Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Januari 2017 ~ HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (EPIFANI) 

IMANMU ADALAH BINTANGMU

Bacaan:

Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2.7-8.10-11.12-13; Ef.3:2-3a.5-6; Mat.2:1-12

Renungan:

Lihatlah! Tuhan, Sang Penguasa telah datang; dalam tangan-Nya kerajaan, kekuasaan, dan pemerintahan.” (Antifon Pembuka)

Hari ini kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), yang dikenal juga sebagai Pesta Tiga Majus/Raja dari Timur (Three Wise Men/Orient Kings From The East). Bersama seluruh umat Allah, kita mensyukuri kemurahan hati Bapa, yang berkenan menampakkan Cahaya Kemuliaan-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya. Perayaan ini hendak pula mengungkapkan bahwa keselamatan dari Allah Bapa, dalam diri Yesus Putra Tunggal-Nya, diperuntukkan bagi semua bangsa. Dan hanya dengan keterbukaan terhadap bimbingan Roh Kudus-lah, kita dapat mengenal dan menampakkan Wajah Kerahiman Allah, di dalam dan melalui karya kerasulan kita di dunia ini. 

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Angkatlah mukamu dan lihatlah ke sekeliling. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” ( Yes.60:1.4.2)

Maka, bila terang Tuhan telah terbit atasmu, kamu pun dipanggil untuk datang mendekati Sang Terang. Inilah panggilan suci yang dijawab oleh Tiga Majus (Magi) dari Timur. Mereka keluar dari kegelapan negerinya, dan memulai perjalanan mengikuti cahaya bintang, untuk menemukan Dia yang telah menggerakkan hati mereka oleh kobaran Api Cinta, laksana mempelai wanita yang keluar mencari Sang Kekasih (bdk. Kidung Agung).
Sama seperti Tiga Majus dari Timur, siapapun yang hendak menemukan kebenaran, damai, keadilan, dan terang sejati, hanya dapat menemukan-NYA dengan mengikuti cahaya “Bintang“. Kita memerlukan cahaya “Iman”. Inilah karunia yang digerakkan oleh Api Roh Kudus. Api yang sanggup menghanguskan jiwa dalam keterpesonaan cinta akan Allah. Kita akan selalu memerlukan iman untuk menemukan Allah. Sebab kesederhanaan Hati Tuhan menjadikan pula Dia sebagai Yang Tersembunyi. Untuk menemukan Dia dalam keheningan Kandang Bethlehem, untuk memandang Dia yang sungguh hadir dalam Hosti Kudus, untuk tidak disesatkan oleh tekanan merubah doktrin dan ajaran Gereja, untuk dapat menyadari kehadiran-Nya selalu di dalam dan melalui berbagai peristiwa hidup. Maka, segelap apapun lembah kekelaman hidup yang kaujalani, jangan pernah lupa untuk berjalan dengan diterangi oleh cahaya iman. Di dalam iman, kita dapati gerakan Roh-Nya, yang dengan penuh kelembutan menuntun kita ke Aliran Hidup Yang Kekal.

Inilah panggilan kita. Suatu peziarahan suci menuju persatuan mistik yang sempurna dengan Allah. Satu hal yang hendaknya dimaklumi, bahwa perjalanan ini bukanlah tanpa kesalahan. Tetapi yakinlah, bahwa rahmat Tuhan akan selalu menyertaimu dalam perjalanan ini, asalkan kamu mau dengan rendah hati, dengan kepasrahan dan kepercayaan tanpa batas, menyerahkan dirimu untuk dibimbing oleh cahaya sukacita iman. Sama seperti Tiga Majus membawa persembahan, untuk diberikan kepada Sang Raja Semesta Alam, demikian pula perjalanan hidup kita hendaknya menjadi suatu persembahan yang hidup dan berkenan bagi Allah.

Sebagaimana Caspar dari India, bawalah “Emas”, yakni kesediaanmu untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan lewat hidup dan karyamu. Kalau kamu sungguh-sungguh melayani Allah, buanglah keinginan untuk memperkaya diri atau mendatangkan kemuliaan bagi dirimu sendiri. Suatu paradoks yang indah bahwa kekayaan Kristus justru nampak dalam kemiskinan-Nya. Dalam pengosongan Diri-Nya yang tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, sehingga rela mengosongkan Diri-Nya dan mengambil rupa seorang Hamba (Manusia).
Itulah sebabnya, bagi siapapun yang menyebut diri pengikut Kristus, mulailah melepaskan segala, dan persembahkanlah emasmu, ketidaklekatanmu, kepada Kristus, Sang Segala.

