MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

image

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan Injil (sebelum perarakan Palma)
Mrk.11:1-10 atau Yoh.12:12-16
Madah Perarakan Palma
Hosanna Filio David
Bacaan I
Yes.50:4-7
Mazmur Tanggapan
Mzm.22:8-9.17-18a.19-20.23-24
Bacaan II
Flp.2:6-11
BACAAN INJIL
Mrk.14:1 – 15:47
Catatan: Sejalan dengan Tradisi Suci, Bacaan Injil mengenai Kisah Sengsara Tuhan ini wajib “dilagukan/dinyanyikan”.

Renungan:
Penderitaan adalah bagian dari kemanusiaan. Siapapun yang berkeinginan untuk mengenyahkan penderitaan, haruslah juga menyingkirkan Cinta atau Kasih itu sendiri, karena seseorang tidak mungkin mencintai secara sempurna tanpa penderitaan, luka, dan rasa sakit.
Kesejatian cinta mengandung pula kesediaan untuk mengurbankan diri.
Inilah ukuran kedewasaan rohani dan ke-sejati-an cinta seseorang, yakni seberapa besar kesediaannya untuk mengurbankan segala-galanya, termasuk nyawanya sendiri.
Inilah juga yang semakin hilang dari dunia ini. Banyak orang tidak dapat lagi melihat, atau lebih tepatnya menolak konsekuensi dari cinta, yaitu penderitaan.
Mereka sulit menerima kenyataan bahwa cinta yang sejati haruslah terluka.
Akibatnya, banyak orang pun sulit sekali menerima kenyataan yang kedua dari cinta, yakni sebagaimana cinta haruslah siap terluka dan menderita, cinta yang sejati juga harus selalu mengampuni.
Pengampunan adalah bagian terindah dari cinta, paripurna dari pengurbanan diri yang sejati.
Ketiadaan dari sikap bersedia untuk terluka, menderita, dan mengampuni, berarti pula ketiadaan cinta.
Setiap orang yang mengurbankan dirinya untuk mencintai sampai terluka, menderita, dan mengampuni dengan sendirinya menyempurnakan martabat manusiawinya, dan menjadikan dirinya semakin Ilahi.
Mereka yang menolak hakekat cinta ini berarti hatinya membatu dan egois (cinta diri yang keliru), menolak untuk menerima dan mengasihi orang lain sebagaimana Allah menerima dan mengasihi mereka.
Kalau Allah menerima dan mengasihi bagian-bagian terburuk dari kemanusiaan dan bersedia mengampuni dan menyembuhkannya, demikian pula setiap orang beriman, tanpa kecuali, dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Jadi, bilamana Gereja Katolik hari ini memperingati Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, sebenarnya hendak mengajak seluruh dunia untuk memandang keagungan cinta Tuhan, dan serentak mengajak kita untuk merenungkan panggilan Kristiani kita untuk mencintai sampai sehabis-habisnya.
Kendati Tuhan Yesus memasuki Yerusalem diiringi sorak-sorai dan kehormatan sebagai Raja, di balik sukacita itu sebenarnya Tuhan dan Penyelamat kita sedang memulai perjalanan akhir-Nya untuk merangkul penderitaan, yang akan memuncak pada kematian-Nya di Salib.
Dia sepenuh-Nya tahu bahwa di balik sorak-sorai dari mereka yang berseru, “Hosanna! Hosanna!”, sebagian besar dari mereka beberapa hari ke depan akan menjadi orang yang sama yang akan berteriak histeris, “Salibkan Dia! Bunuh Dia!”

O Cinta yang mengagumkan…Cinta sehabis-habisnya dari Tuhan dan Penyelamat kita.

Dialah Raja Damai yang datang menunggangi keledai, bukannya kuda perang. Di saat dunia mengartikan kuasa sebagai penindasan terhadap orang lain, mencari kehormatan dengan kekerasan, mencari pembenaran untuk membantai sesama pada ideologi agama dan pembelaan yang keliru atas nama Tuhan, di tengah ketiadaan cinta dari dunia ini, di Minggu Palma ini Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa kebesaran seorang Penguasa, kebesaran Tuhan Allah semesta alam, justru nampak dalam kelemahan lembutan Hati-Nya.

Inilah ke-Katolik-an. Inilah iman Kristiani kita. Kita dipanggil untuk mencinta.
Jangan disilaukan oleh sukacita dan kegembiraan sambutan khalayak di Yerusalem, sampai tidak bisa melihat “Kalvari” di balik semuanya itu.
Kiranya kita senantiasa mengarahkan pandangan pada Salib Tuhan sebagai sumber kekuatan kita untuk mengasihi sampai sehabis-habisnya, dan semoga Santa Perawan Maria, hamba Allah yang menyimpan semua perkara dalam hatinya yang penuh cinta sampai digelari “Mater Dolorosa” (Bunda Dukacita), menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya. Ibu Maria, doakanlah kami, agar setia dalam cinta di jalan salib Yesus, Putramu.

