Meditasi Harian 9 Oktober 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XXVII

image

KALAHKANLAH SI JAHAT !

Bacaan:
Yl.1:13-15 & 2:1-2; Mzm.9:2-3.6.16.8-9; Luk.11:15-26

Renungan:
Kejahatan itu bukan sekadar suatu kenyataan, melainkan pribadi yang benar-benar ada. Bukan sekadar realitas, melainkan entitas. Meskipun terkadang dapat disalah mengerti dengan penyakit-penyakit zaman ini, Si Jahat bukanlah sekadar sejenis penyakit yang tidak bisa dijelaskan pada situasi, tempat atau, keadaan dimana manifestasinya terjadi.
Dia adalah pribadi yang nyata, yang dengan racun kedosaannya telah merusak relasi umat manusia dengan Allah, dan menjadi akar penyebab rupa-rupa kemunduran beriman, kerusakan, peperangan, penderitaan, serta berbagai bentuk kejahatan di segala zaman.
Dengan berbagai cara ia melawan Allah, dan bekerja untuk menggagalkan maksud-maksud Allah.
Di sepanjang sejarah kemanusiaan, Si Jahat ini dikenal dengan berbagai nama: Beelzebul, setan, bapa segala dusta, pangeran kegelapan, iblis, lucifer, ho diabolos, si pendakwa, penguasa dunia, hanyalah sebagian dari sekian banyak namanya.

Tidak hanya dalam Injil Lukas yang kita baca hari ini, di berbagai bagian dalam Kitab Suci kita diyakinkan akan adanya konflik besar antara kekuatan Allah dan kebaikan di satu pihak, melawan kejahatan di bawah pimpinan iblis di pihak lain.
Tak dapat diragukan betapa hebat dan sengitnya peperangan itu. Untuk menekankan kengeriannya, St. Petrus Rasul, Paus Pertama kita, mengatakan bahwa Iblis “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Ptr.5:8). Demikian pula St. Paulus Rasul memperingatkan kita akan kelicikan si jahat yang dengan begitu lihainya “menyamar sebagai malaikat Terang” (bdk.2Kor.11:14).
Dalam hidup para kudus kita tahu bahwa mereka pun dicobai iblis dengan begitu nyata, dan merekantelah keluar sebagai pemenang atasnya.
Maka, sangatlah disayangkan bahwa kesadaran akan eksistensi si jahat di zaman sekarang ini dianggap oleh banyak orang, termasuk oleh sebagian orang di dalam Gereja, sebagai suatu kebodohan dan berbau tahyul, bagian dari film dan kisah novel yang fiksi belaka.

Dalam keprihatinan akan sikap acuh tak acuh demikian, Beato Paus Paulus VI kemudian mengatakan, “Janganlah jawaban kami ini mengejutkan anda karena terlalu sederhana dan bahkan berbau tahyul atau tidak nyata: Salah satu kebutuhan yang terbesar adalah pertahanan dari yang jahat yang disebut Iblis…Kejahatan itu bukan hanya kekurangan sesuatu, tetapi suatu perilaku yang aktif, suatu makhluk rohani yang sudah rusak dan menjadikan orang rusak. Suatu kenyataan yang mengerikan…Sangatlah berlawanan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja bila ada yang menolak untuk mengakui adanya kenyataan ini…atau yang menerangkannya sebagai suatu kenyataan semu, suatu personifikasi yang berangan-angan dan terkonsep untuk sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita…Masalah Iblis dan pengaruh yang dapat ditimbulkannya pada perseorangan dan juga pada komunitas, masyarakat, dan peristiwa merupakan suatu bab yang sangat penting dari doktrin Katolik, yang hanya sedikit sekali diperhatikan saat ini…Sebagian orang mengira bahwa kompensasi yang cukup mengenai hal itu dapat diperoleh pada studi psikoanalitik dan psikiatrik atau dalam pengalaman-pengalaman spiritual…Orang takut untuk jatuh dalam teori Manikeanisme lagi atau dalam penyimpangan yang menakutkan dari bayangan dan tahyul. Dewasa ini orang lebih cenderung tampil dengan kuat dan tidak berprasangka…Doktrin kita menjadi tidak pasti, gelap seperti adanya kegelapan yang meliputi iblis.” (Pope Paul VI, L’Osservatore Romano, November 23, 1972)

Salah satu tugas perutusan Gereja adalah untuk menyadari eksistensi si jahat, dan memeranginya dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.
Ini adalah peperangan iman yang harus disadari oleh putra-putri Gereja. Berdirilah di tempat yang tepat.
Seseorang tidak dapat memihak Allah dan disaat bersamaan bersepakat dengan Setan dengan segala perbuatannya.
Tidak mungkin menyebut diri putra-putri Allah dan seorang Katolik sejati, tetapi di saat bersamaan menggunakan kontrasepsi, menyetujui hukuman mati, melakukan aborsi dan membenarkan euthanasia, menebar kebencian dan permusuhan, menjadi budak seks dan narkotika, mengakui pernikahan sesama jenis dan rekayasa genetika, berpegang pada jimat, melakukan praktik sihir dan guna-guna, percaya pada ramalan, serta berbagai bentuk tipu daya si jahat lainnya.

Maka, siapapun yang hendak berdiri di pihak Allah, haruslah dengan tegas menolak setan dengan segala perbuatannya.
Tidak boleh beriman setengah-setengah. Berimanlah sepenuhnya atau tidak sama sekali.
Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Lukas.11:23)
Kita dipanggil untuk menyadari peperangan iman ini dan memenangkannya bersama Tuhan.
Sebab setan, demikian ujar Sri Paus St. Gregorius, tidak memiliki apa-apa di dunia ini, dan dia maju ke medan pertempuran dalam keadaan telanjang. Jika engkau dengan ‘mengenakan segala pakaian duniawi’ berperang melawan setan, maka engkau akan segera tersungkur ke tanah, sebab Engkau mengenakan sesuatu yang dapat dicengkeram olehnya.” (St. Josemaría Escrivá)

Sebagaimana si jahat mencobai Tuhan Yesus, kita pun harus selalu mewaspadai kehadirannya, yang meskipun seringkali tidak begitu kentara dan tersembunyi dengan begitu cerdiknya, tetapi selalu ada di balik berbagai peristiwa hidup beriman kita.
Lawanlah si jahat dengan imanmu, dengan doa-doamu, dengan hidupmu yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.
Doa Agung yang diajarkan oleh Tuhan kita pun dengan jelas mengajak kita untuk berani meminta Bapa agar “membebaskan kita dari segala yang jahat.
Putra-putri Gereja hendaknya bercahaya untuk mengenyahkan kegelapan, mengusir setan dengan segala kuasanya, dan menyatakan hadirnya Kerajaan Allah di tengah dunia.
Jangan Takut!
Jika Tuhan di pihak kita, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Di saat ini, berdoalah juga bagi Gereja Kudus, khususnya bagi Sinode Keluarga yang masih sementara berlangsung di Roma. Si jahat saat ini mencoba menyerang Gereja dengan melemahkan serta merusak kesejatian Keluarga dan Sakramen Pernikahan. Ini nyata dari usaha sebagian pihak untuk merubah Ajaran Gereja mengenai itu.
Ada usaha pula untuk memaklumkan dosa pribadi dan sosial di balik selubung Teologi mengenai Kerahiman Tuhan, namun ternyata memiliki kemiripan yang sesat dari gagasan serupa di masa Reformasi.
Semoga Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa (Uskup) Sinode Keluarga ini, senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus, sehingga buah-buah Sinode nantinya, dapat menjadi senjata Iman Gereja Katolik dalam mengalahkan niat-niat si jahat yang ingin merusak keutuhan Keluarga dan Sakramen Pernikahan.
Pandanglah Salib Tuhan, disanalah kamu akan selalu menemukan kekuatan untuk melawan si jahat.
Pada akhirnya, kejahatan akan dikalahkan oleh kuasa Allah.
Bersama Santa Perawan Maria, marilah kita menjadi rasul-rasul doa, dengan mendaraskan Rosario Suci, sebagai senjata ampuh untuk mengenyahkan kegelapan dunia ini.
Berperanglah, bercahayalah, dan rebutlah sebanyak mungkin jiwa dari genggaman si jahat, demi kemuliaan Allah.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++