Meditasi Harian, 14 Juli 2017 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV

BERANI MATI UNTUK HIDUP

Bacaan:

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat.10:16-23

Renungan:

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi ke dalam realita seorang pengikut Kristus, serta panggilan kerasulan kita untuk menyatakan karya Tuhan. Sesudah meneguhkan hati kita bahwa hidup kristiani adalah hidup yang disertai dengan tanda-tanda penuh kuasa dari-Nya, untuk membawa banyak orang pada pengalaman akan kasih Allah, hari ini Tuhan kita berbicara soal konsekuensi yang sudah pasti tidak kita harapkan. Setelah kemarin memperingatkan kita yang diutus, agar tidak memiliki kelekatan atau “membawa banyak” hal yang justru membebani tugas kerasulan kita, hari ini Tuhan mengutarakan satu lagi kenyataan dari panggilan kita sebagai saksi-saksi Kebangkitan, yaitu bahwa Sang Gembala Yang Baik ini mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16). Seekor domba berhadapan satu lawan satu dengan seekor serigala saja sudah cukup sukar, apalagi untuk hidup di tengah-tengah kawanan serigala.

Siapapun yang hendak melangkah di jalan Tuhan, haruslah terlebih dahulu menyadari betul konsekuensi iman ini. Jalan kecil Tuhan pada hakekatnya adalah jalan Salib, dimana seorang akan kehilangan segala, bahkan nyawanya sendiri, untuk beroleh kesejatian hidup. Predikat “Hamba Tuhan” bukanlah gelar kehormatan, yang darinya seorang dapat menuntut perlakuan istimewa, kenyamanan hidup, kekayaan, kemakmuran, pujian dan kehormatan duniawi lainnya, apalagi menipu mereka yang dipercayakan kepadanya dengan kejahatan bertopeng kerohanian. Jika itu yang kamu harapkan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi “hamba mamon“, tak ubahnya seperti “serigala berbulu domba”. Kamu tidak hanya kehilangan aroma domba, melainkan kamu sudah bukan lagi seekor domba. Seorang rasul Kristus diutus ke tengah kegelapan dunia untuk bercahaya, bukan meredupkan apalagi memadamkan cahayanya untuk bergabung dengan saudara-saudari kegelapan. Kita adalah putra-putri Paskah, manusia-manusia kebangkitan, yang hendaknya dengan lantang berseru, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Dia yang telah memberi diri untuk Tuhan, tetapi masih menyayangi hidupnya sendiri dan hatinya masih melekat pada segala sesuatu diluar Tuhan, pada akhirnya justru akan kehilangan ganjaran hidup kekal dalam kebahagiaan Surga, serta beroleh kebinasaan kekal dalam ratapan dan kertak gigi.

Memang benar bahwa kita diutus ke tengah-tengah serigala. Akan tetapi, “Janganlah kamu kuatir” (Mat.10:29), akan mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa sama sekali melenyapkan jiwa. Bersiaplah untuk kehilangan “tubuh” demi menyatakan Kerajaan Allah, maka pada akhirnya nanti baik tubuh maupun jiwamu dapat beroleh kekekalan. Melangkahlah dengan iman layaknya Yakub yang berangkat dalam getaran suara cinta Tuhan, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut…Aku sendiri akan menyertai engkau…dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kej.46:3-4). Milikilah ketulusan merpati dalam kesederhanaan beriman dan kerendahan hati untuk dibentuk serta dimurnikan oleh Tuhan, dan jagalah sikap kerasulan kita dalam kehati-hatian yang suci dan penuh hikmat, agar kita tidak jatuh ke dalam jerat perangkap si jahat, yang menawarkan banyak hal supaya kita menyimpang dari jalan kesempurnaan. Cerdiklah seperti ular untuk bertahan dalam semangat kerasulan di tengah serigala, sebab “barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat” (bdk.Mat.10:22).

