Meditasi Harian 28 Desember 2015 ~ PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR

TUMPULNYA HATI NURANI

image

Bacaan:
1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18

Renungan:
Salah satu indikasi seorang semakin jauh dari Tuhan dan jalan-jalan-Nya adalah tumpulnya Hati Nurani.
Ketika seorang mengalami ketumpulan hati nurani, maka dia akan mengabaikan apa yang baik dan benar. Kegemarannya bukanlah melakukan kehendak Tuhan, melainkan membuat jurang pemisah antara dia dan Allah, melukai Hati Tuhan, dan menjadi tuli terhadap Suara Tuhan yang bergema di hatinya. Seiring dengan itu, hidupnya mulai mengalami ketiadaan rahmat, dan tindak tanduknya semakin menciptakan permusuhan antara dia dengan Allah.

Itulah yang terjadi dengan Herodes dalam Injil hari ini. Raja Herodes telah menjadi gelap hati, kemudian secara tahu dan mau menolak Sang Cahaya.
Keinginannya untuk membunuh Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus berbuah pada keluarnya titah pada waktu itu untuk melakukan pembantaian teramat biadab, yakni pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem.
Bacaan pertama hari ini, hendaknya mencerahkan budi kita untuk merefleksikan hidup beriman kita, apakah kita pun pernah mengalami tumpulnya hati nurani. Rasul Yohanes mengatakan,
Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1Yoh.1:5-6)

Di sepanjang sejarah kemanusiaan, termasuk hidup kita sendiri, kita pun melihat dan menyaksikan banyak hal yang sulit dimengerti oleh hati manusia yang mencintai Allah.
Bagaimana mungkin orang sanggup meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri di pasar, menggorok leher sesama manusia, memperkosa wanita-wanita tak berdaya sampai mati dalam trauma berat, dan semuanya itu dilakukan atas nama Tuhan dan Agama?

Ada banyak hal dan peristiwa dalam dunia saat ini dimana kegelapan seolah merajai hati manusia, sehingga mendorong banyak orang untuk bertanya, “Dimanakah Allah?

Dalam Injil hari ini kita membaca bagaimana ketumpulan hati nurani dalam diri Raja Herodes, membuat dia tega membunuh bayi-bayi tak bersalah.
Akan tetapi dunia dimana kita hidup saat ini pun setiap hari menjadi saksi bagaimana para Ibu begitu tega membunuh anak-anak mereka, dengan keji melenyapkan darah daging mereka sendiri melalui tindakan aborsi terencana, atau membuang anak-anak mereka setelah terlahir, untuk dibiarkan mati tergeletak di jalan-jalan dunia ini.

Dalam jeritan kemanusiaan, Beata Teresa dari Kalkutta (Mother Teresa) pun dengan sedih mengatakan,
Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.

Di saat dunia kini seolah mengalami ketiadaan Allah – ketiadaan Sang Kasih, Pesta Kanak-Kanak Suci di Hari Keempat dalam Oktaf Natal mengajak kita sekalian untuk menyadari kebenaran ini.
Tuhan selalu Ada. Dunia boleh saja menyebarkan kebohongan, dan mengatakan Dia sudah mati atau tidak ada.
Tetapi sesungguhnya, Tuhan selalu Ada.
Kitalah yang seringkali menolak kehadiran-Nya, membiarkan diri kita tenggelam dalam lumpur dosa yang berujung pada tumpulnya hati nurani.
Maka, bila kita sungguh ingin memiliki kedamaian dan sukacita, datanglah mendekat kepada Bayi Yesus dalam palungan di Bethlehem.

Hanya Dia yang terbaring seolah tak berdaya dalam rupa insani, yang sanggup untuk melembutkan hatimu serta membawa cahaya dalam jiwamu.
Bila Terang itu telah berdiam di hatimu, maka kamu pun akan sanggup membawa cahaya untuk menerangi lorong-lorong dunia ini dan mengenyahkan kegelapan.
Inilah panggilan kita, suatu kerasulan suci untuk menjadi pembawa damai.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi pemandu yang aman bagi kita, untuk menjalani hidup Kristiani secara otentik dan meyakinkan, sekalipun karenanya kita mungkin saja harus menghadapi kemartiran seperti Kanak-Kanak Suci dari Bethlehem.
Jangan Takut!
Kristus telah datang ke dalam dunia, dan telah memenangkan kita dengan Darah Suci-Nya. (bdk.1Yoh.1:7)
Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm.124:8)
Berlututlah di hadapan Sang Bayi Suci, dan berilah dirimu diubahkan oleh-Nya. Kemudian berdirilah seperti seorang Kesatria, dan menangkanlah dunia ini dalam nama-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan VII Paskah

