Meditasi Harian, 20 Juli 2017 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

KELEKATAN MEMADAMKAN CINTA

Bacaan:

Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“. Apa yang harus dilepaskan? Dosa. Kenapa harus dilepaskan? Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah. Karenanya kita merasa begitu kepayahan, terbebani, malah seringkali dengan hebatnya; depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi. Bahkan tak jarang seorang rasul Tuhan mengalami kebinasaan, dikarenakan beban dosa yang amat berat itu. Maka, ketika Tuhan kita mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan-Nya yang lemah lembut ini bagaikan panggilan di tengah padang gurun, untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya. Siapapun yang merindukan kelegaan, yang perlu ia lakukannl hanya satu, “melepaskan“. Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?

Keengganan untuk melepaskan merupakan bentuk kelekatan akan dosa yang dapat sangat menyulitkan, memayahkan, bahkan bisa mematikan panggilan seorang beriman dan perjuangannya untuk beroleh mahkota kemuliaan. Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat seperti apa, atau cacat dan kedosaan manakah, yang selama ini telah menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah. Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, atau apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”. Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah. Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“. Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan. Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, serta dengan komitmen teguh untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah. Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia. Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan. Panggilan kita adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala. Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya. Per Mariam ad Iesum.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 27 September 2016 ~ Peringatan St. Vincent de Paul, Imam

NYALA API CINTA

Bacaan:

Ayb.3:1-3.11-17.20-23; Mzm.88:2-8; Luk.9:51-56

Renungan:

Sukacita Injil harus senantiasa diwartakan, dalam situasi hidup sesulit apapun, termasuk ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa akan selalu ada penolakan, terhadap karya keselamatan dari Allah. Untuk itu seorang rasul Kristus harus senantiasa mengingat bahwa tugas kita adalah mewartakan secara meyakinkan dan otentik, tetapi jangan pula kecewa jika tidak semua orang mau diyakinkan oleh pewartaan Injil. Penolakan kerasulan cintakasih akan selalu ada, dan tak jarang berujung kemartiran. Tetapi, “jangan pernah merasa lelah jadi orang baik. Berbuatlah baik, entah disadari atau tidak, dihargai atau tidak, diterima atau tidak“, sebagaimana dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. 

Itulah misi kita, memperlihatkan wajah Allah yang berbelas kasih, lewat hidup dan karya kita. Sebab sebagaimana Anak Manusia datang, bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkan-Nya, demikian pula kita. Kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, seturut teladan St. Vincent de Paul, yang kita peringati pada hari ini. “Panggilan kita adalah untuk pergi dan mengobarkan hati semua orang, supaya melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Dia yang mendatangkan api ke dalam dunia, dan membiarkannya bernyala dalam kuasa Cinta-Nya. Apa lagi yang dapat kita minta, selain agar Cinta-Nya berkobar dan menghanguskan segala“, demikian kata St. Vincent de Paul. Tugas suci ini tidak hanya dihadirkan oleh para Imam dan Biarawati, dari Kongregasi yang didirikan seturut spiritualitasnya, melainkan juga bersumber dari Amanat Agung Tuhan kita, yang dengan demikian menjadikannya tugas kita pula. Kita mencita-citakan dan berusaha mewujudkan suatu dunia, yang dijalani dalam kasih persaudaraan dan sembah bakti, akan Allah Tritunggal Mahakudus. 

