Meditasi Harian ~ Jumat V Prapaska

image

SIAP SEDIALAH UNTUK DITOLAK

Bacaan:
Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a.3bc-4.5-6.7; Yoh.10:31-42

Renungan:
Meskipun bangsa Yahudi melihat betapa mengagumkan karya Allah yang bekerja di dalam diri Tuhan Yesus, pengajaran-Nya yang penuh hikmat dan kuasa, penyembuhan yang Ia kerjakan, pengusiran roh-roh jahat yang Ia lakukan, bahkan sekalipun mereka melihat sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, toh mereka tetap menolak Yesus.
Keberatan utama yang menyebabkan bangsa Yahudi menolak Yesus bukanlah pada “perbuatan baik” yang Ia kerjakan, melainkan pada pengakuan Yesus akan Diri-Nya sebagai “Anak Allah”.
Dalam bacaan hari ini kita mendapati kenyataan lain dari penolakan banyak orang untuk menerima sukacita Injil.
Terlepas dari banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan bagi sesama, tak jarang kita ditolak bukan karena perbuatan-perbuatan baik itu, melainkan semata-mata karena kita adalah seorang Kristen, putra-putri Allah.
Di banyak negara dan tempat, setiap hari kita mendengar dan menyaksikan putra-putri Gereja menderita penganiayaan, penolakan, bahkan dibunuh karena Kristus. Banyak karya misi yang bertujuan memberi hidup dan mengembalikan martabat manusia ditolak semata-mata karena karya baik itu dilakukan oleh anak-anak Allah.
Kita pun terkadang mengalami penolakan serupa dalam karya kerasulan kita.
Mengalami perlakuan demikian, dalam bacaan pertama kita bisa mengerti akan rasa frustasi dan kekecewaan yang dialami oleh Nabi Yeremia. Tidak hanya Yeremia, di sepanjang sejarah pun kita menyaksikan dalam hidup para kudus, baik nabi, rasul, martir, serta para saksi iman, bagaimana mereka mengalami penolakan, rasa frustasi dan kekecewaan serupa dari sesama mereka, bahkan penolakan itu datang dari orang-orang yang terdekat dengan mereka.
Sejenak kita bisa memahami pula latar belakang dari seruan terkenal Improperia, yang sering kita dengarkan dalam Liturgi pada Jumat Agung, Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contris tavite? Responde mihi!” ~ “Hai umat-Ku, apa salah-Ku padamu? Kapan Aku menyusahkanmu? Jawablah Aku!”
Penolakan akan selalu ada. Akan tetapi, waspadalah!
Jangan sampai karena tidak ingin ditolak dalam melakukan perbuatan baik, kita kemudian berkompromi dengan dunia, dan menanggalkan identitas Kristiani kita, ke-Katolik-an kita.
Sekolah dan rumah sakit Katolik begitu dikenal karena kualitasnya, tetapi jangan pernah lupa apa yang menjiwai itu semua.
Anda mungkin seorang atlit Katolik yang meraih prestasi luar biasa dalam suatu pertandingan olahraga, tetapi jangan pernah lupa semangat Iman yang memampukan anda melalui berbagai hal untuk sampai disitu.
Seorang pengacara Katolik dapat memenangkan banyak perkara di pengadilan, tetapi jangan pernah memutarbalikkan apa yang adil dan benar, hanya karena uang dan ketakutan kehilangan klien.
Kita semua dipanggil untuk menjadi Katolik sejati, yang membawa Kristus di tengah dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, “apapun” resikonya.
Sama seperti Tuhan dan Penyelamat kita mengalami penolakan, demikian pula kita.
Inilah konsekuensi dari Iman Kristiani kita.
Kendati demikian, belajarlah dari Tuhan Yesus dan para kudus. Di tengah semua penolakan, kekecewaan, air mata, dan ketika darah mereka harus mengalir, bahkan sampai kehilangan nyawa karenanya, dalam kesetiaan iman mereka tetap dipenuhi dengan cinta yang meluap-luap akan sesama, untuk melayani dan mengasihi tanpa batas.
St. Josemaría Escrivá mengatakan, “Seandainya seluruh dunia dengan segala kekuatannya melawanmu, mengapa hal tersebut merisaukan hatimu? Engkau, majulah terus!”
Semoga kita selalu menemukan kekuatan pada Salib Tuhan. Semoga Perawan Suci Maria, hamba Allah yang setia, selalu menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya dalam menjalankan tugas kerasulan kita dengan gembira, dipenuhi sukacita Injil, agar semua orang boleh melihat perbuatan kita yang baik, dan memuliakan Allah Bapa di surga.

Pax, in aeternum.
Fernando