Sebagaimana Melchior dari Persia, bawalah kepada-Nya “Mur”, lambang Penyembuhan dan Penyerahan Diri sebagai Kurban. Kekristenan adalah panggilan untuk terikat dengan Kristus. Kita mengingini apa yang Ia ingini, kita menolak apa yang Ia tolak, dan kita mencintai apa yang Ia cintai.
Konsekuensi dari ini ialah, Salib. Untuk dapat merangkul salib dengan bahagia, persembahkanlah mur, lambang kesediaan untuk terluka, namun juga kesediaan untuk mengampuni. Hanya dengan kesediaan untuk terluka dan mengampuni, yang membuat perjalanan hidup ini sungguh dipenuhi sukacita dalam segala situasi hidup, seburuk apapun itu.

Sebagaimana Balthasar dari Arabia, bawalah kepada-Nya “Kemenyan”, lambang pengudusan. Allah adalah Kudus, demikian pula kamu dipanggil kepada kekudusan, kepada kemerdekaan sejati, bukannya perbudakan serta kebinasaan. Kamu dipanggil untuk bercahaya dalam cahaya kesucian. Kuduskanlah dirimu, kuduskanlah karyamu, dan kuduskanlah dunia ini dengan karyamu.
Kekudusan bukanlah suatu kemewahan yang hanya diperuntukkan bagi segelintir orang, melainkan suatu panggilan bagi kita semua, tanpa terkecuali.
Kekudusan sejati tumbuh dari kesadaran untuk berkanjang dalam doa. Seorang yang ingin Kudus, hendaknya terlebih dahulu menjadi seorang pendoa. Pendoa yang bukan melulu meminta, melainkan mencinta.

Betapa mengagumkan untuk mengetahui, bahwa apa yang dipersembahkan oleh Tiga Majus dari Timur, semuanya dapat ditemukan dalam diri seorang wanita yang paling bercahaya dalam Gereja. Dialah Perawan Suci Maria, Bunda Allah dan Bunda Gereja.
Barangsiapa yang mengingini hidupnya menjadi suatu persembahan hidup, yang harum dan berkenan bagi Allah, hendaknya meneladani Bunda Maria, Bunga Mawar Mistik dan Gambaran Kesempurnaan Gereja. Hidupnya semata-mata senantiasa menunjuk kepada Kristus. Dialah teladan yang paling aman. Mereka yang hendak memandang Allah, dapat melihatnya pada dan melalui mata Maria, yang senantiasa terarah kepada Putranya.
Semoga Hari Raya Penampakan Tuhan ini menjadi perayaan iman, yang mengobarkan hati kita untuk menjalani hidup yang senantiasa memandang Allah.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

PS:

Renungan “Jalan Kecil” kini telah hadir melalui Facebok Fan Page “Serviam Domini“. Silakan di-add dan di-share

Meditasi Harian 19 September 2016 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXV

BERCAHAYA DALAM KEGELAPAN

Bacaan:

Ams.3:27-34; Mzm.15:2-5; Luk.8:16-18

Renungan:

Segenap umat beriman kristiani, dimana pun mereka hidup, melalui teladan hidup serta kesaksian lisan mereka wajib menampilkan manusia baru, yang telah mereka kenakan ketika dibaptis, maupun kekuatan Roh Kudus, yang telah meneguhkan mereka melalui sakramen Krisma. Dengan demikian sesama akan memandang perbuatan-perbuatan mereka dan memuliakan Bapa (lih. Mat 5:16), dan akan lebih penuh menangkap makna sejati hidup manusia serta ikatan persekutuan semesta umat manusia” (Ad Gentes 11).

Injil hari ini mengingatkan panggilan dan tugas luhur ini. Sama seperti pelita yang diletakkan di atas kaki dian, untuk menerangi seluruh rumah, demikian pula kita diingatkan, bahwa anugerah keselamatan yang telah kita terima dalam Sakramen Baptis serta diteguhkan dalam Sakramen Krisma, di dalamnya terkandung pula misi kerasulan agar seluruh dunia pula beroleh keselamatan yang sama, melalui hidup dan karya kita.

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya” (Luk.8:16).  Kedalam dunia yang dipenuhi kegelapan yang membinasakan, disitulah kita dipanggil untuk membawa cahaya. Apapun profesi hidup kita, kita dipanggil untuk membawa nilai-nilai kristiani ke dalamnya, agar dunia melihat keselamatan yang datang dari Allah. “Orang-orang harus dapat mengenali Sang Guru dalam diri para murid-Nya“, demikian kata St. Josemaría Escrivá. Bila dijalani dengan segala keutamaan Kristiani, hidup dan karya kita pada akhirnya akan membawa banyak orang pada pengenalan iman akan Kristus. Seorang ibu yang mengurus rumah tangga, melayani suami dan membesarkan anak dalam kelimpahan cinta; seorang dokter yang memberikan diagnosa dan tindakan medis yang tepat pada para pasiennya, dan menolak tawaran menggiurkan perusahaan-perusahaan farmasi untuk melakukan sebaliknya; seorang supir taksi yang mengantarkan pelanggannya sampai ke tujuan, tanpa sengaja menyesatkan perjalanan mereka demi mendapatkan penghasilan lebih; seorang imam yang setiap hari duduk berjam-jam dalam doa di bilik pengakuan, terdorong oleh cinta kasih akan umat gembalaannya, dan tidak pernah menutup pintu karena tidak mau diganggu; serta berbagai sikap heroik kristiani lainnya. 

Apapun itu, kamu dipanggil untuk membawa cahaya di dalam semuanya, bukannya mendatangkan kegelapan. Akan tetapi, jangan pernah lupa bahwa cahaya para murid adalah pantulan cahaya Sang Guru. Kejatuhan seorang rasul Kristus seringkali diawali kesombongan, untuk melihat buah-buah kerasulan sebagai hasil kerja kerasnya semata, dan lupa akan Karya Allah, yang senantiasa hadir serta bekerja di dalam dan melalui dirinya. Bersyukurlah selalu dalam kesadaran, betapa Allah Yang Mahakuasa berkenan menjadikanmu, yang tercipta oleh-Nya dari debu tanah, sebagai rekan kerja dalam karya keselamatan-Nya. Selama kamu menjalani hidup dan karya kerasulanmu dalam kesadaran ini, kamu pasti tidak akan pernah kehilangan sukacita iman. Kuk itu akan selalu terasa enak, dan bebanpun terasa begitu ringan. 

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, senantiasa mengingatkan kita semua untuk bercahaya di tengah kegelapan dunia ini. Cahaya yang akan memalingkan pandangan mereka dari si jahat, dan mengarahkan pandangan dalam kuasa cinta kepada Puteranya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Cahaya dan Kebenaran Sejati. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 31 Maret 2016 ~ KAMIS DALAM OKTAF PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK MENGHANGUSKAN DUNIA

Bacaan:
Kis.3:11-26; Mzm.8:2a.5.6-7.8-9; Luk.24:35-48

Renungan:
Kendati menyedihkan, tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali untuk mempercayai suatu peristiwa pernyataan kuasa Allah, manusia merasa perlu menuntut untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Seolah Tuhan Semesta Alam harus mempertanggung jawabkan Diri-Nya di hadapan makhluk ciptaan-Nya. Dan lebih memprihatinkan lagi, bahwa ketika Tuhan justru berkenan menyatakan Diri-Nya, dan menjawab kerinduan umat-Nya, tak jarang pula pernyataan kuasa Allah itu justru disikapi dengan keterkejutan dan ketakutan, sebagaimana dialami oleh para murid dalam Injil hari ini (bdk.Luk.24:37). Di kemudian hari Petrus pun diperhadapkan pada rasa keterkejutan dan ketakutan khalayak akan kuasa Allah yang bekerja dalam dan melalui dirinya, sehingga keluarlah perkataan, “Mengapa kamu heran?” (Kis.3:12).

Mungkin saja, kegagalan beriman semacam ini diawali dengan kegagalan, untuk menyadari kemuliaan Tuhan melalui hal dan peristiwa sederhana dalam hidup. Mazmur hari ini sebenarnya telah mengungkapkannya dengan begitu indah, yaitu bahwa sebenarnya, “Seluruh bumi menampakkan kemuliaan Tuhan“.
Milikilah kekaguman untuk menyadari kemuliaan Tuhan dalam angin yang berhembus, dedaunan yang berjatuhan, air sungai yang mengalir, bahkan lampu-lampu kota yang bercahaya, sehingga kamu tidak akan begitu terkejut atau takut seperti para murid, manakala Tuhan berkenan melakukan karya-Nya yang luar biasa di dalam dan melalui dirimu.

