Meditasi Harian 7 Oktober 2015 ~ Pesta Santa Maria Ratu Rosario Suci

image

DOA MENGUBAH SEGALANYA

Bacaan:
Kis.1:12-14 atau Yun.4:1-11; Mzm.86:3-6.9-10; Luk.1:26-38 atau Luk.11:1-4

Renungan:
Doa selalu sanggup mengubah segala sesuatu. Pertempuran di Lepanto adalah salah satu dari sekian banyak bukti kuasa doa, terutama doa Rosario. Bagaimana dalam keadaan dimana kemenangan seolah mustahil, armada Kristen yang kalah jumlah dapat mengalahkan armada Kesultanan Turki, tepat pada tanggal 7 Oktober 1571.
Itulah sebabnya, sebagai rasa syukur, hari ini dan sepanjang bulan ini, dipersembahkan oleh Gereja Kudus kepada St. Maria Ratu Rosario Suci.
Karena doa Rosario dan ke-pengantara-an Maria, Tuhan Allah berkenan menganugerahi umat beriman kemenangan dan sukacita di dalam Dia.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi-Nya. Seringkali rahmat Tuhan itu semakin dirasakan justru dalam peristiwa-peristiwa paling menyulitkan, paling mendukakan, paling mencekam dalam hidup kita.
Dalam keadaan dimana segala daya upaya manusia seolah tak membuahkan hasil, pada waktu itu roh yang dihembuskan ke dalam jiwa kita sewaktu penciptaan berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan, membuat jiwa semakin rendah hati untuk berlutut dalam doa dengan tangan terentang ke atas, dengan pandangan ke arah salib, untuk memohon belas kasih Allah.

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam. Yang senantiasa berseru, “Abba – Bapa“. Bahwa kita boleh menyapa Allah sebagai Bapa, itupun seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, yang memberanikan kita untuk menapaki padang gurun dunia ini. Suatu keyakinan bahwa Bapa tidak mungkin menelantarkan anak-Nya, apalagi membiarkannya binasa.
Di dalam Dia, tidak ada doa yang dibiarkan tak terjawab. Entah jawabannya, “Ya“, “Tidak“, atau “Belum Saatnya“, Tuhan selalu mendengarkan dan menjawab doa kita.

Akar kerisauan kita, ketidakmengertian kita, maupun kesulitan kita untuk menerima jawaban Tuhan, sebenarnya bersumber dari kegagalan kita untuk berlaku sebagai seorang anak.
Kita menyapa Dia “Bapa“, namun itu tidak disertai dengan cinta bakti sebagaimana layaknya seorang “Anak“.
Kita berteriak memanggil Dia “Bapa“, tetapi dalam hidup harian tak jarang kita tidak berlaku sebagaimana seharusnya seorang “Anak.”
Meminta pengampunan, tetapi tidak mau mengampuni; meminta pertolongan, tetapi tidak pernah menolong; meminta rezeki, tetapi tidak pernah memberi, apalagi untuk memberi dari kekurangan; meminta keselamatan jiwa sendiri, tetapi tidak mau merasul untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa sesama; mengharapkan hujan berkat, tetapi menutup keran berkat bagi orang lain; meminta kekudusan, tetapi dengan tahu dan mau berulang kali jatuh dalam dosa yang sama; mengarahkan pandangan ke surga, tetapi tidak mau peduli untuk mengajak orang lain agar mengarahkan pandangan yang sama ke surga, malah lebih jahat lagi, turut serta menjadi rekan kerja si jahat, dan menyeret sesamanya ke dalam jurang kebinasaan, ke dalam kegelapan kekal.

