Meditasi Harian 23 Agustus 2015 ~ Minggu Biasa XXI

image

HIDUP ITU PILIHAN, BIJAKLAH MEMILIH !

Bacaan:
Yos.24:1-2a,15-17,18b; Mzm.34:2-3,16-17,18-19,20-21,22-23; Ef.5:21-32; Yoh.6:60-69

Renungan:
Saat menyeberangi Sungai Yordan, ketika tinggal sedikit lagi akan sampai ke Tanah Terjanji, Yosua berpaling kepada bangsa Israel dan meminta mereka untuk memilih.
Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini juga berbicara mengenai konsekuensi dari pilihan hidup, terutama dalam hal pernikahan dan menggereja.
Dan dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus pun, mengetahui bahwa saat penyaliban-Nya semakin dekat, ketika paripurna tindakan cinta-Nya sudah di depan mata, Dia mulai mengungkapkan kedalaman tuntutan hidup yang Ia harapkan dapat di-Amin-kan oleh para pengikut-Nya, akan bagaimana mereka harus melihat Dia dalam pernyataan Diri yang senyata-Nya.
Bahwa Dia adalah benar-benar makanan, dan hanya dengan makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya kita dapat beroleh kekekalan.
Untuk bisa memahami kedalaman bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini, ada suatu kenyataan iman yang harus dimengerti oleh kita.

Ibarat seorang mempelai pria yang begitu mencintai mempelai wanita, sebagaimana diungkapkan Rasul St. Paulus dalam bacaan II hari ini, akan ada saat dalam hidup beriman kita, dimana Sang Kekasih, untuk dapat mencurahkan cinta-Nya secara sempurna, untuk mengalami persatuan mistik dengan Dia, untuk dapat mengalami kedalaman cinta dan pengenalan akan Dia secara baru, akan ada saat dimana Tuhan akan meminta kita untuk “memilih“.
Itulah saat dimana Tanah Terjanji semakin dekat. Sama seperti bangsa Israel yang ditanyakan oleh Yosua, saat itu kamupun akan diminta untuk memilih, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” Berbahagialah kamu bilamana dalam keadaan demikian, sanggup menjawab, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!
Seiring dengan ayunan langkah cintamu yang semakin dekat mendekati Tuhan, kamu akan mulai merasakan gerak Cinta-Nya yang sama sekali baru, bagaikan suatu api yang membakarmu sampai hangus, yang menuntutmu untuk melepaskan segala, untuk beroleh Dia yang adalah Sang Segala.
Untuk memandang Tuhan dengan suatu kesadaran mistik akan tuntutan-Nya menyambut Roti dan Anggur dalam Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah-Nya.
Kamu mungkin berkata, “Tentu saja saya tahu Hosti itu adalah Tubuh Tuhan. Iman Katolik mengajar saya demikian. Bertahun-tahun saya menyambut-Nya dengan keyakinan yang sama.
Bagi banyak orang Katolik, permenungan ini mungkin terkesan menggugat rasa beriman.
Akan tetapi, sudahkah kita benar-benar memahami Sakramen Ekaristi sebagai sungguh-sungguh Tubuh dan Darah Tuhan?
Pernyataan Yesus dalam Injil hari ini adalah saat menentukan dimana Iman akan Dia menuntut para Pengikut-Nya untuk memilih.
Mereka mulai mengerti bahwa bila mereka ingin benar-benar menerima Yesus sebagai Santapan untuk hidup kekal, untuk dapat meng-Amin-kan tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan, mereka pun akan menerima konsekuensi dari persatuan itu.
Perkataan Tuhan Yesus begitu keras, sehingga muncullah reaksi para pengikut-Nya dalam Yoh.6:66 (yang seringkali diibaratkan sebagai ayat AntiKris), sebab “Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Mengertilah hal ini.
Iman kita tidak diuji dalam air yang tenang, melainkan dalam api. Kesejatian seorang pengikut Kristus akan terlihat bukan terutama dari bagaimana dia bersikap saat hari yang cerah dan berbunga, disaat dia menjalani hidup dalam kelimpahan susu dan madu (kemanisan rohani), saat doa hampir selalu terjawab. Dengan kata lain, saat Tuhan seolah meletakkanmu di pangkuan-Nya dan membelaimu dengan penuh kasih. Walaupun memang kita dapat menemukan kenyataan bahwa seorang beriman dapat durhaka dan melupakan Tuhan di tengah segala kelimpahan rahmat-Nya, namun bukan itu ujian terbesar dalam hidup berimannya.
Ujian terbesar dalam hidup seorang beriman, kesejatian imannya akan terlihat dari bagaimana dia bersikap di dalam badai, saat doa seolah tak pernah terjawab, saat hidup keluarganya dan harta bendanya berantakan seolah Tuhan telah menutup keran-keran berkat-Nya dan membiarkan hidup keluarganya kering kerontang, saat musibah datang silih berganti dan langit yang cerah diganti awan kelam disusul malam rohani yang gelap dan mencekam.
Saat Tuhan menurunkan kamu dari pangkuan, dan membiarkanmu mulai berjalan bersama Dia secara baru.

