Meditasi Harian 7 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV


MERASUL TANPA KELEKATAN


Bacaan
:

Hos.11:1.3-4.8c-9; Mzm.80:2ac.3b.15-16; Mat.10:7-15

Renungan
:

Ketika dibaptis, suatu tugas suci telah diletakkan ke dalam hati kita, yaitu mewartakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa. Meskipun banyak di antara kita menerima anugerah pembaptisan sewaktu masih bayi, namun tugas ini tidak pernah boleh dilupakan. Disinilah panggilan keluarga, orang tua dan wali baptis mendapat makna yang adikodrati. Jangan pernah lupa mewariskan iman dan Amanat Agung kerasulan ini. Oleh sakramen pembaptisan, kita telah mengalami hidup dalam segala kepenuhan dan kasih karunia. Hidup sejati sebagai anak-anak Perjanjian. Ini bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Maka sadarilah dan syukurilah kebaikan Tuhan ini. Berhentilah menjalani hidup dalam perhambaan akan dunia. Tinggalkanlah kegelapan dan perbudakan dosa, dan melangkahlah menuju cahaya dengan dikobarkan oleh Api kerasulan.

Hidup beriman saat ini diperhadapkan dengan kemerosotan semangat merasul di tengah dunia. Banyak rasul-rasul Kristus yang kehilangan visi kerasulan, sehingga karya-karyanya tidak berbuah bagi Kerajaan Allah. Cahaya iman mulai meredup, garam cintakasih menjadi tawar, dan kesaksian hidup melemah menjadi seolah tak berpengharapan. Kita tidak boleh lupa bahwa panggilan merasul ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah“, kesadaran sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.

Tanpa kesadaran ini, maka seorang dapat jatuh dalam kegagalan untuk memberi nilai adikodrati dalam segala karya, sehingga menjadi karya manusia belaka, bukannya Karya Tuhan. Jangan pernah lupa bahwa panggilanmu adalah panggilan untuk Kemuliaan. Kemuliaan yang hanya dapat diperoleh bilamana kita menjalankan tugas kerasulan dengan penuh cinta dan ketekunan. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengutus para rasul dengan bersabda, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:7-8).

Kerajaan Allah itulah yang harus kamu wartakan. Wartakanlah itu dengan hidupmu, dengan senantiasa membawa tanda-tanda milik Kristus, dengan sikap heroik beriman yang mendatangkan kekaguman dan membuat seluruh dunia bertanya dan mencari tahu siapa Kristus itu, karena karya-karya agung yang dikerjakan-Nya dalam hidupmu. 

Jalan kerasulan ini bukanlah jalan yang dapat dilalui oleh mereka yang lemah hati. Kuatkanlah hatimu dengan senantiasa melekatkannya kepada Hati Tuhan. Santo Josemaría Escrivá mengatakan, “Hatimu melemah dan engkau mencari pegangan dunia ini. Bagus, tetapi berhati-hatilah agar pegangan yang menopangmu supaya tidak jatuh itu, tidak akan menjadi beban yang justru akan menyeretmu ke bawah, atau rantai yang akan memperbudakmu” (Camino, pasal 159). Kelekatan akan dunia dengan segala tawaran semunya, adalah perangkap si jahat yang harus dihindari oleh setiap rasul Kristus. Kelekatan seringkali disertai kesedihan yang berwujud kemurungan, suam-suam kuku, kemalasan, serta padamnya kerinduan untuk merasul dan mencari wajah Allah dalam diri sesama. 