Maka, sebenarnya doa tidak pernah tak terjawab. Doa itu selalu terjawab. Bagaimana kita memahami jawaban Tuhan, sangat ditentukan oleh relasi pribadi kita dengan Dia. Suatu relasi mesra, sebagaimana dimiliki oleh Ibu kita, Maria.
Keterpesonaan cinta yang memampukan Maria dalam segala situasi hidup, seberat apapun itu, bahkan sekalipun diselubungi awan ketidakmengertian, namun Maria tetap bersukacita dan berseru, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk.1:38)

Maria adalah teladan kerasulan doa. Dia tidak hanya menjadi teladan para guru rohani di puncak gunung kemuliaan, melainkan terlebih merupakan teladan bagi mereka yang baru mulai menapaki pendakian rohani menuju Allah. Lewat lereng dan lembah hidup, selama engkau melangkah dengan Rosario di tangan, Salam Maria didaraskan dari bibirmu, dan asalkan kamu sungguh mau merendahkan diri untuk dibentuk Tuhan, maka perjalananmu dalam doa perlahan-lahan akan mulai memurnikan dan membawa jiwamu pada kesempurnaan.
Jangan pernah mau dibodohi oleh si jahat untuk berhenti berjalan naik, untuk berhenti mendaki dalam doa. Rosario adalah senjata yang sangat ampuh mengalahkan setan dan segala kuasa jahatnya. Doa Rosario itu semakin bernilai apabila dilakukan dalam kekeringan dan ketiadaan niat untuk berdoa. Oleh karena itu, berdoalah senantiasa.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam.

Dengan meneladani dan memiliki cinta yang sempurna seperti Maria, yang mencari kehendak Tuhan siang dan malam, setiap orang beriman pada akhirnya akan menyadari bahwa sejatinya doa itu bukanlah soal meminta, melainkan “mencinta“.
Pada saat engkau menyadari itu, pada waktu itulah mata rohanimu akan terbelalak karena menyadari bahwa “Sungguh…doa mengubah segala sesuatu.
Suatu kesadaran yang disertai keheningan dalam kekaguman serta rasa syukur.

Semoga doa yang diajarkan oleh Tuhan kita, tidak hanya memberanikan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, melainkan juga menyadarkan kita untuk sungguh bersikap sebagaimana layaknya seorang anak.
Dan kiranya St. Maria Ratu Rosario Suci membimbing kita dengan tuntunan kasih keibuannya, agar di Bulan Rosario ini kita menjadi pribadi, keluarga, dan komunitas yang berdoa.
Semoga Salam Maria yang kita daraskan menjadi rangkaian bunga mawar yang indah di Tahta “Abba – Bapa” kita.
Tetaplah berdoa bagi Sinode Keluarga, yang kini memasuki hari-4, dan mohonkanlah karunia pertobatan dan doa bagi semua orang, khususnya mereka yang masih bersikeras mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa, tanpa Tuhan.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Rabu IV Prapaska

image

BAPA KAMI

Bacaan:
Yes.49:8-15; Mzm.145:8-9.13cd-14,17-18; Yoh.5:17-30

Renungan:
Menyapa Allah sebagai “Bapa” merupakan salah satu anugerah terindah dari panggilan kita sebagai seorang Kristiani. Tetapi, sapaan ini menuntut dari kita tanggung jawab untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang “Anak”.
Untuk berjalan seirama dengan gerak cinta Bapa, menghendaki apa yang Dia kehendaki, meratapi apa yang Dia ratapi, dan mencintai apa yang Dia cintai.
Adalah tidak mungkin pula menyapa Bapa dalam doa, tanpa diikuti oleh kata “Kami”. Oleh karena itu, martabat luhur kita sebagai seorang anak hanya akan menemukan kepenuhan makna dalam kesatuan kita dengan Gereja. Di dalam Gereja kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian, dan bersama seluruh umat Allah, putra-putri Bapa, kita boleh dengan lantang berseru “Bapa Kami”.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, Putra terkasih Bapa. Dialah gambaran sempurna bagaimana menjadi seorang Anak.

Pax, in aeternum.
Fernando

Selamat Ulang Tahun ke-77 Bapa Suci Paus Fransiskus

Happy Birthday Pope Francis

SELAMAT ULANG TAHUN BAPA SUCI !

Mari kita berdoa untuk kesehatan yang baik bagi beliau. Kiranya beliau dijauhkan dari segala marabahaya dan dari segala yang jahat.

Semoga Bapa Suci Paus Fransiskus senantiasa menjadi Insan Allah yang kudus, senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus dalam menjalankan tugas kegembalaannya sebagai Pengganti Rasul Petrus ke-266 dan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia.

“Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

(Matius 16:18-19)

VIVA IL PAPA!

HIDUP BAPA SUCI!

 

Surat dari Bapa Prelat Opus Dei (Desember 2013)

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini


Dengan ditutupnya Tahun Iman, Bapa Prelat merefleksikan cara-cara untuk memastikan beberapa bulan terakhir ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari.

Anak-anakku yang terkasih : semoga Yesus menjaga putri -putraku untukku!

Uskup Roma telah menutup Tahun Iman. Selama bulan-bulan ini, dengan bantuan Allah, kami telah mencoba untuk menumbuhkan dalam kebajikan teologi ini, akar dari kehidupan Kristen, meminta dengan sangat kepada Tuhan, adauge Nobis fidem,[1] meningkatkan iman kita – dan dengan itu harapan, cinta dan kesalehan kita. Sekarang, dengan dorongan yang kita terima selama bulan-bulan rahmat ini, marilah kita berusaha untuk terus berjalan hari demi hari di jalan ini, yang menghantar kita ke surga. Mari kita meminta bantuan kepada Bunda kita, Guru iman dan kemesraan dengan Allah, sehingga ia mewujudkan keinginan kita untuk setia kepada Puteranya dan kepada Gereja.

Dokumen-dokumen magisterium Gereja ( dan juga baru-baru ini ensiklik Lumen Fidei ) telah menekankan dua karakteristik penting yang terkandung dalam kesejatian iman kita, seperti yang ditampilkan kepada kita dalam Perjanjian Baru. Santo Paulus menekankan bahwa fides ex auditu[2],  bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Allah, dibacakan dan disambut dalam Gereja . Sementara Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia, adalah cahaya sejati yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia[3], memberikan kita kemampuan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Allah. Terang dan Firman, Firman dan Terang , menandai bagi kita aspek yang tidak terpisahkan dari iman yang kita akui. “Karena itu, ada kebutuhan mendesak, untuk melihat sekali lagi bahwa iman adalah terang , karena sekali nyala api iman padam, semua lampu lainnya mulai redup.” [4] Mari kita bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, putri-putraku, untuk terang cahaya yang Roh Kudus, dengan menggunakan magisterium Gereja dan kehidupan para kudus, terus-menerus nyalakan dalam diri kita. Marilah kita bersemangat untuk menerimanya, dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Parakletos dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada pertengahan bulan yang lalu, sebuah konferensi tentang “St. Josemaria dan Pemikiran Teologi” diselenggarakan di Roma. Mereka yang hadir menganalisa bagaimana pewartaan dan kesaksian dari para kudus membawa pencerahan baru untuk menggali lebih dalam akan iman kita dan, sebagai konsekuensinya, untuk memperdalam eksposisi teologis dari doktrin kita. Simposium ini telah memberikan kesempatan baru untuk membuat semakin dikenalnya, di bidang teologi, nuansa khusus dari pesan, yang diterima Bapa Pendiri dari Tuhan pada tanggal 2 Oktober 1928, dengan misi menularkan kepada orang Kristen, terutama mereka yang tenggelam dalam hidup keluarga, profesional, sosial, dan aktivitas lainnya dari kehidupan sehari-hari.

Selama beberapa bulan terakhir, saya telah berfokus pada kebenaran iman yang terkandung dalam pasal-pasal dari Pengakuan Iman (Credo) kita. Sekarang saya ingin menolong kalian, dan menolong diri saya sendiri, menarik konsekuensi yang akan mengilhami kehidupan kita dengan kebajikan ini dalam beberapa bulan mendatang, yaitu, untuk fokus pada bagaimana iman harus ditunjukkan dalam perilaku kita sehari-hari, sehingga itu benar-benar akan menerangi pikiran kita, menguatkan kehendak kita, dan bernyala dalam hati kita, untuk mengungkapkan pengetahuan dan kasih Allah dalam perilaku kita sendiri, dan membawanya kepada semua jiwa .

Titik awalnya adalah kepercayaan penuh bahwa dalam Gereja, kita memiliki kepenuhan sarana pengudusan yang Yesus tinggalkan bagi kita. Secara khusus ini termasuk penerimaan sakramen-sakramen, pemenuhan perintah-perintah Allah dan Gereja, serta doa, sebagaimana dijelaskan dalam ensiklik Lumen Fidei .

Sakramen-sakramen adalah tindakan Kristus dimana Kemanusiaan Yang Mahakudus, mulia di Surga, datang dalam perjumpaan seketika dan langsung dengan jiwa-jiwa, untuk menguduskan mereka. Roh Kudus juga mengikuti jalan lain, yang tidak kita kenal, untuk menarik orang kepada Allah. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Paus : “Budaya kita telah kehilangan arti kehadiran nyata dan karya Tuhan dalam dunia. Kita berpikir bahwa Allah dapat ditemukan di luar, di sisi lain realitas, jauh dari relasi kita sehari-hari. Tapi jika demikian, sekiranya Tuhan tidak bisa berkarya dalam dunia, cinta-Nya tidak akan benar-benar kuat, demikian nyata.” [5]

Mari kita perhatikan sekali lagi ajaran St. Josemaria, yang sudah dirumuskan dengan jelas sejal awal: Adalah perlu untuk percaya bahwa Allah selalu dekat dengan kita. Terlalu sering kita hidup seolah-olah Dia berada di suatu tempat jauh – dimana bintang-bintang bersinar. Dan kita lupa bahwa Ia sebenarnya terus berada bersama kita.

“Karena ia adalah Bapa yang penuh kasih. Dia mengasihi kita masing-masing lebih dari semua ibu di dunia bisa mengasihi anak mereka – menolong kita, menginspirasi kita, memberkati … dan mengampuni . . . Kita harus benar-benar yakin, sungguh-sungguh menyadari, bahwa Allah, yang dekat bagi kita yang ada di surga, adalah Bapa, dan benar-benar Bapa kita.” [6]

Hal ini terutama nyata saat kita menerima Sakramen Pengampunan dan Ekaristi. Tergerak oleh kebenaran iman ini, betapa amannya kita dalam pengampunan dan kedekatan dengan Tuhan , betapa damainya perasaan yang dicurahkan ke dalam jiwa kita, dan betapa rindunya kita untuk menyebarkan kedamaian ini kepada orang-orang di sekitar kita! Oleh karena itu, saya tidak akan pernah bosan mendesak agar, setiap kali kita meminta bantuan dari sakramen-sakramen ini, kita harus melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa Roh Kuduslah yang menarik kita, melalui Kristus, kepada kasih Bapa.

Mari kita menerapkan segala pertimbangan ini untuk pertempuran perjuangan batin kita sendiri. Kita bisa menjadi orang-orang kudus, kita harus menjadi orang-orang kudus, terlepas segala cacat dan kejatuhan kita, karena Allah memanggil kita untuk masuk ke dalam keintiman hidup ilahi-Nya, sebagai anak-anaknya di dalam Kristus, dan Dia menawarkan kepada kita semua obat yang dibutuhkan. Dengan rahmat sakramen-sakramen dan dengan doa, menjadi lebih mudah untuk memenuhi perintah-perintah dari hukum ilahi dan untuk setia kepada tugas-tugas khusus dari situasi hidup setiap orang. “Sepuluh Perintah Allah bukanlah seperangkat perintah negatif, tetapi panduan konkret untuk muncul dari padang pasir keegoisan dan cinta diri, untuk masuk ke dalam dialog dengan Allah, untuk dipeluk oleh rahmat-Nya dan kemudian, untuk membawa rahmat itu kepada orang lain.” [7]

Mari kita memohon supaya Tuhan memberikan kita iman yang kokoh, iman yang akan menghidupkan semua tindakan kita. Tentu saja kita percaya pada firman Allah, kita membaca dan merenungkan Injil dengan kekaguman, tetapi mungkin itu tidak tenggelam ke dalam jiwa kita, ke titik yang mengubahkan kita dan setiap tindakan kita. Dan ketika kesukaran muncul, ketika kita merasa gersang atau menemui penolakan dari lingkungan kita, kita bisa menjadi putus asa. Apa mungkin iman kita telah tertidur? Bukankah kita harus lebih mengandalkan karya Parakletos, yang diam di dalam jiwa kita melalui kasih karunia? Tidakkah terjadi bahwa kadang-kadang kita percaya terlalu mengandalkan kekuatan kita sendiri? Mari kita merenungkan transformasi yang dilalui para rasul pada hari Pentakosta dan mencoba untuk hidup sesuai dengan pedoman ilahi kita temukan disana, yang disampaikan kepada kita juga melalui praktek-praktek kesalehan Kristiani yang selalu disarankan oleh Gereja: doa batin, dan doa-doa lisan ( terutama doa Rosario ), persembahan penyangkalan diri, membuat pemeriksaan batin, dan menunaikan pekerjaan dengan baik di hadirat Allah.

“Kehidupan batin,” sebagaimana diajarkan oleh Bapa kita, “bukan soal perasaan. Ketika kita melihat dengan jelas pentingnya pengorbankan diri kita hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, seumur hidup kita, demi Cinta yang menanti kita di surga: betapa banyak cahaya yang kita terima! Kita harus menyimpan semua cahaya ini, anak-anakku. Kita perlu membuat dalam jiwa kita suatu wadah untuk menangkap semua rahmat ini dari Allah: kejelasan, cahaya, sukacita pemberian diri kita. Kemudian ketika malam datang, kegelapan dan cobaan pahit, kita dapat menarik kekuatan dari persediaan kita, dari air murni kasih karunia Allah. Meskipun saat ini saya mungkin buta, saya bisa melihat, meskipun saya mungkin kering, saya disegarkan oleh air yang mengalir dari Hati Kristus menuju kehidupan kekal. Kemudian, anak-anakku, kita akan bertahan dalam perjuangan.” [8]

Kemudian kita akan dapat membantu orang lain sehingga mereka juga dapat melakukan perjalanan dengan aman di sepanjang perjalanan iman. Karena “iman tidak hanya sekedar mengarahkan pandangan kepada Yesus, tetapi melihat semua hal sebagaimana Yesus sendiri melihat, dengan mata-Nya sendiri:  mengambil bagian dalam cara-Nya melihat.” [9] Pandangan Tuhan kita terarah pada setiap pribadi dan kepada semua orang. Dia datang ke dunia kita ini untuk  setiap pribadi dari antara kita, dan untuk semua orang, Ia terus mengerjakan karya keselamatan-Nya . Misi kita adalah untuk membawa pada perjumpaan dengan Yesus semua orang yang kita temui di jalan kehidupan kita, dimulai dengan orang-orang terdekat kita. Demikianlah orang-orang Kristen perdana bertindak, yang membawa pertobatan dari dunia kafir.

Dalam meditasi terdahulu , St. Josemaria berbicara mengenai teladan saudara-saudari pertama kita dalam iman: “Sebagai orang-orang yang tidak terpelajar, mereka mengetahui akan menghadapi kemartiran dan kematian yang keji. Namun demikian , mereka menerima peran mereka sebagai rekan sekerja Kristus dalam penyelamatan dunia, dan mereka berangkat untuk menggulingkan kekafiran dan menyebarkan kehidupan Yesus Kristus di seluruh dunia. Tidak lama kemudian, Saulus, yang dahulu pernah menjadi penganiaya mereka, bergabung bersama mereka , dia yang telah ‘menendang ke galah rangsang’ ( lih. Kis. 9:5 ), dan yang sekarang menyertai mereka dalam pewartaan, dan dalam usaha mulia dimana mereka memeteraikan iman yang diwartakan dengan darah mereka. Mereka semua, dengan kemurnian mereka, memulai perjalanan untuk membersihkan air keruh dan najis dari dunia kafir. Mereka berusaha untuk memerangi kecenderungan masyarakat akan kenikmatan – melalui kebajikan kecil yang mereka lakukan, dengan kerendahan hati mereka dan kesopanan. . . Mereka mencapai jantung/pusat dunia kuno : Roma. Tapi apa yang bisa mereka lakukan di sana? Sejarah memberi kita jawabannya : Tahta kaisar digulingkan, dan hari ini, setelah dua ribu tahun, Petrus terus menjadi Uskup Roma.” [10]

Sekarang juga, dihadapkan pada tantangan evangelisasi baru, kita harus menjaga harapan kita menyala. Non est abbreviata manus Domini, [11] tangan Tuhan tidak kurang panjang. Tetapi, dibutuhkan pria dan wanita yang beriman untuk memperbaharui keajaiban yang tertulis dalam Kitab Suci. Beberapa hari yang lalu, Paus mengeluarkan seruan apostolik Evangelii Gaudium , dengan kesimpulan dari Sidang Umum Sinode para Uskup baru-baru ini, khususnya tentang evangelisasi baru. Saya mendorong anda sekalian untuk mempelajari tulisan ini, yang menawarkan pemahaman baru untuk memberikan dorongan yang lebih besar bagi usaha besar ini.

Saya tidak ingin mengabaikan fakta bahwa 12 Desember mendatang, Pesta Santa Perawan Maria dari Guadalupe, adalah salah satu peringatan lainnya dari pewahyuan ilahi yang St. Josemaría – melalui kata-kata dari Kitab Suci – dengarkan di tahun 1931. Ini menggema di kedalaman jiwanya, di saat-saat hambatan besar untuk perkembangan Karya: inter medium montium pertransibunt aquae, [12] mata-mata air kehidupan akan mengalir di antara gunung-gunung, mengatasi segala rintangan, semua yang menentang kerajaan Allah dalam jiwa mereka, dalam kehidupan Gereja dan kemanusiaan. Karena inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, iman kita.[13] Dengan demikian kita akan membantu mewujudkan harapan Bapa kita, yang ditemui dari bibirnya dan dari apa yang ia tulis sejak berdirinya Opus Dei : regnare Christum volumus! Kami ingin Kristus meraja.

Hari ini dimulai masa Adven, minggu-minggu persiapan bagi peringatan Kelahiran Tuhan kita. Hari-hari ini bisa menjadi kesempatan yang baik – mengagumi sekali lagi akan kebaikan dan kemurahan Allah Bapa, yang mengutus Anak-Nya ke dalam dunia – untuk memperbaharui keinginan kita untuk tetap terbuka setiap saat bagi terang dan sabda Allah, terutama saat kita membaca dan merenungkan Kitab Suci.

Pintu gerbang menuju perayaan ini adalah Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa: guru iman, harapan kita dan teladan luar biasa akan bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama demi Allah, dengan segenap hati, pikiran dan perasaan kita sepenuhnya tenggelam dalam diri-Nya. Mari kita menempatkan perhatian besar dalam mempersiapkan perayaan ini , yang kini semakin dekat, dengan penuh cinta bakti kepada Ibu kita di Surga.

Dalam doa kita, marilah kita memberikan ruang yang cukup bagi ujud-ujud Gereja dan Paus, untuk rekan-rekan kerjanya, untuk ujud-ujud saya, untuk semua kebutuhan spiritual dan material dari pria dan wanita di zaman ini. Mari kita tidak pernah bergeming ( syukur kepada Allah, saya yakin hal ini tidak terjadi ) pada perhatian akan masalah spiritual dan dunia – pada masa tragedi saat ini – yang mempengaruhi begitu banyak orang di seluruh dunia.

Ada beberapa hari peringatan Karya yang berlangsung di bulan ini, antara lain pembentukan Kolose Roma dari Bunda Kita, pada tahun 1953. Mari kita bersyukur kepada Allah untuk semua tonggak dalam sejarah Karya.

Dengan segenap kasih sayangku, saya memberkati kalian,

Bapamu,

+ Javier

Roma , 1 Desember 2013



[1] Lukas 17:5

[2] Roma 10:17

[3] Yohanes 1:9

[4] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 1913, No.4.

[5] Ibid., No.17

[6] St. Josemaría, Jalan, No.267 .

[7] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.46.

[8] St. Josemaría, Catatan diambil pada pertemuan keluarga, 17 Februari 1974.

[9] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.18.

[10] St. Josemaría, Catatan diambil dari meditasi, 26 Juli 1937.

[11] Yesaya 59:1.

[12] Mazmur 103 ( 104 ): 10 ( Vulg. ).

[13] 1 Yohanes 5:4.

Catatan:

Surat Bapa Prelat Opus Dei bulan Desember ini diterjemahkan dari website resmi Opus Dei Internasional. Ini belum merupakan terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia. Ini hanyalah terjemahan sementara bagi yang memerlukan, sambil menunggu keluarnya terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia yang sementara disusun oleh anggota Opus Dei dari cabang wanita.