Maka, renungkanlah pertanyaan ini dan jawablah dengan jujur, “Sudahkah saya benar-benar mengimani Sakramen Ekaristi sebagai benar-benar Tubuh dan Darah Tuhan? Sudahkan saya benar-benar melihat hidup saya dalam terang Ekaristi?”
Bahwa sebagaimana Tuhan menjadikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan bagimu, maka demikian pula hendaknya hidupmu adalah hidup yang senantiasa terbagi-bagi, terpecah-pecah untuk “memberi makan” kepada sesama. Kalau kamu memang setiap hari sungguh mengimani Ekaristi, seharusnya kamu tidak akan pernah kaget mendapati dirimu dimusuhi dunia, tidak perlu heran manakala mendapati tuntutan salib terasa berat di sepanjang perjalanan, tidak perlu bingung ketika diperhadapkan pada berbagai pertanyaan hidup, apalagi mencari jawaban pada juru ramal, sihir dan okultisme, narkoba, pornografi, seks bebas, hamba uang dan kekuasaan, maupun hiburan-hiburan tidak sehat lainnya.
Bila memang benar kamu menghidupi Ekaristi dalam keluargamu, seharusnya kamu tidak begitu mudah menyerah terhadap pernikahanmu, terhadap ketidaksetiaan suamimu, terhadap kekurangan yang kautemukan dalam diri istrimu. Seharusnya kamu tidak mengijinkan anak-anak memilih agama seperti dari katalog belanja atas nama toleransi dan kebebasan yang keliru, atau kehilangan kesabaran merawat anakmu yang terlahir dalam keadaan cacat fisik atau mental, apalagi membuang mereka dan melakukan tindakan aborsi sebelum terlahir ke dunia.
Saat kamu melangkah ke depan altar dalam Komuni Kudus, untuk menjawab “Amin” terhadap perkataan “Tubuh Kristus” yang diucapkan oleh Imam sambil memberikan Hosti Kudus sebagai santapan bagimu, seharusnya daya hidup yang bersumber dari santapan Ekaristi membuatmu tahu bersikap di tengah badai dan pergumulan hidup.

