Meditasi Harian 10 Juli 2016 ~ MINGGU BIASA XV

BUKA MATA BUKA HATI

Bacaan:

Ul.30:10-14; Mzm.69:14.17.30-31.33-34.36ab.37; Kol.1:15-20; Luk.10:25-37

Renungan:

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus. Hari ini Bunda Gereja mengajak kita merenungkan suatu pertanyaan penting akan arti kehadiran putra-putri Gereja bagi dunia, yaitu: “Siapakah sesamaku?

Para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi lainnya, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.

Keledai melanbangkan Sakramen Pembaptisan, sarana yang membawa kita ke “Tempat Penginapan”, yaitu Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri dan masuk ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang hambaDan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara begitu keras, untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa. Injil hari ini berbicara bagi mereka yang memilih untuk menutup pintu belas kasih, daripada membukanya lebar-lebar dan turun ke jalan mencari yang hilang, yang sakit dan menderita, yang dirampas hak dan martabatnya, yang disamun untuk dibiarkan mati di tengah jalan. 

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.

Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.

Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk.10:27).

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.

Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.

Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita. Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.

Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan sebagai “satu-satunya jawaban” bagi dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup. Mulailah membuka mata dan membuka hati. 

Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah. 

Regnare Christum volumus! 


✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 29 Maret 2016~SELASA DALAM OKTAF PASKAH

image

DIALAH SEGALANYA BAGIKU

Bacaan:
Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18

Renungan:
Dalam kisah Injil hari ini, kita mendapati dan diajak untuk merenungkan dukacita seorang  wanita yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Kendati sering disalah mengerti dalam sejarah keselamatan, Maria Magdalena mungkin dapat dikatakan adalah wanita Kudus yang paling mengasihi Tuhan kita, setelah Santa Perawan Maria, Bunda-Nya.
Hati wanita ini begitu terarah kepada Allah. Diselubungi airmata ketidaktahuan mistik saat menemukan malam telah kosong, dia menangis tersedu-sedu, dan dari balik tangisan itu, keluarlah kata-kata yang hanya dapat timbul dari hati yang mencinta, “Mereka telah mengambil Tuhanku…” (bdk.Yoh.20:13d)
Inilah seruan dari seorang yang senantiasa memandang Allah dalam ketepesonaan cinta, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur, “Jiwaku menanti-nantikan Tuhan“. (bdk.Mzm.33:20)

Bagi Maria Magdalena, Tuhan Yesus adalah harta paling berharga baginya. Dialah Kekasihnya. Dialah Segalanya baginya.
Hidup Maria Magdalena, hatinya yang mencinta, seolah membawa kita pada permenungan pribadi perihal kedalaman cinta kita akan Allah. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan kita? Sudahkah kita melayani Dia seutuhnya?
Sebagian orang memanggil Allah sebagai kekasih, padahal Ia tidak sungguh-sungguh menjadi yang terkasih, karena hati mereka tidak pernah terarah kepada Allah,” demikian kata St. Yohanes dari Salib.

Semoga sukacita Paskah juga mengobarkan dalam hati kita kerinduan untuk selalu memandang wajah Tuhan, dan mengungkapkan cinta kita kepada-Nya, bukan hanya dengan menyapa Dia sebagai “Kekasihku“, tetapi mengungkapkannya secara nyata dalam hidup dan karya.
Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan dan hatimu benar-benar selalu terarah pada-Nya, kalau memang Dia sungguh adalah yang terkasih dalam hidupmu; Buktikanlah! Mulailah bersikap sebagaimana layaknya seorang kekasih. “Dilige et quod vis fac ~ Cintailah dan lakukan apa saja yang kamu kehendaki” (St. Agustinus dari Hippo).
Semoga Bunda Maria senantiasa menjadi Bintang Timur, penunjuk jalan yang aman menuju Putranya. Kiranya Santa Maria Magdalena menyertai peziarahan batinmu di tengah dunia ini, agar kamu selalu dapat mengenali suara lembut Sang Guru (Rabboni). Sebab Dialah Cahaya Paskah yang sejati. Dialah Sukacitamu. Dialah Kekasihmu.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 3 Februari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa IV

image

KEAKRABAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:
2Sam.24:2.9-17; Mzm.32:1-2.5.6.7; Mrk.6:1-6