Apa yang dialami para murid, juga dialami oleh putra-putri Gereja di sepanjang sejarahnya. Banyak saudara-saudari seiman yang mengalami kesulitan untuk melangkah dalam peziarahan berimannya, dengan sungguh-sungguh membawa Injil Tuhan dan Tradisi Suci di hatinya. Seandainya setiap orang beriman sungguh-sungguh menyadari martabat Imam, Nabi, dan Raja yang mereka peroleh melalui Sakramen Baptis, maka kita akan mendapati putra-putri Cahaya yang sanggup mendatangkan Api atas dunia ini; untuk menghanguskan segala bangsa, segenap suku dan kaum dalam nyala api cinta dari Tuhan.
Secara jujur harus diakui bahwa arus dunia ini telah menghempaskan putra-putri Gereja pada sikap acuh tak acuh dalam hidup beriman. Si jahat telah menabur benih ketidakpedulian, sehingga kita tidak lagi menjalani hidup beriman kita dengan “utmost capacity and capability“. Tak jarang kita mendapati generasi umat beriman yang suam-suam kuku, dihimpit ketakutan dan kekuatiran, yang berujung pada keputusan bodoh untuk mengkompromikan imannya.

Semoga kita sungguh-sungguh menyadari panggilan luhur kita untuk menjadi saksi-saksi Injil secara otentik dan meyakinkan,yang dibuktikan melalui hidup dan karya.
Bersama Bunda Maria, Saksi Pertama dan Utama dari janji keselamatan yang dilahirkannya ke dunia, kiranya Gereja Kudus boleh melahirkan putra-putri Paskah yang telah dibenamkan dalam air Baptis, dan keluar darinya dengan membawa Api yang sanggup membakar seluruh dunia dalam perjumpaan dengan saksi-saksi Kebangkitan. Kamulah Israel yang baru.

Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. 
Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” (Kis.3:25-26).

Bangkitlah! Bercahayalah! Kobarkanlah dunia ini dengan nyala api Cinta!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Agustus 2015 ~ Pesta St. Bartolomeus, Rasul

image

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Bacaan:
Why.21:9b-14; Mzm.145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh.1:45-51

Renungan:
Rasul St. Bartolomeus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini, adalah salah satu dari 12 Rasul dari Tuhan kita Yesus Kristus. Ia dikenal pula dengan nama “Natanael“. Di kemudian hari setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Rasul St. Bartolomeus mewartakan Injil ke jazirah Arabia, termasuk Syria dan Persia, bahkan sampai ke India. Pada akhir hidupnya, ia mewartakan Injil ke Armenia, dan berhasil menobatkan Polymius, seorang Raja Armenia, hingga akhirnya dia minta dibaptis oleh Rasul St. Bartolomeus. Peristiwa tersebut mendatangkan kemarahan Astyages, adik Raja Polymius, yang kemudian memerintahkan sang Rasul untuk dibunuh. Rasul St. Bartolomeus menerima mahkota kemartiran dengan cara dikuliti hidup-hidup kemudian wafat disalib dalam posisi terbalik pada akhir abad ke-1 Masehi di Albanopolis, Armenia.
Di kemudian hari jenasahnya dipindahkan dari Armenia, dan saat ini sebagian besar dari potongan tulang jenasahnya disemayamkan dengan penuh hormat dalam Gereja Katolik Basilika St. Bartolomeus, yang terletak di sebuah pulau di tengah sungai Tiber (Roma).
Hidup Rasul St. Bartolomeus memancarkan suatu kesaksian iman akan Allah yang luar biasa. Dalam bacaan Injil hari ini pun, dikatakan bahwa Tuhan Yesus memuji kejujuran hidup Rasul St. Bartolomeus dengan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!

Kejujuran adalah salah satu kebajikan dalam hidup Kristiani yang menyukakan hati Tuhan.
Jika “Ya“, katakan “Ya“. Jika “Tidak“, katakan “Tidak“.
Seorang Katolik tidak boleh bersikap abu-abu atau suam-suam kuku.
Dalam hidup menggereja, dalam pelayanan kasih, karya kerasulan dalam bentuk apapun, termasuk dalam profesi kerja dan panggilan apapun yang kita jalani, seorang Katolik harus selalu menghindari bahaya “kepalsuan” dalam hidup.
Tidak boleh menjadi orang Katolik yang setengah-setengah. Mengatakan menyembah Allah, tetapi masih memelihara berhala-berhala dab berpegang pada hal atau benda yang bukan bersumber dari kuasa Allah.
Jadilah teladan kejujuran dalam pekerjaanmu, sesederhana apapun itu. Jalanilah panggilan hidupmu dengan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah lilin yang bernyala sampai titik penghabisan, kendati disaat semua orang disekitarmu memilih menjadi lilin yang padam di tengah jalan, karena tidak sanggup melawan desakan untuk turut serta dalam kegelapan.

