Meditasi Harian 28 September 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXVI

MENGIKUTI TANPA KELEKATAN
Bacaan:

Ayb.9:1-12.14-16; Mzm.88:10b-15; Luk.9:57-62

Renungan:

Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikuti Engkau. Apapun yang Kau minta dan Kaurancangkan, seturut kehendak-Mu akan kulakukan dan kutaati. Kupercayakan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas“.

Betapa indahnya perkataan ini, sungguh ideal dan diharapkan, untuk dihidupi oleh seorang rasul Kristus. Akan tetapi, realita hidup kristiani, seringkali memperhadapkan kita pada kebenaran, bahwa untuk melakukan tidaklah semudah mengatakan atau menjanjikannya. Lain di bibir, lain di hati. 

Injil hari ini mengungkapkan itu dengan begitu jelasnya. Banyak orang mengaku siap mengikuti Yesus, tetapi seringkali didapati bahwa jawaban itu disertai berbagai persyaratan. Ingin mengarahkan pandangan ke surga, tetapi hati masih melekat erat pada dunia. Untuk mengikuti Tuhan di “Jalan-Nya“, seringkali menuntut pula kesediaan dari pihak kita untuk meninggalkan berbagai jalan dan pilihan hidup, berbagai pertimbangan dan keberatan, berbagai pertanyaan dan keraguan, agar dapat melangkah dengan bebas dan hati gembira menuju Allah. Panggilan untuk mengikuti Tuhan dalam “libertas filiorum Dei – kemerdekaan anak-anak Allah“, mengharuskan kita dengan bantuan rahmat-Nya, untuk melepaskan diri dari segala kelekatan. 

Banyak rasul-rasul Kristus yang berhenti melangkah, mundur dari pelayanan, meredup dalam semangat kerasulan, menyerah dalam bahtera rumah tangga, tidak sanggup menderita, bahkan mengakhiri hidup dengan cara-caranya sendiri di luar kehendak Allah, hanya karena satu kecenderungan yang bernama “kelekatan“. Kelekatan ini tidak selalu jelas terlihat jahatnya, malah seringkali nampak sangat manusiawi, sebagaimana kita dapati dalam Injil hari ini.  

Kelekatan hadir dalam berbagai bentuk dan situasi, dimana kita sulit melepaskannya, karena itu telah mengganti tempat Allah sebagai yang terkasih di hati. Bagi yang seorang itu bisa dalam bentuk pekerjaannya, bagi orang lain bisa pula keluarganya. Bagi yang satu hobi-hobinya, bagi yang lain cita-citanya. Melepaskan kelekatan tidak selalu berarti mengabaikannya sama sekali, tetapi kalau Tuhan memperkenankan kamu menjalaninya, jalanilah tanpa hatimu melekat pada itu semua. Apapun bentuknya, selama itu tidak dilepaskan, selamanya pula anda akan merasa lelah, bahkan mati di tengah jalan karena kepayahan menapaki jalan Tuhan. Lekatkanlah hatimu pada Hati Tuhan, maka kamu akan menemukan arti kehadiranmu, arti hidupmu, arti karya kerasulanmu. Kamu akan menemukan “kesejatian panggilanmu“. 

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah lebih dahulu memancarkan cahaya Iman tanpa kelekatan, berkenan menolongmu dengan bantuan rahmat Ilahi, untuk melepaskan diri dan hatimu dari segala kelekatan, dan melangkah dengan gembira seirama dengan langkah Tuhan.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 27 September 2016 ~ Peringatan St. Vincent de Paul, Imam

NYALA API CINTA

Bacaan:

Ayb.3:1-3.11-17.20-23; Mzm.88:2-8; Luk.9:51-56

Renungan:

Sukacita Injil harus senantiasa diwartakan, dalam situasi hidup sesulit apapun, termasuk ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa akan selalu ada penolakan, terhadap karya keselamatan dari Allah. Untuk itu seorang rasul Kristus harus senantiasa mengingat bahwa tugas kita adalah mewartakan secara meyakinkan dan otentik, tetapi jangan pula kecewa jika tidak semua orang mau diyakinkan oleh pewartaan Injil. Penolakan kerasulan cintakasih akan selalu ada, dan tak jarang berujung kemartiran. Tetapi, “jangan pernah merasa lelah jadi orang baik. Berbuatlah baik, entah disadari atau tidak, dihargai atau tidak, diterima atau tidak“, sebagaimana dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. 

Itulah misi kita, memperlihatkan wajah Allah yang berbelas kasih, lewat hidup dan karya kita. Sebab sebagaimana Anak Manusia datang, bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkan-Nya, demikian pula kita. Kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, seturut teladan St. Vincent de Paul, yang kita peringati pada hari ini. “Panggilan kita adalah untuk pergi dan mengobarkan hati semua orang, supaya melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Dia yang mendatangkan api ke dalam dunia, dan membiarkannya bernyala dalam kuasa Cinta-Nya. Apa lagi yang dapat kita minta, selain agar Cinta-Nya berkobar dan menghanguskan segala“, demikian kata St. Vincent de Paul. Tugas suci ini tidak hanya dihadirkan oleh para Imam dan Biarawati, dari Kongregasi yang didirikan seturut spiritualitasnya, melainkan juga bersumber dari Amanat Agung Tuhan kita, yang dengan demikian menjadikannya tugas kita pula. Kita mencita-citakan dan berusaha mewujudkan suatu dunia, yang dijalani dalam kasih persaudaraan dan sembah bakti, akan Allah Tritunggal Mahakudus. 

Maka, agar api cintakasih dalam hati kita kita senantiasa bernyala, harus disadari pula dari mana sebenarnya kobaran api cinta itu berasal, yakni dari Kristus sendiri. Bukan karena kuat dan hebatmu semata, melainkan dari Allah. “Nemo dat quod non habet – kamu tidak dapat memberi apa yang tidak kamu miliki”. Hanya pergaulan mesra dengan Allah dalam doalah, yang dapat menjaga agar api cinta itu tidak pernah akan padam. Barangsiapa ingin senantiasa berkobar dalam kerasulan pelayanan dan melakukan kehendak-Nya, hanya dapat melakukannya bilamana ia senantiasa berkanjang dalam doa, dan tekun merenungkan Firman-Nya. Tidak ada kekudusan tanpa doa, demikian pula karya cintakasih tanpa doa itu palsu, sehebat apapun itu. Wajah belas kasih Allah hanya dapat diperlihatkan dengan segala kebenaran dan kepenuhan-Nya, manakala kita terlebih dahulu memiliki kerendahan hati untuk mau dibentuk, dan mengalami perubahan hidup, yang terarah pada persatuan mistik dalam kuasa cinta dengan Dia. Selama itu tidak menjadi kerinduan terdalammu, maka sesungguhnya pemberian dirimu itu semu, dan yang kamu layani adalah dirimu sendiri, bukan Allah. Kehendakmu, bukan kehendak-Nya. 

Semoga St. Perawan Maria, Ibu semua orang beriman, menghantar kita kepada hidup yang senantiasa dikobarkan oleh api cinta kasih Putranya, dihanguskan dari mengingini segala, agar dalam kuasa cinta beroleh Kristus, Sang Segala. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 21 September 2016 ~ Pesta St. Matius Rasul, Martir

PANGGILAN ITU MISTERI 
Bacaan:

Ef.4:1-7.11-13; Mzm.19:2-3.4-5; Mat.9:9-13

Renungan:

Panggilan itu misteri. Siapa? Bagaimana mungkin? Kenapa? Kapan? Kemana?, hanyalah sebagian dari begitu banyak pertanyaan yang menyertai saat Tuhan memanggil seseorang di jalan-Nya. 

Hari ini kita pun menemukan dalam Injil, bagaimana Tuhan memanggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi rasul-Nya. Tentu Tuhan kita sungguh tahu dan sepenuhnya menyadari pekerjaan Matius. Pemungut cukai di zaman Yesus adalah pekerjaan terkutuk, paling korup,  dan dibenci oleh bangsa Yahudi, karena profesi ini merenggut kesejahteraan rakyat untuk diberikan kepada bangsa penjajah Romawi, sekaligus memperkaya diri si pemungut cukai dengan menagih lebih, bahkan tak jarang mengancam mereka yang kesulitan membayar cukai. Matius menjalani hidup yang menempatkannya berdiri di atas penderitaan orang lain. Itulah yang dilihat rakyat pada waktu itu, dan juga yang kita simak saat merenungkan bacaan ini. Semua orang memandang Matius seorang berdosa, yang layak dibenci dan dikucilkan.
Kalau demikian, muncul pertanyaan, “Apa sebenarnya yang dilihat Tuhan Yesus dalam diri Matius, yang tidak dilihat orang lain?

Kita teringat saat Allah mengutus Nabi Samuel ke rumah Isai, untuk mengurapi salah satu dari anak-anaknya sebagai Raja (bdk.1Sam.16:1-13). Tidak satupun dari tujuh anak yang dibawa Isai ke hadapan Samuel yang dipilih Tuhan, kendati mereka punya berbagai keunggulan dan keutamaan. Pilihan Tuhan Allah Semesta Alam justru jatuh pada yang bungsu, yaitu Daud. Tuhan pun mengutarakan kenapa Daud yang Ia pilih, bahwasanya “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1Sam.16:7).
Hati Daud bagaikan kompas yang menunjuk ke Utara, kepada Allah.

Sebagaimana Daud, demikian pula halnya dengan Matius. Dia mungkin tidak terlihat di Bait Allah, dengan jubah agung dan jumbai yang panjang. Dia tidak dengan bangga menatap ke atas saat berdoa sambil mengungkapkan peribadatan, pengorbanan dan berbagai bentuk pemberian yang telah ia lakukan bagi Tuhan. Namun demikian, dari balik meja cukainya, Matius menyingkapkan cahaya hati yang merindukan panggilan Tuhan. Oleh karena itu, hanya butuh 2 kata saja dari Yesus, 2 kata yang telah dinanti-nantikan oleh Matius. “Ikutlah Aku!

Mendengar panggilan Tuhan itu, Matius pun segera berdiri dan mengikuti Yesus (bdk.Matius 9:9). Inilah jawaban hati yang mencinta, kepada panggilan Sang Cinta. Cinta yang sejati akan Dia, Sang Segala, menyanggupkan kita untuk melepaskan segala. Sebagaimana misteri panggilan itu juga menampilkan realita bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih, demikian pun umat beriman seringkali diperhadapkan pada misteri yang merupakan bagian dari panggilan Ilahi, yaitu bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita.

Panggilan Matius pun mendatangkan pertanyaan akan kenyataan ini. 
Kenapa Tuhan tidak memanggil Matius tidak bersamaan waktunya dengan Petrus dan Yohanes, serta para rasul lainnya?” Itu karena panggilan Tuhan yang lemah-lembut selalu datang tepat pada waktunya, tidak datang terlalu awal, dan tidak pula terlambat. Dia datang dan memanggil kita di waktu yang tepat, saat hati kita telah siap untuk menjawab “Ya” kepada panggilannya. Sebagaimana Matius dipanggil pada saat sementara melakukan pekerjaannya, demikian pula Tuhan memanggil kita pada waktu-Nya yang mungkin sekali berbeda dengan waktu kita, tetapi itulah waktu yang paling tepat. Yang satu dipanggil saat sementara bergumul dengan kegagalan, yang lain justru dipanggil saat sementara menikmati kesuksesan. Yang satu dipanggil melalui sakit dan penderitaan, yang lain dipanggil saat sementara menjalani hidup dalam kegelapan malam yang mematikan baik tubuh maupun jiwa. Yang satu dipanggil saat bahtera rumah tangganya diombang-ambingkan badai kehidupan, yang lain justru dipanggil saat sementara berjalan sendirian tanpa arah tujuan.

Satu hal yang pasti, yaitu bahwa waktu Tuhan itu sempurna, dan ketika hatimu disentuh oleh nyala api cinta Tuhan, hidupmu takkan pernah sama lagi. Panggilan Tuhan pun seringkali melalui hal dan cara yang seringkali tidak lazim, bahkan tak jarang melawan arus jaman, serta menabrak serangkaian aturan. Maka, bagian terakhir dari Injil hari ini sebenarnya mengungkapkan pula Hati Tuhan yang berlimpah cinta, serentak mengajak kita untuk berbelas kasih sama seperti Dia. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit…Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat.9:12-13).

Maka, kita yang berdosa ini, senantiasa memerlukan bantuan rahmat Allah, untuk menolong kita dalam menjawab panggilan Tuhan dengan hati yang mencinta. Kiranya Santa Perawan Maria menghantar kita pada pengenalan cinta Tuhan, serta pengertian akan kedalaman misteri panggilan Putra-Nya. Semoga kita pun memiliki keberanian sebagaimana St. Matius Rasul, yang Pesta kemartirannya dirayakan hari ini oleh Gereja Katolik sedunia. Keberanian menjawab panggilan Tuhan untuk melayani Dia, bukan hanya dengan kata-kata dan janji kosong, melainkan dengan dengan tindakan nyata, yang memerdekaan jiwa dari segala kelekatan akan segala, dan melepaskannya agar dapat memiliki Kristus, Sang Segala. Untuk itu mari kita berdoa, sebagaimana Bapa Gereja kita St. Agustinus (354-430) berdoa, “Tuhan Yesus, Juruselamat kami, perkenankanlah kami sekarang datang kepada-Mu: Hati kami dingin, Tuhan, hangatkanlah dengan cinta-Mu yang tanpa pamrih. Hati kami penuh dosa, bersihkanlah dengan darah-Mu yang berharga. Hati kami lemah, kuatkanlah dengan Roh Sukacita-Mu… Hati kami kosong, penuhilah dengan kehadiran Ilahi-Mu. Tuhan Yesus, hati kami adalah milikmu. Kuasailah selalu dan seutuhnya bagi-Mu“.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 20 September 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXV

CINTA BUKAN SEKADAR KATA-KATA

Bacaan:

Ams.21:1-6.10-13; Mzm.119:1.27.30.34.35.44; Luk.8:19-21

Renungan:

Kekristenan lebih dari serangkaian doktrin, ajaran, atau perintah. Kendati itu juga sungguh amat penting, tetapi melebihi itu semua, kekristenan adalah relasi; suatu relasi cintakasih yang mesra antara Allah dengan umat-Nya. Relasi ini hendaknya menempati tempat yang pertama dan terutama dalam hidup seorang beriman, melebihi segala relasi lainnya, termasuk yang didasarkan pada ikatan keluarga dan hubungan darah. 

Inilah yang hendak diingatkan oleh Tuhan kita melalui Injil hari ini. Adalah sangat keliru bila perikop yang kita renungkan hari ini disalah artikan sebagai sikap tidak berbakti seorang Anak kepada Ibu-Nya, atau penyangkalan terhadap keluarga-Nya. Justru sebaliknya, Yesus menampilkan kebijaksanan-Nya sebagai seorang Guru, yang tidak pernah melewatkan kesempatan yang baik, untuk mengajarkan kebenaran Kerajaan Allah kepada murid-murid-Nya. Sang Guru dan Tuhan kita hendak mengarahkan pandangan beriman kita pada tingkatan tertinggi dari suatu relasi cinta, yakni antara Allah dan kita semua yang sejatinya adalah “milik kepunyaan-Nya“. Tentu saja ini membawa konsekuensi beriman yang jelas, bahwa sebagaimana Tuhan Allah kita memandang kita sebagai umat kesayangan-Nya, demikian pula kita hendaknya mendengarkan perkataan-Nya, menaati perintah-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan berjalan di Jalan-Nya. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk.8:21).

Bila kita sungguh memahami kedalaman makna pesan Injil hari ini secara tepat, maka pastilah kita pun akan tersungkur dalam kekaguman akan pribadi yang sesungguhnya dipuji begitu luar biasanya oleh Sabda Tuhan hari ini. Dialah Ibu Tuhan kita yang paling berbahagia di antara semua perempuan, dan dipuji oleh segala bangsa. Maria-lah gambaran paling sempurna dari Gereja Kudus-Nya. Dialah “permata terindah dalam kekristenan, setelah Kristus“, demikian kata Martin Luther, Bapa Reformasi. Dari Santa Perawan Maria kita belajar bahwa mereka yang benar-benar adalah pelaku Firman, bukan diukur dari banyaknya kata-kata indah yang diucapkannya tentang Allah, tetapi dalam kenyataan hidupnya yang merupakan persembahan diri secara total kepada Allah. Adalah mudah menjawab “Ya” kepada Allah sebatas ucapan bibir. Tetapi yang dilakukan Maria sepanjang hidupnya, telah membuatnya bercahaya sebagai Bunda Allah dan Bunda kita, yaitu bagaimana dalam keheningan mistik, hatinya adalah luapan cinta dan jawaban “Ya” yang memberual keluar, dan sungguh nyata di sepanjang hidupnya. Dialah yang senantiasa menyertai Tuhan dan Penyelamat kita tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas.

Kutipan Injil hari ini begitu singkat, tetapi bagaikan sebuah pedang yang menghujam kedalaman jiwa setiap orang beriman. Kalau Tuhan sungguh menjadi yang terutama dan terkasih dalam hidupmu, maka seharusnya hidupmu adalah kesaksian akan itu. Sudahkah kita tidak sekadar menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman? Relasi cinta yang sejati antara Allah dan manusia, bukan hanya ditandai kesetiaan dari pihak Allah, tetapi harus pula dijawab dengan kesetiaan yang sama dari pihak kita, untuk menaati perintah-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Jika tidak demikian, maka cintamu itu palsu, dan kesetiaanmu itu semu. Cinta bukan sekadar kata-kata, melainkan nampak dalam tindakan nyata. Belajarlah dari Maria, yang mencinta dalam keheningan dan ketersembunyian mistik. Kesetiaan cintanya tidak terlihat pada saat Putranya dielu-elukan sebagai Raja ketika memasuki kota Yerusalem. Akan tetapi, di saat semua orang, bahkan para murid-Nya meninggalkan Dia di Kalvari, kita justru mendapati Bunda Maria, yang dalam kesetiaan cinta sujud menyembah di kaki salib Putranya. 

Semoga Perawan Maria yang teramat suci, Ibu semua orang beriman, dengan kelembutan hatinya menunjukkan jalan menuju Putranya. Jalan yang seringkali menuntut sikap heroik dalam beriman, penyangkalan diri, bahkan tak jarang pula mendatangkan konsekuensi kemartiran, sebagaimana telah lebih dahulu dialami oleh St. Andreas Kim Taegõn, St. Paulus Chõng Ha-sang, bersama para martir Korea lainnya, yang kita peringati pula pada hari ini. Yakinlah, barangsiapa yang bertahan sampai kesudahannya, tidak akan mengalami kebinasaan kekal, melainkan akan memandang Allah dalam kemuliaan-Nya sampai selama-lamanya.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 19 September 2016 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXV

BERCAHAYA DALAM KEGELAPAN

Bacaan:

Ams.3:27-34; Mzm.15:2-5; Luk.8:16-18

Renungan:

Segenap umat beriman kristiani, dimana pun mereka hidup, melalui teladan hidup serta kesaksian lisan mereka wajib menampilkan manusia baru, yang telah mereka kenakan ketika dibaptis, maupun kekuatan Roh Kudus, yang telah meneguhkan mereka melalui sakramen Krisma. Dengan demikian sesama akan memandang perbuatan-perbuatan mereka dan memuliakan Bapa (lih. Mat 5:16), dan akan lebih penuh menangkap makna sejati hidup manusia serta ikatan persekutuan semesta umat manusia” (Ad Gentes 11).

Injil hari ini mengingatkan panggilan dan tugas luhur ini. Sama seperti pelita yang diletakkan di atas kaki dian, untuk menerangi seluruh rumah, demikian pula kita diingatkan, bahwa anugerah keselamatan yang telah kita terima dalam Sakramen Baptis serta diteguhkan dalam Sakramen Krisma, di dalamnya terkandung pula misi kerasulan agar seluruh dunia pula beroleh keselamatan yang sama, melalui hidup dan karya kita.

Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya” (Luk.8:16).  Kedalam dunia yang dipenuhi kegelapan yang membinasakan, disitulah kita dipanggil untuk membawa cahaya. Apapun profesi hidup kita, kita dipanggil untuk membawa nilai-nilai kristiani ke dalamnya, agar dunia melihat keselamatan yang datang dari Allah. “Orang-orang harus dapat mengenali Sang Guru dalam diri para murid-Nya“, demikian kata St. Josemaría Escrivá. Bila dijalani dengan segala keutamaan Kristiani, hidup dan karya kita pada akhirnya akan membawa banyak orang pada pengenalan iman akan Kristus. Seorang ibu yang mengurus rumah tangga, melayani suami dan membesarkan anak dalam kelimpahan cinta; seorang dokter yang memberikan diagnosa dan tindakan medis yang tepat pada para pasiennya, dan menolak tawaran menggiurkan perusahaan-perusahaan farmasi untuk melakukan sebaliknya; seorang supir taksi yang mengantarkan pelanggannya sampai ke tujuan, tanpa sengaja menyesatkan perjalanan mereka demi mendapatkan penghasilan lebih; seorang imam yang setiap hari duduk berjam-jam dalam doa di bilik pengakuan, terdorong oleh cinta kasih akan umat gembalaannya, dan tidak pernah menutup pintu karena tidak mau diganggu; serta berbagai sikap heroik kristiani lainnya. 

Apapun itu, kamu dipanggil untuk membawa cahaya di dalam semuanya, bukannya mendatangkan kegelapan. Akan tetapi, jangan pernah lupa bahwa cahaya para murid adalah pantulan cahaya Sang Guru. Kejatuhan seorang rasul Kristus seringkali diawali kesombongan, untuk melihat buah-buah kerasulan sebagai hasil kerja kerasnya semata, dan lupa akan Karya Allah, yang senantiasa hadir serta bekerja di dalam dan melalui dirinya. Bersyukurlah selalu dalam kesadaran, betapa Allah Yang Mahakuasa berkenan menjadikanmu, yang tercipta oleh-Nya dari debu tanah, sebagai rekan kerja dalam karya keselamatan-Nya. Selama kamu menjalani hidup dan karya kerasulanmu dalam kesadaran ini, kamu pasti tidak akan pernah kehilangan sukacita iman. Kuk itu akan selalu terasa enak, dan bebanpun terasa begitu ringan. 

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, senantiasa mengingatkan kita semua untuk bercahaya di tengah kegelapan dunia ini. Cahaya yang akan memalingkan pandangan mereka dari si jahat, dan mengarahkan pandangan dalam kuasa cinta kepada Puteranya yang terkasih, Tuhan kita Yesus Kristus, Sang Cahaya dan Kebenaran Sejati. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 18 Agustus 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan:

Yeh.36:23-28; Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Mat.22:1-14


Renungan:

Ada dukacita yang tersembunyi di balik perumpamaan Injil hari ini. Itulah dukacita Tuhan. Adalah kita, umat kesayangan-Nya, yang seringkali didapati dalam sikap dingin serta acuh tak acuh menanggapi undangan cintakasih Allah. Setiap hari Tuhan mengundang kita untuk mendekat pada-Nya, ke dalam suatu relasi cinta yang ditandai komitmen total dan kepercayaan tanpa batas akan kasih-Nya. Bahkan, Ia tidak hanya mengundang kita untuk datang makan dari meja perjamuan. Lebih dari sekadar mengundang, Ia sendirilah yang menjadi Santapan Ilahi, Roti Surgawi bagi kita.

Inilah keindahan dan keagungan Sakramen Ekaristi. Suatu panggilan ke dalam persekutuan cintakasih, untuk bersatu dengan Sang Cinta, yang disantap dari Roti yang satu dan sama. Maka, sebenarnya dapat dikatakan bahwa kegagalan mencinta, ketidaksanggupan berkomitmen secara total, dan keengganan melangkah masuk untuk tenggelam dalam lautan cintakasih Allah, merupakan tanda jelas bahwa kita belum sepenuhnya menghargai dan menyadari anugerah agung Ekaristi.

Itulah sebabnya, menjadi sangat penting pula bagi kita, untuk senantiasa memelihara hidup dalam keadaan berahmat. Ini tidak serta-merta jatuh dari langit. Perlu perjuangan dan pengorbanan, bahkan tak jarang kita harus kehilangan segalanya, termasuk nyawa kita sendiri, untuk beroleh hidup. 

Injil hari ini adalah suatu ajakan bagi kita, untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri menyambut Tuhan, baik dalam Ekaristi Kudus setiap hari, maupun pada senja hidup kita. Jangan jadi orang Kristen rata-rata. Jadilah seorang Kudus. Ini bukanlah cita-cita semu yang dilandasi kesombongan, melainkan suatu cita-cita adikodrati, yang dilandasi kesadaran bahwa Allah Yang MahaKudus, hanya dapat didekati dalam kekudusan. Mereka yang enggan mengejar kekudusan, sebenarnya tidak sungguh-sungguh merindukan Tuhan. Orang yang demikian mungkin merindukan perbuatan-perbuatan Tuhan, tindakan dan karya agung-Nya, bimbingan dan pertolongan-Nya, tetapi hanya berhenti sampai disitu. Tidak mau melangkah lebih jauh, sebab dia tahu, bahwa dengan demikian dia harus “berubah“dan “diubahkan“. Kesadaran akan dosa seharusnya tidak pernah boleh membuat orang melangkah mundur, dan menolak undangan perjamuan. Justru sebaliknya, ia harus berani melangkah maju di jalan pemurnian, jalan pertobatan. Itulah satu-satunya cara bagimu untuk memperoleh “pakaian pesta“.

Maka, dalam kesadaran akan hal ini, kita pun menemukan kenyataan, bahwa sebenarnya Sakramen Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari Sakramen Tobat. Untuk menjawab undangan Perjamuan Tuhan dengan sukacita, seorang beriman haruslah pula memiliki kerinduan yang sama besarnya, untuk melangkah masuk ke bilik Pengakuan Dosa. Menurunnya kerinduan untuk mengaku dosa, berakibat menurunnya pula penghormatan akan Ekaristi. Maka, berbagai usaha saat ini untuk membaharui liturgi, sia-sia jika tidak disertai kesadaran untuk menumbuhkan kesadaran umat beriman akan Sakramen Tobat. Semakin sering seorang beriman mengaku dosa, pergaulannya dengan Allah akan semakin ditandai dengan sikap hormat, dan sembah bakti yang sejati. Dan seiring dengan mengalirnya air mata penyesalan dan hati yang remuk redam, kamu akan keluar dari bilik Pengakuan Dosa dengan langkah yang semakin ringan, dan kamu akan mendapati dirimu mulai berjalan seirama dengan langkah Tuhan. Itulah saat dimana kamu sungguh telah memiliki “hati yang baru“, yang sungguh siap menjawab “Ya” kepada undangan kasih Tuhan. 

Memang banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Banyak yang menyapa Tuhan sebagai Kekasih, tetapi sangat sedikit yang sungguh mengarahkan hati, jiwa, dan segenap hidup mereka kepada-Nya. Semoga Perawan Suci Maria,  cermin kekudusan, memantulkan cahaya Ilahi untuk menerangi jalan peziarahan kita menuju Allah. Kiranya teladan hidup Santa Helena, yang kita peringati pula hari ini, meneguhkan keyakinan kita, bahwa bila kita sungguh mencari Tuhan dengan penuh kerinduan, Ia akan memperkenankan Diri-Nya ditemukan oleh kita. Pada saat itu, seperti St. Agustinus, kita pun akan berseru, “Terlambat, Ya Tuhan…Terlambat aku mencintai-Mu.
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