Maka, agar api cintakasih dalam hati kita kita senantiasa bernyala, harus disadari pula dari mana sebenarnya kobaran api cinta itu berasal, yakni dari Kristus sendiri. Bukan karena kuat dan hebatmu semata, melainkan dari Allah. “Nemo dat quod non habet – kamu tidak dapat memberi apa yang tidak kamu miliki”. Hanya pergaulan mesra dengan Allah dalam doalah, yang dapat menjaga agar api cinta itu tidak pernah akan padam. Barangsiapa ingin senantiasa berkobar dalam kerasulan pelayanan dan melakukan kehendak-Nya, hanya dapat melakukannya bilamana ia senantiasa berkanjang dalam doa, dan tekun merenungkan Firman-Nya. Tidak ada kekudusan tanpa doa, demikian pula karya cintakasih tanpa doa itu palsu, sehebat apapun itu. Wajah belas kasih Allah hanya dapat diperlihatkan dengan segala kebenaran dan kepenuhan-Nya, manakala kita terlebih dahulu memiliki kerendahan hati untuk mau dibentuk, dan mengalami perubahan hidup, yang terarah pada persatuan mistik dalam kuasa cinta dengan Dia. Selama itu tidak menjadi kerinduan terdalammu, maka sesungguhnya pemberian dirimu itu semu, dan yang kamu layani adalah dirimu sendiri, bukan Allah. Kehendakmu, bukan kehendak-Nya. 

Semoga St. Perawan Maria, Ibu semua orang beriman, menghantar kita kepada hidup yang senantiasa dikobarkan oleh api cinta kasih Putranya, dihanguskan dari mengingini segala, agar dalam kuasa cinta beroleh Kristus, Sang Segala. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 31 Maret 2016 ~ KAMIS DALAM OKTAF PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK MENGHANGUSKAN DUNIA

Bacaan:
Kis.3:11-26; Mzm.8:2a.5.6-7.8-9; Luk.24:35-48

Renungan:
Kendati menyedihkan, tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali untuk mempercayai suatu peristiwa pernyataan kuasa Allah, manusia merasa perlu menuntut untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Seolah Tuhan Semesta Alam harus mempertanggung jawabkan Diri-Nya di hadapan makhluk ciptaan-Nya. Dan lebih memprihatinkan lagi, bahwa ketika Tuhan justru berkenan menyatakan Diri-Nya, dan menjawab kerinduan umat-Nya, tak jarang pula pernyataan kuasa Allah itu justru disikapi dengan keterkejutan dan ketakutan, sebagaimana dialami oleh para murid dalam Injil hari ini (bdk.Luk.24:37). Di kemudian hari Petrus pun diperhadapkan pada rasa keterkejutan dan ketakutan khalayak akan kuasa Allah yang bekerja dalam dan melalui dirinya, sehingga keluarlah perkataan, “Mengapa kamu heran?” (Kis.3:12).

Mungkin saja, kegagalan beriman semacam ini diawali dengan kegagalan, untuk menyadari kemuliaan Tuhan melalui hal dan peristiwa sederhana dalam hidup. Mazmur hari ini sebenarnya telah mengungkapkannya dengan begitu indah, yaitu bahwa sebenarnya, “Seluruh bumi menampakkan kemuliaan Tuhan“.
Milikilah kekaguman untuk menyadari kemuliaan Tuhan dalam angin yang berhembus, dedaunan yang berjatuhan, air sungai yang mengalir, bahkan lampu-lampu kota yang bercahaya, sehingga kamu tidak akan begitu terkejut atau takut seperti para murid, manakala Tuhan berkenan melakukan karya-Nya yang luar biasa di dalam dan melalui dirimu.

Apa yang dialami para murid, juga dialami oleh putra-putri Gereja di sepanjang sejarahnya. Banyak saudara-saudari seiman yang mengalami kesulitan untuk melangkah dalam peziarahan berimannya, dengan sungguh-sungguh membawa Injil Tuhan dan Tradisi Suci di hatinya. Seandainya setiap orang beriman sungguh-sungguh menyadari martabat Imam, Nabi, dan Raja yang mereka peroleh melalui Sakramen Baptis, maka kita akan mendapati putra-putri Cahaya yang sanggup mendatangkan Api atas dunia ini; untuk menghanguskan segala bangsa, segenap suku dan kaum dalam nyala api cinta dari Tuhan.
Secara jujur harus diakui bahwa arus dunia ini telah menghempaskan putra-putri Gereja pada sikap acuh tak acuh dalam hidup beriman. Si jahat telah menabur benih ketidakpedulian, sehingga kita tidak lagi menjalani hidup beriman kita dengan “utmost capacity and capability“. Tak jarang kita mendapati generasi umat beriman yang suam-suam kuku, dihimpit ketakutan dan kekuatiran, yang berujung pada keputusan bodoh untuk mengkompromikan imannya.

