Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Maret 2017 ~ Jumat dalam Pekan III Prapaskah

CINTA SELALU PUNYA CARA
Bacaan:

Hos.14:2-10; Mzm.81:6c-8a.8b-9.10-11b.14.17; Mrk.12:28b-34

Renungan:

Dengan berbagai cara serta melalui berbagai situasi hidup, Allah selalu berusaha mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Disadari atau tidak, disyukuri atau tidak, bahkan sekalipun kita sama sekali tidak pantas memperolehnya, cinta Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan menembus hati manusia. Hosea dalam bacaan pertama hari ini memberi kesaksian akan cinta Tuhan kepada Israel, serta mengingatkan mereka untuk berbalik dari kesalahan mereka. Pada akhirnya, bangsa Israel pun menyadari bahwa bergantung pada dunia adalah kesia-siaan. Percuma mengharapkan persahabatan dengan dunia, bila karenanya kita harus kehilangan kemesraan cinta dengan Allah. 

Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Allah. Lihatlah betapa Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela memberikan Putra-Nya sendiri, sebagai kurban pendamaian dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, setiap kali seorang beriman merenungkan Jalan Salib dari Tuhan kita Yesus Kristus, adalah suatu kegilaan bila karenanya kita tidak tersungkur dengan hati remuk redam penuh penyesalan dan rasa syukur. Betapa malangnya jiwa yang menolak memandang kemanisan Salib. Dan ketahuilah ini, seberapapun jauhnya kamu melarikan diri, Tuhan selalu punya cara untuk menemukanmu di persimpangan hidup. Dia selalu sanggup mengubahnya menjadi persimpangan Salib yang menyelamatkan. Jika Dia bisa menemukan Longinus, Paulus, Agustinus, Fransiskus dari Assisi, Ignasius dari Loyola, Dorothy Day, dan tak terbilang banyaknya orang pada persimpangan hidup mereka, yakinlah, Dia yang sama pasti juga bisa menemukanmu. 

Pertanyaannya, “Maukah kamu menjawab ‘Ya’ ketika ditemukan oleh-Nya?” Kita yang saat ini berada dalam kubangan dosa, “Maukah kita menerima uluran tangannya untuk ditarik keluar?” Dengan demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman yang jelas, yaitu pertobatan menuntut kerelaan untuk kembali menapaki jalan Tuhan. Ini bukan paksaan, melainkan suatu keputusan yang harus dilakukan dengan kehendak bebas. Olehnya, kita memperoleh keberanian untuk mendekati Altar Tuhan, dan menerima Dia, Sang Roti Kehidupan, serta diubahkan oleh daya hidup Ekaristi, karena hati kita tidak lagi menuduh kita. Itulah cinta yang sejati. Inilah belas kasih Tuhan yang melampaui pengertian, bukannya belas kasih palsu yang membenarkan hidup dalam dosa, melainkan belas kasih yang membebaskan serta mengubahkan hidup, karena si pendosa yang kembali pulang ke rumah, telah mengalami sentuhan rahmat Tuhan yang mempesonakan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat dunia secara baru, dan dengan mata belas kasih Tuhan, kita mulai mencintai sesama dan alam semesta seutuhnya, karena hati kita yang terluka karena cinta, kini telah menemukan kesembuhan di dalam hati Tuhan.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, senantiasa menyertaimu dengan kasih keibuannya, agar tapak-tapak deritamu diubahkan menjadi tapak-tapak cinta. Tuhan selalu punya cara menemukanmu. Sekarang, mulailah juga dengan segenap daya upaya mencari dan membiarkan dirimu ditemukan oleh-Nya. “Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai…Dengarkanlah suara-Ku.” (bdk.Mzm.61:8-9)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Jumat V Prapaska

image

SIAP SEDIALAH UNTUK DITOLAK

Bacaan:
Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a.3bc-4.5-6.7; Yoh.10:31-42

