josemaría mengatakan, untuk membenci dosa dalam segala bentuknya, karena dosa adalah satu-satunya hal yang dapat menjauhkan kita dari rencana kerahiman Allah Bapa.

Putra-putriku, mari kita renungkan dalam-dalam kebenaran-kebenaran akhir. Dengan demikian harapan kita akan menjadi lebih besar; kita akan dipenuhi dengan optimisme dalam menghadapi kesulitan, dan kita akan bangkit lagi dari kejatuhan kecil kita, maupun yang tidak begitu kecil (Tuhan tidak akan menolak memberikan rahmat-Nya), dengan senantiasa mengingat kebahagiaan kekal yang Kristus janjikan, jika kita setia. ” Kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat dan orang kudus, dinamakan “surga”. Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif ” [16]

“Surga:Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata  dan tidak pernah didengar oleh telinga dan  tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semau itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya. Tidakkah wahyu Rasul Tuhan ini memberi engkau semangat untuk berjuang? ” [17]  Dan saya ingin menambahkan: Apakah kalian sering memikirkan tentang surga? Apakah kalian orang yang penuh dengan pengharapan, karena Tuhan mengasihi kalian dengan Cinta yang tiada batasnya? Mari kita mengangkat hati kita kepada Tritunggal Mahakudus yang senantiasa mendampingi kita.

Kalian tahu bahwa Bapa Paus menerima saya dalam audiensi pada tanggal 18 Oktober yang lalu. Betapa baik berada bersama dengan Bapa Paus! Bapa Paus mengungkapkan kasih sayang dan terima kasih kepada prelatur Opus Dei atas karya kerasulan yang dilaksanakan di seluruh dunia. Ini adalah satu alasan lagi bagi kita, putra dan putriku, untuk terus berdoa bagi Bapa Paus dan untuk intensinya serta bagi para pembantu beliau. Beberapa hari yang lalu kita membaca dalam Misa Kudus tentang Harun dan Hur yang menopang lengan Musa dari pagi sampai malam, sehingga pemimpin Israel itu dapat berdoa bagi bangsanya tanpa lelah. [18]  Tugas kita dan tugas semua umat Katolik adalah mendukung Bapa Paus, dengan doa dan matiraga kami, dalam memenuhi misi yang telah Kristus percayakan kepada beliau dalam Gereja.

Tanggal 22 yang akan datang adalah ulang tahun hari St Josemaría menemukan bunga mawar dari Rialp di dalam perjalanan melintasi pegunungan Pirinea. Dan itu adalah hari setelah pesta Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah. Bapa Pendiri kita menafsirkan ini sebagai tanda bahwa Allah di Surga menghendaki dia melanjutkan perjalanannya agar dapat meneruskan karya pelayanan imamatnya dengan bebas di daerah-daerah di mana kebebasan beragama dihormati: ini pun adalah suatu undangan dari Bunda Maria agar kita lebih sering menghadap kepadanya.

Terus berdoa untuk intensi-intensi saya.  Dan pada hari-hari ini berdoalah terutama bagi saudara-saudara yang akan menerima tahbisan diakonat pada tanggal 9. Marilah kita juga mempersiapkan diri untuk Hari Raya Kristus Raja dengan pengharapan dan optimisme yang akan kita peroleh dalam hati apabila kita merenungkan kebenaran-kebenaran abadi. Dan, marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas hari peringatan pengesahan Prelatur Opus Dei oleh Bapa Paus, pada tanggal 28.

Dengan penuh kasih sayang, saya memberkati kalian

+ Javier

Roma, 1 November , 2013

Catatan:

[1]   St Josemaría,   Kristus yang Berlalu, no.129.
[2]   Katekismus Gereja Katolik, no.988.
[3]   Phil   01:21 dan   2 Tim   02:11
[4]   Katekismus Gereja Katolik, no.1010
[5]   St Josemaría,   Jalan, no.739.
[6]   Paus Fransiskus, Pidato di Audiensi umum, 4 April 2013.
[7]   Katekismus Gereja Katolik, no.1022.
[8]   St Josemaría,   Jalan, no.168.
[9]   Katekismus Gereja Katolik, no.991.
[10]   Ibid., No.996.
[11]   Credo Athanasius atau   Quicumque, 38-39.
[12]   St Josemaría, Catatan diambil dari Renungan 13 Desember 1948.
[13]   Katekismus Gereja Katolik, no.1040.
[14]   Mt   25:13.
[15]   Paus Francis, Alamat di khalayak umum 24 April 2013.
[16]   Katekismus Gereja Katolik, no.1024.
[17]   St Josemaría,  Jalan, no.751.
[18]   Lihat   Kel   17:10-13

 

( Artikel ini dikutip langsung dari Website Resmi Opus Dei Indonesia > www.opusdei.co.id )

Immaculata de Conceptione

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” ~ Wahyu 12: 1

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (7 Desember), kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa.
Maria Immaculata de Conceptione ( Maria Dikandung Tanpa Noda ) adalah Dogma Gereja, suatu ajaran Iman yang dipercaya dań dipegang teguh oleh semua umat beriman Katolik.

Sebagian orang secara salah beranggapan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan Bunda Maria yang mengandung Kristus dari kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya, dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan
“… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan ALLAH yang mahakuasa karena pahala YESUS KRISTUS, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal.” (Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).

Dalam mempelajari sejarah seputar dogma ini, kita melihat keindahan Gereja yang didirikan oleh KRISTUS, yang para pengikutnya yang setia berjuang untuk memahami dengan lebih jelas misteri keselamatan. Perjuangan ini dibimbing oleh ROH KUDUS, yang disebut YESUS sebagai “Roh Kebenaran”, yang “akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”dan “akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (bdk. Yoh 14:17, 14:26, 16:13).

Sebagian dari “perjuangan” atas dogma Immaculata adalah tidak adanya kutipan Kitab Suci yang spesifik serta jelas dan gamblang tentangnya. Namun demikian, referensi dalam Injil mengenai Bunda Maria dan perannya dalam misteri keselamatan mengisyaratkan keyakinan ini. Dalam Injil St. Lukas, kita mendapati ayat indah tentang Kabar Sukacita, di mana Malaikat Agung St. Gabriel mengatakan kepada Maria (dalam bahasa kita), “Salam Maria, penuh rahmat. TUHAN sertamu.” Sementara sebagian ahli Kitab Suci berdebat atas “seberapa penuhnya rahmat,” kesaksian St. Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. Apabila orang merenungkan peran Bunda Maria dalam kehidupan KRISTUS – baik inkarnasi-Nya, masa kanak-kanak-Nya, ataupun penyaliban-Nya – pastilah ia sungguh luar biasa dalam kekudusan, sungguh “penuh rahmat” dalam menerima serta menggenapi perannya sebagai Bunda PENEBUS, dalam arti “Bunda” yang sepenuh-penuhnya. Sebab itu, kita percaya, bahwa kekudusan yang luar biasa, yang penuh rahmat ini diperluas hingga saat awal permulaan kehidupannya, yaitu perkandungannya.

Secara praktis, jika dosa asal diwariskan melalui orangtua, dan YESUS mengambil kodrat manusiawi kita dalam segala hal kecuali dosa, maka Maria haruslah bebas dari dosa asal. Pertanyaan kemudian muncul, “Bagaimana mungkin KRISTUS adalah Juruselamat Maria?” Sesungguhnya, banyak perdebatan mengenai Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam abad pertengahan berfokus pada masalah ini. Duns Scotus (wafat 1308) menawarkan satu solusi dengan mengatakan, “Maria lebih dari semua orang lain membutuhkan KRISTUS sebagai Penebusnya, sebab ia pastilah mewarisi Dosa Asal … jika rahmat sang Pengantara tidak mencegahnya.”
Dengan mengutip Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Katekismus Gereja Katolik menambahkan, “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa’, hanya terjadi berkat jasa KRISTUS: `Karena pahala PUTERA-nya, ia ditebus secara lebih unggul’” (no. 492). Pada pokoknya, karena Maria dipilih untuk berbagi secara intim dalam kehidupan YESUS sejak saat ia dikandung, IA sungguh adalah Juruselamatnya sejak saat perkandungannya.

Mungkin salah satu alasan mengapa diskusi mengenai Dogma Immaculata ini berkepanjangan adalah karena Gereja Perdana dilarang dan di bawah aniaya hingga tahun 313, dan kemudian harus menyelesaikan berbagai macam masalah seputar YESUS tersendiri. Refleksi lebih jauh mengenai Bunda Maria serta perannya muncul setelah Konsili Efesus (thn 431) yang dengan segenap hati menegaskan keibuan ilahi Maria dan memberinya gelar, “Bunda ALLAH” sebab ia mengandung dari kuasa ROH KUDUS dan melahirkan YESUS yang adalah pribadi kedua dalam TRITUNGGAL MAHAKUDUS, yang sehakikat dengan BAPA.
Beberapa Bapa Gereja Perdana, termasuk Santo Ambrosius (wafat 397), Santo Efrem (wafat 373), Santo Andreas dari Crete (wafat 740) dan Santo Yohanes Damaskus (wafat 749) merenungkan peran Maria sebagai Bunda, termasuk disposisinya yang penuh rahmat, dan menulis tentang ketakberdosaannya. Suatu pesta guna menghormati Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa telah dirayakan di Gereja Timur setidak-tidaknya sejak abad keenam.

Sementara waktu berlalu, dilakukanlah pembahasan lebih lanjut mengenai keyakinan ini. Pada tahun 1849, Paus Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus ( rohaniwan ), dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi.
Dari 603 uskup waktu itu, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 hanya menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah. Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia saat itu dimana kaum rasionalis sekolah filsafat telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi mengakibatkan gejolak sosial, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan.
Maka, pada tanggal 8 Desember 1854, Pius IX menegaskan secara resmi dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam Bulla “Ineffabilis Deus”.

Akhirnya, menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan Bunda Maria, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) pada tahun 1531 di Guadalupe, Bunda Maria menampakkan diri dan mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari ALLAH yang benar, yang melalui-NYA segala sesuatu hidup…” Pada tahun 1830, dalam penampakan, Bunda Maria mengatakan kepada Santa Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.”
Terakhir, ketika menampakkan diri kepada Santa Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

Dalam suatu homili pada Perayaan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa yang disampaikan pada tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Terpujilah ALLAH BAPA TUHAN kita YESUS KRISTUS, yang memenuhi engkau, ya Perawan dari Nazaret, dengan segala rahmat rohani dalam KRISTUS. Dalam DIA, engkau dikandung tanpa noda dosa! Telah dipilih sejak semula untuk menjadi Bunda-NYA, engkau ditebus dalam DIA dan melalui DIA lebih dari segala manusia lainnya! Dilindungi dari warisan Dosa Asal, engkau dikandung dan datang ke dalam dunia dalam keadaan rahmat. Penuh rahmat! Kami mengagungkan misteri iman yang kami rayakan pada hari ini. Pada hari ini, bersama dengan segenap Gereja, kami memuliakan Penebusan yang dilaksanakan atasmu. Partisipasi yang teramat luar biasa dalam Penebusan dunia dan manusia, diperuntukkan hanya bagimu, semata-mata hanya bagimu. Salam O Maria, Alma Redemptoris Mater, Bunda PENEBUS yang terkasih.”

Sementara kita melanjutkan persiapan Adven (4 Minggu sebelum Natal) kita, kiranya kita mohon bantuan doa Bunda Maria, Santa Perawan Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa, agar kita semakin dekat pada KRISTUS, PUTRA-nya, di Hari Natal.

* Fr. Saunders is Pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

Sumber : “Straight Answers: Immaculate Conception” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Cat: Dengan beberapa tambahan – with Keita, Julian Fransiskus Xaverius, Reiner, Romana, Stevano, j o y c e, Iwan, Pingkan, Rilly Anastasye, Adeline, Anita, Ladys, David, Grifit, Steiven, Fatlly, Santi, Faldo, Novri, Meivy, Onal, Deivy, Refino, Ladys, Vinno, Conny, Antonius, Morgan, Jenifer, Angela, Mariska, Jeffry, Yuliet, Yhunnie, Marsella, Meidy, Angky, Novita Maria, Angela, Hesty, Incent, Gerry, Fernando, Amelia, Oijoon, Jejhe, David, and Natasya Bianca

View on Path

Komersialisasi & Penyimpangan Tradisi Iman dari Perayaan Santa Claus / Sinterklas

Perayaan Santa Claus atau Sinterklas merupakan bagian yang kini tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Natal.
Namun, di banyak daerah dan negara, perayaan iman ini saat ini telah menyimpang dari tujuan awalnya dan cenderung mengaburkan arti Natal, yang berpusat pada kelahiran Putra Allah dalam diri Kanak-Kanak Yesus.
Santa Claus / Sinterklas telah menjadi tokoh komersil dan seringkali perayaannya di awal Desember telah menimbulkan berbagai dampak negatif lainnya, mulai dari kemacetan, pesta-pora, lahan bisnis, dll.

Karena itu, adalah tepat bagi kita untuk saat ini mencoba mengingat lagi siapa sebenarnya Santa Claus / Sinterklas, yang aslinya dalam Gereja Katolik dikenal sebagai Santo Nikolaus.

Bersama Gereja Katolik sedunia, setiap tanggal 6 Desember ( hari ini ), kita memperingati Santo Nikolaus dari Myra, Uskup dan Pengaku Iman.

Santo Nikolaus a.k.a Santa Claus / Sinterklas tidak pernah hidup di Kutub Utara.
Santo Nikolaus lahir pada tahun 300-an di Parara, Asia Kecil dari sebuah keluarga yang kaya raya. Sejak masa mudanya ia sangat menyukai cara hidup bertapa dan melayani umat. Ia kemudian menjadi seorang pastor/imam yang sangat disukai umat. Harta warisan dari orangtuanya dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan amal, terutama untuk menolong orang-orang miskin. Sebagai pastor/imam, ia pernah berziarah ke Tanah Suci. Sekembalinya dari Yerusalem, ia dipilih menjadi Uskup dari kota Myra dan berkedudukan di Lycia, Asia Kecil (sekarang: Turki).
Santo Nikolaus dikenal di mana-mana. Ia termasuk orang kudus yang paling populer, sehingga dijadikan pelindung banyak kota, propinsi, keuskupan dan gereja. Di kalangan Gereja Timur, ia dihormati sebagai pelindung para pelaut; sedangkan di Gereja Barat, ia dihormati sebagai pelindung anak-anak, dan pembantu para gadis miskin yang tidak mampu menyelenggarakan perkawinannya. Namun riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, selain bahwa ia dipilih menjadi Uskup kota Myra pada abad-4 yang berkedudukan di Lycia. Ia seorang uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang-orang yang tertindas dan para fakir miskin. Pada masa penganiayaan dan penyebaran ajaran-ajaran sesat, ia menguatkan iman umatnya dan melindungi mereka dari pengaruh ajaran-ajaran sesat.

Ketenaran namanya sebagai uskup melahirkan berbagai cerita sanjungan. Sangat banyak cerita yang menarik dan mengharukan. Salah satu cerita yang terkenal ialah cerita tentang tiga orang gadis yang diselamatkannya: konon ada seorang bapa tak mampu menyelenggarakan perkawinan ketiga orang anak gadisnya. Ia orang miskin. Karena itu ia berniat memasukkan ketiga putrinya itu ke tempat pelacuran. Hal ini didengar oleh Uskup Nikolaus. Pada suatu malam secara diam-diam Uskup Nikolas melemparkan tiga bongkah emas ke dalam kamar bapa itu. Dengan demikian selamatlah tiga puteri itu dari lembah dosa. Mereka kemudian dapat menikah secara terhormat.

Cerita yang lain berkaitan dengan kelaparan hebat yang dialami umatnya. Sewaktu Asia Kecil dilanda paceklik/kemarau panjang yang hebat, Nikolaus mondar-mandir ke daerah-daerah lain untuk minta bantuan bagi umatnya. Ia kembali dengan sebuah kapal yang sarat dengan muatan gandum dan buah-buahan. Namun, tanpa sepengetahuannya, beberapa penjahat yang dirasuki iblis bersembunyi dalam kantong-kantong gandum itu. Segera Nikolaus membuat tanda salib atas kantong-kantong itu dan seketika itu juga para penjahat hitam itu berbalik menjadi pembantunya yang setia.

Nikolaus adalah Santo Nasional & Pelindung Negara Rusia. Kisah tentang tertolongnya ketiga puteri di atas melahirkan tradisi yang melukiskan Santo Nikolaus sebagai penyayang anak-anak. Salah satu tradisi yang paling populer ialah tradisi pembagian hadiah kepada anak-anak pada waktu Pesta Natal oleh orangtuanya melalui ‘Sinterklas’. Tradisi ini diperkenalkan kepada umat Kristen Amerika oleh orang-orang Belanda Protestan, yang menobatkan Santo Nikolaus sebagai tukang sulap bernama Santa Claus. “Sinterklas”, yaitu hari pembagian hadiah kepada anak-anak yang dilakukan oleh seorang berpakaian uskup yang menguji pengetahuan agama anak-anak, tetapi ia membawa serta hamba hitam yang menghukum anak-anak nakal.

Santo Nikolaus meninggal dunia di Myra pada akhir abad-4, dan dimakamkan di Gereja Katedral Katolik di kota itu. Relikuinya kemudian dicuri orang pada tahun 1807. Sekarang relikui itu disemayamkan di sebuah Gereja Katolik di Bari, Italia.

Kalau kita hendak memperingati beliau, maka hendaknya kita merayakannya dengan melakukan karya pelayanan cintakasih kepada sesama, bukan dengan pesta-pora, konvoi kendaraan, menjadikannya lahan bisnis, dan berbagai penyimpangan lainnya.
Kita memperingati-nya dengan berusaha melihat & mencintai dan melayani Yesus dalam diri semua orang di sekitar kita.

View on Path