Semoga kita sungguh-sungguh menyadari panggilan luhur kita untuk menjadi saksi-saksi Injil secara otentik dan meyakinkan,yang dibuktikan melalui hidup dan karya.
Bersama Bunda Maria, Saksi Pertama dan Utama dari janji keselamatan yang dilahirkannya ke dunia, kiranya Gereja Kudus boleh melahirkan putra-putri Paskah yang telah dibenamkan dalam air Baptis, dan keluar darinya dengan membawa Api yang sanggup membakar seluruh dunia dalam perjumpaan dengan saksi-saksi Kebangkitan. Kamulah Israel yang baru.

Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. 
Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” (Kis.3:25-26).

Bangkitlah! Bercahayalah! Kobarkanlah dunia ini dengan nyala api Cinta!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 13 Januari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa I

image

KERASULAN NOL BESAR

Bacaan:
1Sam.3:1-10.19-20; Mzm.40:2.5.7-8a.8b-9.10; Mrk.1:29-39

Renungan:
Disadari atau tidak, Allah telah memberi dalam hati setiap orang suatu luka cinta. Luka ini begitu istimewa, sebab luka ini memurnikan cinta dan sanggup menghanguskan jiwa, tetapi sekaligus pula mendatangkan sukacita tak terkatakan, karena menumbuhkan dalam jiwa kita suatu kerinduan untuk senantiasa mencari Dia.
Semua orang mencari Tuhan“. (bdk.Mrk.1:37)
Demikianlah diungkapkan oleh St. Markus dalam bacaan Injil hari ini. Kalimat sederhana dan begitu kuat ini seharusnya membuka mata iman kita, untuk menyadari keluhuran panggilan kita sebagai rasul-rasul Kristus.
Kita dipanggil bukan hanya mencari Tuhan dalam peziarahan iman kita. Hidup kita seharusnya ibarat buku yang terbuka, yang bercerita tentang Kristus secara benar dan otentik.
Orang-orang harus menemukan pengenalan yang sejati akan Kristus melalui kita, para pengikut-Nya, yaitu anda sekalian dan saya.
Jangan menjalani hidup Kristiani secara sia-sia, jangan “menahan diri atau membiarkan bibirmu terkatup” (bdk.Mzm.40:9-10).
Hidupmu seharusnya “menceritakan Kristus“.
Sebagaimana kamu dikenal, demikianlah Kristus dapat dikenal.
Maka, bilamana dunia mendapatkan gambaran atau pengenalan yang keliru tentang siapa Kristus itu, dan memilih berdiam dalam kegelapan ketimbang mendekati cahaya sejati yang dibawa-Nya, itu seringkali disebabkan karena para pengikut-Nya, mereka yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, telah gagal menghadirkan Dia dalam hidup dan karya mereka. Kegagalan itu bersumber dari kurangnya kesadaran akan landasan utama dari semangat kerasulan itu sendiri, yaitu Doa.