Semoga Perawan Terberkati Maria, Bunda umat beriman, menyertai kita di jalan kecil ini dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita senantiasa melangkah dengan penuh sukacita. “Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya” (Mzm.37:39-40). Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Juli 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV


DOMBA ATAU SERIGALA? 

Bacaan:

Hos.142:2-10; Mzm.51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat.10:16-23

Renungan:

Berbeda dengan Abad Pertengahan (Medieval), tidaklah mudah mewartakan Kabar Sukacita Injil dalam dunia dimana kita hidup saat ini. Hari demi hari kita merasakan bahkan mengalami secara nyata, rupa-rupa penolakan dunia akan nilai-nilai Kristiani dalam berbagai situasi dan strata hidup. Situasi yang kurang lebih sama juga dialami oleh Jemaat Perdana. Bagi sebagian orang, Iman pun tak jarang menjadi sesuatu yang dapat dikompromikan. Bila tekanan hidupnya berat, harganya pas, atau ruginya lebih banyak ketimbang untung, maka nilai-nilai Injil dalam hidup beriman pun dapat dikesampingkan, demi “mengikuti arus zaman“. 

Dalam Injil hari ini, ketika mengutus para rasul-Nya, tidak ada sesuatupun yang ditutup-tutupi oleh Tuhan kita. Sebelum mereka melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil, Tuhan kita telah terlebih dahulu memperingatkan akan konsekuensi dari tugas kerasulan mereka. Tidak seperti pakar marketing, yang memaparkan segala keuntungan, reward, kenikmatan dari yang ditawarkan, Tuhan kita dengan terang-benderang dan secara mengejutkan justru berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16a). Suatu pernyataan yang pasti mengguncangkan para rasul. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan, “Jalan apakah yang saat ini kutempuh? Jalan Tuhan atau si jahat? Apakah aku ini masuk kategori domba atau serigala?

Satu hal yang boleh dijawab dengan pasti. Jalan Tuhan adalah jalan Salib. Jalan kecil kemana Tuhan mengarahkan, adalah jalan penderitaan. Maka, adalah mengherankan bila di antara mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus, kita mendapati mereka yang menjanjikan kesuksesan finansial, terbebas dari sakit dan derita, serta kemakmuran duniawi, sebagai tolak ukur penyertaan dan urapan Tuhan atas hidup mereka. Inilah salah satu tantangan hidup beriman zaman sekarang, yaitu saat ini ada banyak pula serigala yang menyamar seperti domba, dengan rupa-rupa tawaran yang menyesatkan. Waspadalah dan berjaga-jagalah! 

Keberadaan kita sebagai domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pula mendatangkan godaan lain, yang tidak kalah berbahayanya, yaitu roh ketakutan dan kekuatiran, yang dapat membuat seekor domba tergoda untuk bertingkah laku seperti serigala, agar terhindar dari bahaya menjadi mangsa. Seorang dokter kandungan memilih melayani praktek aborsi dan mempromosikan alat-alat kontrasepsi, karena tidak mau kehilangan pasien-pasiennya; seorang hakim menjatuhkan vonis yang membebaskan koruptor, karena tergoda uang suap yang fantastis; orang tua merelakan anaknya pindah agama, agar dapat menikah dengan orang yang dia cintai, dan menyelamatkan diri dari aib keluarga; seorang mahasiswa gemar menggunakan umpatan dalam perbincangan sehari-hari, sambil memelihara gaya hidup tidak wajar, agar menjadi populer dalam pergaulan dengan teman-temannya; serta berbagai bentuk kompromi iman dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Kebenaran dan Sukacita Injil dikubur dalam-dalam, karena ketakutan melawan arus zaman, karena kekuatiran kehilangan dunia, karena Kristus. 