Dalam surat pastoral kepada putra-putrinya, Prelat Opus Dei Msgr. Javier Echevarría mengingatkan, “Seorang Kristiani yang sungguh menyadari bahwa dia adalah anak Allah tidak akan pernah dikuasai oleh kesedihan… Kita adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah dunia, jadi wajar saja bahwa masalah-masalah mendesak dunia kontemporer saat ini – pergumulan melawan narkoba, berbagai krisis dalam kesatuan keluarga, sikap dingin yang disebabkan individualisme, serta krisis ekonomi, sangat mempengaruhi hidup kita. Diperhadapkan pada kenyataan ini seharusnya tidak membuat kita menjadi sedih. Yakinlah bahwa bila kita tetap dekat dengan Hati Yesus, kita akan selalu beroleh penghiburan, dan itu tidak hanya dialami pada kehidupan kekal” (Surat Bapa Prelat Juli 2016).

Di hari Peringatan Konsekrasi Gereja Santa Perawan Maria dari Torreciudad, marilah kita mohon penyertaan Bunda kita yang tersuci ini, bagi siapa saja yang melayani Yesus Putranya di jalan kerasulan suci. Semoga mereka senantiasa memandang Kristus, dan melayani di tengah dunia tanpa melekatkan hati pada segala yang fana, agar pada akhirnya dapat beroleh ganjaran mahkota surgawi, dalam kemuliaan kekal bersama Allah dan para kudusnya.
Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥ 

Meditasi Harian 2 Februari 2016 ~ PESTA TUHAN YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

image

HIDUPKU PERSEMBAHANKU

Bacaan:
Mal.3:1-4; Mzm.24:7.8.9.10; Ibr.2:14-18; Luk.2:22-40

Renungan:
Hari ini, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Katolik sedunia merayakan peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan di Kenisah oleh Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, dengan disaksikan oleh Nabi Simeon dan Nabiah Hana. Perayaan ini awalnya dirayakan di Gereja Katolik Timur dengan sebutan perayaan “Perjumpaan“, dan pada abad-6 mulai dirayakan pula oleh Gereja Katolik Barat hingga saat ini. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma sendiri, termasuk di Indonesia, perayaan ini memiliki makna penting lainnya, yaitu inilah hari dimana lilin-lilin doa kita secara khusus diberkati (Candlemas).

Melalui Peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa dalam Kenisah, Bunda Gereja mengingatkan kita akan saat dimana kita pun pertama kali dipersembahkan kepada Allah dan mengambil bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan-Nya, melalui Sakramen Baptis.
Hidup seorang Kristiani adalah hidup yang sejak awal dipersembahkan kepada Allah, dan semata-mata demi menyatakan kemuliaan-Nya.
Maka, setiap kali kita merayakan perayaan ini, ingatlah akan tugas suci ini.
Anda dan saya, kita semua dipanggil menjadi lilin-lilin Suci, yang membawa cahaya Tuhan untuk menerangi lorong-lorong gelap dunia ini, dan mewartakan tahun rahmat Tuhan dengan penuh sukacita Injil.

Hari ini Tuhan menyapa kita melalui Sabda-Nya, untuk setiap hari mempersembahkan segenap hidup, keluarga, anak-anak, pekerjaan, pelayanan, harta milik, cita-cita, segala talenta dan karunia yang ada pada kita, sebagai persembahan yang hidup dan indah, yang harum dan berkenan di Hati Tuhan.
Tidak cukup bagi seorang Kristiani untuk berbangga bahwa dia telah diselamatkan dan menjadi pengikut Kristus. Persembahan hidup yang sejati adalah hidup yang tidak hanya mendatangkan keselamatan bagi diri sendiri, melainkan juga membawa orang lain menapaki jalan keselamatan yang sama. Hidup yang berbuah baik, hidup yang memenangkan jiwa-jiwa. Itulah persembahan yang berkenan di Hati Tuhan.

Kepada siapa selama ini engkau telah mempersembahkan hidupmu? Kepada Allah ataukah justru kepada si jahat? Kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup, ataukah kepada kelekatanmu akan keluarga, penyakit, kemalasan, kekayaan, ambisi pribadi, hobi, atau berbagai hal lainnya yang selama ini menjadi alasan di balik penolakanmu untuk memberi diri melayani Tuhan dan memenangkan jiwa-jiwa bagi-Nya?Sudahkah hidupmu dan segala milik kepunyaanmu menjadi persembahan bagi Allah? Ataukah itu semua membuatmu semakin menjauh dari-Nya? Apakah hidupmu berbuah bagi Allah, ataukah justru hanya menjadi talenta yang dikubur dalam-dalam tanpa menghasilkan buah?

