Meditasi Harian ~ HARI RAYA PENTAKOSTA

image

PENTAKOSTA VS BABEL

Bacaan:
Kis.2:2-11; Mzm.104: 1ab.24ac.29bc.30.31.34; Gal.5:16-25; Yoh.15:26-27. 16:12-15

Renungan:
Pentakosta adalah perayaan kesatuan umat dalam iman, pemahaman, kesaksian, dan komunikasi kasih.
Umat manusia saat ini dengan bangganya menyatakan bahwa dirinya semakin menjadi dekat satu dengan yang lain karena kemajuan dalam komunikasi, transportasi, teknologi, dan berbagai kemajuan zaman lainnya. Batasan-batasan geografis, suku, agama, dan budaya, seakan mulai sirna.
Kendati demikian, kitapun menyaksikan bahwa justru di tengah berbagai usaha manusia untuk mendekatkan diri satu sama lain dengan berbagai sarana dari kemajuan tersebut, peradaban kita saat ini semakin ditandai pula dengan berbagai bentuk kebencian, konflik, semakin sulitnya komunikasi dan kesepahaman antara generasi, kecenderungan untuk semakin menutup diri dan terjebak dalam arus jejaring sosial yang membuat manusia kehilangan komunikasi yang lebih nyata dan personal, pemaksaan nilai-nilai baru yang justru merusak martabat manusia, dan egoisme serta kerakusan untuk memenangkan kepentingannya sendiri dengan berbagai cara.
Jikalau demikian, dapatkah benar-benar dikatakan bahwa umat manusia zaman sekarang lebih dekat dibanding sebelumnya, semakin bersatu, semakin saling memahami dan saling berbagi?
Tidakkah usaha manusia saat ini memiliki kesamaan dengan keadaan di masa lalu saat menara Babel dibangun?

Kisah Babel adalah gambaran kemanusiaan yang ingin bersatu, ingin semakin saling memahami dan memiliki bentuk komunikasi yang sama agar lebih mendekatkan diri satu dengan yang lain, serta tidak ingin lagi tercerai-berai. Tetapi, segala usaha ini dilakukan tanpa Tuhan. Mereka merasa dapat menciptakan sendiri jalan ke surga, dan didorong oleh hasrat untuk menciptakan surga serta berkuasa atas hidupnya tanpa Tuhan.
Dan lihatlah, pada akhirnya yang terjadi justru kekacauan dan kehancuran.

Apa yang terjadi di zaman Babel, memiliki kesamaan dengan masa sekarang ini, hidup kita saat ini. Berbagai kemajuan dan ilmu pengetahuan telah memberi kita kekuatan untuk mendominasi kekuatan alam, untuk memanipulasi unsur-unsur dalam kehidupan kita, untuk mereproduksi makhluk hidup, hampir ke titik penciptaan manusia yang seutuhnya. Dalam situasi demikian, berdoa kepada Allah seolah menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman, sia-sia, karena kita dapat membangun dan menciptakan apapun yang kita inginkan tanpa Tuhan. Kita tidak menyadari bahwa atas satu dan berbagai cara, kita sebenarnya menghidupkan kembali pengalaman yang sama seperti Babel.
Ada suatu paradoks, bahwa kendati dengan bangganya kita mengatakan atau mengklaim bahwa berbagai kemajuan saat ini telah membuat kita semakin dekat, semakin komunikatif, semakin bersatu, dan semakin saling memahami satu dengan yang lain, pada kenyataannya justru kita semakin enggan untuk saling memahami, semakin merasa tidak percaya, curiga, takut, terancam, menjatuhkan satu dengan yang lain.
Kalau demikian, apa yang sebenarnya yang salah? Bagaimana kita dapat benar-benar memiliki hidup dalam keharmonisan yang sejati?

Jawabannya ada dalam Kitab Suci: persatuan hanya bisa ada dan nyata bila Roh Allah juga berkarya di dalamnya. Sebab hanya oleh Roh-Nya kita dapat diberi hati yang baru dan lidah baru, kemampuan baru untuk berkomunikasi. Inilah yang terjadi pada hari Pentakosta. Pada pagi itu, lima puluh hari setelah Paskah, angin kuat bertiup di atas Yerusalem, dan api Roh Kudus turun atas para murid yang berkumpul disitu. Roh Allah dalam rupa lidah-lidah api itu turun dan menetap di atas kepala masing-masing dari mereka, dan memicu di dalamnya api ilahi, api cinta yang mampu mengubah segala hal. Ketakutan mereka menghilang, hati mereka dipenuhi dengan kekuatan baru, lidah mereka dikendurkan dan mereka mulai berbicara dengan bebas, sedemikian rupa sehingga semua orang yang menyaksikan dan mendengar mereka, beroleh kesaksian akan Kristus yang bangkit. Pada hari Pentakosta, dimana ada perpecahan dan ketidaksepahaman, persatuan dan kesepahaman lahir.

Injil hari ini mengungkapkan penegasan Yesus akan hal ini dengan begitu indahnya: “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh.16:13).
Dalam Injil hari ini, Yesus hendak juga menjelaskan bagaimana Gereja seharusnya menampilkan dirinya di tengah dunia, yakni kita dipanggil untuk menjadi tempat dimana semua orang dapat menemukan persatuan yang sejati, komunikasi kasih tanpa kepalsuan, jalan yang aman untuk bersatu dengan Allah. Gereja harus menjadi tempat dimana semua orang menemukan hati yang terbuka dan mencinta, dimana martabat manusia dihargai, dan dimana kehidupan senantiasa diperjuangkan dan memperoleh makna.

Dengan demikian, orang dapat melihat dengan jelas mengapa Pentakosta adalah Pentakosta, dan Babel adalah Babel.
Kitapun mengerti apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus, yang memperingatkan kita untuk senantiasa dipimpin oleh Roh, dan menjauhi kedagingan.
Pentakosta ditandai dengan buah-buah Roh, sedangkan Babel mengalami kehancuran karena didasarkan pada keinginan-keinginan daging.
Kita tidak bisa memiliki keduanya. Kita harus memiliki keberanian untuk memilih di pihak mana kita berdiri.
Semoga Perawan Suci Maria, Mempelai Roh Kudus, menjadi Bintang Timur yang menunjukkan jalan yang benar bagi kita, mengingatkan kita di pihak mana kita harus berdiri, agar sebagaimana Bunda Maria, kita senantiasa terbuka terhadap pimpinan Roh, kita pun membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dalam hidup kita, sehingga pada akhirnya kita boleh menemukan kesatuan, pemahaman, komunikasi kasih, dan iman yang sejati, yang membawa kita untuk beroleh keselamatan yang kekal di dalam Allah.

Veni Sancte Spiritus !

Pax, in aeternum.
Fernando