Kepada kita, Tuhan memberikan pesan Injil yang jelas mengenai bagaimana bersikap di tengah tantangan dan bahaya, serta penolakan dunia ini. “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat.10:16b). Cerdiklah seperti ular. Bijaksanalah! Ada kalanya kita harus gesit bergerak menghindari perangkap dunia. Tetapi, jangan lupa pula bahwa lebih sering seekor ular justru seolah diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau cari aman. Diam berarti menunggu waktu yang tepat untuk menangkap jiwa-jiwa bagi Allah. Seorang rasul Kristus ibarat seorang yang membangun rumah, harus duduk terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, guna membuat perencanaan dan persiapan secara tepat, demikian pula seorang pewarta sukacita Injil. Ikutilah tuntunan Roh Kebijaksanaan, yang dapat diperoleh melalui pergaulan mesra dengan Allah (doa, puasa, mati raga), tanpa mengabaikan ketekunan mempelajari segala hal yang perlu, agar kerasulanmu dapat menjala banyak jiwa bagi Allah.

Kecerdikan ular harus pula disertai ketulusan seperti merpati. Kesederhanaan dan kemurnian hati mutlak perlu dimiliki oleh seorang rasul Kristus. Dengan demikian, dia akan terhindar dari bahaya jatuh dalam dosa kesombongan diri, dari bahaya pemuliaan diri. Tuhanlah yang harus dikenal. Karya-Nyalah yang kita lakukan. Hendaknya Dia semakin besar, dan kita semakin kecil. Rendah hatilah, dan bawalah damai, kemanapun tangan Tuhan membawamu untuk menebarkan jala. Apabila kamu telah melakukan itu semua, dan toh kamu masih harus berhadapan dengan rupa-rupa pencobaan, tantangan, dan bahaya: “Jangan Takut!“, sabda Tuhan. 

Yakinlah bahwa sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan, yang akan kita peroleh di surga kelak. Tentu saja kita merasul demi Tuhan, bukan demi ganjaran kemuliaan itu saja. Tetapi, semua ini dikatakan sebagai penghiburan Ilahi bagimu. Maka,”Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat.10:19-20.22).

Semoga Santa Perawan Maria, pertolongan orang Kristen, senantiasa menuntun kamu di jalan Tuhan, agar kamu tidak hanya sampai ke Kalvari, melainkan juga beroleh mahkota kemuliaan surgawi, sebagaimana dianugerahkan kepada Bunda kita oleh Yesus Putranya. Bangkitlah! Bercahayalah! 
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan V Paskah