Kejujuran di hadapan sesama hanya mungkin dilakukan bilamana kita terlebih dahulu telah bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Bukankah Tuhan Mahatahu, bahkan tak sehelai rambutmu pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya?
Jikalau demikian, bagaimana mungkin kamu menjalani hidup dalam kebusukan dosa yang dikubur dalam-dalam, berusaha menyembunyikannya dalam topeng kepalsuan, sambil tetap melayani Tuhan dan menyembut dirimu hamba yang setia, seolah Tuhan bisa dibodohi atau didustai?
Meskipun anak-anak kegelapan mencoba menyamar sebagai malaikat terang dan menipu banyak orang, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi.
Maka, bila kamu memang adalah putra-putri Cahaya, jujurlah di hadapan Sang Cahaya. Jangan berusaha bercahaya, sambil tetap memelihara kegelapan dalam jiwa. Kendati demikian, jangan pernah menjadikan alasan “masih punya dosa“, sebagai pembenaran untuk menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Kejujuran bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, ketiadaan cacat, atau tidak pernah melakukan kesalahan.
Kejujuran berarti kesadaran akan kerapuhan diri, yang mendorong kita untuk meletakkannya ke dalam tangan belas kasih Tuhan, untuk diubahkan. Mereka yang berani jujur dan merendahkan diri di hadapan Allah dalam penyerahan diri total, akan mendapati ketidaksempurnaan dalam dirinya secara perlahan disempurnakan oleh Allah.
Jalanilah hidup setiap hari bagaikan di tengah medan pertempuran antara membiarkan dirimu dikalahkan dan jatuh dalam kepalsuan si jahat, atau untuk menjadi pemenang dalam kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.

Anda dan saya tahu, dalam hal apa secara spesifik kita sering bersikap tidak jujur. Ketidakjujuran orang yang satu mungkin berbeda dengan orang yang lain. Tetapi, kendati bentuk, situasi, atau tindakannya berbeda, pada hakikatnya untuk dapat mengikuti Tuhan secara “bebas“, kepalsuan demikian haruslah “dilepaskan“.
Semoga Rasul St. Bartolomeus menjadi teladan kita, akan bagaimana untuk hidup tanpa kepalsuan, dan bagaimana memiliki keberanian beriman untuk mewartakan kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Tak Bercela, membimbing kita di jalan kejujuran menuju Yesus Putranya, Sang Kebenaran Sejati.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan IV Paskah

image

BERNYALA SAMPAI AKHIR

Bacaan:
Kis.12:24-13:5a; Mzm.27:2-3.5.6.8; Yoh.12:44-50

Renungan:

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” ~ Yoh.12:46

Selama dunia menolak untuk menerima cahaya sukacita Injil, selamanya pula dunia akan tetap berada dalam kegelapan.
Sebagaimana cahaya ada untuk menerangi kegelapan, demikian pula Sabda Allah dalam diri Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menerangi kegelapan.
Dunia ini tidak mungkin hidup tanpa cahaya. Semua makhluk hidup memerlukan cahaya. Sebagaimana cahaya membawa kehangatan dan energi, membuat benih untuk bertunas serta semua yang hidup tumbuh dan berkembang, demikianlah cahaya kebenaran Tuhan membuat semua orang yang beriman kepada-Nya tumbuh dan berkembang serta mengalami hidup dalam segala kelimpahan rahmat yang berasal dari-Nya.
Kata-kata Yesus memberi kehidupan, yakni hidup Allah sendiri, bagi siapapun yang menerimanya dengan penuh sukacita dalam iman.
Ini bukanlah berarti ketiadaan masalah atau pergumulan hidup, melainkan kepastian bahwa di tengah semuanya itu, kita akan selalu menemukan sukacita dan rasa syukur di dalam Tuhan.
Jika kita tetap bersikeras untuk menolak cahaya sukacita Injil dan tuntutan hidup sebagai seorang Kristiani yang sejati, itu artinya kita telah secara tahu dan mau memilih untuk hidup dalam kegelapan rohani.