image

AKAL BUDIMU ADALAH UNTUK TUHAN

Bacaan:
Kis.19: 1-8; Mzm.68: 2-3.4-5ac.6-7ab; Yoh.16:29-33

Renungan:
Orang-orang Kristen sekarang ini haruslah menjadi orang-orang beriman yang cerdas, terdidik, dan menggunakan segenap akal budinya untuk mengenal apa yang ia Imani, sehingga dapat mengkomunikasikannya secara benar, tepat, dan meyakinkan kepada dunia. Itulah sebabnya, ada kebutuhan mendesak saat ini bahwa Teologi bukan hanya didalami oleh para Imam dan Biarawan-biarawati, melainkan juga oleh kaum Awam, sehingga karya kerasulan untuk mewartakan Injil dan menguduskan umat manusia, semakin menghasilkan buah yang melimpah.
Iman akan Allah bukanlah sekedar mitos, sebagaimana yang kita temukan dalam hidup Hesiodos dan Orpheus. Iman tidak pernah bertentangan dengan akal budi.  Manusia-lah yang selalu berusaha mempertentangkan iman melawan akal budi, maupun sebaliknya. Akan tetapi, sejatinya, akal budi adalah salah satu anugerah Ilahi terindah dari Karya Penciptaan, yang diberikan kepada manusia, agar ia dapat mengenal dan mencintai secara benar akan “Pribadi” yang telah menciptakannya dari ketiadaan.
Demikian pula, Akal Budi dapat menjadi sangat keliru, sesat, bahkan melenyapkan kehidupan, bilamana tanpa terang Iman yang sejati.

Karena ketiadaan Iman dan memberhalakan akal budi-lah, maka umat manusia saat ini semakin memalingkan wajah mereka dari Sang Pencipta, dan merasa bisa menyelesaikan segala persoalan dunia ini tanpa Tuhan.
Para ilmuwan melakukan rekayasa genetika untuk menemukan obat dari berbagai penyakit, tetapi untuk melakukan itu mereka membenarkan tindakan penghancuran benih-benih kehidupan;
atas nama kemanusiaan, seorang dokter melakukan euthanasia bagi pasien yang ingin mengakhiri hidupnya, dan seorang ibu merasa berhak melakukan aborsi untuk membunuh darah dagingnya sendiri karena tidak menginginkan anak itu;
demi pemahaman keliru akan hak asasi dan kesetaraan, undang-undang kini disahkan di banyak negara yang memberi definisi baru pada martabat pernikahan suci, yang tidak lagi diartikan sebagai persatuan kasih antara pria dan wanita, dan bahwa keluarga tidak lagi berarti suatu kesatuan kasih antara seorang ayah, seorang ibu, dan anak-anak sebagai adalah buah cinta mereka berdua.
Bahkan di dalam tubuh Gereja sendiri, terang akal budi yang keliru dan sesat saat ini berjuang dengan berbagai cara untuk membelokkan Gereja dari Ajaran Iman yang sejati.

Ke dalam dunia seperti inilah, ke dalam kegagalan akal budi semacam inilah, saat ini kita dipanggil untuk “menebarkan jala“. Dan untuk menebarkan jala secara benar, seseorang haruslah mengenal imannya, sehingga hidupnya dapat kesaksian dari sukacita Injil, dan dia dapat mewartakan imannya itu dengan berani, benar, dan tepat, tanpa keraguan.
Celakalah mereka, yang karena kelalaiannya sendiri, merasa tidak perlu mendalami Iman Katolik-nya dengan tekun, bersikap acuh tak acuh dan cuci tangan seperti Pilatus, dengan menyerahkan tugas itu hanya kepada para Imam dan Biarawan-biarawati.
Jadilah putra-putri Katolik yang tangguh, yang sungguh mengenal imannya, dan berdiri teguh di atasnya, melawan badai dan kegelapan dunia ini.