image

HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH

Bacaan:
Kis.14:5-18; Mzm.115:1-2.3-4.15-16; Yoh.14:21-26

Renungan:
Allah mencintai kamu seolah-olah hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini untuk dicintai“, demikian kata St. Agustinus dari Hippo.
Setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan.
Hujan diturunkan-Nya bagi orang benar maupun yang tidak benar, dan Dia membiarkan Sang Surya untuk bersinar bagi orang yang mensyukuri cahaya dan kehangatannya maupun bagi yang membenci dan mengutukinya.
Cinta Tuhan adalah total dan dicurahkan sehabis-habisnya bagi kita dalam situasi apapun, lebih-lebih dalam situasi paling menyedihkan dan gelap dalam kehidupan kita.
Meskipun manusia mengasihi Dia pada tingkatan dan kedalaman yang berbeda satu dengan yang lain, di hadapan Allah setiap jiwa sama berharganya.
Jiwa seorang terpidana mati atau penjahat paling bejat sama berharganya dengan jiwa seorang beriman yang saleh dalam pandangan belas kasih Ilahi.
Dialah yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 ekor yang hilang. Yang datang bukan bagi orang benar melainkan bagi orang berdosa, untuk membawa mereka mendekat ke hati-Nya. Bahkan, dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Ia menunjukkan cinta sehabis-habisnya dengan kehilangan nyawa untuk memberi hidup bagi dunia yang menyalibkan Dia, termasuk bagi penjahat yang bertobat, yang dihukum mati tersalib bersama Dia.
Seorang Kristen tidak mungkin mengaku diri sebagai pelaku Firman secara total, tetapi pada kenyataannya menjalankan Firman Tuhan secara bersyarat. Barangsiapa mengasihi Allah yang mengasihi kita tanpa syarat, harus mengasihi sesamanya pula tanpa syarat.
Semoga Roh Cinta-Nya membuka mata iman kita untuk tidak mengalami kebingungan sebagaimana murid Tuhan dalam Injil hari ini yang bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh.14:22)
Sebabnya ialah karena Ia telah memilih kamu untuk menjadi tanda perbantahan bagi dunia.
Kalau dunia telah menolak Dia dan pengajaran-Nya, kamulah orang-orang pilihan yang dipanggil menjadi kekasih-Nya, untuk senantiasa tinggal di dalam Dia dan menaati perintah-Nya.
Kalau dunia mengatakan bahwa seseorang layak dihukum mati karena kejahatannya, kamulah yang seharusnya dengan lantang melawan suara dunia itu, karena kesadaran iman bahwa seandainya semua orang berdosa yang menyesal dan bertobat tetap layak dihukum, maka tidak ada satupun di antara kita yang dapat masuk surga. Surga akan menjadi tempat yang kosong dan sunyi.
Kalau dunia menentang perang dan pembunuhan massal, tetapi membenarkan seorang ibu melakukan aborsi untuk membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang seorang sakit memilih menjalani euthanasia atas nama hak-hak asasi dan rasa kemanusiaan, kamulah yang seharusnya tanpa kenal lelah menentang sikap mendua hati yang demikian dan bercahaya sebagai putra-putri Paskah, untuk menerangi kegelapan hati mereka.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya kepada kamu, bukan kepada dunia, agar kamu menjadi suara kenabian di tengah dunia, yang telah disesatkan oleh bapa segala dusta dengan nilai-nilai dan pembenaran-pembenarannya yang keliru dan jahat.
Belajarlah dari Paulus dan Barnabas, para rasul lainnya, para martir dan saksi iman, yang telah mendahului kita, yang dengan berani mewartakan Injil sekalipun harus dibenci, dimusuhi, dianiaya bahkan dibunuh karena kesetiaan iman ini. Jangan takut!
Semoga Roh Penghibur meneguhkan imanmu, menguatkan hatimu, agar kamu senantiasa berjalan di jalan-Nya dan melangkah dalam rencana-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan IV Paskah

image

JANGAN JADI ORANG KATOLIK YANG BODOH

Bacaan:
Kis.11:19-26; Mzm.87:1-3.4-5.6-7; Yoh.10:22-30

Renungan:
Ketika sebagai seorang Katolik anda ditanya, “Apakah anda seorang Katolik? Apakah anda mencintai dan menaati Paus sebagai Wakil Kristus di dunia dan Kepala Gereja, menaati Uskup-mu, dan mencintai Imam-mu? Banggakah anda dengan beriman Katolik? Setiakah anda pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Magisterium Gereja?“, tanpa ragu anda pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja!
Tetapi ketika pertanyaan ini dirubah dengan kalimat yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, misalnya, “Apakah anda menentang hukuman mati? Apakah anda tidak menggunakan kondom, pil KB, dan alat-alat kontrasepsi lainnya? Apakah anda menolak untuk mendukung gerakan bagi adanya Imam/Pastor perempuan dalam Gereja? Apakah anda mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan mengaku dosa secara teratur? Apakah anda menolak aborsi dan euthanasia dalam situasi apapun?“, maka pertanyaan-pertanyaan ini seketika menjadi tidak begitu mudah lagi untuk dijawab lantang dengan mengatakan, “Ya, tentu saja!
Malah, bisa jadi jawabannya berubah 180 derajat menjadi, “Tidak!

