Meditasi Harian, 26 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVI

CINTA BUTUH BUKTI BUKAN JANJI

Bacaan:

Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:

Tanah yang baik memberi jalan bagi benih yang ditanam untuk tumbuh, berkembang dan berbuah. Jika diumpamakan tanah itu adalah kita manusia dan benih adalah Firman Allah, maka keterbukaan terhadap rahmat Allah dengan segenap daya upaya kita untuk mengasihi Dia, sungguh menentukan bagaimana hidup kita diubahkan oleh kabar sukacita Kerajaan Allah. Tidak semua yang datang untuk berjumpa dan mendengar perkataan Tuhan dapat pula menangkap dan mengerti. Ada yang menerima dengan penuh sukacita dan seketika hidupnya diubahkan oleh pengalaman kasih Allah itu, ada pula yang memiliki kekuatiran akan konsekuensi hidup kekristenan kemudian mundur perlahan-lahan, dan banyak pula yang tidak sanggup melihat kenyataan bahwa ia harus berubah serta tidak sanggup mendengar perkataan yang keras dan menuntut itu, lalu pada akhirnya menolak dan meninggalkan jalan Tuhan.

Memang benar, bahwa rahmat Allah sendiri sanggup mengubahkan hidup kita. Kendati demikian, biasanya rahmat Allah bekerja lebih leluasa dalam diri mereka yang sungguh merindukan Dia, serta melakukan segala upaya untuk mencari wajah-Nya. Ia mendekat secara lebih mesra kepada mereka yang dalam kepasrahan seorang anak, memberanikan diri untuk datang mendekat kepada-Nya. Maka, secara sederhana dan tegas dapat diminta dari kita, “Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan, ‘Buktikanlah!'” Ini bukan pertama-tama melalui tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan seperti memberikan nyawa demi iman atau kasih akan sesama. Tidak serta-merta seperti itu.

Untuk mengalami kebesaran kasih Allah dan kelimpahan rahmat-Nya, seorang beriman dapat memulainya dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dimulai dari hal-hal yang seringkali amat mendasar dan mungkin terlalu sederhana, seperti bangun pagi-pagi benar untuk mempersembahkan hari kita kepada-Nya, memberikan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan Firman-Nya dalam Kitab Suci, mempersiapkan sarapan dan memastikan anak-anak berangkat ke sekolah tepat waktu, memberikan tempat duduk kita di bus kepada mereka yang lanjut usia, tidak melakukan pungutan liar melebihi ketentuan di kantor, memberikan salam dan dukungan semangat kepada mereka yang berbeban karena tekanan hidup, mengakhiri hari dengan pemeriksaan batin dan memohon pengampunan untuk menit-menit yang gagal dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan, serta berbagai tindakan-tindakan kecil dan sederhana lainnya. Memang kecil dan sederhana, seolah tidak berdampak signifikan untuk merubah keburukan dunia ini, tetapi sebagaimana dosa datang karena kejatuhan satu orang dan keselamatan dunia datang pula karena “Satu Orang”, yakinlah persembahan dirimu, sekecil dan sesederhana apapun, bila dilakukan karena kobaran api cinta, pada akhirnya akan sanggup menyentuh dan menggetarkan Hati Allah, Sang Cinta, untuk mengarahkan pandangan belas kasih-Nya kepada-Mu dan mencurahkan rahmat-Nya secara melimpah ke dalam dan melalui dirimu. Pada waktu itu sekali lagi kamu akan mendengar suara-Nya yang amat lembut, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat.13:16).

Bersama Gereja Kudus, hari ini kita memperingati pula dengan penuh syukur akan suami istri yang amat saleh, Santo Yoakim dan Santa Anna. Mereka berdua telah menunjukkan keteladanan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil sehari-hari, dan pada akhirnya mempersembahkan permata terindah dalam Kekristenan, yakni putri mereka, Perawan Maria yang terberkati. Inilah keteladanan hidup yang sungguh menjadi persembahan yang harum dan berkenan di Hati Tuhan, dan menghasilkan buah yang disyukuri oleh seluruh umat manusia. Santa Maria, bimbinglah kami menuju Putra-mu, dalam keteladanan beriman sebagaimana ditunjukkan ayah dan ibumu, Santo Yoakim dan Santa Anna.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian, 20 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

KELEKATAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:

Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“. Apa yang harus dilepaskan? Dosa. Kenapa harus dilepaskan? Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Karenanya kita merasa begitu kepayahan, terbebani, malah seringkali dengan hebatnya; depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi. Bahkan tak jarang seorang rasul Tuhan mengalami kebinasaan, dikarenakan beban dosa yang amat berat itu. Maka, ketika Tuhan kita mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan-Nya yang lemah lembut ini bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya. Siapapun yang merindukan kelegaan, yang perlu ia lakukannl hanya satu, “melepaskan“. Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan merupakan bentuk kelekatan akan dosa yang dapat sangat menyulitkan, memayahkan, bahkan bisa mematikan panggilan seorang beriman dan perjuangannya untuk beroleh mahkota kemuliaan. Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat seperti apa, atau cacat dan kedosaan manakah, yang selama ini telah menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah. Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, atau apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”. Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah. Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“. Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, serta dengan komitmen teguh untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilan kita adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya. Per Mariam ad Iesum.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Maret 2017 ~ Jumat dalam Pekan III Prapaskah

CINTA SELALU PUNYA CARA
Bacaan:

Hos.14:2-10; Mzm.81:6c-8a.8b-9.10-11b.14.17; Mrk.12:28b-34

Renungan:

Dengan berbagai cara serta melalui berbagai situasi hidup, Allah selalu berusaha mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Disadari atau tidak, disyukuri atau tidak, bahkan sekalipun kita sama sekali tidak pantas memperolehnya, cinta Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan menembus hati manusia. Hosea dalam bacaan pertama hari ini memberi kesaksian akan cinta Tuhan kepada Israel, serta mengingatkan mereka untuk berbalik dari kesalahan mereka. Pada akhirnya, bangsa Israel pun menyadari bahwa bergantung pada dunia adalah kesia-siaan. Percuma mengharapkan persahabatan dengan dunia, bila karenanya kita harus kehilangan kemesraan cinta dengan Allah. 

Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Allah. Lihatlah betapa Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela memberikan Putra-Nya sendiri, sebagai kurban pendamaian dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, setiap kali seorang beriman merenungkan Jalan Salib dari Tuhan kita Yesus Kristus, adalah suatu kegilaan bila karenanya kita tidak tersungkur dengan hati remuk redam penuh penyesalan dan rasa syukur. Betapa malangnya jiwa yang menolak memandang kemanisan Salib. Dan ketahuilah ini, seberapapun jauhnya kamu melarikan diri, Tuhan selalu punya cara untuk menemukanmu di persimpangan hidup. Dia selalu sanggup mengubahnya menjadi persimpangan Salib yang menyelamatkan. Jika Dia bisa menemukan Longinus, Paulus, Agustinus, Fransiskus dari Assisi, Ignasius dari Loyola, Dorothy Day, dan tak terbilang banyaknya orang pada persimpangan hidup mereka, yakinlah, Dia yang sama pasti juga bisa menemukanmu. 

Pertanyaannya, “Maukah kamu menjawab ‘Ya’ ketika ditemukan oleh-Nya?” Kita yang saat ini berada dalam kubangan dosa, “Maukah kita menerima uluran tangannya untuk ditarik keluar?” Dengan demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman yang jelas, yaitu pertobatan menuntut kerelaan untuk kembali menapaki jalan Tuhan. Ini bukan paksaan, melainkan suatu keputusan yang harus dilakukan dengan kehendak bebas. Olehnya, kita memperoleh keberanian untuk mendekati Altar Tuhan, dan menerima Dia, Sang Roti Kehidupan, serta diubahkan oleh daya hidup Ekaristi, karena hati kita tidak lagi menuduh kita. Itulah cinta yang sejati. Inilah belas kasih Tuhan yang melampaui pengertian, bukannya belas kasih palsu yang membenarkan hidup dalam dosa, melainkan belas kasih yang membebaskan serta mengubahkan hidup, karena si pendosa yang kembali pulang ke rumah, telah mengalami sentuhan rahmat Tuhan yang mempesonakan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat dunia secara baru, dan dengan mata belas kasih Tuhan, kita mulai mencintai sesama dan alam semesta seutuhnya, karena hati kita yang terluka karena cinta, kini telah menemukan kesembuhan di dalam hati Tuhan.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, senantiasa menyertaimu dengan kasih keibuannya, agar tapak-tapak deritamu diubahkan menjadi tapak-tapak cinta. Tuhan selalu punya cara menemukanmu. Sekarang, mulailah juga dengan segenap daya upaya mencari dan membiarkan dirimu ditemukan oleh-Nya. “Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai…Dengarkanlah suara-Ku.” (bdk.Mzm.61:8-9)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 27 September 2016 ~ Peringatan St. Vincent de Paul, Imam

NYALA API CINTA

Bacaan:

Ayb.3:1-3.11-17.20-23; Mzm.88:2-8; Luk.9:51-56

Renungan:

Sukacita Injil harus senantiasa diwartakan, dalam situasi hidup sesulit apapun, termasuk ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa akan selalu ada penolakan, terhadap karya keselamatan dari Allah. Untuk itu seorang rasul Kristus harus senantiasa mengingat bahwa tugas kita adalah mewartakan secara meyakinkan dan otentik, tetapi jangan pula kecewa jika tidak semua orang mau diyakinkan oleh pewartaan Injil. Penolakan kerasulan cintakasih akan selalu ada, dan tak jarang berujung kemartiran. Tetapi, “jangan pernah merasa lelah jadi orang baik. Berbuatlah baik, entah disadari atau tidak, dihargai atau tidak, diterima atau tidak“, sebagaimana dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. 

Itulah misi kita, memperlihatkan wajah Allah yang berbelas kasih, lewat hidup dan karya kita. Sebab sebagaimana Anak Manusia datang, bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkan-Nya, demikian pula kita. Kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, seturut teladan St. Vincent de Paul, yang kita peringati pada hari ini. “Panggilan kita adalah untuk pergi dan mengobarkan hati semua orang, supaya melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Dia yang mendatangkan api ke dalam dunia, dan membiarkannya bernyala dalam kuasa Cinta-Nya. Apa lagi yang dapat kita minta, selain agar Cinta-Nya berkobar dan menghanguskan segala“, demikian kata St. Vincent de Paul. Tugas suci ini tidak hanya dihadirkan oleh para Imam dan Biarawati, dari Kongregasi yang didirikan seturut spiritualitasnya, melainkan juga bersumber dari Amanat Agung Tuhan kita, yang dengan demikian menjadikannya tugas kita pula. Kita mencita-citakan dan berusaha mewujudkan suatu dunia, yang dijalani dalam kasih persaudaraan dan sembah bakti, akan Allah Tritunggal Mahakudus. 

Maka, agar api cintakasih dalam hati kita kita senantiasa bernyala, harus disadari pula dari mana sebenarnya kobaran api cinta itu berasal, yakni dari Kristus sendiri. Bukan karena kuat dan hebatmu semata, melainkan dari Allah. “Nemo dat quod non habet – kamu tidak dapat memberi apa yang tidak kamu miliki”. Hanya pergaulan mesra dengan Allah dalam doalah, yang dapat menjaga agar api cinta itu tidak pernah akan padam. Barangsiapa ingin senantiasa berkobar dalam kerasulan pelayanan dan melakukan kehendak-Nya, hanya dapat melakukannya bilamana ia senantiasa berkanjang dalam doa, dan tekun merenungkan Firman-Nya. Tidak ada kekudusan tanpa doa, demikian pula karya cintakasih tanpa doa itu palsu, sehebat apapun itu. Wajah belas kasih Allah hanya dapat diperlihatkan dengan segala kebenaran dan kepenuhan-Nya, manakala kita terlebih dahulu memiliki kerendahan hati untuk mau dibentuk, dan mengalami perubahan hidup, yang terarah pada persatuan mistik dalam kuasa cinta dengan Dia. Selama itu tidak menjadi kerinduan terdalammu, maka sesungguhnya pemberian dirimu itu semu, dan yang kamu layani adalah dirimu sendiri, bukan Allah. Kehendakmu, bukan kehendak-Nya. 

Semoga St. Perawan Maria, Ibu semua orang beriman, menghantar kita kepada hidup yang senantiasa dikobarkan oleh api cinta kasih Putranya, dihanguskan dari mengingini segala, agar dalam kuasa cinta beroleh Kristus, Sang Segala. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 20 September 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXV

CINTA BUKAN SEKADAR KATA-KATA

Bacaan:

Ams.21:1-6.10-13; Mzm.119:1.27.30.34.35.44; Luk.8:19-21

Renungan:

Kekristenan lebih dari serangkaian doktrin, ajaran, atau perintah. Kendati itu juga sungguh amat penting, tetapi melebihi itu semua, kekristenan adalah relasi; suatu relasi cintakasih yang mesra antara Allah dengan umat-Nya. Relasi ini hendaknya menempati tempat yang pertama dan terutama dalam hidup seorang beriman, melebihi segala relasi lainnya, termasuk yang didasarkan pada ikatan keluarga dan hubungan darah. 

Inilah yang hendak diingatkan oleh Tuhan kita melalui Injil hari ini. Adalah sangat keliru bila perikop yang kita renungkan hari ini disalah artikan sebagai sikap tidak berbakti seorang Anak kepada Ibu-Nya, atau penyangkalan terhadap keluarga-Nya. Justru sebaliknya, Yesus menampilkan kebijaksanan-Nya sebagai seorang Guru, yang tidak pernah melewatkan kesempatan yang baik, untuk mengajarkan kebenaran Kerajaan Allah kepada murid-murid-Nya. Sang Guru dan Tuhan kita hendak mengarahkan pandangan beriman kita pada tingkatan tertinggi dari suatu relasi cinta, yakni antara Allah dan kita semua yang sejatinya adalah “milik kepunyaan-Nya“. Tentu saja ini membawa konsekuensi beriman yang jelas, bahwa sebagaimana Tuhan Allah kita memandang kita sebagai umat kesayangan-Nya, demikian pula kita hendaknya mendengarkan perkataan-Nya, menaati perintah-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan berjalan di Jalan-Nya. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk.8:21).

Bila kita sungguh memahami kedalaman makna pesan Injil hari ini secara tepat, maka pastilah kita pun akan tersungkur dalam kekaguman akan pribadi yang sesungguhnya dipuji begitu luar biasanya oleh Sabda Tuhan hari ini. Dialah Ibu Tuhan kita yang paling berbahagia di antara semua perempuan, dan dipuji oleh segala bangsa. Maria-lah gambaran paling sempurna dari Gereja Kudus-Nya. Dialah “permata terindah dalam kekristenan, setelah Kristus“, demikian kata Martin Luther, Bapa Reformasi. Dari Santa Perawan Maria kita belajar bahwa mereka yang benar-benar adalah pelaku Firman, bukan diukur dari banyaknya kata-kata indah yang diucapkannya tentang Allah, tetapi dalam kenyataan hidupnya yang merupakan persembahan diri secara total kepada Allah. Adalah mudah menjawab “Ya” kepada Allah sebatas ucapan bibir. Tetapi yang dilakukan Maria sepanjang hidupnya, telah membuatnya bercahaya sebagai Bunda Allah dan Bunda kita, yaitu bagaimana dalam keheningan mistik, hatinya adalah luapan cinta dan jawaban “Ya” yang memberual keluar, dan sungguh nyata di sepanjang hidupnya. Dialah yang senantiasa menyertai Tuhan dan Penyelamat kita tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas.

Kutipan Injil hari ini begitu singkat, tetapi bagaikan sebuah pedang yang menghujam kedalaman jiwa setiap orang beriman. Kalau Tuhan sungguh menjadi yang terutama dan terkasih dalam hidupmu, maka seharusnya hidupmu adalah kesaksian akan itu. Sudahkah kita tidak sekadar menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman? Relasi cinta yang sejati antara Allah dan manusia, bukan hanya ditandai kesetiaan dari pihak Allah, tetapi harus pula dijawab dengan kesetiaan yang sama dari pihak kita, untuk menaati perintah-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Jika tidak demikian, maka cintamu itu palsu, dan kesetiaanmu itu semu. Cinta bukan sekadar kata-kata, melainkan nampak dalam tindakan nyata. Belajarlah dari Maria, yang mencinta dalam keheningan dan ketersembunyian mistik. Kesetiaan cintanya tidak terlihat pada saat Putranya dielu-elukan sebagai Raja ketika memasuki kota Yerusalem. Akan tetapi, di saat semua orang, bahkan para murid-Nya meninggalkan Dia di Kalvari, kita justru mendapati Bunda Maria, yang dalam kesetiaan cinta sujud menyembah di kaki salib Putranya. 

Semoga Perawan Maria yang teramat suci, Ibu semua orang beriman, dengan kelembutan hatinya menunjukkan jalan menuju Putranya. Jalan yang seringkali menuntut sikap heroik dalam beriman, penyangkalan diri, bahkan tak jarang pula mendatangkan konsekuensi kemartiran, sebagaimana telah lebih dahulu dialami oleh St. Andreas Kim Taegõn, St. Paulus Chõng Ha-sang, bersama para martir Korea lainnya, yang kita peringati pula pada hari ini. Yakinlah, barangsiapa yang bertahan sampai kesudahannya, tidak akan mengalami kebinasaan kekal, melainkan akan memandang Allah dalam kemuliaan-Nya sampai selama-lamanya.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