Renungan:
Salah satu penghalang bagi Karya Allah dalam hidup kita adalah kelekatan. Dalam Injil hari ini, kita mendapati suatu bentuk kelekatan yang seringkali membutakan mata rohani seseorang terhadap sapaan Tuhan, yaitu “keakraban“.
Ada pepatah dari dunia Barat yang mengatakan, “familiarity breeds contempt“, yaitu bahwa keakraban atau kedekatan kita dengan seseorang, jika dijalani secara keliru, seringkali dapat berbuah pada penolakan, kebencian, dan rasa tidak hormat terhadap diri orang itu.
Inilah yang dialami oleh Tuhan kita Yesus Kristus, ketika dia kembali ke kampung halamannya, Nazaret.
Sanak-saudara-Nya dan warga sekampungnya justru menolak Karya Allah yang diwartakan-Nya, semata-mata karena mereka “beranggapan” bahwa mereka telah begitu mengenal siapa Dia, seluk-beluk kehidupan-Nya, masa lalu-Nya, keluarga dan profesi-Nya, sebagaimana terungkap dalam kata-kata mereka, “Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Mrk.6:3)

Dalam karya kerasulan, keakraban dapat menjadi rintangan bagi sukacita Injil untuk dialami. Anda menolak kabar sukacita semata-mata karena telah begitu mengenal hidup “manusiawi” seseorang, sampai gagal melihat karya “Ilahi” yang sedang bekerja dalam dirinya. Anda takjub dan heran akan karya ajaib dan buah-buah Roh yang dihasilkannya, tetapi menolak diubahkan oleh-Nya, sehingga tidak dapat mengalami mukjizat Tuhan yang seharusnya juga terjadi dalam hidupmu.
Kegagalan yang bersumber dari keakraban yang “cacat rohani” seperti ini, pada akhirnya menjadi sumber kebencian, perpecahan, kegersangan, kekurangan sukacita, ketiadaan kasih, dan kehilangan buah-buah Roh. Seperti penyakit yang menggeroti hidup beriman dan menggereja, yang memadamkan Api Roh dan merintangi Karya Allah.

Belajarlah memiliki kerendahan hati, kepekaan rohani, dan “kasih persaudaraan” yang sejati. Dengan demikian keakraban atau perasaan sudah begitu mengenal, tidak menjadi penghalang bagi Karya Allah dinyatakan dalam hidupmu, keluargamu, lingkungan kerjamu, komunitasmu, parokimu, dan berbagai peristiwa hidup lainnya.
Dalam karya kerasulan, milikilah kebijaksanaan untuk menyadari bahwa dibalik “dia” yang begitu kamu kenal, ada “DIA” yang sejak awal penciptaan telah mengenal kamu, jauh melebihi orang-orang yang terdekat sekalipun.
Jangan mengandalkan pengertian sendiri, dan mulailah menaruh kepercayaan pada gerak cinta Tuhan, yang seringkali justru bergerak dengan kegerakan yang di luar apa yang kamu pikir telah kamu ketahui secara “pasti“.
Belajarlah dari mukjizat St. Blasius, bahwa seringkali “tulang ikan” yang menghambat “tenggorokan rohanimu” untuk menjawab “Ya” pada Allah, berawal dari kerakusanmu untuk menelan utuh berbagai peristiwa hidup, tanpa mengunyahnya secara perlahan dan bijaksana, sehingga gagal berbuah “kontemplasi“.

Semoga kita senantiasa memiliki hati seperti Ibu Maria. Dia begitu mengenal siapa Tuhan Yesus, Putranya, melebihi siapapun. Tetapi, keakrabannya dengan Sang Putra adalah keakraban yang bersumber dari “Cinta Sejati”, dari hati seluas samudera, yang sekalipun takjub dan heran, tidak berbuah penolakan, tetapi “memandang dalam kuasa cinta“, membenamkannya dalam lautan kerahiman, menyimpannya dalam hati yang mencinta, sehingga hidupnya diubahkan oleh Sang Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 19 Januari 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa II

image

PENGHAKIMAN YANG BERBELAS KASIH

Bacaan:
1Sam.16:1-13; Mzm.89:20.21-22.27-28; Mrk.2:23-28

Renungan:
Who am I to judge?” adalah pernyataan Paus Fransiskus yang dianggap kontroversial oleh banyak orang, baik di dalam maupun di luar Gereja Katolik. Tak sedikit pula orang yang kemudian menggunakan pernyataan singkat ini untuk saling menuding kelompok lain sebagai bersalah, ada juga yang menjadikan kata-kata Paus ini sebagai pembenaran atas posisi dan pilihan hidup mereka.
Belajar dari bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, kita diingatkan bahwa penghakiman yang terburu-buru, seringkali justru dapat merintangi Karya Allah.

Samuel menggunakan pengertiannya sendiri untuk menilai siapa yang layak diurapi sebagai seorang raja. Dia lupa bahwa, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1Sam.16:7)
Dalam hidup beriman, kita pun pernah mendapati saat-saat dimana pengertian pribadi yang terpisah dari relasi pribadi nan mesra dengan Allah dalam doa, seringkali berujung pada pilihan-pilihan yang tidak tepat dan keliru.
Dalam Injil hari ini, kita juga mendapati bentuk kegagalan beriman serupa, dalam diri orang-orang Farisi. Mereka begitu mengagung-agungkan Hukum Tuhan, sehingga Hukum Tuhan yang sejatinya membebaskan, justru dijalankan sebagai belenggu bagi orang banyak, sebagai dasar untuk menyerang Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya. Perintah Allah ditaati kata demi kata, detik demi detik, tetapi pada kenyataannya hanya dijadikan sebagai aturan hidup di kulit saja, tetapi tidak mengubah hati.
Lebih baik menaati Hukum Tuhan dan membiarkan orang kelaparan, daripada dengan murah hati memberi makan kepada mereka yang lapar. Sikap pertama berasal dari kegagalan mengenal Allah dan kehendak-Nya, sedangkan sikap kedua bersumber dari pengalaman cinta akan Allah dalam doa, dimana hati meluap-luap dalam cinta dan kehausan akan jiwa-jiwa, karena kesadaran bahwa Allah sendiri telah menciptakan setiap orang menurut gambar dan rupa-Nya.

Marilah di tahun Yubileum Kerahiman ini, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma, kita kembali melihat arti panggilan Kristiani kita, yaitu suatu panggilan untuk menghakimi dengan berbelas kasih; untuk bermurah hati kepada sesama, sebagaimana Allah Bapa kita adalah murah hati; untuk melayani, mengampuni, dan mengasihi, sebagaimana Allah telah lebih dahulu melakukan gerak cinta yang sama kepada kita semua.
Dengan demikian, Hukum Tuhan tidak disalahartikan sebagai serangkaian aturan yang membebani, melainkan sebagai pedoman hidup menuju kebebasan sejati anak-anak Allah, dimana karunia Iman benar-benar menjadi sukacita yang tak terkatakan, suatu perjumpaan dengan Allah yang hidup, Yang memanggil kita untuk memberi hidup bagi sesama, serta menjadi saluran rahmat Allah bagi dunia.
Semoga Bunda Maria, Perawan yang amat bijaksana, membimbing kita untuk mencintai kebijaksanaan, yang bersumber dari relasi cinta dengan Putranya, Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 16 Januari 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa I