Bacaan Injil hari ini seharusnya menjadi tamparan iman bagi kita semua.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yoh.10:27)
Kamu adalah domba, bukan kambing, bukan pula binatang liar tanpa gembala.
Domba yang sejati, “mendengarkan” suara Sang Gembala Sejati.
Seorang Katolik sejati, haruslah menaati Paus dan para Uskup yang telah diserahi tugas oleh Kristus sendiri untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Tidak mungkin menyebut diri seorang Katolik, tetapi menolak apa yang diimani oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin mengakui, “Allah adalah Kasih, dan saya dipanggil untuk mengasihi, baik orang benar maupun yang tidak benar“, tetapi dengan lantang mengatakan pada para pelaku kriminal berat, “Kalian pantas mati! Kalian tidak layak diampuni!
Tidak mungkin berkata, “Saya sepenuhnya percaya apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik!“, sementara pada kenyataannya justru tidak bersedia menolak apa yang ditolak oleh Gereja Katolik.
Domba sejati adalah domba yang taat secara mutlak, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas kepada Gembalanya.
Ketaatan mutlak bukan berarti ketaatan buta.

Karena itu, kenalilah Iman Katolik-mu. Dalamilah Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja Katolik secara benar, sehingga anda bisa dicelikkan dari kebutaan serta dapat melihat keindahan Iman Katolik, dan tidak dengan mudahnya menvonis Gereja Katolik sebagai sesat atau keliru.
Jangan jadi orang Katolik yang tidak memahami apa yang sebenarnya ia harusnya imani. Jika demikian, kita dapat dengan mudah jatuh dalam penyesatan, mengikuti opini publik dan setuju dengan pandangan mayoritas, padahal hal itu nyata-nyata bertentangan dengan Ajaran Iman Gereja Katolik.
Hanya karena itu sudah menjadi budaya yang lumrah, sebagian besar orang percaya demikian, atau hampir semua orang melakukannya hal yang sama, tidaklah menjadikan hal itu dapat dibenarkan di hadapan Allah dan Gereja Katolik-Nya yang kudus.
Jangan jadi saksi-saksi iman yang tidak terdidik, atau malah saksi-saksi palsu.
Jadilah saksi sukacita Injil yang sungguh mengenal dan merangkul Iman Katolik, sehingga kita berani untuk mewartakannya tanpa keraguan, apapun resikonya, bahkan sekalipun harus bermusuhan dengan seluruh dunia, atau malah harus kehilangan nyawa karena kesetiaan pada Iman Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan IV Paskah

image

KAMU DIPANGGIL UNTUK MEMELIHARA JIWA

Bacaan:
Kis.11:1-18; Mzm.42:2-3. 43:3.4; Yoh.10:1-10

Renungan:
Memiliki hati seorang gembala adalah tuntutan mutlak bagi siapapun yang diserahi tugas dari Allah untuk memelihara jiwa.
Ini adalah panggilan suci yang tak jarang berselubungkan misteri.
Coba bayangkan, Tuhan meminta kamu untuk memelihara jiwa. Sebenarnya, Ia dapat memilih siapa saja yang jauh lebih baik menurut ukuran manusia dibandingkan kamu, tetapi kenyataannya toh Ia justru memilih kamu, dengan segala kerapuhan dan keterbatasan.
Kalau demikian, apa artinya?
Artinya kamu senantiasa diingatkan untuk rendah hati, bahwa tugas dan kuasa kegembalaanmu sepenuhnya tergantung pada persatuan cintamu dengan Yesus Sang Gembala Baik, bersumber dari-Nya, menemukan makna di dalam-Nya, dan pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Bahwa tongkat kegembalaan yang diberikan itu untuk memelihara jiwa bukan membinasakan; untuk melayani bukan dilayani; untuk membawa pulang yang tersesat dan kehilangan kepastian, bukannya justru menyesatkan mereka dengan pemahaman iman yang keliru; untuk mencintai sampai terluka bahkan mati demi membela mereka, bukannya berdiri di pihak penguasa yang lalim; untuk mempersembahkan kurban Ekaristi setiap hari bagi keselamatan dunia, bukannya duduk dalam perjamuan pesta dan kemabukan dunia ini, sampai lupa memberi mereka makanan rohani pada waktunya; untuk menghabiskan waktumu di ruang pengakuan serta memberikan pengampunan dan menyembuhkan luka, bukannya menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau diganggu; untuk mengangkat tangan ke hadirat Allah setiap hari bagi mereka dalam doa, puasa, silih, mati raga, dan laku tapamu, bukannya sibuk menggunakan tangan itu untuk menghitung berapa banyak uang yang didapatkan dari dalam pundi-pundi derma.

