Meditasi Harian 27 November 2016 ~ MINGGU I ADVENT

BERJAGA DALAM IMAN

Bacaan:

Yes.2:1-5; Mzm.122:1-2.4-5.6-7.8-9; Rm.13:11-14a; Mat.24:37-44

Renungan:

Berjaga-jaga adalah sikap beriman, yang senantiasa diharapkan Bunda Gereja dari putra-putrinya. Bacaan kitab suci di awal Masa Advent ini mengingatkan kita, akan satu kenyataan eskatologis dari awal Tahun Liturgi ini. Advent bukan hanya masa persiapan, akan perayaan kenangan kedatangan Tuhan yang pertama di Hari Raya Natal. Akan tetapi, kita juga hendaknya selalu membawa kesadaran, bahwa tempat kediaman kita di dunia ini hanyalah sementara. Maka, Advent juga merupakan masa penantian, yang mengingatkan kita untuk menantikan dengan rindu, akan kedatangan Tuhan kita kedua kalinya pada akhir zaman (Parousia).

Oleh karena itu, “Berjaga-jagalah!(Mat.24:42). Kendati hari dan waktunya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi pasti hari dan waktu Tuhan itu akan tiba. Berbahagialah mereka yang senantiasa menantikan dengan rindu, akan kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus. Malanglah mereka yang didapati tidak siap, bermalas-malasan, dimabukkan oleh kesementaraan dunia, bersikeras hidup dalam dosa. Kesiap-sediaan dalam Iman membuahkan kekudusan hidup, dan semangat untuk menanti dengan hati yang mencinta, ibarat pelita yang menerangi jiwa. Ketidaksiap-sediaan mendatangkan ketakutan, yang timbul sebagai akibat dosa, dan bersumber dari si jahat yang menggelapkan jiwa. Itulah sebabnya dalam Injil kita dapati adanya 2 sikap dalam menantikan Tuhan. 

Sama seperti di zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia (bdk.Mat.24:37). Sebagai putra-putri Advent, kita tidak hanya diingatkan untuk mempersiapkan diri kita sendiri, melainkan juga berusaha segiat-giatnya lewat karya kerasulan kita, untuk membawa sebanyak mungkin orang pada keselamatan dari Allah, pada sukacita Injil. Wartakanlah kepada para bangsa: “Sungguh, Allah Penyelamat kita akan datang” (Antifon Vesper I Minggu I Advent) .

Tentu saja di dalam Yesus Kristus, kita akan selalu menemukan wajah belas kasih Bapa. Akan tetapi, belas kasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan dan kebenaran. Kasih sejati tidak akan pernah membenarkan kekerasan hati untuk hidup dalam dosa. Memang benar bahwa Allah adalah Kasih, tetapi jangan pernah lupa bahwa Dia juga adalah Hakim Yang Adil. Untuk itu milikilah senantiasa hati yang remuk redam dalam pertobatan. Inilah saatnya kita lebih merefleksikan hidup kita. Di awal Tahun Liturgi ini, mulailah untuk lebih bijak mempersiapkan dirimu bagi kekekalan. Semoga pada saatnya nanti, di saat kita akhirnya berdiri di depan Tahta Pengadilan Allah, kita didapatinya telah menjalani hidup yang ditandai dengan kesiap-sediaan, berjaga-jaga dalam doa dan karya, yang bagaikan persembahan harum dan berkenan di hadapan-Nya. Maka, dengan pandangan-Nya yang adil, kita akan menemukan ganjaran kemuliaan bersama para kudus di Surga. 

Santa Perawan Maria, Bunda Pengharapan dan Putri Advent yang sejati. Bimbinglah kami anak-anakmu, untuk senantiasa meneladani kesiap-sediaanmu, dalam menanggapi undangan keselamatan dari Allah, agar kami pun boleh didapati setia sampai akhir.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 13 Januari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa I

image

KERASULAN NOL BESAR

Bacaan:
1Sam.3:1-10.19-20; Mzm.40:2.5.7-8a.8b-9.10; Mrk.1:29-39

Renungan:
Disadari atau tidak, Allah telah memberi dalam hati setiap orang suatu luka cinta. Luka ini begitu istimewa, sebab luka ini memurnikan cinta dan sanggup menghanguskan jiwa, tetapi sekaligus pula mendatangkan sukacita tak terkatakan, karena menumbuhkan dalam jiwa kita suatu kerinduan untuk senantiasa mencari Dia.
Semua orang mencari Tuhan“. (bdk.Mrk.1:37)
Demikianlah diungkapkan oleh St. Markus dalam bacaan Injil hari ini. Kalimat sederhana dan begitu kuat ini seharusnya membuka mata iman kita, untuk menyadari keluhuran panggilan kita sebagai rasul-rasul Kristus.
Kita dipanggil bukan hanya mencari Tuhan dalam peziarahan iman kita. Hidup kita seharusnya ibarat buku yang terbuka, yang bercerita tentang Kristus secara benar dan otentik.
Orang-orang harus menemukan pengenalan yang sejati akan Kristus melalui kita, para pengikut-Nya, yaitu anda sekalian dan saya.
Jangan menjalani hidup Kristiani secara sia-sia, jangan “menahan diri atau membiarkan bibirmu terkatup” (bdk.Mzm.40:9-10).
Hidupmu seharusnya “menceritakan Kristus“.
Sebagaimana kamu dikenal, demikianlah Kristus dapat dikenal.
Maka, bilamana dunia mendapatkan gambaran atau pengenalan yang keliru tentang siapa Kristus itu, dan memilih berdiam dalam kegelapan ketimbang mendekati cahaya sejati yang dibawa-Nya, itu seringkali disebabkan karena para pengikut-Nya, mereka yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, telah gagal menghadirkan Dia dalam hidup dan karya mereka. Kegagalan itu bersumber dari kurangnya kesadaran akan landasan utama dari semangat kerasulan itu sendiri, yaitu Doa.