Renungan:
Meskipun bangsa Yahudi melihat betapa mengagumkan karya Allah yang bekerja di dalam diri Tuhan Yesus, pengajaran-Nya yang penuh hikmat dan kuasa, penyembuhan yang Ia kerjakan, pengusiran roh-roh jahat yang Ia lakukan, bahkan sekalipun mereka melihat sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, toh mereka tetap menolak Yesus.
Keberatan utama yang menyebabkan bangsa Yahudi menolak Yesus bukanlah pada “perbuatan baik” yang Ia kerjakan, melainkan pada pengakuan Yesus akan Diri-Nya sebagai “Anak Allah”.
Dalam bacaan hari ini kita mendapati kenyataan lain dari penolakan banyak orang untuk menerima sukacita Injil.
Terlepas dari banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan bagi sesama, tak jarang kita ditolak bukan karena perbuatan-perbuatan baik itu, melainkan semata-mata karena kita adalah seorang Kristen, putra-putri Allah.
Di banyak negara dan tempat, setiap hari kita mendengar dan menyaksikan putra-putri Gereja menderita penganiayaan, penolakan, bahkan dibunuh karena Kristus. Banyak karya misi yang bertujuan memberi hidup dan mengembalikan martabat manusia ditolak semata-mata karena karya baik itu dilakukan oleh anak-anak Allah.
Kita pun terkadang mengalami penolakan serupa dalam karya kerasulan kita.
Mengalami perlakuan demikian, dalam bacaan pertama kita bisa mengerti akan rasa frustasi dan kekecewaan yang dialami oleh Nabi Yeremia. Tidak hanya Yeremia, di sepanjang sejarah pun kita menyaksikan dalam hidup para kudus, baik nabi, rasul, martir, serta para saksi iman, bagaimana mereka mengalami penolakan, rasa frustasi dan kekecewaan serupa dari sesama mereka, bahkan penolakan itu datang dari orang-orang yang terdekat dengan mereka.
Sejenak kita bisa memahami pula latar belakang dari seruan terkenal Improperia, yang sering kita dengarkan dalam Liturgi pada Jumat Agung, Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contris tavite? Responde mihi!” ~ “Hai umat-Ku, apa salah-Ku padamu? Kapan Aku menyusahkanmu? Jawablah Aku!”
Penolakan akan selalu ada. Akan tetapi, waspadalah!
Jangan sampai karena tidak ingin ditolak dalam melakukan perbuatan baik, kita kemudian berkompromi dengan dunia, dan menanggalkan identitas Kristiani kita, ke-Katolik-an kita.
Sekolah dan rumah sakit Katolik begitu dikenal karena kualitasnya, tetapi jangan pernah lupa apa yang menjiwai itu semua.
Anda mungkin seorang atlit Katolik yang meraih prestasi luar biasa dalam suatu pertandingan olahraga, tetapi jangan pernah lupa semangat Iman yang memampukan anda melalui berbagai hal untuk sampai disitu.
Seorang pengacara Katolik dapat memenangkan banyak perkara di pengadilan, tetapi jangan pernah memutarbalikkan apa yang adil dan benar, hanya karena uang dan ketakutan kehilangan klien.
Kita semua dipanggil untuk menjadi Katolik sejati, yang membawa Kristus di tengah dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, “apapun” resikonya.
Sama seperti Tuhan dan Penyelamat kita mengalami penolakan, demikian pula kita.
Inilah konsekuensi dari Iman Kristiani kita.
Kendati demikian, belajarlah dari Tuhan Yesus dan para kudus. Di tengah semua penolakan, kekecewaan, air mata, dan ketika darah mereka harus mengalir, bahkan sampai kehilangan nyawa karenanya, dalam kesetiaan iman mereka tetap dipenuhi dengan cinta yang meluap-luap akan sesama, untuk melayani dan mengasihi tanpa batas.
St. Josemaría Escrivá mengatakan, “Seandainya seluruh dunia dengan segala kekuatannya melawanmu, mengapa hal tersebut merisaukan hatimu? Engkau, majulah terus!”
Semoga kita selalu menemukan kekuatan pada Salib Tuhan. Semoga Perawan Suci Maria, hamba Allah yang setia, selalu menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya dalam menjalankan tugas kerasulan kita dengan gembira, dipenuhi sukacita Injil, agar semua orang boleh melihat perbuatan kita yang baik, dan memuliakan Allah Bapa di surga.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin V Prapaska

image

AKU MAU KAMU MATI

Bacaan:
Tamb.Dan.13:1-9.15-17.19-30.33-62; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Yoh.8:1-11

Renungan:
Sebenarnya, tidak ada yang salah dari memberikan penghakiman yang “adil” atas suatu perkara.
Namun, penghakiman dapat menjadi sesuatu yang keliru apabila itu dilakukan secara tergesa-gesa, apalagi tanpa bukti yang cukup.
Lebih jauh lagi, penghakiman bisa mendatangkan kejahatan, manakala itu dilakukan untuk menutupi dosa yang serupa atau bahkan lebih besar lagi dari para “pelempar batu”.
Manusia seringkali tergoda untuk mengungkapkan dosa orang lain, agar dosa-dosanya sendiri menjadi tidak terlihat. Lebih mudah menelanjangi orang, daripada menelanjangi diri kita sendiri. Lebih baik membiarkan borok orang lain kelihatan, daripada borok kita sendiri.
Pembelaan Yesus terhadap perempuan yang berzinah bukan berarti Yesus membenarkan dosa. Akan tetapi, kita diingatkan untuk melakukan penghakiman yang “adil” dalam semangat cintakasih.
Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.
Konsekuensi dari panggilan Kristiani untuk mengasihi sesama ialah panggilan untuk memelihara kehidupan, bukannya melenyapkan.
Dalam pernyataan, “Aku mengasihi kamu” terkandung pula pernyataan “Aku tidak ingin kamu binasa”.
Cinta kasih selalu berlawanan dengan kematian. Seseorang tidak mungkin mengatakan, “Aku sungguh mengasihi Tuhan dan sesama”, sementara disaat bersamaan dia juga mengatakan, “Aku ingin kamu dihukum mati atas perbuatanmu”.
Tidak mungkin kita menjalankan kerasulan cinta kasih dengan tangan yang senantiasa memegang batu, yang siap dilemparkan kepada siapa saja yang kita anggap berdosa dan layak dibinasakan.
Itulah juga sebabnya Gereja Katolik dengan tegas dan jelas menentang hukuman mati yang diberlakukan di berbagai negara.
Kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita mengalami kematian yang luar biasa keji di kayu salib “demi” menebus dosa kita, seharusnya menyadarkan kita juga bahwa sebagaimana Yesus mati demi memelihara kehidupan, demikian pula kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama.
Disadari atau tidak, tak jarang manusia membunuh sesama dengan kata-kata, penghakiman, maupun perbuatan-perbuatan lainnya.
Oleh sebab itu, marilah kita memohon karunia belaskasih dan kebijaksanaan dari Allah, agar bilamana diperhadapkan pada situasi demikian, sama seperti Tuhan Yesus kita sanggup mengatakan, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Pax, in aeternum.
Fernando

Kami ingin Kristus meraja !

Minggu Palma Sengsara Tuhan

Minggu Palma Sengsara Tuhan

HARI MINGGU PALMA – MINGGU SENGSARA ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan Perarakan – Matius 21: 1-11

Bacaan I – Yesaya 50: 4-7

Mazmur Tanggapan – Mazmur 22: 8-9. 17-18a. 19-20. 23-24

Bacaan II – Filipi 2: 6-11

Bacaan Injil – Matius 26:14–27: 66

 

KAMI INGIN KRISTUS MERAJA

Saudara-saudari terkasih.

Hari ini Gereja memperingati Minggu Palma, ketika Yesus memasuki Yerusalem dan disambut dengan sorak-sorai. Minggu Palma bagaikan pintu gerbang bagi kita untuk melangkah masuk ke dalam Pekan Suci Sengsara Tuhan. Kedatangan Yesus ke Yerusalem dengan menaiki keledai, menunjukkan keteladanan seorang Raja Damai yang sejati, Dia yang lemah lembut dan rendah hati. Perayaan ini juga merupakan pralambang kedatangan Yesus dengan jaya nantinya pada akhir zaman. Akan tetapi, naiknya Yesus ke Yerusalem dan disambut sebagai Raja dan Mesias yang dinanti-nantikan, sebenarnya juga merupakan permulaan dari penderitaan terbesar-Nya, yang akan mencapai puncak pada sengsara dan wafat-Nya di bukit Kalvari.

Hari ini Yesus disambut dengan sorak sorai, “Hosanna Putra Daud” (bdk. Mat.21: 9). Akan tetapi, 5 hari kemudian, orang-orang yang sama akan berteriak-teriak dengan penuh kebencian, “Salibkan Dia! Salibkan Dia!” (bdk.Mat.27: 22-23) Hari ini orang-orang dengan penuh hormat menebarkan pakaian mereka di sepanjang jalan, dan memotong ranting-ranting pohon dan menghiasinya di sepanjang jalan yang dilewati Yesus. Tetapi, beberapa hari kemudian, merekalah yang akan memukul, meludahi, dan melempari Yesus dengan batu di sepanjang jalannya menuju Kalvari. Menjadi nyata bagi kita apa yang sebenarnya ada dalam hati banyak orang. Gambaran mereka akan seorang Raja, ternyata berbeda dengan yang mereka temukan dalam diri Yesus. Mereka tidak sudi mengikuti seorang Raja yang memilih Salib sebagai Tahta-Nya. Tetapi, Yesus yang demikianlah yang kita imani dan cintai. Kehadiran-Nya sebagai Allah justru nampak dalam ketiadaan-Nya. Hari ini kita diperkenankan melihat ke dalam hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya sampai mati di kayu salib.” (Flp.2: 6-8)

Saudara-saudari terkasih.

Inilah keindahan dari misteri Salib yang seringkali gagal dilihat oleh banyak orang, bahkan oleh mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus. Berhentilah mempertahankan gambaran yang keliru akan Tuhan dan Penyelamat kita. Kekristenan tanpa Salib adalah palsu. Jalan Salib adalah satu-satunya jalan menuju Yerusalem Surgawi. Gereja dipanggil untuk senantiasa mengarahkan pandangannya ke arah Salib, agar dengan demikian, Ia (Gereja) tidak menyimpang dari tugas perutusannya, serta senantiasa dimurnikan dan berbuah. Hari kita diajak untuk mengenali Tuhan dan jalan-Nya. Tentu saja jalan ini bukanlah jalan yang mudah. Bagaikan suatu pertempuran yang harus kita menangkan, kita diajak untuk memenangkan diri kita sendiri. Sikap orang banyak dalam kisah sukacita Yerusalem dan dukacita Kalvari yang kita baca dan dengarkan hari ini, bagaikan dua sisi mata uang yang menggambarkan pertempuran batin dalam hati setiap manusia. Hidup kita adalah peperangan antara keinginan daging melawan kehendak Roh, antara kegelapan melawan Cahaya. Jawablah “Ya” kepada Allah dan katakanlah “Tidak” kepada si jahat, tidak hanya hari ini, melainkan di sepanjang hidupmu.

Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda semua orang beriman, menyertai kita dalam perjalanan iman ini, agar “Fiat” Maria menjadi “Fiat” kita juga. Biarkanlah Kristus menemukan kerendahan hati dalam dirimu untuk membuka dirimu seluas-luasnya bagi-Nya, agar Dia meraja di hatimu. Bersama Bapa kita St. Josemaria Escriva, saya berdoa, “Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.” (vft)

Bangunlah dan Bercahayalah !

MINGGU PRAPASKA IV – LAETARE ( TAHUN LITURGI – A )

Bacaan I – 1 Samuel 16: 1-13

Mazmur Tanggapan – Mzm.23: 1-3a, 3b-4, 5, 6

Bacaan II – Efesus 5: 8-14

Bacaan Injil – Yohanes 9: 1-41

Come and be My Light

Bangunlah dan Bercahayalah !

BANGUNLAH DAN BERCAHAYALAH !

Dalam Injil hari ini, kita membaca bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahirnya. Kebutaan adalah suatu keadaan yang sungguh menyedihkan, karena menjadi  buta berarti menjalani hidup dalam kegelapan. Bahkan untuk berjalanpun dan melakukan berbagai aktivitas, mereka memerlukan waktu yang lebih lama, karena harus melakukannya secara perlahan, setapak demi setapak. Oleh karena itu, tergerak oleh belas kasihan atas orang yang buta sejak lahirnya itu, Yesus pun kemudian, dengan cara yang punya kedalaman arti tersendiri, memelekkan mata orang buta itu, sehingga ia dapat melihat.

Tindakan Yesus ini mendapat tentangan dari orang banyak, khususnya orang-orang Farisi, karena Yesus melakukan karya mujizat-Nya pada hari Sabat. Disinilah kita mulai melihat maksud terdalam dari penginjil Yohanes, untuk secara khusus mengisahkan penyembuhan orang buta ini dalam Injilnya. Dengan adanya pertentangan dari banyak orang yang melihat tindakan belas kasih Yesus sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan, kepada kita ditunjukkan bahwa di balik kebutaan fisik yang dijalani oleh orang yang buta sejak lahirnya itu, ada kebutaan yang jauh lebih membinasakan baik tubuh maupun jiwa yang dialami justru oleh orang-orang di sekitar si buta tadi. Melebihi si buta, orang-orang yang yakin bahwa mereka dapat melihat, nyatanya memiliki kebutaan yang jauh lebih gelap, yakni kebutaan rohani. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam.16:7ef) Yesus mengetahui kegelapan isi hati khalayak ramai yang melihat tindakan penyembuhan Yesus sebagai suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.

“Sekiranya buta kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata, ‘Kami melihat,’ maka tetaplah dosamu.” (Yoh.9:41b) Tidak ada kebutaan yang lebih menyedihkan daripada mereka yang menolak untuk melihat. Karena kekerasan hati mereka yang begitu yakin akan kemampuannya untuk melihat, mereka menolak, bahkan memalingkan wajah mereka dari Yesus, Sang Terang Dunia.  Tidak ada dosa yang lebih berat daripada penolakan gerakan Roh yang membimbing kita untuk  melihat dan menanggapi belas kasih Allah dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya.

Sejenak peristiwa penyembuhan orang buta ini juga menggambarkan perjalanan iman seorang beriman secara umum, maupun seorang katekumen secara khusus, dimana oleh karena belas kasih Allah, secara perlahan, setapak demi setapak, Ia berkenan menghantar kita pada pemahaman yang semakin sempurna akan Dia. Dalam iman, kita dihantar dari suatu kebutaan rohani kepada pengenalan akan Allah, sehingga pada akhirnya kita akan mengenal Dia sebagaimana Dia seharusnya dikenal, kemudian masuk dalam persatuan cinta yang mesra dengan-Nya. Untuk itu, diperlukan keterbukaan, kerendahan hati, penyerahan diri tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas atas Penyelenggaraan Ilahi dalam hidup kita. Sebagaimana si buta, kita harus berani mengakui segala kelemahan dan keterbatasan kita, serta dengan hati yang remuk redam dalam pertobatan, beranjak dari kegelapan, untuk kemudian berjalan mendekati Allah, sehingga terang Kristus bercahaya atas kita. Dengan demikian, kita akan mengalami secara penuh rahmat berlimpah yang terkandung dalam pembaptisan yang telah kita terima. Dengan dibaptis, kita yang dahulu hidup dalam kegelapan, kini menjadi manusia baru yang hidup dalam terang Tuhan. Inilah konsekuensi sekaligus anugerah indah yang terkandung dalam panggilan Kristiani kita, yakni untuk mengalahkan kegelapan, dan membawa cahaya ke dalam dunia.

“Saudara-saudara, dahulu kamu hidup dalam kegelapan, tetapi sekarang kamu hidup dalam terang Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang…Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu…Bangunlah hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” (Ef.5:8,11,14)

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah membawa Sang Terang itu ke dalam dunia, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita dapat menjadi putra-putri Ekaristi, untuk senantiasa membawa cahaya Kristus dan menghalaukan kegelapan dunia, sehingga kelak kita boleh memandang kemuliaan Allah dalam kekudusan, serta beroleh mahkota kemuliaan di surga. (vft)