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel menyertaimu dalam pendakian menuju puncak Gunung Tuhan, kepada perjumpaan cinta sempurna dengan Dia. Suatu perjumpaan Cinta yang menuntut kelepasan darimu, dan pemberian diri secara total dan tanpa syarat kepada-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan II Paskah

image

LAHIR BARU DALAM ROH

Bacaan:
Kis.4:23-31; Mzm.2:1-3.4-6.7-9; Yoh.3:1-8

Renungan:
Kedatangan Nikodemus dalam kegelapan di waktu “malam” (bdk.Yoh.3:2) untuk bertemu dengan Yesus, melambangkan kurangnya cahaya iman.
Pemilihan waktu bertemu ini juga menyiratkan kekuatiran dan ketakutan Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin yang dikenal sebagai otoritas tertinggi dalam hidup keagamaan Yahudi, untuk secara terbuka dan berani mengakui imannya akan Yesus.
Meskipun Nikodemus menyapa Yesus sebagai “Rabbi” (bdk.Yoh.3:2), yang adalah pengakuan akan kuasa dan wibawa Ilahi dari pengajaran Yesus, dia masih jauh dari iman yang sejati.
Yesus mengatakan bahwa untuk memiliki iman yang sejati, seseorang harus “lahir baru” (bdk.Yoh.3:3.7).
Lahir baru dalam Roh berarti masuk dalam kumpulan orang-orang dimana Allah disembah dan ditaati, dimana hukum-hukum-Nya bukan hanya tertulis dalam kitab hukum yang mati, melainkan terukir dalam hati yang dipenuhi luapan cinta akan Hukum Tuhan.
Sakramen Pembaptisan adalah pintu masuk kelahiran baru itu. Dengan dibaptis, kita menyatakan diri kita sebagai putra-putri Allah, manusia-manusia Paskah, yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah dalam cahaya kebangkitan Kristus.
Dengan demikian, kita akan memiliki keberanian iman dan kepenuhan Roh Kudus seperti Petrus dan Yohanes untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dan “melaksanakan segala sesuatu yang telah ditentukan Tuhan bagi kita sejak semula” (bdk.Kis.4:28).

Pax, in aeternum.
Fernando

Bangunlah dan Bercahayalah !

MINGGU PRAPASKA IV – LAETARE ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – 1 Samuel 16: 1-13

Mazmur Tanggapan – Mzm.23: 1-3a, 3b-4, 5, 6

Bacaan II – Efesus 5: 8-14

Bacaan Injil – Yohanes 9: 1-41

Come and be My Light

Bangunlah dan Bercahayalah !

BANGUNLAH DAN BERCAHAYALAH !

Dalam Injil hari ini, kita membaca bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahirnya. Kebutaan adalah suatu keadaan yang sungguh menyedihkan, karena menjadi  buta berarti menjalani hidup dalam kegelapan. Bahkan untuk berjalanpun dan melakukan berbagai aktivitas, mereka memerlukan waktu yang lebih lama, karena harus melakukannya secara perlahan, setapak demi setapak. Oleh karena itu, tergerak oleh belas kasihan atas orang yang buta sejak lahirnya itu, Yesus pun kemudian, dengan cara yang punya kedalaman arti tersendiri, memelekkan mata orang buta itu, sehingga ia dapat melihat.