Hari ini (29 April), bersama Gereja Katolik sedunia, kita juga memperingati St. Katarina dari Siena. Beliau hidup pada masa suram dalam Gereja, saat para petinggi Gereja dan Negara hidup dalam kebobrokan rohani serta kerakusan duniawi luar biasa. Di tengah kerapuhan Gereja pada waktu itu, St. Katarina dari Siena tampil sebagai seorang wanita kudus yang tidak menghakimi atau membangkang terhadap Hirarki, melainkan dengan penuh kesetiaan dan cinta menasehati para gembala untuk kembali menemukan sukacita Injil di dalam panggilan mereka. Kendati mendapat banyak perlawanan, tanpa kenal lelah St. Katarina dari Siena menulis begitu banyak surat yang mengungkapkan kedalaman cinta Ilahi untuk menasihati para pejabat Gereja maupun Negara. Kata-katanya yang penuh hikmat dan kesetiaan mutlaknya pada Iman Katolik, pada akhirnya mendatangkan pertobatan dan bahkan sampai menyentuh hati Paus, yang kembali disadarkan akan tugas kegembalaan yang dipercayakan Kristus kepadanya.
Oleh karena itu, di masa suram yang kurang lebih sama saat ini, hidup dan karya St. Katarina dari Siena kiranya boleh juga meneguhkan iman kita, untuk setia dalam iman, taat pada Hirarki, serta tanpa kenal lelah dengan berbagai cara menopang para Uskup dan Imam terkasih kita dalam karya, demi kemuliaan Allah.

Dalam salah satu nasehat rohaninya, St. Katarina dari Siena menggambarkan hidup dan panggilan kita seperti sebuah lilin, yang bercahaya dengan lembut dan hangat. Untuk bernyala dengan baik sampai habis, sumbu lilin harus benar-benar tertancap dengan tepat dan lurus di tengah. Bila sumbunya tidak benar-benar tegak lurus, bentuk lilinnya akan tidak bagus, nyalanya tidak elok, bahkan mungkin akan padam dalam perjalanan dan tidak terbakar habis seluruhnya.
Sama seperti lilin itu, demikian pula hidup beriman kita haruslah lurus, stabil, konsisten. Sumbu iman kita haruslah tertancap kuat dan berakar dalam Kristus serta dalam kesetiaan kepada ajaran iman Gereja Katolik secara otentik, tanpa pernah berpikir untuk berdiri di ruang abu-abu. Saat berbicara soal iman, kita tidak boleh bengkok sana-sini dan kompromistis karena takut mengecewakan pendengar.
Untuk dapat bernyala dan membakar seluruh dunia serta menghanguskan dunia dalam ketergila-gilaan cinta akan Allah, sumbu iman kita harus tertancap kuat pada Ekaristi Kudus dan doa tak kunjung putus, sebagai Sumber Hidup yang memampukan kita untuk terus berkobar dan bercahaya menerangi dunia, agar hidup dan karya kita selalu menghasilkan buah yang baik.
Kesetiaan mengikuti Misa Kudus untuk menyambut Tubuh Tuhan, dan ketekunan dalam doa menjadikan setan semakin kehilangan ruang gerak, dan dia tidak mendapat tempat dalam hidup kita, karena hidup kita begitu dipenuhi oleh cinta Tuhan.
Jika tidak demikian, maka datanglah si jahat untuk berbisik di lubuk hati kita agar jatuh dalam dosa dan kehilangan ketakutan yang suci akan Allah.
Dosa akan menjadi ibarat air yang disiramkan ke atas lilin yang bernyala, sehingga lilin itu tidak lagi bercahaya dengan lembut dan hangat, melainkan akan mendesis, berasap, bahkan mati. Lilin hanya dapat bernyala kembali dengan indahnya apabila dikeringkan. Disinilah rahmat Sakramen Tobat membawa pemurnian, mengeringkan kita dari ketenggelaman dalam dosa, sehingga kita dapat kembali bercahaya.
Malanglah mereka yang tidak mencintai Ekaristi, tidak memelihara hidup doa, dan dengan angkuhnya merasa tidak perlu mengaku dosa sesering mungkin.
Jangan heran bila hidupmu tidak berbuah baik, karena cintamu sedikit. Cintamu sedikit karena kamu tidak pernah menimba daya hidup cinta yang berasal dari Ekaristi, doa, dan pertobatan sejati.
Semoga kita senantiasa mendekat kepada Tuhan dan menyentuh Hati Allah karena cinta akan Dia, sehingga pada akhirnya kita akan sanggup menyentuh hati semua orang dan menghanguskan mereka dalam kuasa cinta.

“Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu.” ~ St. Katarina dari Siena

Pax, in aeternum.
Fernando