Berbeda dengan kebohongan yang ditanamkan oleh “si jahat” (Bapa segala dusta), setiap orang beriman yang ingin berbuah dalam karya kerasulan, apapun itu, perlu memahami kenyataan berikut ini.
Kerasulan tanpa Doa itu “0” besar. Tidak ada omong kosong seperti itu.
Anda tidak akan pernah menjadi seorang rasul Kristus yang suci tanpa doa.
Tidak mungkin menyebut diri seorang rasul Kristus, namun tenggelam dalam kesibukan karya kerasulan tersebut sampai lupa atau enggan menjadikan doa sebagai prioritas utama. Anda haruslah menjadi seorang rasul Kristus yang pertama-tama mencintai Misa Kudus, tekun mendoakan Brevir, dengan Rosario di tangan dan Salam Maria didaraskan, dengan puasa dan laku tapa, dengan melakukan mati raga dan silih, dengan mendengarkan Dia dalam Lectio Divina, dan berbagai bentuk doa lisan maupun batin lainnya. Lakukanlah itu dengan hati dan ketekunan yang suci, agar tidak jatuh dalam kejenuhan dan rutinitas.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang di tengah kesibukan-Nya untuk memaklumkan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, tidak pernah lupa untuk pergi ke tempat sunyi dan “berdoa” (bdk.Mrk.1:35).
Kalau Tuhan Yesus sendiri menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan bagian penting dalam Hidup dan Karya-Nya, bagaimana mungkin kamu tidak demikian?

Panggilan untuk berdoa sama sekali bukan berarti meninggalkan karya kerasulan, atau mengabaikan dunia dengan menjadi pertapa. Tidak semua dipanggil untuk menjadi pertapa dalam kesunyian suci yang demikian. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi pendoa, seorang insan Allah, sehingga sekalipun melangkah di tengah dunia, mata batin kita senantiasa terarah ke surga, karya kerasulan kita menjadi ibarat siraman air yang membasahi tanah di sepanjang perjalanan dan memberi hidup.
Jangan pernah lupa bahwa ada nilai adikodrati dari segala karya kerasulan kita. Belajarlah dari semangat suci para misionaris di masa lalu. Mereka melakukan berbagai karya kerasulan, pertama-tama dan terutama adalah untuk memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, bukan sekadar berbuat kebaikan tanpa nilai adikodrati. Sebab jikalau demikian, maka karyamu itu tidak ubahnya seperti yayasan amal, NGO, atau organisasi sosial karitatif sekuler yang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
Jangan pernah lupa bahwa kamu dipanggil untuk menghadirkan Kristus, menjala manusia ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Itulah Misimu!

Mempunyai rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik, mendirikan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang paling unggul, mencanangkan program kerja yang sangat sistematis dan terukur untuk mensejahterakan umat, berada dalam komunitas yang aturan hidupnya disusun sedemikian rupa dan membanggakannya dalam idealisme yang keliru, bahkan bila kamu membangun rumah tangga dan membesarkan keluarga dengan pengetahuan akan psikologi maupun ekonomi rumah tangga yang cemerlang sekalipun, semuanya itu “NOL BESAR” tanpa “DOA“.
Anda boleh saja melabeli segala karya kerasulan itu dengan menambahkan kata “Katolik“, entah di depan atau di belakang, tetapi semuanya itu tidak akan menghasilkan buah bagi karya kerasulan yang sejati tanpa doa.
Kerasulan yang “memenangkan jiwa-jiwa” adalah kerasulan yang dilandasi doa.

Saat ini kita menyaksikan begitu banyaknya institusi (pernikahan, keluarga, komunitas, sekolah, rumah sakit, ordo, dll.) yang dalam kepongahannya berbangga memakai label “Katolik“, tetapi tidak punya keberanian untuk mengangkat tinggi-tinggi Salib; jatuh dalam kenyamanan dan kelekatan duniawi, mengalah pada desakan arus zaman, kehilangan kewarasan untuk berakar dalam doktrin dan ajaran sosial Gereja, tumpul hati dan tidak tergila-gila untuk mewartakan iman secara berani dan otentik; mengabaikan tugas suci untuk menghasilkan baptisan-baptisan baru yang teruji; tak peduli dan mengabaikan kewajiban untuk mewariskan iman kepada putra-putrinya, agar mereka kemudian tidak ragu-ragu menampilkan identitas ke-Katolik-an secara “benar” dan “tepat” dalam situasi sesulit apapun, termasuk pada kemungkinan merangkul kemartiran karenanya.
Inilah realita pahit dari hidup kekristenan saat ini yang mendesak untuk disikapi.
Kalau tidak, pada akhirnya dari institusi-institusi itu anda mungkin menghasilkan darinya manusia-manusia yang berkualitas menurut ukuran dunia, tetapi mereka bukanlah insan-insan Allah, kekurangan kesadaran untuk memandang Allah dalam keterpesonaan Cinta, dan kekurangan kehausan akan jiwa-jiwa.
Tidak turut berduka bersama dukacita Allah. Tidak meratapi apa yang diratapi Dia, tidak merindukan apa yang dirindukan-Nya, tidak mengingini apa yang diingini-Nya, tidak menolak apa yang dibenci-Nya, tidak mengasihi apa yang dikasihi-Nya.
Hidup keKristenanmu hanya akan menjadi kesaksian yang benar-benar hidup, otentik dan meyakinkan apabila engkau terlebih dahulu adalah seorang pendoa.

Kekudusan tanpa doa? Aku tidak percaya akan kekudusan semacam itu. Jika engkau bukan seorang pendoa, aku tidak percaya akan ketulusan niatmu saat engkau mengatakan bahwa engkau bekerja untuk Kristus.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá, seorang Kudus besar, yang telah mengajarkan kita jalan suci tersebut setelah lebih dahulu melakukannya.
Jika kamu merasa sulit mengikuti hidup Kristus dan tuntutan-tuntutan Suci dari Injil-Nya, itu karena engkau tidak melakukannya di dalam doa.
Karena itu, bertekunlah dalam doa. Dalam kekeringan rohani dan situasi seburuk apapun, bertekunlah dalam doa. Doa selalu membuahkan hasil. Bahkan jika kamu tidak tahu bagaimana caranya mulai untuk berdoa, atau apa yang harus dikatakan, bilamana kamu dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Allah, maka Hati-Nya pasti tergerak oleh belas kasihan, dan lihatlah betapa terkagum-kagumnya kamu nanti saat menyaksikan dan menyadari gerakan cinta Tuhan yang dengan penuh kelembutan menarikmu kepada-Nya. Dia sendiri yang akan mengajarimu berdoa.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” (1Sam.3:10)
Serviam! Serviam! Serviam!

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu Tuhan dan Ibu kita, menuntun putra-putri Gereja pada pengenalan dan persatuan sempurna dengan Putra-nya dalam doa, serta menyertai kita dalam karya kerasulan untuk membawa api yang sanggup menghanguskan seluruh dunia dalam kobaran Nyala Api Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 9 Oktober 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XXVII

image

KALAHKANLAH SI JAHAT !

Bacaan:
Yl.1:13-15 & 2:1-2; Mzm.9:2-3.6.16.8-9; Luk.11:15-26

Renungan:
Kejahatan itu bukan sekadar suatu kenyataan, melainkan pribadi yang benar-benar ada. Bukan sekadar realitas, melainkan entitas. Meskipun terkadang dapat disalah mengerti dengan penyakit-penyakit zaman ini, Si Jahat bukanlah sekadar sejenis penyakit yang tidak bisa dijelaskan pada situasi, tempat atau, keadaan dimana manifestasinya terjadi.
Dia adalah pribadi yang nyata, yang dengan racun kedosaannya telah merusak relasi umat manusia dengan Allah, dan menjadi akar penyebab rupa-rupa kemunduran beriman, kerusakan, peperangan, penderitaan, serta berbagai bentuk kejahatan di segala zaman.
Dengan berbagai cara ia melawan Allah, dan bekerja untuk menggagalkan maksud-maksud Allah.
Di sepanjang sejarah kemanusiaan, Si Jahat ini dikenal dengan berbagai nama: Beelzebul, setan, bapa segala dusta, pangeran kegelapan, iblis, lucifer, ho diabolos, si pendakwa, penguasa dunia, hanyalah sebagian dari sekian banyak namanya.

Tidak hanya dalam Injil Lukas yang kita baca hari ini, di berbagai bagian dalam Kitab Suci kita diyakinkan akan adanya konflik besar antara kekuatan Allah dan kebaikan di satu pihak, melawan kejahatan di bawah pimpinan iblis di pihak lain.
Tak dapat diragukan betapa hebat dan sengitnya peperangan itu. Untuk menekankan kengeriannya, St. Petrus Rasul, Paus Pertama kita, mengatakan bahwa Iblis “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Ptr.5:8). Demikian pula St. Paulus Rasul memperingatkan kita akan kelicikan si jahat yang dengan begitu lihainya “menyamar sebagai malaikat Terang” (bdk.2Kor.11:14).
Dalam hidup para kudus kita tahu bahwa mereka pun dicobai iblis dengan begitu nyata, dan merekantelah keluar sebagai pemenang atasnya.
Maka, sangatlah disayangkan bahwa kesadaran akan eksistensi si jahat di zaman sekarang ini dianggap oleh banyak orang, termasuk oleh sebagian orang di dalam Gereja, sebagai suatu kebodohan dan berbau tahyul, bagian dari film dan kisah novel yang fiksi belaka.

