Enyahlah, Iblis!

MINGGU PRAPASKA I  ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7

Mazmur Tanggapan – Mzm. 51: 4-4. 5-6a. 12-13. 14. 17

Bacaan II – Roma 5: 12-19

Bacaan Injil – Matius 4: 1-11

 

Enyahlah, Iblis!

Saudara-saudariku yang terkasih,

“Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej.2:7) Demikianlah bacaan pertama hari ini mengungkapkan keindahan dan kemuliaan manusia. Tidak ada makhluk hidup di alam semesta ini, selain manusia, yang dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Demikianlah tinggi dan berharganya nilai kita di hati Tuhan. Namun, di balik keindahan penciptaan manusia, terungkap pula kerapuhannya. Kita dibentuk dari debu tanah, dari sebuah materi yang begitu rapuh dan hina. Oleh karena itu, adalah teramat penting untuk disadari bahwa kita yang tercipta dari debu tanah, karena rahmat dan belas kasih Allah, telah diangkat sedemikian tinggi, melebihi semua makhluk hidup di dunia, bahkan melebihi para malaikat dan makhluk surgawi lainnya, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Ini bukan karena jasa-jasa kita, melainkan anugerah Allah semata-mata. Jikalau demikian, sudah pasti dan tidak mungkin dibantah bahwa manusia hanya bisa menemukan kesejatian hidup di dalam Dia, yang menciptakan kita. Dia yang memberi makna dalam hidup kita. Sang Cinta yang telang mencipta kita karena cinta, dan memanggil kita ke dalam persatuan cinta dengan-Nya. Di dalam ketaatan kepada kehendak-Nyalah kita akan menemukan kemerdekaan sejati kita. Terpisah dari Allah berarti keterpisahan dari Sang Pemberi Hidup, Asal dan Tujuan hidup kita. Terpisah dari-Nya berarti kehampaan dan kebinasaan. Kita mungkin saja hidup, tetapi menjalaninya layaknya seorang yang tidak memiliki hidup, karena kita telah menyerahkan kebebasan kita untuk menjadi budak si jahat.

Iblis, si ular tua itu, sangat tahu akan betapa mulia dan berharganya kita di hati Tuhan. Oleh karena itu, sejak awal penciptaan, dengan segenap daya upaya, ia telah menyiapkan perangkap untuk menjatuhkan manusia dari kemuliaan dan martabat ilahinya. Perangkap itulah yang kita sebut dosa. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa manusia pertama tidak kehilangan Eden karena menghambakan diri secara total kepada si jahat, kejatuhan pertama terjadi bukan saat manusia berkata kepada iblis, “Ya, mulai saat ini aku mau menyembah setan.” Tidak demikian. Manusia jatuh ke dalam dosa karena dia tergoda akan argumen si jahat bahwa dia dapat hidup tanpa Tuhan, akan nafsu keinginan untuk menjadi seperti Allah. Manusia pertama mengalami kejatuhan dosa karena kegagalannya untuk mengatakan “Tidak!” kepada bujukan si jahat. Ia tergoda untuk melepaskan perlindungan dan belas kasih Tuhan, dan mencoba berjalan sendiri tanpa Tuhan.

Dalam pemahaman ini, kita bisa lebih memahami kenapa dunia ini semakin jahat, padahal tidak semua orang jahat nyata-nyata mengaku bahwa setanlah yang mereka sembah, atau menyatakan penyerahan diri kepada Iblis secara terang-terangan di hadapan umum. Para ateis yang hidup di negara-negara komunis maupun di berbagai belahan dunia lainnya, kebanyakan bukanlah anggota sekte-sekte gelap. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang memiliki dedikasi, kerja keras, falsafah hidup yang baik, nilai-nilai moral, akal budi yang cerdas. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali terbukti memberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan dunia. Tetapi, sama seperti manusia pertama, mereka berpikir bahwa mereka dapat berjalan tanpa Tuhan, mereka dapat menemukan kebebasan dan kesejatian hidup tanpa Dia. Kegagalan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat semacam inilah yang membuat seorang ibu dapat berjuang mati-matian melawan hukuman mati serta memperjuangkan hak-hak hidup seseorang, tetapi membenarkan aborsi, membunuh darah dagingnya sendiri. Seorang ayah dapat membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian, tetapi di sisi lain sanggup membunuh banyak orang atas pemahaman ideologi dan keyakinan yang sesat. Seorang bankir dapat bekerja keras untuk memperoleh kemakmuran dalam hidup, tetapi membiarkan kerakusannya itu membawa kehancuran ekonomi suatu negara, dan membuat banyak orang jatuh dalam jurang kemiskinan. Dunia dapat jatuh dalam kesedihan mendalam karena menurunnya indikator-indikator ekonomi, dan begitu depresi atas jatuhnya harga-harga saham, tapi dunia tidak lagi berdukacita atas meninggalnya begitu banyak tunawisma dan gelandangan di jalan-jalan kota setiap hari. Keinginan manusia untuk menggapai langit tanpa Tuhan, merupakan bukti nyata bahwa tanpa disadari, manusia telah jatuh dalam jurang dosa dan belenggu si jahat.

Apakah dengan kenyataan demikian, kita yang adalah anggota Gereja, dapat melihat diri kita sebagai kumpulan orang yang tidak mengalami kejatuhan yang sama seperti mereka?

Tentu saja tidaklah demikian. Gereja itu Kudus, tetapi selagi di dunia ini, kita adalah Gereja yang sedang berziarah, dengan segala pergumulan dan jatuh bangun menuju kesempurnaan. Yang membedakan kita dengan dunia adalah rahmat Tuhan yang bekerja secara istimewa dalam Gereja. Dengan pembaptisan, kita telah dibebaskan dari dosa asal, sekaligus mulai dihantar pada pengenalan yang sempurna akan Allah, di dalam Iman. Oleh karena itu, jikalau kegagalan dunia untuk bepaut kepada Tuhan adalah dosa, maka, kegagalan Gereja untuk berpaut pada Tuhan adalah dosa yang lebih besar lagi. Kenapa demikian? Karena kita telah dipanggil ke dalam pengakuan akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan. Dunia tidak mengikuti Tuhan, tetapi kita, putra-putri Gereja, yang telah bertahun-tahun mengikuti Dia, bagaimana mungkin kita tidak mengenal Dia? Bagaimana mungkin hati kita tidak merasa remuk-redam disaat kita mengalami kejatuhan dosa?

Manakala kita dengan sadar membiarkan diri jatuh dalam dosa layaknya anak-anak kegelapan dari dunia ini, sesungguhnya dosa kita jauh lebih besar lagi, karena kita melakukannya di saat kita telah mengenal Allah dan kehendak-Nya.

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kesadaran akan kerapuhan dan kegagalan kita, marilah kita memandang cahaya Ilahi dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Berbeda dengan manusia pertama yang membiarkan dirinya untuk tergoda dan jatuh dalam dosa, Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa sebagai manusia, kita bisa mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Putra Allah, yang adalah sungguh-sungguh manusia, menjalani pencobaan selama 40 hari, mematahkan segala argumen si ular tua itu, dan pada akhirnya menang atas pencobaan. Injil hari ini merupakan peneguhan iman bagi kita semua, untuk melihat hidup kita masing-masing ibarat padang gurun, dimana si jahat senantiasa menyiapkan perangkap, argumen, dan tipu daya dengan berbagai cara untuk menjatuhkan kita dari kemerdekaan sejati anak-anak Allah. Ketika Kitab Suci berbicara bahwa Yesus “dibawa oleh Roh”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa pencobaan itu terjadi sepengetahuan dan dalam penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, yakinlah, kemanapun Tuhan membawa kita, dalam situasi apapun itu, semenakutkan dan seberat apapu itu, apapun nama yang kita berikan atas peristiwa itu, entah padang gurun, malam gelap, awan ketidaktahuan, apapun namanya, iblis ada disana, tetapi kuasa Tuhan yang jauh lebih besar juga ada disana. Selama kita tetap setia mendengarkan suara Tuhan, bilamana kita tetap berpaut pada-Nya dan tidak membiarkan diri kita terlepas dari-Nya, maka, pada waktu yang tepat, Dia akan memberi kita kekuatan untuk mengatakan “Tidak!” dan meludahi si jahat. Tetaplah setia. Biarlah Sabda Tuhan, doa, puasa, laku tapa dan mati ragamu menjadi baju zirahmu untuk melawan si jahat. Biarlah Ekaristi dan sakramen-sakramen Gereja menjadi daya hidup yang membuat tubuhmu kuat untuk bertempur, sehingga ular tua itu lari ketakutan dari medan pertempuran rohani ini.

Semoga Perawan Tersuci Maria, teladan ketaatan, senantiasa mengajar kita untuk selalu menjawab “Ya!” kepada Allah, dan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Kiranya segenap orang kudus, para malaikat dan balatentara surgawi, bertempur bersama kita, secara khusus di masa Prapaska ini, sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi manusia-manusia Paska, putra-putri Cahaya, yang menghalau kegelapan dari dunia ini, dan memenangkan tidak hanya jiwa kita, melainkan juga jiwa-jiwa banyak orang, merenggutnya dari kuasa kegelapan, serta membawa mereka ke dalam Cahaya.

Inilah panggilan kita, inilah medan pertempuran yang harus kita menangkan. Bersama Tuhan pasti bisa! (VFT)