Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan VII Paskah

image

DUNIA TIDAK PERLU MENGENAL KAMU

Bacaan:
Kis.20:17-27; Mzm.68: 10-11.20-21; Yoh.17:1-11a

Renungan:
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh.17:3)

Doa dan kerinduan Yesus ini hendaknya selalu menjadi doa dan kerinduan setiap orang yang menyebut diri “rasul Kristus“, atau “hamba Tuhan“.
Meskipun terkadang sulit di-Amin-kan oleh sebagian orang yang dengan bangga menyandang sapaan “hamba Tuhan“, sebenarnya suka atau tidak, siapapun yang memberi diri bagi karya kerasulan dan pelayanan Kristiani, harus menyadari kebenaran ini, yakni bahwa sukacita terbesar dari karya kerasulan dan pelayanan kita hanya bisa ditemukan dan mencapai kepenuhannya ketika “Kristus” semakin “dikenal“, dan “kita” yang melayani Dia, semakin “tidak dikenal“.

Dunia tidak perlu mengenal kamu. Kristus-lah yang harus mereka kenali di dalam dirimu, di dalam hidup dan karyamu, di dalam pelayananmu, di dalam setiap tugas pekerjaanmu, di dalam keluargamu, di dalam setiap langkah dan menit-menit kehidupanmu.
Kalau karya kerasulanmu berhasil memenangkan jiwa-jiwa bagi Allah, jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa itu adalah jasa-jasamu.
Kalau pewartaan sukacita Injil yang kamu lakukan mengobarkan hati dan menyentuh kedalaman jiwa pribadi-pribadi yang mendengarkannya, singkirkanlah jauh-jauh dari pikiranmu bahwa itu karena kekuatan, kehebatan, atau kebijaksanaanmu semata, apalagi sampai tergoda untuk berpikir seakan-akan Tuhan tidak dapat bertindak tanpa kamu, atau karya keselamatan-Nya hanya dapat berbuah secara maksimal melalui kamu.

Salah satu kejatuhan terbesar dari rasul-rasul Kristus ialah ketika melupakan tujuan utama kerasulannya, yaitu agar Tuhan semakin besar, dan dia semakin kecil. Tuhanlah yang harus semakin dikenal, dicintai, dan dimuliakan. Tanpa kesadaran akan tujuan ini, seorang “hamba Tuhan” dapat jatuh dalam kelekatan, kesombongan dan pemuliaan diri, menjadi budak uang dan kerakusan, bahkan nabi-nabi palsu yang menyerukan nama “Tuhan“, padahal hatinya telah digelapkan menjadi seperti “iblis” yang menyamar sebagai “malaikat terang“.
Jangan sampai orang-orang lebih mengenal kamu dengan segala borok-borokmu, dan justru tidak bisa melihat sedikitpun cahaya kemuliaan Tuhan yang bersinar di dalam dirimu.

Mohonkanlah dalam hari-hari Novena Roh Kudus ini, karunia kerendahan hati dan kebijaksaan Ilahi, sehingga kita selalu disadarkan akan kerapuhan kita yang bagaikan bejana tanah liat, senantiasa diingatkan bahwa kita hanyalah alat, bagaikan kuas di tangan pelukis, untuk membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dan menggerakkan kita untuk menghasilkan lukisan yang indah.
Pada akhirnya, bukan lukisan indah itu yang dipuji, bukan pula kuasnya yang dimuliakan, melainkan Sang Pelukis-lah yang dipuji dan dimuliakan.
Sukacita kita adalah dapat mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya, dan pada akhirnya beroleh kekekalan di Surga.

Pax, in aeternum.
Fernando