Meditasi Harian 30 Maret 2016 ~ RABU DALAM OKTAF PASKAH

image

KENALILAH KELUMPUHANMU

Bacaan:
Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35

Renungan:
Kisah para Rasul hari ini bercerita mengenai mujizat yang dikerjakan oleh Petrus di depan Gerbang Indah. Saat naik ke Bait Allah, dengan ditemani oleh Yohanes, Petrus menyembuhkan seorang yang telah puluhan tahun mengalami kelumpuhan fisik. Untuk menjalani hidup dengan kelumpuhan fisik sejak lahirnya, tentu menjadi penderitaan teramat berat bagi pria malang itu. Seorang beriman pun dalam situasi hidup demikian, mungkin saja dapat tergoda pula untuk mempertanyakan Kerahiman Allah. Akan tetapi, bila direnungkan lebih mendalam, sebenarnya dunia saat ini menyaksikan bentuk kelumpuhan yang jauh lebih berat, yakni kelumpuhan mental dan spiritual.
Hidup beriman kita saat ini sungguh ditantang oleh rupa-rupa situasi hidup dimana Allah seolah tidak ada.

Korupsi serta ketidakadilan yang merajalela dan memiskinkan harkat maupun martabat manusia; budaya instan yang menyebabkan orang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan; penyesatan konsep ketuhanan yang berujung pada radikalisme, yang membenarkan teror dan pembunuhan dengan mengatasnamakan Tuhan; pasutri yang tidak bisa menerima kemalangan dalam hidup perkawinan dan kemudian memutuskan untuk berhenti berjalan bersama; pembelaan hak-hak asasi dan kesetaraan secara keliru, yang justru merusak bahkan mematikan kodrat kemanusiaan; perkembangan teknologi dan rekayasa genetika, yang merubah peradaban manusia menjadi tak ubahnya komoditas, atau ibarat produk yang dapat dipilih dari katalog; serta berbagai bentuk kelumpuhan mental dan spiritual lainnya.
Disadari atau tidak, sama seperti kedua murid yang berjalan pulang ke Emaus, ketika diperhadapkan pada misteri salib kehidupan yang tak terpahami, kita sering mengalami suatu kelumpuhan yang membuat kita berhenti melangkah maju menuju Allah. Ketika mengalami aneka pergumulan hidup yang menyulitkan, mendukakan, dan mengecewakan; tak jarang kita mengalami kelumpuhan rohani dan lupa akan janji-janji Tuhan dalam Kitab Suci.

Kekristenan tanpa salib adalah palsu. Demikian pula salib tanpa kebangkitan adalah kesia-siaan. Tetapi, syukur kepada Allah bahwa kita tidak hanya mengimani Dia yang mati bagi dosa-dosa kita, tetapi juga mengimani Dia yang bangkit dari kematian sebagai Pemenang atau maut. Perjalanan ke Emaus sebenarnya menggambarkan pula perjalanan peziarahan hidup beriman kita. Kegagalan memahami misteri salib dapat menjadikan hidup beriman terasa seperti beban bukannya kuk yang mendatangkan sukacita.
Banyak orang memilih berhenti memandang salib, dan memilih memalingkan wajah mereka dari salib.
Padahal di balik salib ada sukacita kebangkitan. Ada misteri iman yang sungguh memuliakan dalam makam yang kosong, yang menjadikan kita manusia-manusia Paskah.

Renungkanlah kebenaran Sabda Tuhan hari ini. Kalau pria malang yang lumpuh sejak lahirnya saja dapat disembuhkan oleh Petrus karena kuasa nama Tuhan kita Yesus Kristus, apalagi kamu, yang setiap hari menyambut Tubuh Tuhan dalam Misa Kudus? Kalau hati kedua murid saja begitu berkobar-kobar di tengah jalan karena Tuhan menerangkan isi Kitab Suci serta meneguhkan mereka dengan janji-janji-Nya yang kekal, tidakkah Ia dapat melakukan jauh lebih besar lagi melalui dirimu, yang telah menjadi satu dengan-Nya dalam santapan Ekaristi?