Kesadaran para gembala untuk memelihara domba-dombanya semakin menjadi tuntutan yang mendesak di zaman ini, disaat Gereja berada pada masa paling suram dalam sejarahnya, disaat kehadiran dan kuasa si jahat semakin nyata dan lihainya untuk menjatuhkan jiwa-jiwa dalam jerat perangkapnya.
Gereja memerlukan para gembala yang benar-benar menjadi pintu menuju keselamatan, bukan pencuri dan perampok yang berjubah laksana malaikat terang.
Domba-domba yang setia dapat mengenali suara gembala yang sejati, karena gembala yang sejati memiliki hati yang mencinta. Getaran cinta yang dinyatakan dalam hidup dan karya sang gembala, sanggup memabukkan domba-dombanya dalam kuasa cinta, sehingga kemanapun sang gembala menuntun mereka, kesanalah mereka akan pergi, dalam kepercayaan penuh tanpa keraguan.

Dalam homilinya pada Hari Minggu Panggilan kemarin (26/04/15), Bapa Suci Paus Fransiskus mengingatkan para imam akan tugas suci ini:
Inilah makanan bagi Umat Allah; yakni bahwa khotbahmu tidak membosankan; bahwa homilimu menyentuh hati orang-orang karena berasal dari hatimu, karena apa yang kamu katakan adalah benar-benar apa yang ada dalam hatimu. Ketika kamu merayakan Misa, sadarilah sepenuhnya apa yang kamu lakukan. Jangan lakukan itu terburu-buru!
Jangan pernah menolak Baptisan untuk siapa pun yang memintanya! Dalam Sakramen Tobat, saya memintamu untuk tidak bosan berbelas kasihan. Dalam pengakuan dosa, kamu harus pergi untuk memaafkan, bukan untuk mengutuk! Teladanilah Bapa yang tidak pernah merasa lelah dalam memaafkan. Dengan Pengurapan Minyak Suci, kamu memberikan kelegaan bagi mereka yang sakit. Dengan merayakan ritual suci dan mengangkat tangan beberapa kali sehari dalam doa pujian dan permohonan, kamu menjadikan dirimu suara Umat Allah dan seluruh umat manusia.

Semoga di tengah krisis panggilan saat ini, seruan Sang Gembala Yang Baik boleh bergema di hati mereka yang diberi tugas suci untuk memelihara jiwa dan mengobarkan nyala api cinta dalam hati mereka, sekaligus menggerakkan hati siapapun yang dipanggil Tuhan ke dalam tugas suci ini, untuk menjawab panggilan-Nya dengan penuh sukacita.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan III Paskah

image

BERIMAN BAGI DOMBA-DOMBANYA

Bacaan :
Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9.16-17.20; Yoh.6:44-51