Dalam keprihatinan akan sikap acuh tak acuh demikian, Beato Paus Paulus VI kemudian mengatakan, “Janganlah jawaban kami ini mengejutkan anda karena terlalu sederhana dan bahkan berbau tahyul atau tidak nyata: Salah satu kebutuhan yang terbesar adalah pertahanan dari yang jahat yang disebut Iblis…Kejahatan itu bukan hanya kekurangan sesuatu, tetapi suatu perilaku yang aktif, suatu makhluk rohani yang sudah rusak dan menjadikan orang rusak. Suatu kenyataan yang mengerikan…Sangatlah berlawanan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja bila ada yang menolak untuk mengakui adanya kenyataan ini…atau yang menerangkannya sebagai suatu kenyataan semu, suatu personifikasi yang berangan-angan dan terkonsep untuk sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita…Masalah Iblis dan pengaruh yang dapat ditimbulkannya pada perseorangan dan juga pada komunitas, masyarakat, dan peristiwa merupakan suatu bab yang sangat penting dari doktrin Katolik, yang hanya sedikit sekali diperhatikan saat ini…Sebagian orang mengira bahwa kompensasi yang cukup mengenai hal itu dapat diperoleh pada studi psikoanalitik dan psikiatrik atau dalam pengalaman-pengalaman spiritual…Orang takut untuk jatuh dalam teori Manikeanisme lagi atau dalam penyimpangan yang menakutkan dari bayangan dan tahyul. Dewasa ini orang lebih cenderung tampil dengan kuat dan tidak berprasangka…Doktrin kita menjadi tidak pasti, gelap seperti adanya kegelapan yang meliputi iblis.” (Pope Paul VI, L’Osservatore Romano, November 23, 1972)

Salah satu tugas perutusan Gereja adalah untuk menyadari eksistensi si jahat, dan memeranginya dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.
Ini adalah peperangan iman yang harus disadari oleh putra-putri Gereja. Berdirilah di tempat yang tepat.
Seseorang tidak dapat memihak Allah dan disaat bersamaan bersepakat dengan Setan dengan segala perbuatannya.
Tidak mungkin menyebut diri putra-putri Allah dan seorang Katolik sejati, tetapi di saat bersamaan menggunakan kontrasepsi, menyetujui hukuman mati, melakukan aborsi dan membenarkan euthanasia, menebar kebencian dan permusuhan, menjadi budak seks dan narkotika, mengakui pernikahan sesama jenis dan rekayasa genetika, berpegang pada jimat, melakukan praktik sihir dan guna-guna, percaya pada ramalan, serta berbagai bentuk tipu daya si jahat lainnya.

Maka, siapapun yang hendak berdiri di pihak Allah, haruslah dengan tegas menolak setan dengan segala perbuatannya.
Tidak boleh beriman setengah-setengah. Berimanlah sepenuhnya atau tidak sama sekali.
Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Lukas.11:23)
Kita dipanggil untuk menyadari peperangan iman ini dan memenangkannya bersama Tuhan.
Sebab setan, demikian ujar Sri Paus St. Gregorius, tidak memiliki apa-apa di dunia ini, dan dia maju ke medan pertempuran dalam keadaan telanjang. Jika engkau dengan ‘mengenakan segala pakaian duniawi’ berperang melawan setan, maka engkau akan segera tersungkur ke tanah, sebab Engkau mengenakan sesuatu yang dapat dicengkeram olehnya.” (St. Josemaría Escrivá)

Sebagaimana si jahat mencobai Tuhan Yesus, kita pun harus selalu mewaspadai kehadirannya, yang meskipun seringkali tidak begitu kentara dan tersembunyi dengan begitu cerdiknya, tetapi selalu ada di balik berbagai peristiwa hidup beriman kita.
Lawanlah si jahat dengan imanmu, dengan doa-doamu, dengan hidupmu yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.
Doa Agung yang diajarkan oleh Tuhan kita pun dengan jelas mengajak kita untuk berani meminta Bapa agar “membebaskan kita dari segala yang jahat.
Putra-putri Gereja hendaknya bercahaya untuk mengenyahkan kegelapan, mengusir setan dengan segala kuasanya, dan menyatakan hadirnya Kerajaan Allah di tengah dunia.
Jangan Takut!
Jika Tuhan di pihak kita, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Di saat ini, berdoalah juga bagi Gereja Kudus, khususnya bagi Sinode Keluarga yang masih sementara berlangsung di Roma. Si jahat saat ini mencoba menyerang Gereja dengan melemahkan serta merusak kesejatian Keluarga dan Sakramen Pernikahan. Ini nyata dari usaha sebagian pihak untuk merubah Ajaran Gereja mengenai itu.
Ada usaha pula untuk memaklumkan dosa pribadi dan sosial di balik selubung Teologi mengenai Kerahiman Tuhan, namun ternyata memiliki kemiripan yang sesat dari gagasan serupa di masa Reformasi.
Semoga Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa (Uskup) Sinode Keluarga ini, senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus, sehingga buah-buah Sinode nantinya, dapat menjadi senjata Iman Gereja Katolik dalam mengalahkan niat-niat si jahat yang ingin merusak keutuhan Keluarga dan Sakramen Pernikahan.
Pandanglah Salib Tuhan, disanalah kamu akan selalu menemukan kekuatan untuk melawan si jahat.
Pada akhirnya, kejahatan akan dikalahkan oleh kuasa Allah.
Bersama Santa Perawan Maria, marilah kita menjadi rasul-rasul doa, dengan mendaraskan Rosario Suci, sebagai senjata ampuh untuk mengenyahkan kegelapan dunia ini.
Berperanglah, bercahayalah, dan rebutlah sebanyak mungkin jiwa dari genggaman si jahat, demi kemuliaan Allah.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 8 Oktober 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XXVII

image

MILIKILAH SIKAP TIDAK TAHU MALU YANG SUCI

Bacaan:
Mal.3:13-20a; Mzm.1:1-2.3.4.6; Luk.11:5-13

Renungan:
Persatuan yang tetap dengan sesama melibatkan badan, sedangkan persatuan yang tetap dengan Tuhan melibatkan renungan jiwa dan persembahan doa,” demikian kata St. Isaac dari Syria.
Para murid Yesus menyadari bahwa untuk berhubungan dengan Allah dan memiliki kemesraan dengan-Nya, mereka hanya bisa mendapatkannya dalam doa. Tuhan Yesus pun kemudian mengajari mereka bagaimana harus berdoa. Ia mewahyukan doa “Bapa Kami“, yang merupakan awal baru dari cara umat beriman bersikap dan menyapa Allah dalam doa. Bahwa Allah adalah Bapa kita, dan kita semua adalah anak-anak-Nya.
Senada dan sebagai kelanjutan dari pewahyuan itu, dalam Injil hari ini kita diajak untuk berkanjang dalam doa.
Kunjungan di waktu malam dan ucapan-ucapan yang mengikutinya merupakan anjuran tegas bagi kita semua untuk bertahan dalam doa.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk.11:9)
Allah selalu menjawab doa kita Meskipun mungkin tidak sesuai dengan jalan yang kita harapkan, atau mungkin kita tidak menyukai jawaban yang kita terima, satu hal yang pasti, yakni bahwa Allah selalu menjawab doa kita.

Dalam Injil hari ini, kita pun boleh melihat sejenak kedalaman hati Allah yang penuh belas kasih.
Seakan Tuhan merasa perlu menjelaskan tindakan-Nya, untuk menjawab pernyataan banyak orang mengenai doa-doa mereka yang tak terjawab, atau hidup mereka yang sengsara dan dipenuhi kemalangan, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mempedulikan perkara dan kehendak Tuhan, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Maleakhi (bacaan pertama).
Meskipun tidak secara langsung, Tuhan memberi gambaran yang sungguh manusiawi untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian, dengan memberi contoh sahabat yang tidur, seorang Bapa yang tidak akan memberi ular atau kalajengking saat anaknya minta ikan atau telur.
Tuhan yang Ilahi, mendekati kita secara insani.
Maka, hilangkanlah bayangan atau pemikiran bahwa Allah itu kejam, tidak peduli, tidak menjawab, keras hati, apalagi mencelakakan. Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi kita, jauh melebihi mereka yang paling mengasihi kita.
Bahkan lebih lagi, Ia memberikan Roh-Nya sendiri, bagi siapapun yang merindukan dan meminta-Nya.

Setan tahu dan iri akan kebaikan Allah itu. Si jahat sungguh tahu betapa baiknya, betapa luas dan dalamnya belas kasih yang berasal dari Hati Allah.
Karena itu, dengan berbagai cara, dan melalui rupa-rupa situasi hidup yang menyulitkan dan mendukakan, ia berusaha keras membisikkan kata-kata dusta bahwa Allah tidak mengerti atau peduli.
Jangan biarkan si pendusta itu menang dan menghentikanmu beriman, berharap, serta mencinta. Tetaplah berdoa dengan penuh sukacita.

Semua hal yang mudah didapat, akan mudah hilang. Doa yang selalu mudah terjawab, justru jika tidak disikapi secara bijaksana dapat mencelakakan, tidak disyukuri, dan tidak menumbuhkan cinta.
Itulah sebabnya, Tuhan menjawab kita seturut cinta kita kepada-Nya. Sentuhlah Hati-Nya dengan hatimu. Biarkanlah Dia melihat betapa kamu sungguh merindukan persatuan cinta dengan-Nya. Jika engkau tidak berusaha, engkau tidak akan menemukan-Nya; dan jika engkau tidak mengetuk pintu dengan kuat, disertai rasa tidak tahu malu untuk menunggu di depan pintu tanpa mempedulikan waktu; maka pintu itu tidak akan terbuka dan engkau tidak akan menemukan jawaban.

Sebagaimana berulang kali kukatakan bahwa kesejatian doa itu bukan soal meminta, melainkan mencinta.
Maka, di balik semua permintaan dan air matamu dalam doa, kiranya Tuhan menemukan hati yang mencinta.
Hati yang akan tetap mencinta sekalipun yang diminta seolah tak pernah diberi. Mempelai yang akan tetap mencari Tuhan, sekalipun Sang Kekasih Jiwa seolah tidak mau memperlihatkan Wajah Kudus-Nya. Jiwa yang akan tetap mengetuk, sekalipun diusir berulang kali dan seolah pintu tidak akan pernah dibukakan.
Pada akhirnya, pasti akan tiba saatnya dimana permohonan berhenti, pencarian berakhir, ketukan pintu tidak diperlukan lagi, karena Penguasa Rumah telah turun mendengar, Dia telah datang memperlihatkan Diri-Nya, membukakan pintu, dan mempersilakanmu masuk dalam kebahagiaan kekal bersama Dia. Dan kemudian…Airmatapun mengalir.

Semoga Perawan Suci Maria, sebagai yang pertama mengalami sukacita demikian di antara semua ciptaan, akan menghantar kita semua pada persatuan cinta yang sama, agar sama seperti dia, kita pun akan memandang Allah dan berseru, “Ya Tuhanku…Ya Allahku…Ya Segalaku…Ecce ancílla Dómini, fiat mihi secúndum verbum tuum.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 7 Oktober 2015 ~ Pesta Santa Maria Ratu Rosario Suci

image

DOA MENGUBAH SEGALANYA

Bacaan:
Kis.1:12-14 atau Yun.4:1-11; Mzm.86:3-6.9-10; Luk.1:26-38 atau Luk.11:1-4

Renungan:
Doa selalu sanggup mengubah segala sesuatu. Pertempuran di Lepanto adalah salah satu dari sekian banyak bukti kuasa doa, terutama doa Rosario. Bagaimana dalam keadaan dimana kemenangan seolah mustahil, armada Kristen yang kalah jumlah dapat mengalahkan armada Kesultanan Turki, tepat pada tanggal 7 Oktober 1571.
Itulah sebabnya, sebagai rasa syukur, hari ini dan sepanjang bulan ini, dipersembahkan oleh Gereja Kudus kepada St. Maria Ratu Rosario Suci.
Karena doa Rosario dan ke-pengantara-an Maria, Tuhan Allah berkenan menganugerahi umat beriman kemenangan dan sukacita di dalam Dia.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi-Nya. Seringkali rahmat Tuhan itu semakin dirasakan justru dalam peristiwa-peristiwa paling menyulitkan, paling mendukakan, paling mencekam dalam hidup kita.
Dalam keadaan dimana segala daya upaya manusia seolah tak membuahkan hasil, pada waktu itu roh yang dihembuskan ke dalam jiwa kita sewaktu penciptaan berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan, membuat jiwa semakin rendah hati untuk berlutut dalam doa dengan tangan terentang ke atas, dengan pandangan ke arah salib, untuk memohon belas kasih Allah.

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam. Yang senantiasa berseru, “Abba – Bapa“. Bahwa kita boleh menyapa Allah sebagai Bapa, itupun seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, yang memberanikan kita untuk menapaki padang gurun dunia ini. Suatu keyakinan bahwa Bapa tidak mungkin menelantarkan anak-Nya, apalagi membiarkannya binasa.
Di dalam Dia, tidak ada doa yang dibiarkan tak terjawab. Entah jawabannya, “Ya“, “Tidak“, atau “Belum Saatnya“, Tuhan selalu mendengarkan dan menjawab doa kita.

Akar kerisauan kita, ketidakmengertian kita, maupun kesulitan kita untuk menerima jawaban Tuhan, sebenarnya bersumber dari kegagalan kita untuk berlaku sebagai seorang anak.
Kita menyapa Dia “Bapa“, namun itu tidak disertai dengan cinta bakti sebagaimana layaknya seorang “Anak“.
Kita berteriak memanggil Dia “Bapa“, tetapi dalam hidup harian tak jarang kita tidak berlaku sebagaimana seharusnya seorang “Anak.”
Meminta pengampunan, tetapi tidak mau mengampuni; meminta pertolongan, tetapi tidak pernah menolong; meminta rezeki, tetapi tidak pernah memberi, apalagi untuk memberi dari kekurangan; meminta keselamatan jiwa sendiri, tetapi tidak mau merasul untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa sesama; mengharapkan hujan berkat, tetapi menutup keran berkat bagi orang lain; meminta kekudusan, tetapi dengan tahu dan mau berulang kali jatuh dalam dosa yang sama; mengarahkan pandangan ke surga, tetapi tidak mau peduli untuk mengajak orang lain agar mengarahkan pandangan yang sama ke surga, malah lebih jahat lagi, turut serta menjadi rekan kerja si jahat, dan menyeret sesamanya ke dalam jurang kebinasaan, ke dalam kegelapan kekal.

Maka, sebenarnya doa tidak pernah tak terjawab. Doa itu selalu terjawab. Bagaimana kita memahami jawaban Tuhan, sangat ditentukan oleh relasi pribadi kita dengan Dia. Suatu relasi mesra, sebagaimana dimiliki oleh Ibu kita, Maria.
Keterpesonaan cinta yang memampukan Maria dalam segala situasi hidup, seberat apapun itu, bahkan sekalipun diselubungi awan ketidakmengertian, namun Maria tetap bersukacita dan berseru, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk.1:38)

Maria adalah teladan kerasulan doa. Dia tidak hanya menjadi teladan para guru rohani di puncak gunung kemuliaan, melainkan terlebih merupakan teladan bagi mereka yang baru mulai menapaki pendakian rohani menuju Allah. Lewat lereng dan lembah hidup, selama engkau melangkah dengan Rosario di tangan, Salam Maria didaraskan dari bibirmu, dan asalkan kamu sungguh mau merendahkan diri untuk dibentuk Tuhan, maka perjalananmu dalam doa perlahan-lahan akan mulai memurnikan dan membawa jiwamu pada kesempurnaan.
Jangan pernah mau dibodohi oleh si jahat untuk berhenti berjalan naik, untuk berhenti mendaki dalam doa. Rosario adalah senjata yang sangat ampuh mengalahkan setan dan segala kuasa jahatnya. Doa Rosario itu semakin bernilai apabila dilakukan dalam kekeringan dan ketiadaan niat untuk berdoa. Oleh karena itu, berdoalah senantiasa.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam.

Dengan meneladani dan memiliki cinta yang sempurna seperti Maria, yang mencari kehendak Tuhan siang dan malam, setiap orang beriman pada akhirnya akan menyadari bahwa sejatinya doa itu bukanlah soal meminta, melainkan “mencinta“.
Pada saat engkau menyadari itu, pada waktu itulah mata rohanimu akan terbelalak karena menyadari bahwa “Sungguh…doa mengubah segala sesuatu.
Suatu kesadaran yang disertai keheningan dalam kekaguman serta rasa syukur.

Semoga doa yang diajarkan oleh Tuhan kita, tidak hanya memberanikan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, melainkan juga menyadarkan kita untuk sungguh bersikap sebagaimana layaknya seorang anak.
Dan kiranya St. Maria Ratu Rosario Suci membimbing kita dengan tuntunan kasih keibuannya, agar di Bulan Rosario ini kita menjadi pribadi, keluarga, dan komunitas yang berdoa.
Semoga Salam Maria yang kita daraskan menjadi rangkaian bunga mawar yang indah di Tahta “Abba – Bapa” kita.
Tetaplah berdoa bagi Sinode Keluarga, yang kini memasuki hari-4, dan mohonkanlah karunia pertobatan dan doa bagi semua orang, khususnya mereka yang masih bersikeras mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa, tanpa Tuhan.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 6 Oktober 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXVII

image

SELALU ADA WAKTU UNTUK TUHAN

Bacaan:
Yun.3:1-10; Mzm.130:1-2.3-4ab.7-8; Luk.10:38-42

Renungan:
Selama ratusan tahun, bacaan Injil hari ini kerap kali digunakan untuk membandingkan dua bentuk kehidupan beriman dalam Gereja Katolik. Marta melambangkan hidup aktif, sedangkan Maria melambangkan hidup kontemplatif.
Suatu pembandingan yang kadang kala secara keliru dimengerti oleh sebagian orang, dan dijadikan pembenaran untuk saling merendahkan salah satu bentuk kehidupan.
Hidup manusia memang harus dan mutlak perlu diarahkan kepada Allah, untuk memandang Dia dalam kuasa cinta. Itulah kontemplasi.
Namun, ini bukan berarti semua orang beriman dipanggil untuk meninggalkan dunia ini dalam pengasingan di gurun, gunung, atau hutan, dan secara total membaktikan diri kepada Allah.
Bahwa Tuhan memanggil insan-insan Allah ke jalan suci tersebut, itu memang benar, tetapi tidak semua.
Pada kenyataannya, sebagian besar umat beriman, hidup tengah dunia, di tengah segala hiruk-pikuk dan kesibukan dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, serta bersentuhan dengan bagian-bagian terburuk dari dunia ini.
Apa hidup beriman di tengah semuanya itu sesuatu yang salah? Apa kita semua harus menjadi pertapa?
Tentu saja tidak secara harafiah.

Maka, Injil hari ini hendaknya dimengerti bukan untuk sekadar membandingkan 2 bentuk kehidupan, yang masing-masing tentu punya keutamaan dan keindahan tersendiri.
Injil hari ini berbicara tentang panggilan untuk hidup di hadirat Allah.
Marta memang melakukan karya yang baik. Andaikan dia tidak mempersiapkan segala sesuatu, tentu banyak hal dalam rumah itu akan berada dalam ketidakaturan. Pelayanan yang dia lakukan merupakan ungkapan bahwa diapun ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Namun, Tuhan Yesus mengingatkan Marta bahwa kendati pelayanan itu memang selayaknya dilakukan, jangan sampai melupakan apa yang paling penting, yaitu mendengarkan Dia, mencintai Dia.
Hidup di tengah dunia dengan segala kesibukannya, bukanlah pembenaran untuk tidak memiliki waktu untuk duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan Dia.
Bahkan, serohani apapun pelayanan dan karya baik yang kita lakukan, bukanlah pembenaran untuk mengesampingkan hidup doa.
Jam adorasi, brevir, rosario, lectio divina, dan doa pribadi atau komunitas lainnya, tidak boleh dipersingkat, dilakukan secara terburu-buru, apalagi ditiadakan, hanya karena dapat mengganggu jadwal kita yang lain.
Mereka yang tekun menjalankannya, pada akhirnya akan menemukan, bahwa sekalipun berada pada situasi dimana doa lisan sama sekali tidak bisa dilakukan, selalu ada waktu untuk doa batin.
Anda dapat tetap melakukan segala perkara, sambil tetap hidup di hadirat Tuhan.

Selalu ada waktu untuk Tuhan. Tidak mungkin tidak.
Selalu ada waktu untuk Misa Kudus, untuk merenungkan Firman-Nya, untuk mendaraskan Rosario dan doa-doa pribadi atau komunitas.
Lihatlah bagaimana para kudus seperti Beata Teresa dari Kalkutta, Dorothy Day, Louis Martin dan Marie-Azélie Guérin Martin, dapat selalu menemukan waktu untuk diam dalam keheningan bersama Tuhan, justru di tengah kesibukan hidup, keluarga/komunitas, dan karya mereka di dalam dunia.
Mereka hidup dalam kesadaran bahwa segala pekerjaan, pelayanan, segenap hidup dan karya mereka adalah ungkapan kontemplasi mereka. Suatu kesadaran batin untuk memandang Allah dalam kerja.

Sebagaimana mereka, demikian pula hendaknya kita.
Entah mahasiswa, tentara, dokter, supir taksi, pemulung, ibu rumah tangga, karyawan, hakim, politikus, apapun profesi hidup kita, selama kita membawa Tuhan di dalam semuanya itu, itulah doa kita. Asalkan kita melakukannya dalam kesadaran, integritas, dedikasi, dan motif adikodrati, itu merupakan persembahan yang harum dan berkenan bagi Tuhan. Itulah kontemplasi kita.
Memiliki hidup doa bukanlah tanda kelemahan. Memiliki kerinduan untuk berlutut dalam Misa Kudus setiap hari bukanlah tanda ketidakberdayaan melihat hidup.
Sebaliknya, itu adalah ungkapan heroik seorang abdi Allah, seorang ksatria iman, yang sepenuhnya sadar bahwa hidupnya berasal dari Allah, yang memberinya kekuatan untuk mengalahkan dunia.

Injil hari ini mengajak kita pula untuk rendah hati. Gereja dan dunia kita saat ini mengalami rupa-rupa penyesatan, kesulitan, pergumulan, dan penderitaan.
Situasi ini telah mendatangkan keprihatinan, bahkan membangkitkan banyak pribadi-pribadi yang dengan niat baik, sungguh ingin memberikan jawaban dan solusi atas berbagai permasalahan Gereja dan dunia saat ini.
Namun, di tengah segala usaha dan niat baik itu, jangan pernah melupakan apa yang paling penting. Pilihlah selalu yang terbaik, sebagaimana dilakukan oleh Maria, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, untuk mendengarkan Dia.
Pada akhirnya, hidup yang dipenuhi kerendahan hati untuk duduk berdiam di hadirat Allah dan mendengarkan Dia, akan berbuah pemurnian diri dan kekudusan, sebagaimana bangsa Niniwe menanggapi seruan pertobatan yang dibawa oleh Nabi Yunus.

Di tengah situasi sulit dan menantang hidup beriman yang dihadapi Gereja Katolik saat ini, marilah kita juga mengingat dan mendoakan Bapa Suci dan para Bapa (Uskup) Sinode Keluarga di Roma, yang kini memasuki hari-3.
Semoga mereka senantiasa bersandar pada bimbingan Roh Kudus, untuk mendengarkan Dia.
Dengan demikian, Sinode ini bukan sekadar parlemen atau sidang dunia, dimana masing-masing orang menyuarakan pandangan mereka, melainkan mereka sungguh mendengarkan Tuhan, untuk menyuarakan apa yang menjadi kehendak-Nya, dan demi Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++