image

CINTA KOTAK-KOTAK

Bacaan:
1Sam.9:1-4.17-19~10:1a; Mzm.21:2-3.4-5.6-7; Mrk.2:13-17

Renungan:
Kaum ortodoks Yahudi pada zaman Tuhan Yesus punya kebiasaan untuk memisahkan semua orang menjadi 2 kelompok: mereka yang dengan sangat ketat menaati Hukum Musa dari menit ke menit, dan mereka yang tidak melakukannya.
Kelompok kedua dianggap warga kelas dua. Kaum ortodoks menghindari pergaulan dengan mereka, menolak berbisnis dengan mereka, menolak pemberian apapun dari mereka, melarang pernikahan dengan mereka, dan menolak menghadiri perayaan apapun bersama mereka, termasuk perjamuan makan.
Inilah latar belakang yang membuat kita mendapat gambaran yang jelas akan kenapa para ahli Taurat dan orang Farisi mempertanyakan Tuhan Yesus yang makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa.
Jawaban Tuhan Yesus sederhana, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!” (Mrk.2:17)

Kekristenan adalah panggilan untuk “menyembuhkan“. Panggilan ini menuntut kerendahan hati untuk mengampuni ketika disakiti, mengasihi sekalipun tidak dihargai, dan melihat semua orang, siapapun dia, sebagai berharga di mata Tuhan. Kenyataan bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), seharusnya menyadarkan kita bahwa sesulit apapun itu, kita dipanggil untuk memandang dan mengasihi wajah Allah dalam diri sesama.
Cinta tidak pernah boleh bersyarat, cinta tidak berada dalam batasan kotak-kotak. Tidak ada dalam kamus kekristenan, bahwa kita hanya perlu bergaul dengan mereka yang hidupnya sempurna saja, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)

Tuhan dan Penyelamat kita telah menunjukkan teladan yang sangat jelas. Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan “kita semua“, tanpa kecuali. Dalam kesadaran ini, marilah kita merenungkan hidup kita, keluarga, sahabat, kenalan, rekan kerja, komunitas, dan kebersamaan apapun yang kita miliki. Hadirlah bersama mereka yang terucapkan, terpinggirkan, diperlakukan tidak adil, diasingkan, tidak dimengerti, dan dianggap sampah oleh masyarakat. Hadirlah dengan hati yang mencinta, dan bawalah cahaya Iman dalam hidup mereka, agar mereka mengalami belaskasih Bapa melalui hidup dan karyamu sebagai rasul Kristus yang sejati. Kita semua adalah manusia yang tidak sempurna yang dipanggil untuk mencintai sesama yang tidak sempurna, secara sempurna.
Hidup itu penuh warna, jangan dijadikan satu warna. Belajarlah melihat wajah Allah dalam setiap bentuk kehidupan. Bahwa benar ada kecenderungan dosa dalam diri setiap orang, hendaknya tidak membuat kita lupa bahwa, “Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.” Demikian kata St. Isaac dari Syria.
Itulah sebabnya kita selalu memerlukan bantuan rahmat Allah, hembusan Roh-Nya dalam hidup kita, untuk memurnikan cinta kita.
Mulailah melayani lebih sungguh, mengasihi lebih sungguh, dan mengampuni lebih sungguh.

Semoga Perawan Suci Maria, yang sekalipun hatinya dihembusi pedang dukacita, tetapi tetap dipenuhi sukacita Iman, boleh menjadi teladan cintakasih. Semoga Bunda kita membimbing kita dengan kasih keibuannya, untuk mengenal dan merangkul cinta tak bersyarat, bukan cinta kotak-kotak. Cinta yang selalu bisa melihat gambar dan rupa Allah dalam diri sesama. Dengan hatimu yang berkobar-kobar dalam cinta akan Allah, bawalah semua orang untuk mengalami belas kasih Bapa, dan bimbinglah tangan mereka untuk menyentuh Hati-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++