Bercahayalah! Jadilah Terang!
Mohonkanlah dalam Novena Roh Kudus selama hari-hari ini, karunia kebijaksanaan dan pengertian, sehingga kita semua dapat menjadi rasul-rasul Kristus yang meyakinkan, serta memenangkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa bagi Allah.
Kiranya suara Tuhan dalam Injil hari ini meneguhkan imanmu, “Kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.” (Yoh.16:33)

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

PENGKHIANATAN AKAN SELALU ADA

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27; Yoh.13:16-20

Renungan:
Sejarah kekristenan ditandai dengan mereka yang dengan berani menjemput berbagai bentuk kemartiran. Memberi diri sebagai santapan bagi binatang-binatang buas daripada kehilangan imannya, merelakan diri untuk dihukum mati di kamar gas dalam kamp konsentrasi demi menggantikan posisi narapidana lain yang seharusnya menjalani hukuman itu, dibakar hidup-hidup karena tidak ingin meninggalkan umatnya sendirian menghadapi keberingasan mereka yang membenci para pengikut Kristus, melayani para penderita kusta sendirian di pulau terasing sampai harus mati karena penyakit yang sama, bahkan untuk mati ditembak saat sedang memberi makan mereka yang kelaparan, kendati yang dia layani itu adalah orang-orang yang tidak beriman, dan mungkin tidak akan pernah mau beriman atau menghargai pengorbanannya.
Akan tetapi di balik sikap heroik dalam beriman yang demikian, sejarah kekeristenan juga mencatat mereka yang meninggalkan salib karena ketidak sanggupan menerima tuntutan salib, yang secara sadar mengkhianati hidup kekristenan itu sendiri. Mereka yang menyebut diri kristen tetapi mendukung hukuman mati, para dokter yang melakukan aborsi dan gigih mempromosikan penggunaan kondom dan alat kontrasepsi, bahkan melakukan euthanasia atas nama rasa kemanusiaan yang keliru, para pengacara yang membela kejahatan karena bayaran yang tinggi, para pejabat yang menerima suap atas dasar bahwa semua orang juga melakukannya, para imam yang sibuk bermain saham, tetapi sementara angka-angka investasinya mengalami kenaikan, tanpa disadari angka-angka domba yang meninggalkan Gereja karena kelalaiannya memelihara jiwa semakin bertambah dari hari ke hari.

Injil hari ini berbicara begitu keras dan jelas, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia” (Yoh.13:18-19).
Pengkhianatan akan selalu ada. Akan selalu ada Yudas-Yudas kekristenan yang meninggalkan altar dan persekutuan Gereja, mengkhianati dengan sebuah ciuman, untuk bergabung dengan para penyamun, singa dan serigala, dan berbalik menyerang Gereja Kudus-Nya dengan membawa nama Tuhan, sambil menuding bahwa Gereja telah kehilangan kemurniannya.

Saudara-saudari terkasih. Gereja Katolik tidak pernah, dan tidak akan pernah kehilangan kemurniannya. Gereja tetap kudus sekalipun orang-orangnya adalah pendosa. Tahbisan itu suci dan mereka yang melayani dalam kuasa tahbisan itu wajib dihormati, ditaati dan dicintai secara total, sekalipun mungkin tahbisan itu dalam pandangan manusia ditumpangkan atas mereka yang dipenuhi dengan berbagai kelemahan dan keterbatasan, bahkan yang mungkin mulai lupa atau melalaikan tugas luhurnya. Itu semua untuk membuatmu rendah hati untuk tidak memandang muka, dan menyadari bahwa Tuhanlah yang berkarya di balik itu semua.

Kamulah yang harus berubah! Kamulah yang harus mengoyakkan hatimu untuk bertobat, bukannya menuntut Gereja untuk merubah sikap demi gagasan yang keliru dan mendorong Gereja supaya menyesuaikan diri dengan semangat zaman. Kebebalan dan ketegaran hatimu-lah yang saat ini mendorongmu untuk memberikan interpretasi baru tetapi sesat pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja. Niatmu yang mengatasnamakan hak-hak asasi manusia, terobosan medis, emansipasi dan kesamaan gender, telah melukai Gereja dan mengaburkan jejak-jejak Kristus, serta merusak tatanan Penciptaan.
Bahwa Gereja harus senantiasa membuka diri bagi angin segar perubahan, itu memang benar dan sungguh perlu.
Tetapi, untuk secara keliru menggunakan dalil itu pada usaha untuk menyeret Gereja Katolik tenggelam dalam arus zaman, kehilangan kemurniannya ajaran imannya, membelokkan pewartaan sukacita Injil, menyangkal suara kenabiannya, itu adalah jahat di mata Tuhan.
Injil hari ini menjadi suara Ilahi dan seruan pertobatan bagi kita, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” (Yoh.13:18-19)

Pengkhianatan akan selalu ada. Mereka yang meninggalkan Kristus karena kerasnya kata-kata Yesus akan selalu ada. Akan tetapi, milikilah kerendahan hati untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua orang sanggup menerima tuntutan Injil. Tugasmu adalah mewartakan, bukan meyakinkan, kendati kamu memang dipanggil untuk mewartakan secara meyakinkan tanpa cacat dalam hidup dan karyamu. Tugasmu hanyalah untuk selalu menjawab, “Ya. Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.” Untuk mendorong batu, tanpa mempedulikan apakah batu itu akan terguling atau tidak. Pada waktunya nanti, seturut gerak cinta Tuhan, kamu akan dihantar pada pengalaman mistik yang membuatmu memandang Allah yang berseru dari dalam awan, “Akulah Dia” (bdk. Yoh.13:19).

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan IV Paskah

image

JANGAN JADI ORANG KATOLIK YANG BODOH

Bacaan:
Kis.11:19-26; Mzm.87:1-3.4-5.6-7; Yoh.10:22-30

Renungan:
Ketika sebagai seorang Katolik anda ditanya, “Apakah anda seorang Katolik? Apakah anda mencintai dan menaati Paus sebagai Wakil Kristus di dunia dan Kepala Gereja, menaati Uskup-mu, dan mencintai Imam-mu? Banggakah anda dengan beriman Katolik? Setiakah anda pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Magisterium Gereja?“, tanpa ragu anda pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja!
Tetapi ketika pertanyaan ini dirubah dengan kalimat yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, misalnya, “Apakah anda menentang hukuman mati? Apakah anda tidak menggunakan kondom, pil KB, dan alat-alat kontrasepsi lainnya? Apakah anda menolak untuk mendukung gerakan bagi adanya Imam/Pastor perempuan dalam Gereja? Apakah anda mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan mengaku dosa secara teratur? Apakah anda menolak aborsi dan euthanasia dalam situasi apapun?“, maka pertanyaan-pertanyaan ini seketika menjadi tidak begitu mudah lagi untuk dijawab lantang dengan mengatakan, “Ya, tentu saja!
Malah, bisa jadi jawabannya berubah 180 derajat menjadi, “Tidak!

Bacaan Injil hari ini seharusnya menjadi tamparan iman bagi kita semua.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yoh.10:27)
Kamu adalah domba, bukan kambing, bukan pula binatang liar tanpa gembala.
Domba yang sejati, “mendengarkan” suara Sang Gembala Sejati.
Seorang Katolik sejati, haruslah menaati Paus dan para Uskup yang telah diserahi tugas oleh Kristus sendiri untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Tidak mungkin menyebut diri seorang Katolik, tetapi menolak apa yang diimani oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin mengakui, “Allah adalah Kasih, dan saya dipanggil untuk mengasihi, baik orang benar maupun yang tidak benar“, tetapi dengan lantang mengatakan pada para pelaku kriminal berat, “Kalian pantas mati! Kalian tidak layak diampuni!
Tidak mungkin berkata, “Saya sepenuhnya percaya apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik!“, sementara pada kenyataannya justru tidak bersedia menolak apa yang ditolak oleh Gereja Katolik.
Domba sejati adalah domba yang taat secara mutlak, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas kepada Gembalanya.
Ketaatan mutlak bukan berarti ketaatan buta.

Karena itu, kenalilah Iman Katolik-mu. Dalamilah Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja Katolik secara benar, sehingga anda bisa dicelikkan dari kebutaan serta dapat melihat keindahan Iman Katolik, dan tidak dengan mudahnya menvonis Gereja Katolik sebagai sesat atau keliru.
Jangan jadi orang Katolik yang tidak memahami apa yang sebenarnya ia harusnya imani. Jika demikian, kita dapat dengan mudah jatuh dalam penyesatan, mengikuti opini publik dan setuju dengan pandangan mayoritas, padahal hal itu nyata-nyata bertentangan dengan Ajaran Iman Gereja Katolik.
Hanya karena itu sudah menjadi budaya yang lumrah, sebagian besar orang percaya demikian, atau hampir semua orang melakukannya hal yang sama, tidaklah menjadikan hal itu dapat dibenarkan di hadapan Allah dan Gereja Katolik-Nya yang kudus.
Jangan jadi saksi-saksi iman yang tidak terdidik, atau malah saksi-saksi palsu.
Jadilah saksi sukacita Injil yang sungguh mengenal dan merangkul Iman Katolik, sehingga kita berani untuk mewartakannya tanpa keraguan, apapun resikonya, bahkan sekalipun harus bermusuhan dengan seluruh dunia, atau malah harus kehilangan nyawa karena kesetiaan pada Iman Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Renungan Pesta Keluarga Kudus (dalam Oktaf Natal)

PESTA KELUARGA KUDUS (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Sirakh 3:3-7.14-17a

Mazmur Tanggapan – Mzm. 127: 1-2. 3. 4-5

Bacaan II – Kolose 3: 12-21

Bacaan Injil – Matius 2: 13-15. 19-23

KELUARGA KRISTIANI

Tanda Iman Yang Menimbulkan Perbantahan

Pesta Keluarga Kudus (Sancta Familia) dirayakan oleh Gereja Katolik pada hari Minggu sesudah Hari Raya Natal. Pesta ini adalah suatu perayaan iman akan Keluarga Kudus Nazaret (Yesus, Maria dan Yusuf), dimana Gereja melihat suatu keteladanan yang ideal akan bagaimana hidup suatu keluarga. Bacaan I hari ini, yakni Kitab Putra Sirakh, yang ditulis sekitar 200 tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus Kristus, memberikan suatu tatanan nilai dalam hidup berkeluarga. Kebesaran dan kebijaksanaan seseorang dilihat dari sikap hormat dan baktinya kepada orang tua, yang secara tidak langsung merupakan wujud dari hormat dan baktinya kepada Allah, dan pemenuhan perintah Allah yang ke-4 (Hormatilah Ibu Bapamu). Bahwa pada akhirnya, bakti dan hormat kepada orang tua ini akan mendatangkan kesukaan, jawaban atas setiap doa, serta pepulih atas segala dosa.

Bila kita berbicara mengenai keluarga yang ideal dengan segala tuntutan, kewajiban dan keutamaan dalam hidup berkeluarga, sekilas memang tiada bedanya antara Keluarga Kristiani dengan keluarga-keluarga non kristiani lainnya. Akan tetapi, dalam bacaan II, Rasul Paulus menunjukkan kepada kita panggilan keluarga kristiani yang membedakan kita dengan keluarga-keluarga dunia lainnya. Keluarga kristiani adalah keluarga yang mendasarkan hidup dan berpusat pada Kristus. Terang Kristuslah yang menjadi pedoman hidup keluarga, Roh-Nyalah yang menghidupi dan memenuhi keluarga dalam kasih Allah. Setiap anggota keluarga haruslah senantiasa mengenakan Kristus untuk bisa saling mengasihi, sebagaimana Kristus mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya.

Disinilah titik tolak Pesta Keluarga Kudus. Gereja mengajak kita untuk merayakan kehidupan Yesus, Maria dan Yusuf, karena dalam hidup Keluarga Kudus Nazaret, kita menemukan gambaran Keluarga Kristiani yang ideal, yang sejati. Hidup mereka adalah hidup yang senantiasa terbuka terhadap sapaan dan kehendak Allah. Ketaatan dan kasih mereka kepada Allah senantiasa ditunjukkan dalam hidup sehari-hari, yang sekalipun sederhana dan tersembunyi, tetapi memancarkan cahaya cintakasih yang menerangi seluruh dunia. Dalam kehidupan keluarga kudus yang sederhana ini kita melihat bagaimana Yesus, Putra Allah, menundukkan diri dalam hormat dan cinta bakti kepada orangtua-Nya, Maria dan Yusuf. Kita melihat ketaatan iman Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah, di tengah kegelapan iman akan segala janji-Nya. Kita melihat akan kebesaran hati dan kebapaan Yusuf, yang menjaga dan mencukupkan semua kebutuhan keluarganya, karena ketaatan dan cintanya kepada Allah.

Oleh karena itu, Pesta Keluarga Kudus ini bukanlah sekedar perayaan akan sebuah keluarga yang seolah tidak pernah melakukan suatu kesalahan di mata Tuhan, melainkan suatu perayaan iman akan sebuah keluarga yang tidak pernah meragukan cinta dan kesetiaan Tuhan, meskipun hidup yang mereka jalani setiap hari seolah-olah menunjukkan hal yang sebaliknya. Sebuah keluarga yang selalu memandang Tuhan dengan penuh cinta, membuka diri seluas-luasnya untuk dipenuhi kasih Allah dalam hidup mereka, sebuah keluarga yang senantiasa melangkah bersama Tuhan melalui semua badai pergumulan hidup, karena keyakinan bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan damai sejahtera. Itulah yang hendak ditunjukkan oleh Gereja Katolik dalam perayaan ini.

Bagaikan suatu tanda yang menimbulkan perbantahan, demikianlah hidup Keluarga Kudus dilihat oleh dunia saat ini. Suatu tanda perbantahan di saat begitu banyak keluarga berhenti berjalan bersama karena keengganan untuk setia, untuk berharap, untuk mencintai sampai terluka. Suatu tanda perbantahan di saat begitu banyak anak terlahir dalam ketiadaan cinta dan dibuang oleh orang tuanya, di saat begitu banyak ibu membunuh anaknya sendiri melalui tindakan aborsi. Suatu tanda perbantahan di saat begitu banyak orang, institusi dan negara, dengan mengatasnamakan hak asasi manusia, mencoba menyesatkan arti keluarga dan pernikahan yang suci, dengan mengesahkan berbagai bentuk persatuan yang melanggar hakekat dasar pernikahan antara pria dan wanita. Dalam situasi dunia semacam inilah, pesan Injil yang diwartakan oleh Gereja Katolik semakin bergema lewat Pesta Keluarga Kudus.

Hak asasi macam apa yang menyerukan kita untuk menghargai hidup, tetapi di sisi lain membolehkan kita untuk melenyapkan kehidupan, untuk membunuh darah daging sendiri? Hak asasi macam apa yang membuat definisi baru bahwa Pernikahan dapat dilangsungkan bukan hanya antara seorang pria dan seorang wanita saja? Hak asasi macam apa yang mencoba membenarkan bahwa keluarga tidak harus terdiri atas ibu, ayah dan anak? Kemajuan peradaban macam apa yang meniadakan peran keluarga dalam melahirkan dan membesarkan anak sebagai masa depan dunia, dan membiarkannya diambil-alih oleh teknologi genetika?

Pesta Keluarga Kudus merupakan suara Gereja untuk mengingatkan setiap keluarga kristiani agar setia pada panggilan luhurnya, dan tidak berkompromi dengan dunia yang semakin memalingkan wajahnya dari Tuhan. Kita dipanggil untuk meneladani hidup keluarga kudus, untuk membawa cahaya iman dan menghalau kegelapan dunia. Masa depan dunia, masa depan Gereja, ditentukan oleh keluarga. Jadilah keluarga yang hidup dalam kasih Allah, yang selalu bersekutu dalam doa, yang menjadikan Kristus sebagai pusat hidup. Dengan demikian, dari keluarga-keluarga kristiani yang sejati, akan terlahir putra-putri Gereja, sebagai tanda-tanda pengharapan dan sukacita, dimana karenanya kita berseru, “Imanuel – Allah beserta kita.” (fernando)

Pesta Kanak-Kanak Suci (28 Desember)

Di hari ke-4 dalam Oktaf Natal ini, bersama Gereja Katolik sedunia, kita juga merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci, Martir.

Raja Herodes, karena ketakutannya akan kelahiran Sang Raja Damai, Tuhan Yesus Kristus, memerintahkan pembunuhan puluhan bayi dgn usia 2 tahun ke bawah, dengan harapan dia bisa membunuh Putra Allah.

Akan tetapi, atas bisikan malaikat, Maria & Yusuf kemudian membawa Bayi Yesus mengungsi ke Mesir.

Puluhan bayi di Bethlehem ini dibunuh secara keji.
Mereka dihormati Gereja sebagai Martir.

Semoga Pesta Kanak-Kanak Suci ini mengingatkan kita akan darah para martir yg menjadi benih iman Gereja, serta akan kenyataan dunia saat ini, dimana setiap hari lebih dari 10.000 bayi dibunuh oleh Ibunya sendiri lewat tindakan aborsi.

“Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.” ~ Beata Ibu Teresa dari Calcutta, seorang biarawati Katolik yang suci.

View on Path