Renungan:
Kata-kata Tuhan Yesus yang kita renungan dalam bacaan hari ini, bukanlah sekadar perumpamaan biasa. Ketika Dia mengatakan bahwa Tubuh-Nya, yaitu Sakramen Ekaristi, adalah benar-benar makanan untuk beroleh hidup kekal, itu benar-benar realisme yang tidak memerlukan interpretasi atau penafsiran. Itu bukan kiasan atau perumpamaan. Tentu saja tanpa iman, kata-kata itu kehilangan makna. Seseorang haruslah beriman untuk bisa menemukan kebenaran misteri Ekaristi.
Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis.8:31)
Inilah panggilan Gereja, untuk membuat seluruh dunia mengerti, membimbing sebanyak mungkin orang untuk beriman dan mengambil bagian dalam harta terbesar yang dimilikinya, bukti cinta kasih Allah yang tak terbatas, yakni Ekaristi.
Selain itu, adalah penting juga untuk dimengerti bahwa tidak mungkin ada Ekaristi tanpa seorang Imam. Umat beriman senantiasa diingatkan untuk menghormati para imam, karena dari tangan kemurahan merekalah, kita menerima Ekaristi.
St. Josemaría Escrivá mengingatkan kita, “Seorang imam, siapapun dia, adalah selalu ‘Kristus yang lain’. Betapa kita harus mengagumi kesuci-murnian imamat! Itulah kekayaannya. Tidak ada satupun kekuasaan di dunia ini yang sanggup merenggut mahkota tersebut dari Gereja. Mencintai Tuhan namun tidak menghormati imam…adalah mustahil.”

Gereja saat ini berada dalam masa paling suram sejak berdirinya. Ada berbagai berbagai bentuk semangat zaman yang keliru, ada rupa-rupa penyesatan dari dalam maupun dari luar Gereja, yang mencoba membelokkan hidup beriman umat Allah dari jalan kekudusan, dari ketaatan mutlak pada kemurnian iman Gereja.
Itulah sebabnya, disaat Gereja sekarang ini berada dalam masa paling gelap dalam sejarahnya, di tengah krisis panggilan untuk menjadi seorang imam, seiring dengan itu muncul pula kebutuhan mendesak akan imam-imam yang sungguh beriman dan kudus.
Apakah ini suatu keharusan? Tentu saja.
Seorang imam pertama-tama haruslah menjadi seorang yang “mempertahankan iman” sebagaimana yang diimani oleh Gereja, seorang pribadi yang memiliki pergaulan mesra dengan Allah. Jika tidak demikian, segala karyanya akan menjadi sia-sia dan tidak berbuah. Melalui kemurnian imannya, dia dapat menghadirkan Allah dalam karyanya, dia dapat secara sempurna menjadi “alter Christi“. Bila seorang imam kurang beriman atau tidak setia pada ajaran Gereja, akan selalu ada kekurangan dalam karyanya. Menjadi lebih mendukakan lagi jika seorang imam kendati menyadari kemunduran rohani atau keadaan kurang ber-iman-annya, tetapi dengan sengaja mengharapkan Tuhan menyempurnakan apa yang kurang.
Tentu saja Tuhan dalam kerahiman-Nya sanggup melakukan hal itu, tetapi janganlah menambah luka pada Hati Kudus-Nya dengan kesengajaan yang demikian.

Seorang imam haruslah sungguh-sungguh menjadi seorang “Insan Allah“.
Ketika umat yang digembalakan sungguh-sungguh merasakan bahwa imam mereka adalah seorang Insan Allah, dalam diri mereka yang beriman itu berkobarlah sukacita Injil, bahwa pengharapan tidaklah mengecewakan, karena mereka melihat itu menjadi kenyataan, melalui hidup dan karya imam terkasih mereka.
Keseluruhan hidup beriman Gereja adalah “iman bersama“, bukan personal. Itulah sebabnya, hidup beriman para kudus yang telah mendahului kita, saudara-saudari seiman kita, dan terutama bercahaya dalam diri para imam kita, sangatlah penting agar “iman bersama” itu dapat tumbuh serta berbuah baik.
Sebenarnya, dapat pula dikatakan bahwa iman umat begitu bergantung pada iman dari para imam mereka.
Iman umat seringkali lebih rentan terhadap pencobaan, karena iman mereka sebenarnya atas satu dan berbagai cara, mendapat peneguhan dari dan dalam kebersamaan dengan hidup beriman para imam mereka.
Jika iman dari para imam kuat, demikian juga iman umat gembalaan mereka. Ibarat prajurit, umat tidak akan ragu melangkah ke dalam pertempuran, kendati lawan jauh lebih banyak, karena mereka memandang keberanian panglima perang mereka, yakni para imam, dan mereka menemukan kekuatan untuk bertempur melawan si jahat, karena melihat tidak ada ketakutan dalam diri para imam mereka.
Oleh sebab itu, setiap saat, 24 jam sehari, dan dalam situasi apapun, seorang imam dituntut untuk memiliki hidup beriman yang baik, melebihi domba-domba gembalaannya.
Dia harus memiliki hidup doa, puasa, laku tapa dan mati raga melebihi umatnya, sehingga dia dapat berdiri sebagai benteng perlindungan yang aman bagi umatnya, serta melindungi domba-dombanya dari kawanan serigala dan pencuri.
Kerinduannya untuk memenangkan jiwa-jiwa, haruslah jauh melebihi kerinduan umatnya.
Air mata dan silih yang dilakukannya bagi pertobatan dunia, haruslah tercurah lebih banyak dibandingkan air mata seorang ibu bagi pertobatan anaknya.
Dalam terang Ekaristi, dia hendaknya juga melihat hidupnya sebagai “Roti Hidup” (Yoh.6:48), seorang rasul Ekaristi, yang memecah-mecahkan dirinya, untuk “memberi mereka makan pada waktunya” (bdk.Mat.24:45; Mat.14:16).
Dia harus mengimani apa yang Gereja imani tanpa keraguan, agar dia dapat membimbing kawanan domba yang sesat untuk kembali ke pangkuan Gereja.

Seorang imam tentu saja harus dengan rendah hati mengakui bahwa sebagaimana benih panggilan, iman juga tidak dapat muncul seketika.
Iman harus dihidupi dan bertumbuh seiring dengan semakin mesranya pergaulan seorang imam dengan Allah.
Jangan pernah mengorbankan hidup doa demi karya pastoral, dan jangan pernah pula mengharapkan buah yang baik dalam karya pastoral tanpa doa.
Kesucian tanpa doa adalah mustahil, tidak ada kesucian semacam itu.
Seorang imam dapat mengajar dalam bahasa malaikat, mendirikan sekolah dan rumah sakit, membela hak-hak kaum miskin dan terpinggirkan, melawan rezim yang korup atau menjadi penasihat negara sekalipun, tetapi jika melupakan panggilan dasarnya sebagai seorang imam yang sungguh-sungguh beriman, bila kehilangan kasih dan hidup doa, semua pemberian diri dan karya pastoralnya itu sia-sia dan tak bernilai di mata Allah. Orang yang tidak beriman dan kafir pun bisa melakukan hal yang sama.
Umat beriman dapat merasakan apakah karya pastoral, pelayanan sakramental, dan pewartaan sabda seorang imam bersumber dari hidup doa yang tekun di hadirat Allah, atau hanya berasal dari rancangan manusia belaka dari balik meja kerjanya.
Semoga Allah senantiasa membangkitkan dalam diri para imam, kerinduan akan Dia, ketekunan dalam doa dan merenungkan Sabda-Nya, kesetian untuk mempersembahkan Misa bagi dunia, dan semangat yang berkobar untuk bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Semesta Alam.

NB:
Hari ini Bapa Suci Paus Fransiskus merayakan Pesta Nama Baptisnya (St. Georgius yang diperingati setiap 23 April). Mari kita mendoakan kesehatan Bapa Suci dan bagi intensi-intensinya di bulan ini.
Bersama Prelatur Opus Dei, kita juga memperingati Komuni Pertama (23 April 1912) dari Bapa Pendiri mereka, St. Josemaría Escrivá. Mari kita berdoa bagi para Imam Karya Allah dimanapun berada, agar mereka dapat mempersembahkan Misa Kudus setiap hari dengan setia, serta membawa umat Allah pada kerinduan dan penuh hormat untuk menerima Komuni Kudus setiap hari.

Pax, in aeternum.
Fernando