Bertobatlah…!

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Katolik Ortodoks

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Ortodoks

 

MINGGU BIASA III (TAHUN LITURGI – A)

Bacaan I – Yesaya 8: 23b – 9: 3

Mazmur Tanggapan – Mzm.27: 1, 4, 13-14

Bacaan II – 1 Korintus 1: 10-13.17

Bacaan Injil – Matius 4: 12-23

Bertobatlah…!

Hari ini Injil menceritakan kepada kita bagaimana Yesus, sesudah penangkapan Yohanes Pembaptis, melangkahkan kaki-Nya keluar dari wilayah Yerusalem dan Yudea, untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah di daerah Galilea, yang pada masa itu dianggap sudah kehilangan kemurnian sebagai tanah perjanjian, dan sudah berbau kafir. Tindakan Yesus ini merupakan tindakan profetis yang telah dinubuatkan oleh Yesaya, bahwa Mesias, Putra Allah, sekarang tampil sebagai pembebas untuk membawa cahaya pengharapan dan menghalau kegelapan. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes.9:1 & Mat.4:16)

Untuk itulah Gereja ada. Gereja bagaikan sebuah sakramen keselamatan. Sama seperti para murid yang pertama, Gereja diutus di tengah dunia untuk menjadi penjala manusia (bdk.Mat.4:19), untuk membawa cahaya Kristus ke dalam kegelapan. Akan tetapi, Gereja hanya bisa secara sempurna menjalankan karya Ilahi, bilamana ia sungguh menyadari bahwa kekuatannya berasal dari kesatuannya dengan Kristus, Sang Mempelai. Gereja dipanggil untuk masuk dalam persatuan cintakasih Allah Tritunggal Mahakudus, untuk bisa mendatangkan api cinta yang nantinya membaharui muka bumi. Ia harus senantiasa setia pada pengakuannya akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan.

Inilah yang diingatkan oleh Rasul Paulus, yang dengan tegas mengingatkan Gereja di Korintus bahwa perpecahan akan mengaburkan kesatuan Gereja dengan Kristus. Paulus, yang oleh rahmat Allah, telah dijatuhkan dari kuda, sungguh-sungguh memahami bahaya keangkuhan dan kegagalan mendengarkan suara Tuhan. Suatu bahaya yang dapat membuat kita terpecah-belah dan mengaburkan wajah Allah dalam diri Gereja-Nya. Perbedaan akan selalu ada, tetapi kita senantiasa diingatkan agar tidak melihatnya sebagai pembenaran untuk terpisah satu dengan yang lain. Perbedaan seharusnya dilihat sebagai cara Roh Kudus menyatakan diri-Nya dalam berbagai bentuk, cara, dan situasi. Timur atau barat, karismatik atau tradisional, konservatif atau liberal, apapun label yang tercipta, tidaklah boleh memisahkan kita satu dengan yang lain. Gereja haruslah selalu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Bilamana Gereja sungguh-sungguh berakar dalam Kristus, serta memahami kesatuan sejati hanya ada dalam misteri Ekaristi, ia akan menemukan keluhuran panggilannya untuk memecah-mecahkan diri secara benar, sehingga dapat memberi mereka (dunia) makan. Seruan Injil hari ini, menjadi seruan mendesak dari Allah bagi Gereja, “Bertobatlah…!” (bdk.Mat.4:17)

Bunda Gereja saat ini memasuki masa tergelap sejak berdirinya. Perpecahan yang melukai kesatuan Tubuh Mistik Kristus, persaingan akan kekuasaan yang mengalahkan semangat melayani, skandal dan berbegai kemerosotan hidup beriman yang teramat menyedihkan, diperparah dengan kenyataan bahwa saat ini, ia sedang berziarah di tengah dunia yang semakin memalingkan wajah-Nya dari Allah.

Dalam situasi demikian, masa depan Gereja tergantung sepenuhnya pada seberapa dalam ia setia menghidupi kemurnian dan kepenuhan imannya akan Kristus. Masa sulit ini tidak akan melenyapkan Gereja, tetapi akan memurnikan Gereja, sama seperti yang pernah terjadi di masa lampau. Sudah pasti proses kristalisasi dan klarifikasi ini akan menghabiskan banyak tenaga yang dimiliki oleh Gereja, akan tetapi, bagaikan suatu “malam pemurnian”, pada akhirnya ini akan akan menjadikan Gereja kembali menjadi putri kemiskinan, yang lemah lembut dan rendah hati.

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Akan tiba saatnya, bahwa sesudah pemurnian ini, suatu daya hidup sebagaimana jemaat perdana akan muncul kembali dalam Gereja yang semakin spiritual dan sederhana, yang telah menemukan kembali makna kesatuan sebagai putra-putri Ekaristi, yang dengan bangga merangkul salib. Bilamana dunia kemudian tersadar betapa jauhnya ia telah jatuh dalam jurang kesepian, dan bilamana dunia telah menyadari kegagalan tatanannya yang bertentangan dengan karya Allah, pada waktu itulah ia akan menemukan dalam Gereja yang telah dimurnikan, sebuah komunitas orang-orang beriman yang seolah baru baginya, sebagai suatu tanda pengharapan yang memberi makna dalam hidup mereka, sebagai sebuah jawaban yang selama ini mereka cari. Itulah saat yang membahagiakan dan mendatangkan sukacita, dimana di dalam Gereja, dunia akan menemukan wajah Allah.

Semoga Santa Perawan Maria, bunda Gereja, senantiasa menuntun Gereja pada kemurnian Injil, agar semakin sempurna bersatu dengan Kristus, Putranya. ( Verol Fernando Taole )