Berbeda dengan kebohongan yang ditanamkan oleh “si jahat” (Bapa segala dusta), setiap orang beriman yang ingin berbuah dalam karya kerasulan, apapun itu, perlu memahami kenyataan berikut ini.
Kerasulan tanpa Doa itu “0” besar. Tidak ada omong kosong seperti itu.
Anda tidak akan pernah menjadi seorang rasul Kristus yang suci tanpa doa.
Tidak mungkin menyebut diri seorang rasul Kristus, namun tenggelam dalam kesibukan karya kerasulan tersebut sampai lupa atau enggan menjadikan doa sebagai prioritas utama. Anda haruslah menjadi seorang rasul Kristus yang pertama-tama mencintai Misa Kudus, tekun mendoakan Brevir, dengan Rosario di tangan dan Salam Maria didaraskan, dengan puasa dan laku tapa, dengan melakukan mati raga dan silih, dengan mendengarkan Dia dalam Lectio Divina, dan berbagai bentuk doa lisan maupun batin lainnya. Lakukanlah itu dengan hati dan ketekunan yang suci, agar tidak jatuh dalam kejenuhan dan rutinitas.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang di tengah kesibukan-Nya untuk memaklumkan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, tidak pernah lupa untuk pergi ke tempat sunyi dan “berdoa” (bdk.Mrk.1:35).
Kalau Tuhan Yesus sendiri menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan bagian penting dalam Hidup dan Karya-Nya, bagaimana mungkin kamu tidak demikian?

Panggilan untuk berdoa sama sekali bukan berarti meninggalkan karya kerasulan, atau mengabaikan dunia dengan menjadi pertapa. Tidak semua dipanggil untuk menjadi pertapa dalam kesunyian suci yang demikian. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi pendoa, seorang insan Allah, sehingga sekalipun melangkah di tengah dunia, mata batin kita senantiasa terarah ke surga, karya kerasulan kita menjadi ibarat siraman air yang membasahi tanah di sepanjang perjalanan dan memberi hidup.
Jangan pernah lupa bahwa ada nilai adikodrati dari segala karya kerasulan kita. Belajarlah dari semangat suci para misionaris di masa lalu. Mereka melakukan berbagai karya kerasulan, pertama-tama dan terutama adalah untuk memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, bukan sekadar berbuat kebaikan tanpa nilai adikodrati. Sebab jikalau demikian, maka karyamu itu tidak ubahnya seperti yayasan amal, NGO, atau organisasi sosial karitatif sekuler yang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
Jangan pernah lupa bahwa kamu dipanggil untuk menghadirkan Kristus, menjala manusia ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Itulah Misimu!

Mempunyai rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik, mendirikan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang paling unggul, mencanangkan program kerja yang sangat sistematis dan terukur untuk mensejahterakan umat, berada dalam komunitas yang aturan hidupnya disusun sedemikian rupa dan membanggakannya dalam idealisme yang keliru, bahkan bila kamu membangun rumah tangga dan membesarkan keluarga dengan pengetahuan akan psikologi maupun ekonomi rumah tangga yang cemerlang sekalipun, semuanya itu “NOL BESAR” tanpa “DOA“.
Anda boleh saja melabeli segala karya kerasulan itu dengan menambahkan kata “Katolik“, entah di depan atau di belakang, tetapi semuanya itu tidak akan menghasilkan buah bagi karya kerasulan yang sejati tanpa doa.
Kerasulan yang “memenangkan jiwa-jiwa” adalah kerasulan yang dilandasi doa.

Saat ini kita menyaksikan begitu banyaknya institusi (pernikahan, keluarga, komunitas, sekolah, rumah sakit, ordo, dll.) yang dalam kepongahannya berbangga memakai label “Katolik“, tetapi tidak punya keberanian untuk mengangkat tinggi-tinggi Salib; jatuh dalam kenyamanan dan kelekatan duniawi, mengalah pada desakan arus zaman, kehilangan kewarasan untuk berakar dalam doktrin dan ajaran sosial Gereja, tumpul hati dan tidak tergila-gila untuk mewartakan iman secara berani dan otentik; mengabaikan tugas suci untuk menghasilkan baptisan-baptisan baru yang teruji; tak peduli dan mengabaikan kewajiban untuk mewariskan iman kepada putra-putrinya, agar mereka kemudian tidak ragu-ragu menampilkan identitas ke-Katolik-an secara “benar” dan “tepat” dalam situasi sesulit apapun, termasuk pada kemungkinan merangkul kemartiran karenanya.
Inilah realita pahit dari hidup kekristenan saat ini yang mendesak untuk disikapi.
Kalau tidak, pada akhirnya dari institusi-institusi itu anda mungkin menghasilkan darinya manusia-manusia yang berkualitas menurut ukuran dunia, tetapi mereka bukanlah insan-insan Allah, kekurangan kesadaran untuk memandang Allah dalam keterpesonaan Cinta, dan kekurangan kehausan akan jiwa-jiwa.
Tidak turut berduka bersama dukacita Allah. Tidak meratapi apa yang diratapi Dia, tidak merindukan apa yang dirindukan-Nya, tidak mengingini apa yang diingini-Nya, tidak menolak apa yang dibenci-Nya, tidak mengasihi apa yang dikasihi-Nya.
Hidup keKristenanmu hanya akan menjadi kesaksian yang benar-benar hidup, otentik dan meyakinkan apabila engkau terlebih dahulu adalah seorang pendoa.

Kekudusan tanpa doa? Aku tidak percaya akan kekudusan semacam itu. Jika engkau bukan seorang pendoa, aku tidak percaya akan ketulusan niatmu saat engkau mengatakan bahwa engkau bekerja untuk Kristus.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá, seorang Kudus besar, yang telah mengajarkan kita jalan suci tersebut setelah lebih dahulu melakukannya.
Jika kamu merasa sulit mengikuti hidup Kristus dan tuntutan-tuntutan Suci dari Injil-Nya, itu karena engkau tidak melakukannya di dalam doa.
Karena itu, bertekunlah dalam doa. Dalam kekeringan rohani dan situasi seburuk apapun, bertekunlah dalam doa. Doa selalu membuahkan hasil. Bahkan jika kamu tidak tahu bagaimana caranya mulai untuk berdoa, atau apa yang harus dikatakan, bilamana kamu dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Allah, maka Hati-Nya pasti tergerak oleh belas kasihan, dan lihatlah betapa terkagum-kagumnya kamu nanti saat menyaksikan dan menyadari gerakan cinta Tuhan yang dengan penuh kelembutan menarikmu kepada-Nya. Dia sendiri yang akan mengajarimu berdoa.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” (1Sam.3:10)
Serviam! Serviam! Serviam!

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu Tuhan dan Ibu kita, menuntun putra-putri Gereja pada pengenalan dan persatuan sempurna dengan Putra-nya dalam doa, serta menyertai kita dalam karya kerasulan untuk membawa api yang sanggup menghanguskan seluruh dunia dalam kobaran Nyala Api Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan IV Paskah

image

BERNYALA SAMPAI AKHIR

Bacaan:
Kis.12:24-13:5a; Mzm.27:2-3.5.6.8; Yoh.12:44-50

Renungan:

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.” ~ Yoh.12:46

Selama dunia menolak untuk menerima cahaya sukacita Injil, selamanya pula dunia akan tetap berada dalam kegelapan.
Sebagaimana cahaya ada untuk menerangi kegelapan, demikian pula Sabda Allah dalam diri Yesus Kristus datang ke dalam dunia untuk menerangi kegelapan.
Dunia ini tidak mungkin hidup tanpa cahaya. Semua makhluk hidup memerlukan cahaya. Sebagaimana cahaya membawa kehangatan dan energi, membuat benih untuk bertunas serta semua yang hidup tumbuh dan berkembang, demikianlah cahaya kebenaran Tuhan membuat semua orang yang beriman kepada-Nya tumbuh dan berkembang serta mengalami hidup dalam segala kelimpahan rahmat yang berasal dari-Nya.
Kata-kata Yesus memberi kehidupan, yakni hidup Allah sendiri, bagi siapapun yang menerimanya dengan penuh sukacita dalam iman.
Ini bukanlah berarti ketiadaan masalah atau pergumulan hidup, melainkan kepastian bahwa di tengah semuanya itu, kita akan selalu menemukan sukacita dan rasa syukur di dalam Tuhan.
Jika kita tetap bersikeras untuk menolak cahaya sukacita Injil dan tuntutan hidup sebagai seorang Kristiani yang sejati, itu artinya kita telah secara tahu dan mau memilih untuk hidup dalam kegelapan rohani.

Hari ini (29 April), bersama Gereja Katolik sedunia, kita juga memperingati St. Katarina dari Siena. Beliau hidup pada masa suram dalam Gereja, saat para petinggi Gereja dan Negara hidup dalam kebobrokan rohani serta kerakusan duniawi luar biasa. Di tengah kerapuhan Gereja pada waktu itu, St. Katarina dari Siena tampil sebagai seorang wanita kudus yang tidak menghakimi atau membangkang terhadap Hirarki, melainkan dengan penuh kesetiaan dan cinta menasehati para gembala untuk kembali menemukan sukacita Injil di dalam panggilan mereka. Kendati mendapat banyak perlawanan, tanpa kenal lelah St. Katarina dari Siena menulis begitu banyak surat yang mengungkapkan kedalaman cinta Ilahi untuk menasihati para pejabat Gereja maupun Negara. Kata-katanya yang penuh hikmat dan kesetiaan mutlaknya pada Iman Katolik, pada akhirnya mendatangkan pertobatan dan bahkan sampai menyentuh hati Paus, yang kembali disadarkan akan tugas kegembalaan yang dipercayakan Kristus kepadanya.
Oleh karena itu, di masa suram yang kurang lebih sama saat ini, hidup dan karya St. Katarina dari Siena kiranya boleh juga meneguhkan iman kita, untuk setia dalam iman, taat pada Hirarki, serta tanpa kenal lelah dengan berbagai cara menopang para Uskup dan Imam terkasih kita dalam karya, demi kemuliaan Allah.

Dalam salah satu nasehat rohaninya, St. Katarina dari Siena menggambarkan hidup dan panggilan kita seperti sebuah lilin, yang bercahaya dengan lembut dan hangat. Untuk bernyala dengan baik sampai habis, sumbu lilin harus benar-benar tertancap dengan tepat dan lurus di tengah. Bila sumbunya tidak benar-benar tegak lurus, bentuk lilinnya akan tidak bagus, nyalanya tidak elok, bahkan mungkin akan padam dalam perjalanan dan tidak terbakar habis seluruhnya.
Sama seperti lilin itu, demikian pula hidup beriman kita haruslah lurus, stabil, konsisten. Sumbu iman kita haruslah tertancap kuat dan berakar dalam Kristus serta dalam kesetiaan kepada ajaran iman Gereja Katolik secara otentik, tanpa pernah berpikir untuk berdiri di ruang abu-abu. Saat berbicara soal iman, kita tidak boleh bengkok sana-sini dan kompromistis karena takut mengecewakan pendengar.
Untuk dapat bernyala dan membakar seluruh dunia serta menghanguskan dunia dalam ketergila-gilaan cinta akan Allah, sumbu iman kita harus tertancap kuat pada Ekaristi Kudus dan doa tak kunjung putus, sebagai Sumber Hidup yang memampukan kita untuk terus berkobar dan bercahaya menerangi dunia, agar hidup dan karya kita selalu menghasilkan buah yang baik.
Kesetiaan mengikuti Misa Kudus untuk menyambut Tubuh Tuhan, dan ketekunan dalam doa menjadikan setan semakin kehilangan ruang gerak, dan dia tidak mendapat tempat dalam hidup kita, karena hidup kita begitu dipenuhi oleh cinta Tuhan.
Jika tidak demikian, maka datanglah si jahat untuk berbisik di lubuk hati kita agar jatuh dalam dosa dan kehilangan ketakutan yang suci akan Allah.
Dosa akan menjadi ibarat air yang disiramkan ke atas lilin yang bernyala, sehingga lilin itu tidak lagi bercahaya dengan lembut dan hangat, melainkan akan mendesis, berasap, bahkan mati. Lilin hanya dapat bernyala kembali dengan indahnya apabila dikeringkan. Disinilah rahmat Sakramen Tobat membawa pemurnian, mengeringkan kita dari ketenggelaman dalam dosa, sehingga kita dapat kembali bercahaya.
Malanglah mereka yang tidak mencintai Ekaristi, tidak memelihara hidup doa, dan dengan angkuhnya merasa tidak perlu mengaku dosa sesering mungkin.
Jangan heran bila hidupmu tidak berbuah baik, karena cintamu sedikit. Cintamu sedikit karena kamu tidak pernah menimba daya hidup cinta yang berasal dari Ekaristi, doa, dan pertobatan sejati.
Semoga kita senantiasa mendekat kepada Tuhan dan menyentuh Hati Allah karena cinta akan Dia, sehingga pada akhirnya kita akan sanggup menyentuh hati semua orang dan menghanguskan mereka dalam kuasa cinta.

“Engkau bagaikan misteri yang dalam sedalam lautan; semakin aku mencari, semakin aku menemukan, dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari Engkau. Tetapi, aku tidak akan pernah merasa puas; apa yang aku terima menjadikanku semakin merindukannya. Apabila Engkau mengisi jiwaku, rasa laparku semakin bertambah, menjadikanku semakin kelaparan akan terang-Mu.” ~ St. Katarina dari Siena

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Oktaf Paskah

image

PANGGILAN ITU UNIVERSAL

Bacaan:
Kis.4:1-12; Mzm.118:1-2.4.22-24.25-27a; Yoh.21:1-14

Renungan:
Penampakan Yesus kepada para murid di pantai danau Tiberias mengingatkan kita akan pemanggilan pertama mereka untuk menjadi penjala manusia. Lagi-lagi kenyataan bahwa usaha mereka untuk menangkap ikan semalaman tanpa beroleh hasil apa-apa, menggambarkan kegelapan rohani yang seringkali ditemui dalam karya kerasulan para rasul Kristus yang dibawa ke dalam gelap, ke dalam ketiadaan, ke dalam awan ketidaktahuan.
Disinilah pendengaran akan kehendak Tuhan dibutuhkan, pendengaran yang disertai ketaatan untuk menebarkan jala di tempat dimana Tuhan menghendaki.
Seorang rasul Kristus dipanggil untuk melayani Allah dan Kerajaan-Nya, bukan dirinya sendiri. Usahanya untuk menebarkan jala tidak akan berbuah apa-apa tanpa ketaatan penuh pada kehendak Tuhan.
Dia yang menaati dan mencintai Tuhan akan datang mendekati “api arang” (bdk.Yoh.21:9) untuk duduk bersama Tuhan, bukan dalam penyangkalan seperti yang dilakukan Petrus di depan “api berdiang” (bdk.Mrk.14:54), melainkan sebagai seorang hamba sebagaimana diteladankan oleh Tuhan kita.
Di balik hasil tangkapan yang berlimpah, Injil pun mencatat dalam ungkapan simbolis jumlah ikan yang ditangkap pada waktu itu, yaitu 153 ekor, yang menurut ilmu hayat pada waktu itu adalah jumlah keseluruhan jenis ikan di dunia. Dengan demikian, panggilan untuk menjadi penjala manusia adalah panggilan yang bersifat universal. Katolik itu sendiri berarti universal. Kita bukan Gereja khusus orang Batak, Tionghoa, atau Papua. Kita bukan Gereja yang eksklusif bagi kelompok karismatik, atau legio Maria saja. Kita bukan Gereja yang membuka pintu hanya untuk mereka yang kaya atau mapan saja.
Kita adalah Gereja yang membuka hati bagi seluruh dunia, untuk membawa sebanyak mungkin orang, tanpa membeda-bedakan, kepada kekudusan.
Oleh karena itu, tepatlah kata-kata St. Brigitta dari Swedia, “Hanya ada satu iman Kristen, yakni Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando