Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan VII Paskah

image

AKAL BUDIMU ADALAH UNTUK TUHAN

Bacaan:
Kis.19: 1-8; Mzm.68: 2-3.4-5ac.6-7ab; Yoh.16:29-33

Renungan:
Orang-orang Kristen sekarang ini haruslah menjadi orang-orang beriman yang cerdas, terdidik, dan menggunakan segenap akal budinya untuk mengenal apa yang ia Imani, sehingga dapat mengkomunikasikannya secara benar, tepat, dan meyakinkan kepada dunia. Itulah sebabnya, ada kebutuhan mendesak saat ini bahwa Teologi bukan hanya didalami oleh para Imam dan Biarawan-biarawati, melainkan juga oleh kaum Awam, sehingga karya kerasulan untuk mewartakan Injil dan menguduskan umat manusia, semakin menghasilkan buah yang melimpah.
Iman akan Allah bukanlah sekedar mitos, sebagaimana yang kita temukan dalam hidup Hesiodos dan Orpheus. Iman tidak pernah bertentangan dengan akal budi.  Manusia-lah yang selalu berusaha mempertentangkan iman melawan akal budi, maupun sebaliknya. Akan tetapi, sejatinya, akal budi adalah salah satu anugerah Ilahi terindah dari Karya Penciptaan, yang diberikan kepada manusia, agar ia dapat mengenal dan mencintai secara benar akan “Pribadi” yang telah menciptakannya dari ketiadaan.
Demikian pula, Akal Budi dapat menjadi sangat keliru, sesat, bahkan melenyapkan kehidupan, bilamana tanpa terang Iman yang sejati.

Karena ketiadaan Iman dan memberhalakan akal budi-lah, maka umat manusia saat ini semakin memalingkan wajah mereka dari Sang Pencipta, dan merasa bisa menyelesaikan segala persoalan dunia ini tanpa Tuhan.
Para ilmuwan melakukan rekayasa genetika untuk menemukan obat dari berbagai penyakit, tetapi untuk melakukan itu mereka membenarkan tindakan penghancuran benih-benih kehidupan;
atas nama kemanusiaan, seorang dokter melakukan euthanasia bagi pasien yang ingin mengakhiri hidupnya, dan seorang ibu merasa berhak melakukan aborsi untuk membunuh darah dagingnya sendiri karena tidak menginginkan anak itu;
demi pemahaman keliru akan hak asasi dan kesetaraan, undang-undang kini disahkan di banyak negara yang memberi definisi baru pada martabat pernikahan suci, yang tidak lagi diartikan sebagai persatuan kasih antara pria dan wanita, dan bahwa keluarga tidak lagi berarti suatu kesatuan kasih antara seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak sebagai adalah buah cinta mereka berdua.
Bahkan di dalam tubuh Gereja sendiri, terang akal budi yang keliru dan sesat saat ini berjuang dengan berbagai cara untuk membelokkan Gereja dari Ajaran Iman yang sejati.

Ke dalam dunia seperti inilah, ke dalam kegagalan akal budi semacam inilah, saat ini kita dipanggil untuk “menebarkan jala“. Dan untuk menebarkan jala secara benar, seseorang haruslah mengenal imannya, sehingga hidupnya dapat kesaksian dari sukacita Injil, dan dia dapat mewartakan imannya itu dengan berani, benar, dan tepat, tanpa keraguan.
Celakalah mereka, yang karena kelalaiannya sendiri, merasa tidak perlu mendalami Iman Katolik-nya dengan tekun, bersikap acuh tak acuh dan cuci tangan seperti Pilatus, dengan menyerahkan tugas itu hanya kepada para Imam dan Biarawan-biarawati.
Jadilah putra-putri Katolik yang tangguh, yang sungguh mengenal imannya, dan berdiri teguh di atasnya, melawan badai dan kegelapan dunia ini.

Bercahayalah! Jadilah Terang!
Mohonkanlah dalam Novena Roh Kudus selama hari-hari ini, karunia kebijaksanaan dan pengertian, sehingga kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang meyakinkan, serta memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Allah.
Kiranya suara Tuhan dalam Injil hari ini meneguhkan imanmu, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh.16:33)

Pax, in aeternum.
Fernando