Tindakan Yesus ini mendapat tentangan dari orang banyak, khususnya orang-orang Farisi, karena Yesus melakukan karya mujizat-Nya pada hari Sabat. Disinilah kita mulai melihat maksud terdalam dari penginjil Yohanes, untuk secara khusus mengisahkan penyembuhan orang buta ini dalam Injilnya. Dengan adanya pertentangan dari banyak orang yang melihat tindakan belas kasih Yesus sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan, kepada kita ditunjukkan bahwa di balik kebutaan fisik yang dijalani oleh orang yang buta sejak lahirnya itu, ada kebutaan yang jauh lebih membinasakan baik tubuh maupun jiwa yang dialami justru oleh orang-orang di sekitar si buta tadi. Melebihi si buta, orang-orang yang yakin bahwa mereka dapat melihat, nyatanya memiliki kebutaan yang jauh lebih gelap, yakni kebutaan rohani. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam.16:7ef) Yesus mengetahui kegelapan isi hati khalayak ramai yang melihat tindakan penyembuhan Yesus sebagai suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.

“Sekiranya buta kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata, ‘Kami melihat,’ maka tetaplah dosamu.” (Yoh.9:41b) Tidak ada kebutaan yang lebih menyedihkan daripada mereka yang menolak untuk melihat. Karena kekerasan hati mereka yang begitu yakin akan kemampuannya untuk melihat, mereka menolak, bahkan memalingkan wajah mereka dari Yesus, Sang Terang Dunia.  Tidak ada dosa yang lebih berat daripada penolakan gerakan Roh yang membimbing kita untuk  melihat dan menanggapi belas kasih Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya.

Sejenak peristiwa penyembuhan orang buta ini juga menggambarkan perjalanan iman seorang beriman secara umum, maupun seorang katekumen secara khusus, dimana oleh karena belas kasih Allah, secara perlahan, setapak demi setapak, Ia berkenan menghantar kita pada pemahaman yang semakin sempurna akan Dia. Dalam iman, kita dihantar dari suatu kebutaan rohani kepada pengenalan akan Allah, sehingga pada akhirnya kita akan mengenal Dia sebagaimana Dia seharusnya dikenal, kemudian masuk dalam persatuan cinta yang mesra dengan-Nya. Untuk itu, diperlukan keterbukaan, kerendahan hati, penyerahan diri tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas atas Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Sebagaimana si buta, kita harus berani mengakui segala kelemahan dan keterbatasan kita, serta dengan hati yang remuk redam dalam pertobatan, beranjak dari kegelapan, untuk kemudian berjalan mendekati Allah, sehingga terang Kristus bercahaya atas kita. Dengan demikian, kita akan mengalami secara penuh rahmat berlimpah yang terkandung dalam pembaptisan yang telah kita terima. Dengan dibaptis, kita yang dahulu hidup dalam kegelapan, kini menjadi manusia baru yang hidup dalam terang Tuhan. Inilah konsekuensi sekaligus anugerah indah yang terkandung dalam panggilan Kristiani kita, yakni untuk mengalahkan kegelapan, dan membawa cahaya ke dalam dunia.

“Saudara-saudara, dahulu kamu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kamu hidup dalam terang Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang…Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu…Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Ef.5:8,11,14)

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah membawa Sang Terang itu ke dalam dunia, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita dapat menjadi putra-putri Ekaristi, untuk senantiasa membawa cahaya Kristus dan menghalaukan kegelapan dunia, sehingga kelak kita boleh memandang kemuliaan Allah dalam kekudusan, serta beroleh mahkota kemuliaan di surga. (vft)

 

 

Bertobatlah…!

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Katolik Ortodoks

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Ortodoks

 

MINGGU BIASA III (TAHUN LITURGI – A)

Bacaan I – Yesaya 8: 23b – 9: 3

Mazmur Tanggapan – Mzm.27: 1, 4, 13-14

Bacaan II – 1 Korintus 1: 10-13.17

Bacaan Injil – Matius 4: 12-23

Bertobatlah…!

Hari ini Injil menceritakan kepada kita bagaimana Yesus, sesudah penangkapan Yohanes Pembaptis, melangkahkan kaki-Nya keluar dari wilayah Yerusalem dan Yudea, untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah di daerah Galilea, yang pada masa itu dianggap sudah kehilangan kemurnian sebagai tanah perjanjian, dan sudah berbau kafir. Tindakan Yesus ini merupakan tindakan profetis yang telah dinubuatkan oleh Yesaya, bahwa Mesias, Putra Allah, sekarang tampil sebagai pembebas untuk membawa cahaya pengharapan dan menghalau kegelapan. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes.9:1 & Mat.4:16)

Untuk itulah Gereja ada. Gereja bagaikan sebuah sakramen keselamatan. Sama seperti para murid yang pertama, Gereja diutus di tengah dunia untuk menjadi penjala manusia (bdk.Mat.4:19), untuk membawa cahaya Kristus ke dalam kegelapan. Akan tetapi, Gereja hanya bisa secara sempurna menjalankan karya Ilahi, bilamana ia sungguh menyadari bahwa kekuatannya berasal dari kesatuannya dengan Kristus, Sang Mempelai. Gereja dipanggil untuk masuk dalam persatuan cintakasih Allah Tritunggal Mahakudus, untuk bisa mendatangkan api cinta yang nantinya membaharui muka bumi. Ia harus senantiasa setia pada pengakuannya akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan.

Inilah yang diingatkan oleh Rasul Paulus, yang dengan tegas mengingatkan Gereja di Korintus bahwa perpecahan akan mengaburkan kesatuan Gereja dengan Kristus. Paulus, yang oleh rahmat Allah, telah dijatuhkan dari kuda, sungguh-sungguh memahami bahaya keangkuhan dan kegagalan mendengarkan suara Tuhan. Suatu bahaya yang dapat membuat kita terpecah-belah dan mengaburkan wajah Allah dalam diri Gereja-Nya. Perbedaan akan selalu ada, tetapi kita senantiasa diingatkan agar tidak melihatnya sebagai pembenaran untuk terpisah satu dengan yang lain. Perbedaan seharusnya dilihat sebagai cara Roh Kudus menyatakan diri-Nya dalam berbagai bentuk, cara, dan situasi. Timur atau barat, karismatik atau tradisional, konservatif atau liberal, apapun label yang tercipta, tidaklah boleh memisahkan kita satu dengan yang lain. Gereja haruslah selalu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Bilamana Gereja sungguh-sungguh berakar dalam Kristus, serta memahami kesatuan sejati hanya ada dalam misteri Ekaristi, ia akan menemukan keluhuran panggilannya untuk memecah-mecahkan diri secara benar, sehingga dapat memberi mereka (dunia) makan. Seruan Injil hari ini, menjadi seruan mendesak dari Allah bagi Gereja, “Bertobatlah…!” (bdk.Mat.4:17)

Bunda Gereja saat ini memasuki masa tergelap sejak berdirinya. Perpecahan yang melukai kesatuan Tubuh Mistik Kristus, persaingan akan kekuasaan yang mengalahkan semangat melayani, skandal dan berbegai kemerosotan hidup beriman yang teramat menyedihkan, diperparah dengan kenyataan bahwa saat ini, ia sedang berziarah di tengah dunia yang semakin memalingkan wajah-Nya dari Allah.

Dalam situasi demikian, masa depan Gereja tergantung sepenuhnya pada seberapa dalam ia setia menghidupi kemurnian dan kepenuhan imannya akan Kristus. Masa sulit ini tidak akan melenyapkan Gereja, tetapi akan memurnikan Gereja, sama seperti yang pernah terjadi di masa lampau. Sudah pasti proses kristalisasi dan klarifikasi ini akan menghabiskan banyak tenaga yang dimiliki oleh Gereja, akan tetapi, bagaikan suatu “malam pemurnian”, pada akhirnya ini akan akan menjadikan Gereja kembali menjadi putri kemiskinan, yang lemah lembut dan rendah hati.

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Akan tiba saatnya, bahwa sesudah pemurnian ini, suatu daya hidup sebagaimana jemaat perdana akan muncul kembali dalam Gereja yang semakin spiritual dan sederhana, yang telah menemukan kembali makna kesatuan sebagai putra-putri Ekaristi, yang dengan bangga merangkul salib. Bilamana dunia kemudian tersadar betapa jauhnya ia telah jatuh dalam jurang kesepian, dan bilamana dunia telah menyadari kegagalan tatanannya yang bertentangan dengan karya Allah, pada waktu itulah ia akan menemukan dalam Gereja yang telah dimurnikan, sebuah komunitas orang-orang beriman yang seolah baru baginya, sebagai suatu tanda pengharapan yang memberi makna dalam hidup mereka, sebagai sebuah jawaban yang selama ini mereka cari. Itulah saat yang membahagiakan dan mendatangkan sukacita, dimana di dalam Gereja, dunia akan menemukan wajah Allah.

Semoga Santa Perawan Maria, bunda Gereja, senantiasa menuntun Gereja pada kemurnian Injil, agar semakin sempurna bersatu dengan Kristus, Putranya. ( Verol Fernando Taole )

 

Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan

Baptism of Jesus

Baptism of Jesus

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Yesaya 42: 1-4, 6-7

Mazmur Tanggapan –  Mzm. 29: 1a, 2, 3ac-4, 3b, 9b-10

Bacaan II – Kisah Para Rasul 10: 34-38

Bacaan Injil – Matius 3: 13-17

MEMANDANG TUHAN DALAM KEMANUSIAAN

Kasih adalah kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang begitu kuat. Bagaikan tetesan air yang secara yang sekilas terlihat begitu lembut dan tak berdaya, tetapi seiring waktu sanggup menciptakan lubang pada sebuah batu, demikianlah di sepanjang sejarah umat manusia kita melihat, bahwa meskipun kehadiran “si jahat” begitu nyata dalam begitu banyak kekacauan, peperangan, kematian, kemiskinan, ketidakadilan dan berbagai bentuk manifestasi lainnya, pada akhirnya Kasih selalu menjadi cahaya menyilaukan untuk menghalau kegelapan.

Tentu saja pada akhirnya, Kasih akan selalu menang atas dunia, karena sejak awal mula dunia ini tercipta oleh Kasih, yakni Allah sendiri. Kasih Allah ini semakin nyata saat Pencipta menjadi ciptaan, ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, Putra-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Dalam terang iman inilah, Gereja mengakhiri Masa Natal dengan merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dalam peristiwa Pembaptisan Tuhan, misteri Inkarnasi terlihat semakin jelas ketika Tuhan menjawab keheranan Yohanes, yakni bahwa Ia mengosongkan diri dengan masuk ke dalam air, sehingga ketika keluar dari air, Ia memenuhi diri-Nya dengan penggenapan akan seluruh kehendak Allah. Bagi orang lain pada waktu itu, pembaptisan Yohanes di sungai Yordan merupakan pembaptisan pertobatan. Akan tetapi, saat Tuhan kita merendahkan diri dengan turun ke dalam air untuk dibaptis, Dia membawa seluruh dosa umat manusia untuk ditenggelamkan dalam samudera belas kasih Allah. Itulah saat dimana  Allah memulai suatu perjanjian baru dengan umat-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya yang terkasih. Dalam peristiwa pembaptisan Tuhan ini, secara samar-samar kita mulai melihat misteri Salib, yang merupakan paripurna dari tindakan kasih Allah.

Hari ini Gereja merenungkan saat dimana “Hamba Yahwe” memulai tugas perutusan-Nya, seperti telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan I. Seorang hamba yang berkenan di hati Tuhan. Roh Allah dalam rupa burung merpati disertai suara dari surga, menjadi pernyataan yang tak terbantahkan bahwa Yesus sungguh adalah Putra Allah. Dialah yang diurapi dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, sebagaimana dinyatakan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul, untuk menyatakan pada dunia bahwa Allah sungguh beserta kita. Hari ini seluruh penghuni surga memadahkan mazmur pujian untuk memuliakan Allah, yang telah mengutus Putra-Nya.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk memandang Tuhan dalam kemanusiaan. Dalam misteri Pembaptisan Tuhan, kita boleh melihat betapa berharganya kita di dalam hati Allah. Betapa Tuhan tidak pernah melupakan kita, meskipun kita telah melupakan Dia. Betapa Ia tetap mencintai kita, meskipun kita telah berhenti mencintai Dia.

Hari ini Gereja kembali mengingatkan keluhuran martabat kita sebagai putra-putri Allah, yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan, untuk menjadi Imam, Nabi dan Raja. Pesta Pembaptisan Tuhan juga merupakan  suatu seruan Gereja bagi kita untuk bertobat, untuk meninggalkan segala yang bukan Allah, dan memenuhi diri kita dengan segala hal yang menyenangkan hati Allah. Kita dipanggil untuk bersama Yesus tenggelam dalam lautan belas kasih Allah, sehingga kita boleh keluar sebagai putri-putri Allah yang bermandikan cahaya kemuliaan. Untuk menjawab panggilan ini, sudah pasti ada yang harus dikorbankan, ada yang harus dilepaskan, malahan bagi beberapa orang, dia harus melepaskan semua hal yang terdekat di hatinya. Suatu malam pemurnian yang dapat menghanguskan baik tubuh maupun jiwa.

Namun, ketahuilah ini! Dengan berbagai tawarannya, dunia saat ini telah menipu dan membutakan banyak orang, dengan berbagai berhala-berhala yang dengan angkuhnya menjanjikan kesempurnaan bilamana manusia memilikinya. Pemujaan akan tubuh dan kecantikan yang membuat banyak orang jatuh dalam depresi serta keputusasaan, kapitalisme dan manipulasi pasar modal yang dengan kerakusan telah semakin memperlebar jurang antara kaum miskin dan golongan kaya, berbagai bentuk investasi masa depan yang membuat kita tidak lagi merindukan surga, kehausan akan kekuasaan dan kesuksesan di berbagai bidang serta profesi kerja yang membuat manusia menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan, dan berbagai berhala lainnya. Tentu saja tidaklah salah menginginkan suatu kehidupan dalam dunia yang lebih baik. Akan tetapi, Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa sekalipun kita memiliki semuanya, janganlah hati kita melekat pada semua hal itu. Sebagai seorang Kristiani, kita harus memiliki mata iman yang tajam, untuk melihat secara bijaksana. Saat ini si jahat mencoba meyakinkan kita, bahwa kesempurnaan kemanusiaan kita seolah-olah tergantung pada apa yang kita miliki, seakan-akan kepemilikan akan semua hal itulah yang membuat kita sempurna sebagai manusia.

Pahamilah ini! Kesempurnaan kemanusiaan kita hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Kesempurnaan kemanusiaan kita tidak terletak dalam memiliki segala, melainkan melepaskan segala. Apapun yang diletakkan Tuhan ke dalam tangan kita, jadikanlah semua itu sebagai kurban yang harum dan berkenan di hati Allah. Kesejatian hidup hanya bisa ditemukan di dalam panggilan untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. Sebagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi hamba-hamba Allah yang setia, yang mengingini apa yang Tuhan ingini, dan mencintai apa yang Tuhan cintai, untuk melihat segala yang kita miliki, bukan sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan dalam semangat pengosongan diri, mempergunakan semuanya itu bagi perluasan Kerajaan Allah. Semoga perawan Maria, putri ketaatan dan teladan pengosongan diri, menjadi Bintang Timur yang selalu membimbing dan mendoakan kita, untuk menjadi hamba yang setia dalam karya Allah di tengah dunia. (VFT)