Selamat memasuki Pekan Suci.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu V Prapaska

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Yeh.37:21-28; MT Yer.31:10.11-12ab.13; Yoh.11:45-56

Renungan:
Yesus adalah satu-satunya yang ingin disampaikan oleh Allah. Tidak hanya dalam kitab Yehezkiel yang kita renungkan hari ini, melainkan seluruh bagian dari Perjanjian Lama, semua nubuat yang diberikan para nabi, mempersiapkan umat Allah untuk kedatangan Putra Allah. Hidup dan karya Yesus adalah Perjanjian Baru, yang melengkapi seluruh pewahyuan Allah.
Oleh karena itu, penolakan bangsa Yahudi dan persepakatan untuk membunuh Tuhan Yesus, yang juga seolah hendak dimaklumkan dengan nubuat palsu dari Imam Besar Kayafas, merupakan penolakan langsung terhadap perjanjian dan belas kasih Allah.
Mereka yang setiap hari merenungkan Hukum Taurat, menolak menerima kegenapan dari pewahyuan Allah dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.

Kegagalan mengenal Tuhan Yesus dan penolakan terhadap kabar keselamatan yang diwartakan-Nya, sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi di bawah pimpinan Imam Besar, para ahli Taurat, dan para pemuka agama lainnya, bukan tidak mungkin dapat terjadi juga di dalam Gereja.
Mereka yang diserahi tugas luhur untuk menggembalakan umat Allah senantiasa diingatkan untuk menjaga kemurnian ajaran iman Gereja dari bahaya penyesatan. Kiranya Allah menghindarkan kita semua dari kegagalan mengenali kehendak-Nya.

Di tengah serangan yang semakin terang-terangan terhadap pokok-pokok iman dan ajaran sosial Gereja, orang dapat keliru pula dalam memahami pernyataan “Ecclesia semper reformanda”.
Memang benar bahwa Gereja haruslah selalu membaharui diri, untuk dapat menjelaskan imannya dengan lebih baik, agar bisa menemukan bentuk-bentuk baru yang lebih tepat bagi karya kerasulan saat ini.
Akan tetapi, Ajaran Iman Gereja bukanlah sesuatu yang dapat dirubah sesuai opini publik atau semangat zaman yang keliru. Kita tidak boleh mengabaikan suara-suara kenabian yang mengingatkan kita untuk tetap setia memelihara Iman Katolik secara otentik, dalam kesatuan dengan Bapa Suci di Roma.
Kemurnian iman adalah harga mati yang tidak dapat dikompromikan.

Saat ini, Gereja begitu diombang-ambingkan oleh arus kehidupan. Menjadi seorang Kristiani di masa sekarang ini seringkali menemui berbagai tantangan dan pergumulan.
Diperhadapkan pada kenyataan demikian, putra-putri Gereja harus senantiasa berjaga-jaga, bertekun dalam iman, menjadikan hidup doa sebagai perisai, agar tidak terjerat pada perangkap si jahat.
Percaya saja tidak cukup, kita harus mengetahui apa yang kita percayai, untuk bisa mengimani dan merangkulnya dengan penuh sukacita.
Setiap anggota Gereja di masa sekarang ini haruslah sungguh-sungguh memahami apa yang dia imani, sehingga kita bisa selalu menjawab tantangan dunia ini, yang seringkali mengaburkan pandangan kita dalam mengenali Tuhan dan kehendak-Nya.

Berdoalah agar kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang teguh dalam iman, apapun bentuk panggilan hidup dan karya kita. Berdoalah pula bagi para Uskup kita yang terkasih, yang sementara mempersiapkan diri untuk menghadiri  Sinode Keluarga pada bulan Oktober nanti di Roma. Semoga mereka pun, dalam kesatuan dengan Bapa Suci, meneguhkan apa yang baik, benar dan berkenan di hati Allah, serta dapat memberikan jawaban yang lebih tepat dan sesuai bagi tantangan keluarga-keluarga Kristiani di masa sekarang ini, tanpa kehilangan kemurnian imannya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Gadis Afganistan dipaksa oleh Kakak Kandungnya untuk melakukan aksi bom bunuh diri

Sulit dimengerti… 🙁

Sungguh menyesakkan dada pas nonton berita utama CNN & BBC hari ini.
Seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Afghanistan menjadi berita utama setelah ditangkap saat mengenakan rompi yang penuh rangkaian bom bunuh diri.

Gadis kecil ini disuruh melakukan aksi bom bunuh diri oleh kakak kandungnya sendiri, seorang pemimpin pemberontak muslim Taliban.

Betapa biadab dan jahatnya hati manusia saat ini, suatu fanatisme beragama yg secara sesat telah merusak keluhuran agamanya sendiri, menghujat ALLAH yang adalah KASIH, dengan hidup beriman yg keliru, berperilaku layaknya binatang.

Dapatkah pemahaman jihad yang keliru seperti melakukan bom bunuh diri, membunuh sesama manusia (termasuk yang se-agama), melarang wanita mengenyam pendidikan, dan berbagai kekejian lainnya, dapatkah perilaku-perilaku keji demikian beroleh ganjaran kemuliaan surga?

Bagaimana mungkin suatu agama menjadi rahmat bagi alam semesta, jika yang dilakukan pengikutnya justru merusak alam semesta dan menghancurkan kehidupan?

View on Path