Jangan manja dalam beriman. Kenalilah imanmu. Hidupilah imanmu. Tidak cukup hanya mengakui diri rasul Ekaristi, hidupmu seharusnya menjadi suatu kesaksian yang otentik dan meyakinkan.
Bilamana kamu telah sungguh memahami tuntutan suci dan konsekuensi beriman dari Injil hari ini, maka semoga kamu dapat menjawab pertanyaan Tuhan dalam Injil hari ini, “Apakah kamu tidak mau pergi juga?
Sama seperti Rasul Petrus, jawablah, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.
Suatu jawaban yang lahir dari pengenalan cinta yang sejati akan Dia.
Inilah “Rahasia Besar” dari persatuan cinta yang dimaksud oleh Rasul Paulus dalam bacaan II hari ini. Suatu cinta mistik, yang membuatmu sanggup menerima “apapun” dari tangan Tuhan, dan tidak pernah berkurang dalam cinta akan Dia, malah sanggup melihat segala sesuatu yang terjadi di hidupmu dalam terang cinta-Nya, ibarat mempelai wanita yang menyukakan hati Sang Mempelai Pria, yakni Kristus sendiri.
Semoga St. Perawan Maria, Bunda para Mistikus dan Teladan Cinta Sejati akan Allah, membimbingmu pada persatuan cinta yang sempurna dengan Yesus, Putranya, satu-satunya Jawaban dan Pilihan Terbaik.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XIII

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kej.19:15-29; Mzm.26:2-3,9-10,11-12; Mat.8:23-27

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan menjadikan seorang pelaut menjadi handal.
Demikian halnya iman kristiani tumbuh menjadi lebih kuat di dalam badai pergumulan hidup.
Orang seringkali menjadi lupa berdoa, bersyukur, dan melayani kehendak Tuhan di tengah segala kelimpahan “susu dan madu“.
Tuhan tidak pernah mencobai manusia, apalagi melebihi kemampuan mereka. Namun, terdorong oleh belas kasih-Nya yang besar, Dia “mengijinkan” manusia mengalami semuanya itu untuk mendatangkan kebaikan.
Ibarat seorang ibu, yang harus berhenti menyusui anaknya pada usia tertentu, kemudian menurunkan anaknya dari pangkuannya, untuk membiarkan anaknya belajar merangkak dan berjalan.
Si anak pasti merasa kesulitan, bahkan mungkin menangis, marah dan kecewa, karena tidak bisa lagi berdiam di pangkuan ibunya, apalagi harus mengalami jatuh bangun dalam usahanya untuk merangkak dan berjalan.
Tetapi, si ibu melakukannya untuk kebaikan, demi pertumbuhan dan kedewasaan si anak.
Siapapun yang memahami maksud si ibu, tidak akan menyalahkan dia.
Demikianlah pula gerak cinta Tuhan. Dia mengijinkan kita mengalami rupa-rupa pergumulan dan kesulitan hidup yang kita sebut “salib kehidupan“, untuk memurnikan kita.
Seringkali di dalam malam gelap kehidupannya, orang mulai menjadi lebih rendah hati, tahu bersyukur dan berserah, berdoa tak kunjung putus, dan caranya bersikap dan bergaul dengan Tuhan menjadi lebih “sopan“, lebih “tahu diri“, bahwa hidup kita hampa tanpa Dia, dan hanya akan menemukan makna di dalam Dia.
Oleh karena itu, belajarlah untuk setia menantikan pertolongan Tuhan di tengah badai hidupmu. Pada waktu yang tepat, seturut waktu dan kehendak-Nya, Ia akan meredakan laut yang bergelora, dan membimbingmu dengan selamat ke pelabuhan yang tenang.
Kalaupun badai seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan berlalu, maka anda mungkin termasuk dalam bilangan kekasih Allah yang secara khusus dipilihnya untuk mengalami cinta-Nya yang lebih dalam. Bukankah dibandingkan perahu-perahu lain yang melalui badai itu sendirian, anda jauh lebih beruntung karena memiliki Yesus dalam perahu?
Keyakinan bahwa “selagi ada Tuhan dalam perahu saya, maka saya percaya bahwa perahu ini tidak akan pernah terbalik“, itu sudah lebih dari cukup bagi mereka yang dipanggil secara khusus pada persatuan cinta yang sempurna dengan Allah.
Keyakinan iman sebagaimana diungkapkan dengan begitu indah oleh St. Teresa dari Avila yang dalam kobaran api cinta berkata, “Solo Dios basta – Allah saja cukup“.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan Biasa XII

image

PECUNDANG atau PEMENANG ?