Jadi, jikalau demikian, “Apa sebenarnya yang kurang?
Yang kurang adalah “Kesadaran“.
Pemazmur hari ini seolah menjadi seruan kesadaran bagi kita semua. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4)
Untuk itu, mohonkanlah bimbingan Roh Kudus, agar kamu dapat mengenali Dia yang senantiasa menemani perjalananmu dengan Sabda-Nya, dan peganglah janji-janji-Nya, agar hatimu senantiasa dikobarkan untuk karya kerasulan.
Mintalah tuntunan Roh untuk membimbingmu dengan kelembutan sekaligus ketegasan, agar kamu dapat mengenali Dia saat Imam memecah-mecahkan Hosti dan mengangkat Piala keselamatan.
Dengan demikian, kamu akan memiliki relasi pribadi yang mesra dan penuh hormat dengan-Nya. Kamu akan menyentuh Hati-Nya dan menjawab kehausan-Nya akan jiwa-jiwa.
Kamu akan mencintai Bunda Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Kamu akan berdiri teguh dan bangga akan Iman Katolikmu, dan tidak akan mengkompromikannya dalam situasi apapun.

Semoga Santa Perawan Maria, teladan beriman yang sejati, menyertai peziarahan hidup beriman kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kitapun dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat.
Kenalilah kelumpuhanmu, dan berdirilah!
Kita bukanlah anak-anak kegelapan. Kita adalah anak-anak Paskah, putra-putri Cahaya.
Bangkitlah! Bercahayalah!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Oktaf Paskah

image

MENEMUKAN TUHAN DALAM SABDA DAN EKARISTI

Bacaan:
Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35

Renungan:
Kekristenan tanpa salib adalah palsu. Kita dipanggil untuk menapaki jalan penderitaan sama seperti Tuhan kita. Memang benarlah demikian.
Akan tetapi, seorang beriman harus mewaspadai bahaya terlalu larut dalam penderitaan dan dukacita, dalam kekecewaan dan kegagalan, dalam badai dan pencobaan, sampai tidak bisa mengenali Tuhan di balik itu semua.
Hidup beriman kita memang memuncak pada salib tetapi tidak berhenti disana, melainkan pada sukacita kebangkitan.
Kedua murid dalam perjalanan ke Emaus gagal melihat hal itu. Mereka terlalu dikejutkan oleh Yesus yang tergantung di salib, sehingga melupakan semua ajaran dan janji Tuhan yang digenapi dalam kebangkitan-Nya.
Mereka bahkan awalnya tidak mengenali kehadiran Yesus yang menemani perjalanan mereka.
Baru kemudian seiring perjalanan, mereka mulai menemukan kembali imannya, manakala Yesus secara perlahan menerangkan isi Kitab Suci kepada mereka. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)
Berbahagialah mereka yang dengan tekun mendengar dan merenungkan sabda Tuhan, sehingga hatinya senantiasa “berkobar-kobar” (bdk.Luk.24:32) dalam cinta akan Tuhan.
Pada akhirnya, kedua murid menjadi saksi Kebangkitan dan mengenali Tuhan Yang Bangkit pada saat Ia “memecah-mecahkan roti” (bdk.Luk.24:35).
Mata iman kedua murid terbuka dan mereka mengenali Tuhan seutuhnya saat Ia merayakan Sakramen Ekaristi.
Tidakkah mengagumkan bahwa Kitab Suci mencatat dan menerangkan dengan terang-benderang bahwa pengenalan seutuhnya akan Tuhan Yang Bangkit ditemukan hanya di dalam Sakramen Ekaristi?
Maka, berbahagialah kamu, putra-putri Gereja Katolik, yang setiap hari diundang ke Perjamuan Tuhan untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan dalam Ekaristi Kudus.
Gereja tanpa Ekaristi adalah cacat, karena hanya di dalam Ekaristi, mata iman kita dapat sepenuhnya terbuka dan mengenali Tuhan Yang Bangkit.
Inilah kekayaan Iman Katolik kita, syukurilah dan kecaplah betapa baiknya Tuhan yang senantiasa membimbing kita dengan Sabda-Nya, serta menguatkan kita untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dalam santapan Tubuh dan Darah-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando