Meditasi Harian 6 Agustus 2015 ~ Pesta Tuhan Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

image

KALAHKANLAH DUNIA UNTUK KEMULIAAN

Bacaan:
Dan.7:9-10,13-14; Mzm.97:1-2,5-6,9; 2Ptr.1:6-19; Mrk.9:2-10

Renungan:
Hari ini Gereja merayakan peristiwa Yesus berubah rupa dalam kemuliaan, didampingi nabi Musa yang memberikan hukum Tuhan bagi Israel, dan Nabi Elia sebagai yang terbesar dari para Nabi perjanjian lama, serta disaksikan oleh ketiga rasul, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes.
Perayaan ini semakin bermakna dalam hidup kekristenan sekarang ini, yang kini ditandai dengan perjuangan untuk melawan arus dunia, disaat hampir semua orang justru mengikuti dengan tahu dan mau akan nilai-nilai baru yang bertentangan dengan Iman Kristiani, dan disaat semakin banyak jiwa kini terseret arus dunia yang menyesatkan.
Panggilan kita adalah panggilan untuk mengalami misteri salib agar beroleh kemuliaan.
Di masa sekarang ini kita dituntut untuk lebih berani lagi mewartakan iman, apapun konsekuensinya, meskipun harus bertentangan dengan pandangan mayoritas. Untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, membawa damai di tengah konflik, di tengah desakan radikalisme dan fanatisme, memperjuangkan martabat pernikahan dan keluarga yang sejati, mempertahankan nilai-nilai kehidupan, dan melawan budaya kematian. Sementara itu, secara pribadi kita pun bergumul dalam pemurnian diri, untuk melepaskan keterikatan dan persahabatan dengan dosa, sehingga pada akhirnya menjadi pemenang dalam Iman.

Tentu saja, berbagai bentuk pergumulan tadi mengharuskan kita untuk turun ke dalam lembah kekelaman, serta mengalami penderitaan teramat hebat.
Itulah sebabnya kemuliaan dan sukacita Tabor seolah memberikan penghiburan dan penguatan, bahwa bila kita setia menapaki jalan salib dalam peziarahan hidup ini, pada akhirnya kita akan turut serta mengalami kemuliaan bersama Tuhan.
Peristiwa Transfigurasi adalah antisipasi sukacita surga yang memberikan penghiburan rohani bahwa kelak, bagi mereka yang setia dalam karya kerasulan, inilah ganjaran yang akan diterimanya. Ganjaran kebahagiaan tak terkatakan bersama para Kudus, dalam kemuliaan dan persatuan cinta Allah Tritunggal Mahakudus.
Maka, janganlah cemas, kuatir atau gentar. Kuatkanlah hati, sekalipun kamu harus melawan arus, dibenci, menderita, bahkan kehilangan nyawamu karena tidak mau menyamakan diri dengan dunia ini.
Sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita peroleh kelak.
Kalahkanlah dunia, dan engkau akan beroleh ganjaran kemuliaan kekal

Semoga Perawan Suci Maria senantiasa menemani kita dan menjadi Bintang Timur untuk menunjukkan jalan yang aman, agar pada senja hidup kita boleh tiba di tanah air surgawi, serta mengambil bagian dalam kemuliaan Yesus, Putra-nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu dalam Oktaf Paskah

image

JANGAN JADI MANUSIA SAMPAH

Bacaan:
Kis.4:13-21; Mzm.118:1.14-15.16ab-18.19-21; Mrk.16:9-15

Renungan:
Bagi yang pernah mempelajari Injil Markus lebih dalam, kita mungkin dikejutkan ketika menemukan bahwa Markus mengakhiri atau menutup Injilnya dengan tiba-tiba di pasal 16:8.
Gereja perdana berusaha “melengkapi” Injil Markus dengan menambah bagian yang dalam keyakinan suci mereka tentu akan ditambahkan oleh Markus sendiri, sebagai bagian akhir atau tambahan untuk memberi akhir yang lebih halus (ayat 9-20).
Sebagian besar pakar atau ahli tafsir Kitab Suci meyakini bahwa akhir yang tiba-tiba dari Injil Markus (pada ayat 8), hendak mengungkapkan harapan penginjil Markus agar para pembacanya melengkapi sukacita Injil dalam hidup mereka.
Oleh karena itu, penambahan bagian penutup oleh Gereja Perdana dengan didasari ilham Roh Kudus, yang penggalan besarnya (ayat 9-15) kita baca hari ini, harus dilihat sebagai seruan suci untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dalam hidup dan karya kita.
Milikilah keberanian seperti Rasul St. Petrus untuk berkata,”Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” (Kis.4:20)
Lebih dari sebelumnya, Orang-orang Kristen di masa kini haruslah menjadi orang-orang Kristen yang “bersaksi“, kalau tidak mau dianggap “sampah” bagi dunia dan batu sandungan bagi karya kerasulan.
Hidup kita, integritas kita, karya atau profesi kita, kemiskinan roh dan pelayanan kasih kita, panggilan untuk berkeluarga maupun menjadi seorang selibat, haruslah menjadi kesaksian yang meyakinkan akan Tuhan Yang Bangkit.
Kalau dunia gagal melihat Tuhan Yang Bangkit dalam diri kita, itu dikarenakan kegagalan kita untuk berlaku selayaknya saksi-saksi Kristus yang sejati.
Jangan jadi manusia sampah. Jadilah manusia yang berguna, pewarta sukacita Injil yang menerangi kegelapan zaman ini, maka Tuhan akan menyertai kamu sekalian dengan tanda-tanda dan kuasa-Nya.
Euntes in mundum universum praedicate evangelium omni creaturae.” ~ (Mrk.16:15)

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu V Prapaska

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Yeh.37:21-28; MT Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56

Renungan:
Yesus adalah satu-satunya yang ingin disampaikan oleh Allah. Tidak hanya dalam kitab Yehezkiel yang kita renungkan hari ini, melainkan seluruh bagian dari Perjanjian Lama, semua nubuat yang diberikan para nabi, mempersiapkan umat Allah untuk kedatangan Putra Allah. Hidup dan karya Yesus adalah Perjanjian Baru, yang melengkapi seluruh pewahyuan Allah.
Oleh karena itu, penolakan bangsa Yahudi dan persepakatan untuk membunuh Tuhan Yesus, yang juga seolah hendak dimaklumkan dengan nubuat palsu dari Imam Besar Kayafas, merupakan penolakan langsung terhadap perjanjian dan belas kasih Allah.
Mereka yang setiap hari merenungkan Hukum Taurat, menolak menerima kegenapan dari pewahyuan Allah dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Kegagalan mengenal Tuhan Yesus dan penolakan terhadap kabar keselamatan yang diwartakan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Imam Besar, para ahli Taurat, dan para pemuka agama lainnya, bukan tidak mungkin dapat terjadi juga di dalam Gereja.
Mereka yang diserahi tugas luhur untuk menggembalakan umat Allah senantiasa diingatkan untuk menjaga kemurnian ajaran iman Gereja dari bahaya penyesatan. Kiranya Allah menghindarkan kita semua dari kegagalan mengenali kehendak-Nya.

Di tengah serangan yang semakin terang-terangan terhadap pokok-pokok iman dan ajaran sosial Gereja, orang dapat keliru pula dalam memahami pernyataan “Ecclesia semper reformanda”.
Memang benar bahwa Gereja haruslah selalu membaharui diri, untuk dapat menjelaskan imannya dengan lebih baik, agar bisa menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih tepat bagi karya kerasulan saat ini.
Akan tetapi, Ajaran Iman Gereja bukanlah sesuatu yang dapat dirubah sesuai opini publik atau semangat zaman yang keliru. Kita tidak boleh mengabaikan suara-suara kenabian yang mengingatkan kita untuk tetap setia memelihara Iman Katolik secara otentik, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma.
Kemurnian iman adalah harga mati yang tidak dapat dikompromikan.

Saat ini, Gereja begitu diombang-ambingkan oleh arus kehidupan. Menjadi seorang Kristiani di masa sekarang ini seringkali menemui berbagai tantangan dan pergumulan.
Diperhadapkan pada kenyataan demikian, putra-putri Gereja harus senantiasa berjaga-jaga, bertekun dalam iman, menjadikan hidup doa sebagai perisai, agar tidak terjerat pada perangkap si jahat.
Percaya saja tidak cukup, kita harus mengetahui apa yang kita percayai, untuk bisa mengimani dan merangkulnya dengan penuh sukacita.
Setiap anggota Gereja di masa sekarang ini haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang dia imani, sehingga kita bisa selalu menjawab tantangan dunia ini, yang seringkali mengaburkan pandangan kita dalam mengenali Tuhan dan kehendak-Nya.

Berdoalah agar kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang teguh dalam iman, apapun bentuk panggilan hidup dan karya kita. Berdoalah pula bagi para Uskup kita yang terkasih, yang sementara mempersiapkan diri untuk menghadiri  Sinode Keluarga pada bulan Oktober nanti di Roma. Semoga mereka pun, dalam kesatuan dengan Bapa Suci, meneguhkan apa yang baik, benar dan berkenan di hati Allah, serta dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai bagi tantangan keluarga-keluarga Kristiani di masa sekarang ini, tanpa kehilangan kemurnian imannya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa V Prapaska

image

KEGAGALAN MEMANDANG SALIB

Bacaan:
Bil.21:4-9; Mzm.102:2-3.16-18.19-21; Yoh.8:21-30

Renungan:
Salah satu kegagalan Kekristenan terbesar di masa sekarang ini adalah kegagalan untuk “memandang” Salib.
Sama seperti Musa dan bangsa Israel di padang gurun mengalami bahaya kebinasaan oleh ular-ular tedung dengan racun yang mematikan, demikian pula dunia kita saat ini dipenuhi dengan berbagai macam racun dan ular yang mematikan yang hadir dalam rupa-rupa bentuk dan cara seperti konsumerisme, seks bebas, pornografi, korupsi, atheisme praktis, penyembuhan alternatif yang tidak kristiani, aborsi, euthanasia, pernikahan sesama jenis, rekayasa genetika, dan masih banyak lagi.
Kita gagal memandang dan menemukan kekuatan dari Salib.
Tak jarang, kita mengkompromikan Iman dengan dalih supaya lebih sesuai dengan tuntutan zaman.
Bahkan dalam banyak gereja, adalah jauh lebih mudah membicarakan mukjizat, urapan, kemakmuran dan hidup yang selalu diberkati dalam Tuhan dengan kelimpahan susu dan madu, daripada membicarakan tentang penderitaan dan Salib serta menemukan kekuatan darinya.
Untuk mengalahkan dunia dengan segala kejahatannya, dan untuk memampukan kita menolak semua tawaran si jahat, para pengikut Kristus harus belajar mencintai dan merangkul Salib.
Kekristenan tanpa Salib adalah dusta.
Satu-satunya obat dan penawar racun dunia saat ini hanyalah Salib Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.
Setiap orang yang “memandangnya” akan tetap “hidup”.

Pax, in aeternum.
Fernando

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

Salt and Light of the world

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

RENUNGAN MINGGU BIASA KE – V ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – Yesaya 58: 7-10

Mazmur Tanggapan – Mzm.112: 4-5.6-7.8a.9

Bacaan II – 1 Korintus 2: 1-5

Bacaan Injil – Matius 5: 13-16

 

Jadilah Garam dan Terang bagi dunia!

Saudara-saudariku yang terkasih,

Hari ini, meskipun berbicara melalui suatu perumpamaan, Tuhan Yesus memberikan suatu gambaran yang sangat jelas, akan tugas dan panggilan kita sebagai seorang Kristen.

Kamu adalah Garam dunia

Pada zaman Yesus, garam adalah komoditas berharga. Orang-orang menggunakannya sebagai alat tukar dalam perdagangan, seperti halnya emas dan saham di masa kini. Di musim panas pada waktu itu, jauh sebelum ditemukannya listrik maupun kulkas, garam tidak hanya dipergunakan sebagai penyedap masakan, melainkan juga dipergunakan untuk mencegah daging dan bahan makanan sejenis lainnya dari pembusukan, atau dengan kata lain, untuk menjaga keutuhan dan kemurnian makanan itu agar terhindar dari perubahan.  Oleh karena itu, manakala Yesus menyebut para pengikut-Nya sebagai garam dunia, Dia hendak menunjukkan bagaimana seharusnya seorang Kristen hidup. Yesaya dalam bacaan I mengungkapkan kesejatian seorang hamba Allah. Ia dipanggil untuk memberi makan, perlindungan, pakaian, untuk tidak menyembunyikan diri maupun menutup mata terhadap dunia dengan segala kekurangannya, untuk tidak menebar fitnah dan dusta terhadap sesama. (bdk.Yes.58:7) Seorang Kristen yang sejati haruslah menjadi pribadi yang menghadirkan damai dan sukacita bagi setiap orang yang dia jumpai, untuk membawa sentuhan yang menyembuhkan bukannya melukai, untuk mempertahankan kemurnian martabat kemanusiaan yang diciptakan secitra dengan Allah, untuk mempertahankan hidup bukannya melenyapkan hidup, untuk senantiasa setia kepada martabatnya sebagai putra-putri Allah. Suatu panggilan luhur untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. “Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak. Pancarkan cahaya iman dan cinta kasihmu,” demikianlah kata St. Josemaria Escriva. Kegagalan menjalankan tugas luhur ini merupakan penyangkalan akan Allah dan kemanusiaan kita sendiri. Dengan keras Yesus mengatakan bahwa untuk orang yang demikian, “tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”  (Mat.5:13c)

Kamu adalah Terang dunia

Sebuah pelita pada zaman dahulu mempunyai fungsi yang kurang lebih sama dengan berbagai alat penerangan di zaman kita sekarang ini, yakni memampukan kita untuk melihat dan bekerja dalam kegelapan, membuat kita bisa melihat dengan lebih jelas, serta menjaga kita agar tidak tersandung dan jatuh. Seorang Kristen haruslah menjadi seorang pembawa cahaya untuk menghalau kegelapan dunia ini. Bagaikan sebuah kota yang berada di atas gunung yang tidak mungkin tersembunyi (Mat.5:14b), kita dipanggil untuk membuat semua orang melihat dengan jelas Kerajaan Allah dalam diri kita. Panggilan kita adalah untuk selalu berada di atas, untuk mengatasi dunia ini dan menerangi sebanyak mungkin orang melalui hidup dan karya kita, sehingga semua orang “melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu di surga.” (Mat.4:16b)

Saudara-saudariku yang terkasih,

Dua tugas kerasulan yang disampaikan hari ini, sudah pasti menuntut dari kita suatu keberanian iman untuk menjalani hidup kita sebagai suatu kesaksian akan kebaikan Allah, suatu keberanian untuk menapaki pendakian hidup yang dipenuhi berbagai jerat perangkap dan marabahaya yang telah disiapkan oleh si jahat. Sebab, dengan menjadi garam, berarti kita merelakan diri kita untuk tenggelam dan larut dalam dunia dengan segala kejahatannya, suatu tugas yang menuntut pengorbanan diri untuk menjadi makanan bagi dunia. Untuk menjadi terang yang menerangi banyak orang, pastilah akan banyak penderitaan yang harus kita rasakan dan alami. Dalam tugas luhur ini, tidak ada ruang untuk cinta diri, tidak ada sesuatu yang boleh kita jadikan sebagai milik yang harus dipertahankan, sebab dimana hartamu berada disitulah hatimu berada. Hartamu adalah Kristus. Karena itu, kehendak Kristus haruslah menjadi kehendakmu, kerinduan Kristus haruslah menjadi kerinduanmu, kecintaan Kristus haruslah menjadi kecintaanmu, luka-luka Kristus haruslah menjadi luka-lukamu. Kamu dipanggil “untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu, selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.” (1 Kor.2:2)

Hai para serdadu Kristus, lihatlah hidupmu! Lihatlah segala karya baik yang kamu lakukan!

Kamu yang seorang dokter, tukang, biarawati, pembantu rumah tangga, karyawan, pengusaha, buruh, hakim, tentara, imam, seniman, arsitek, penyapu jalan, apapun karya yang engkau kerjakan, ada suatu rahasia suci di balik semua yang kalian lakukan, sesederhana apapun itu dalam pandangan dunia. Ketahuilah bahwa Allah hendak menyatakan Kerajaan dan kemuliaan-Nya melalui pekerjaaanmu. Izinkanlah dunia merasakan sentuhan rahamat Allah melalui kehadiranmu di tengah dunia. Berikanlah motif adikodrati pada pekerjaanmu, maka engkau akan menguduskan dirimu dan seluruh dunia. Itulah arti sejati dari menjadi garam dan terang bagi dunia. Jangan takut! “Orang jujur tidak pernah akan goyah, ia akan dikenang selama-lamanya. Ia tidak gentar akan kabar buruk, hatinya teguh, penuh kepercayaan kepada Tuhan.” (bdk.Mzm.112:4-7) Jadilah seorang rasul Kristus yang berani, dan tularilah dunia ini dengan kegilaan dan kecintaanmu akan Kristus.

Dalam melakukan kerasulan suci ini, setiap orang pasti akan memiliki kelemahan, rasa takut dan gentar. Tetapi, milikilah kerendahan hati untukmengakui semuanya itu, dan temukanlah kekuatan dalam Roh Tuhan, “supaya imanmu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah,” (1 Kor.2:5) suatu kekuatan yang selalu bisa kamu temukan dalam Ekaristi Kudus dan sakramen-sakramen suci lainnya, dalam ketekunan merenungkan firman Tuhan, dalam doa, puasa dan mati raga.

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu semua orang beriman, senantiasa menyertai kita dalam peziarahan iman dan kerasulan suci ini, sehingga sebagaimana Maria, yang selamanya menjadi hamba Allah yang setia, kita pun beroleh keberanian untuk selalu menjawab “Fiat voluntas tua” seumur hidup kita, sampai tiba saatnya Tuhan menentukan berakhirnya tugas kerasulan kita di dunia yang fana ini, dan memulai kerasulan yang baru kelak, di tanah air surgawi. ( Verol Fernando Taole )