Bacaan:
Kej.16:1-12,15-16; Mzm.106:1-2,3-4a,4b-5; Mat.7:21-29

Renungan:
Sangat mudah bagi seseorang untuk bersaksi bahwa hidupnya didasarkan pada Tuhan, atau untuk mengatakan bahwa norma tertinggi dalam hidupnya adalah melakukan kehendak Allah.
Akan tetapi, berbeda dengan manusia yang cenderung memandang muka, Tuhan melihat hati.
Itulah sebabnya, untuk melihat kesejatian seorang “insan Allah”, perhatikanlah bagaimana ia bersikap di tengah “hujan badai, angin kencang, banjir bandang” kehidupan.
Seseorang dapat saja bersaksi dengan kata-kata indah akan segala kemurahan Tuhan, untuk kemakmuran yang ia terima dari-Nya, tetapi itu kesaksian yang berasal dari kemanisan rohai seperti itu sama sekali tak bernilai.
Kesaksian yang sejati justru nampak paling indah dan meyakinkan pada diri mereka yang dengan keheningan tanpa kata-kata melangkah masuk ke dalam malam gelap, ke dalam “ketiadaan Tuhan“, ke dalam “awan ketidaktahuan”, dengan sikap penyerahan diri, ketaatan, serta kepercayaan tanpa batas kepada Allah, dan tidak kehilangan sukacita iman di tengah semuanya itu.
Itulah sebabnya, Injil hari ini mengingatkan kita pentingnya “fondasi” hidup.
Bagaimana kita bersikap di tengah pergumulan hidup, sebenarnya adalah cerminan fondasi iman kita.
Pasir” atau “Batu” menentukan apakah seseorang akan keluar dari badai pergumulan hidup sebagai “pecundang iman” atau “Pemenang Iman” .
Bukan soal seberapa banyak kita berkata-kata tentang Tuhan, melainkan seberapa banyak firman Tuhan yang terukir di hati kita.
Apa yang berasal dari hati, akan nyata dalam perbuatan.
Bila Tuhan telah merajai hati kita sepenuhnya, sehingga Ia menjadi satu-satunya fondasi hidup kita, maka yakinlah, jangankan hujan, angin, atau banjir. Bahkan kendati dunia ini jungkir balik sekalipun, kita tidak akan pernah goyah.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan V Paskah

image

PAX VOBIS ~ DAMAI SEJAHTERA BAGIMU

Bacaan:
Kis.14:19-28; Mzm.145:10-11.12-13ab.21; Yoh.14:27-31a

Renungan:
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh.14:27ab)
Ungkapan salam damai yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ini beberapa kali kita temukan dalam Injil. Salam damai serupa juga sering kita saat membaca surat-surat para Rasul maupun para Bapa Gereja perdana, yang terus-menerus diserukan oleh Gereja melalui karya kerasulannya, dan menjadi seruan kasih persaudaraan dalam liturgi suci, sampai hari ini.
Karena itu, dapat dikatakan pula bahwa sejatinya, dalam panggilan hidup Kristiani terkandung pula panggilan untuk selalu membawa “damai“, dimanapun dan dalam situasi apapun kita ditempatkan oleh Tuhan.
Damai ini berbeda dengan damai yang ditawarkan oleh dunia ini, karena dunia mengartikan damai sebagai ketiadaan masalah, pelarian dari kenyataan hidup. Damai yang dibawa oleh Yesus melampaui ketiadaan masalah, yaitu keberanian untuk berdiri dalam iman di tengah segala permasalahan dan badai pergumulan hidup, tanpa ketakutan dan keraguan, dalam keyakinan bahwa tidak ada dukacita, penderitaan, maupun bahaya yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Ini hanya dapat disadari sepenuhnya, manakala seseorang memiliki pergaulan yang mesra dengan Allah.
Teladanilah hidup Bunda tersuci kita Maria, Ratu Damai. Hidupnya yang senantiasa dipenuhi kedamaian di tengah malam gelap bagi jiwanya, yang menembus kedalaman jiwanya bagaikan sebuah pedang, menjadi kesaksian sukacita Injil yang sejati bagi dunia, sekaligus memberikan semangat bagi Gereja untuk membawa damai melalui hidup dan karya putra-putrinya, dan melihatnya sebagai suatu panggilan suci serta tugas Ilahi, yang digambarkan dengan begitu indah dan tepat dalam doa damai dari tradisi Fransiskan, “Bila terjadi kebencian, jadilah pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadilah pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadilah pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadilah pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadilah sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Untuk menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, memberi daripada menerima, mengampuni daripada diampuni.”
Inilah sukacita Injil yang kita wartakan. Inilah damai sejahtera sejati yang kita bawa di sepanjang hari-hari hidup kita yang singkat laksana bayang berlalu ini.
Damai…damai…damai…

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu dalam Pekan II Paskah

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kis.6:1-7; Mzm.33:1-2.4-5.18-19; Yoh.6:16-21

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan membuat seorang pelaut mahir.
Keindahan iman kristiani nampak bukan di dalam ketiadaan pencobaan, melainkan bahwa kita dapat tetap berdiri di tengah badai pencobaan.
Dalam bacaan yang kita renungkan hari ini, Bunda Gereja (sebutan bagi Gereja Katolik yang diibaratkan sebagai Ibu dari semua gereja) dilambangkan oleh penginjil sebagai perahu yang sedang melintasi lautan, yaitu dunia ini.
Pelayarannya menuju ke pantai seberang, yakni tanah air surgawi, bukanlah pelayaran melewati air yang tenang, melainkan melalui gelombang dan badai pencobaan dunia ini.
Berulang kali di sepanjang sejarah, Gereja diperhadapkan pada berbagai kesukaran besar, saat dimana perahu hampir tenggelam karena tingginya gelombang, bocor karena menghantam batu, dan patah layar karena ganasnya hembusan angin yang begitu kencang.
Bahkan saat inipun ada rupa-rupa serangan baik dari luar maupun dari dalam Gereja sendiri, yang menganiaya dan menghantar begitu banyak orang beriman untuk menjemput maut dalam kemartiran, menyerang martabat Imamat dan mematikan benih-benih panggilan dalam hedonisme serta konsumerisme, berusaha dengan berbagai cara untuk memberi definisi baru bagi pernikahan maupun arti keluarga, serta budaya kematian yang menjalani hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan pada akhirnya menghadapi ajal seolah-olah tidak pernah hidup.
Di dalam badai kejahatan dunia yang telah memalingkan wajah dari Sang Pemberi Hidup itulah, Gereja dipanggil bertolak lebih dalam dan menebarkan jala, untuk bertahan di dalam badai gelombang dan angin kencang.
Di tengah semua kegilaan itu, kita diminta untuk tetap beriman, berharap dan mencinta.
Ketakutan menghadapi dunia dengan segala kejahatannya bersumber dari kekurangan iman, harapan, dan cinta.
Ketika dunia begitu kuat menarikmu untuk tenggelam di dalam kejahatannya, berpeganglah lebih kuat lagi pada Tuhan. Hanya Dialah tempat perlindungan kita yang aman.
Tanpa Yesus, kita pasti binasa. Gereja dapat bertahan, karena Tuhan dan Penyelamat kita ada di dalam perahu.
Belajarlah untuk menantikan pertolongan Tuhan dengan setia di tengah badai. Pada waktu yang tepat, dalam kuasa cinta-Nya, Dia akan meredakan hantaman gelombang dan hembusan angin yang kencang, dan membawa kita ke pelabuhan yang tenang, tujuan akhir perjalanan kita yang membahagiakan.

Ini Aku…Jangan Takut!

Pax, in aeternum.
Fernando