Meditasi Harian 1 Januari 2016 ~ HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH

image

KENAPA HARUS MARIA ?

Bacaan:
Bil.6:22-27; Mzm.66: 2-3.5.6.8; Gal.4: 4-7; Luk.2: 6-21

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Kenapa harus Maria? Di saat seluruh dunia tenggelam dalam kemeriahan dan sukacita perayaan Tahun Baru, kenapa Gereja Katolik justru merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah? Apakah institusi yang telah berusia 2000-an tahun ini benar-benar menyembah Maria? Suatu pertanyaan yang menggeletik akal budi dan sikap beriman, bukan hanya bagi dunia, tetapi mungkin juga bagi beberapa warga Gereja. Bukankah Maria hanyalah manusia biasa yang rahimnya dipinjam Allah untuk melahirkan Putra Allah ke dunia? Tidak…sekali-kali tidaklah demikian.

Maria memang adalah manusia biasa, sama seperti kita. Dia terlahir dan dibesarkan oleh orang tuanya, pasangan Santa Anna dan Santo Yoakim, dalam sebuah keluarga, sama seperti kebanyakan dari antara kita. Kita juga bisa menemukan hidup yang dijalani oleh Maria di sekitar hidup kita sehari-hari. Tetapi, terlepas dari berbagai kesamaan hidup yang demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman bahwa ternyata di balik segala hal yang biasa dan sama dengan kita, ada suatu misteri iman teramat agung yang membuat hidup Wanita ini sungguh pantas dirayakan di awal tahun yang baru ini. Manakala Gereja menetapkan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah untuk dirayakan pada hari pertama dalam tahun, itu semata-mata karena dalam perayaan ini, Gereja menginginkan kita merayakan martabat dan panggilan luhur kita sebagai manusia. Maria memang adalah manusia biasa, namun bagaimana rahmat Allah bekerja dalam dirinya, dan bagaimana ia menanggapi kehendak Allah di sepanjang hidupnya, itulah yang menjadikannya luar biasa.

Allah dapat saja menciptakan dunia yang lebih baik daripada dunia dimana kita hidup saat ini, tetapi Dia tidak dapat menciptakan dan menetapkan Ibu yang lebih sempurna selain Ibu-Nya, Maria. Demikian kata-kata para teolog serta para kudus (Santo dan Santa) mengenai Bunda kita yang tercinta ini.
Sejak awal hidupnya, Maria telah dipenuhi rahmat dan dipilih secara isimewa oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah. Oleh karena itu, sejak dalam kandungan sampai wafatnya, Maria telah dibebaskan dari segala dosa. Bilamana Hawa, ibu dari semua yang hidup, membuat seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa, maka Maria tampil sebagai “Hawa Baru”, yang melahirkan Dia, Sang Penebus dosa seluruh umat manusia. Maria satu-satunya manusia yang beroleh kehormatan menjadi Bunda Sang Pencipta (Mater Creatoris) dan Bunda Sang Juruselamat (Mater Salvatoris). Di sepanjang hidup Maria, kita dapat melihat suatu keteladanan beriman yang teramat patut dipuji, yang sanggup menyentuh hati Allah oleh “Fiat-nya”. Dialah satu-satunya manusia yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia menjawab “Tidak”, meskipun dengan menjadi Bunda Allah, dia sekaligus menjadi Bunda Dukacita. Melebihi semua manusia yang pernah hidup, dia menjalani hidup sebagai hamba Allah, yang setia melalui malam-malam gelap, tenggelam dalam cinta yang menghanguskan.

Jika dikatakan bahwa sebagai seorang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi berkat Allah bagi banyak orang (bdk. Bacaan I), Maria sebenarnya telah lebih dahulu melakukannya. Malahan, Maria tidak hanya sekedar menjadi berkat, melainkan lebih dari itu, dia melahirkan Sang Berkat, yakni Yesus Kristus, Imanuel. “Kita dilahirkan oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria,” demikian kata Santo Agustinus, seorang Uskup pada abad-5. Keteladanan iman Wanita suci ini, telah dipuji dan dirayakan oleh Gereja Perdana, selama 2000 tahun, jauh sebelum munculnya Reformasi pada abad-15. Karena itu, mereka yang membuang tradisi suci ini sebenarnya telah menyangkal kekayaan iman yang telah diwartakan dengan bangga, dan diwariskan sejak zaman para Rasul.

Dengan dasar-dasar iman inilah kita boleh memahami, bahwa sebenarnya Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, bukanlah perayaan akan Maria semata-mata, melainkan suatu perayaan keselamatan akan karya agung Allah. Gereja menampilkan bagi kita sosok teladan, warga Gereja yang paling bercahaya, hamba Allah yang paling setia, gambaran kesempurnaan Gereja. Bagaikan sebuah lukisan, Maria adalah lukisan terindah dari Allah, Sang Pelukis Yang Agung.

Hari ini Gereja mengundang kita, untuk melihat hidup kita masing-masing dalam diri Maria. Tahun-tahun kehidupan Maria telah dia jalani dalam cinta yang meluap-luap akan Allah, dalam kesetiaan tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas akan segala rancangan Tuhan. Bagaikan sebuah kertas kanvas yang kosong, Maria telah membiarkan hidupnya dilukis oleh Tuhan menjadi sebuah lukisan yang teramat indah. Lihatlah perayaan iman ini sebagai saat sentuhan rahmat bagi kita, untuk membiarkan Allah berkarya dalam tahun-tahun kehidupan kita, untuk membiarkan Sang Pelukis Agung melukiskan karya-Nya dalam kertas kanvas kosong kita masing-masing, agar sama seperti Maria, kita boleh menjadi lukisan yang indah bagi kemuliaan Allah,sehingga semua orang boleh berseru, “Ya Abba, Ya Bapa.” (Gal. 4: 6c)

Selamat menjalani Tahun yang baru. “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil. 6: 23-26)

Regnare Christum Volumus!

Meditasi Harian 29 Desember 2015 ~ Hari Kelima dalam Oktaf Natal

image

CINTA TIDAK SAMA DENGAN TUTUP MATA

Bacaan:
1Yoh.2:3-11; Mzm.96:1-2a.2b-3.5b-6; Luk.2:22-35

Renungan:
Perbedaan penting dalam hidup beragama bukanlah antara mereka yang beribadah dan yang tidak beribadah, melainkan mereka yang mengasihi dan yang tidak mengasihi.
Maka, mereka yang benar-benar menaati perintah dan hukum Tuhan, seharusnya adalah yang terdepan dalam mengasihi.
Kasih akan Allah yang berbuah kasih pada sesama, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Yohanes dalam bacaan pertama hari ini,
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” (1Yoh.2:4-5.9)

Panggilan hidup Kristiani adalah panggilan untuk “mencinta“. Cinta yang siap untuk terluka, tetapi juga senantiasa mau mengampuni. Kita tidak boleh kecewa manakala ketekunan kita untuk menghadirkan Hukum Cintakasih kepada sesama, siapapun dia, seringkali pula akan menghadapi penolakan dan permusuhan. Inilah konsekuensi dari iman kita akan Kristus.
Dalam Injil hari ini, Nabi Simeon telah menubuatkan bahwa kelahiran Sang Raja Damai dan Terang Sejati, akan menjadi suatu “tanda perbantahan” (bdk.Luk.2:34) bagi dunia yang menolak berdamai, dan lebih suka berdiam dalam kegelapan.
Tanda perbantahan yang sama juga dibawa oleh para pengikut Kristus, yang sungguh-sungguh menjalani hidup berimannya secara otentik.
Kemartiran St. Thomas Becket, Uskup Agung Canterbury, yang kita peringati juga pada hari ini, menjadi salah satu dari sekian banyak kesaksian hidup itu.
Kedekatan persahabatannya dengan Raja Henry II, tidak menjadi kelekatan dan penghalang baginya untuk mengungkapkan Iman, apalagi menutup mata terhadap kejahatan.
Kerasulan cintakasih dan perdamaian yang sejati adalah kerasulan yang juga berani menentang apa yang jahat, serta membela apa yang baik dan benar.
Damai dan cinta tidak sama dengan sikap diam dan pasrah.
Cinta yang sejati tidak berarti menutup mata, melainkan membuka mata lebar-lebar, untuk kemudian melakukan tindakan iman yang mendatangkan api cinta Tuhan yang menghanguskan.
Seorang Kristiani hendaknya menjadi suara kenabian bagi dunia ini melalui hidup dan karyanya.
Jangan Takut!

Kemartiran St. Thomas Becket yang dibunuh saat sedang berdoa di depan Sakramen Mahakudus hendak mengingatkan kita bahwa keberanian Iman bersumber dari kesadaran untuk senantiasa memandang Allah, dalam persatuan cinta dengan-Nya.
Oleh karena itu, Ekaristi hendaknya menjadi pusat hidup kita, sumber kekuatan dan sukacita kita.
Berbahagialah mereka yang mencintai Misa Kudus, dan menyambut Tubuh Tuhan setiap hari. Suatu ketekunan yang baik, dan hendaknya didasarkan pada kerinduan akan Tuhan setiap saat.

Semoga Santa Perawan Maria menyertai segala harapan dan niat-niat baik kita, agar sukacita Natal yang telah kita terima dari kemurahan hati Tuhan, juga terpancar dalam hidup dan karya kita.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 28 Desember 2015 ~ PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR

TUMPULNYA HATI NURANI

image

Bacaan:
1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18

Renungan:
Salah satu indikasi seorang semakin jauh dari Tuhan dan jalan-jalan-Nya adalah tumpulnya Hati Nurani.
Ketika seorang mengalami ketumpulan hati nurani, maka dia akan mengabaikan apa yang baik dan benar. Kegemarannya bukanlah melakukan kehendak Tuhan, melainkan membuat jurang pemisah antara dia dan Allah, melukai Hati Tuhan, dan menjadi tuli terhadap Suara Tuhan yang bergema di hatinya. Seiring dengan itu, hidupnya mulai mengalami ketiadaan rahmat, dan tindak tanduknya semakin menciptakan permusuhan antara dia dengan Allah.

Itulah yang terjadi dengan Herodes dalam Injil hari ini. Raja Herodes telah menjadi gelap hati, kemudian secara tahu dan mau menolak Sang Cahaya.
Keinginannya untuk membunuh Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus berbuah pada keluarnya titah pada waktu itu untuk melakukan pembantaian teramat biadab, yakni pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem.
Bacaan pertama hari ini, hendaknya mencerahkan budi kita untuk merefleksikan hidup beriman kita, apakah kita pun pernah mengalami tumpulnya hati nurani. Rasul Yohanes mengatakan,
Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1Yoh.1:5-6)

Di sepanjang sejarah kemanusiaan, termasuk hidup kita sendiri, kita pun melihat dan menyaksikan banyak hal yang sulit dimengerti oleh hati manusia yang mencintai Allah.
Bagaimana mungkin orang sanggup meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri di pasar, menggorok leher sesama manusia, memperkosa wanita-wanita tak berdaya sampai mati dalam trauma berat, dan semuanya itu dilakukan atas nama Tuhan dan Agama?

Ada banyak hal dan peristiwa dalam dunia saat ini dimana kegelapan seolah merajai hati manusia, sehingga mendorong banyak orang untuk bertanya, “Dimanakah Allah?

Dalam Injil hari ini kita membaca bagaimana ketumpulan hati nurani dalam diri Raja Herodes, membuat dia tega membunuh bayi-bayi tak bersalah.
Akan tetapi dunia dimana kita hidup saat ini pun setiap hari menjadi saksi bagaimana para Ibu begitu tega membunuh anak-anak mereka, dengan keji melenyapkan darah daging mereka sendiri melalui tindakan aborsi terencana, atau membuang anak-anak mereka setelah terlahir, untuk dibiarkan mati tergeletak di jalan-jalan dunia ini.

Dalam jeritan kemanusiaan, Beata Teresa dari Kalkutta (Mother Teresa) pun dengan sedih mengatakan,
Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.

Di saat dunia kini seolah mengalami ketiadaan Allah – ketiadaan Sang Kasih, Pesta Kanak-Kanak Suci di Hari Keempat dalam Oktaf Natal mengajak kita sekalian untuk menyadari kebenaran ini.
Tuhan selalu Ada. Dunia boleh saja menyebarkan kebohongan, dan mengatakan Dia sudah mati atau tidak ada.
Tetapi sesungguhnya, Tuhan selalu Ada.
Kitalah yang seringkali menolak kehadiran-Nya, membiarkan diri kita tenggelam dalam lumpur dosa yang berujung pada tumpulnya hati nurani.
Maka, bila kita sungguh ingin memiliki kedamaian dan sukacita, datanglah mendekat kepada Bayi Yesus dalam palungan di Bethlehem.

Hanya Dia yang terbaring seolah tak berdaya dalam rupa insani, yang sanggup untuk melembutkan hatimu serta membawa cahaya dalam jiwamu.
Bila Terang itu telah berdiam di hatimu, maka kamu pun akan sanggup membawa cahaya untuk menerangi lorong-lorong dunia ini dan mengenyahkan kegelapan.
Inilah panggilan kita, suatu kerasulan suci untuk menjadi pembawa damai.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi pemandu yang aman bagi kita, untuk menjalani hidup Kristiani secara otentik dan meyakinkan, sekalipun karenanya kita mungkin saja harus menghadapi kemartiran seperti Kanak-Kanak Suci dari Bethlehem.
Jangan Takut!
Kristus telah datang ke dalam dunia, dan telah memenangkan kita dengan Darah Suci-Nya. (bdk.1Yoh.1:7)
Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm.124:8)
Berlututlah di hadapan Sang Bayi Suci, dan berilah dirimu diubahkan oleh-Nya. Kemudian berdirilah seperti seorang Kesatria, dan menangkanlah dunia ini dalam nama-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 18 November 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXXIII

image

MELAWAN TEROR DENGAN IMAN
Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilika St. Petrus dan Gereja Basilika St. Paulus di luar Tembok

Bacaan:
2Mak.7:1.20-31; Mzm.17:1.5-6.8b.15; Luk.19:11-28

Renungan:
Kitab Makabe dalam bacaan Liturgi hari ini mengisahkan, bagaimana seorang Ibu bersama 7 anaknya mempertahankan Iman mereka dihadapan penguasa dan orang-orang, yang hendak menjadikan mereka murtad.
Dengan detail diceritakan bagaimana si Ibu menyaksikan sendiri, di hari yang sama, ketujuh anaknya satu-persatu menjemput ajal dengan cara yang teramat keji. Lidah mereka dipotong, kepala dikuliti hidup-hidup, tubuh dimutilasi, kemudian potongan-potongan tubuh mereka dilemparkan ke dalam kuali untuk digoreng di atas api yang membara.
Kita pun membaca kebesaran hati si Ibu, yang menghibur dan menguatkan Iman anak-anaknya, untuk bertahan dalam penderitaan yang teramat hebat itu, dimana ketujuh anak-anaknya menjemput ajal dengan sikap beriman yang begitu heroik, hingga akhirnya kemartiran yang sama dialami pula oleh Ibu mereka.

Sebenarnya, sama seperti Ibu dan ke-7 anaknya ini, demikianlah pula Gereja Katolik yang Kudus ibarat seorang Ibu, setiap hari, terlebih di masa sekarang ini menyaksikan putra-putrinya harus mengalami rupa-rupa penolakan, ketidakadilan, penderitaan, penganiayaan, bahkan tak jarang dibunuh dengan cara yang teramat keji, semata-mata karena Iman Kristiani mereka.
Di tengah segala bentuk teror dalam hidup beriman, kita semua diingatkan untuk tidak goyah dan tetap berdiri teguh dalam Iman.
Tidak ada pembenaran bagi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Oleh karena itu, putra-putri Gereja senantiasa diingatkan untuk menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesaksian cintakasih, sambil tetap berpegang teguh pada satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan, dalam Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Berbagai kecenderungan dunia saat ini pun mengingatkan kita bahwa Iman Kristiani kita adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan.
Memang benar bahwa Gereja harus jeli melihat tanda-tanda zaman, untuk membaharui diri, agar selalu bisa menemukan cara-cara baru dan tepat untuk mewartakan Imannya.
Akan tetapi, semangat dan kesadaran itu tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengedepankan gagasan teologi “kerahiman yang keliru” yang membenarkan dosa, dengan merubah Ajaran/Doktrin Iman yang telah kita pegang teguh selama hampir 2000 tahun sejak Gereja Katolik didirikan, apalagi melihat tanda-tanda zaman dan kecenderungan-kecenderungan jahat dunia ini seolah Wahyu Ilahi, untuk membenarkan diri bahwa Gereja Katolik harus masuk dan terbawa hanyut oleh arus zaman.

Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam telah mempercayakan kepada kita masing-masing rupa-rupa karunia dan talenta. Janganlah melihatnya sebagai beban, tetapi lihatlah itu sebagai tanda cinta Tuhan, yang dengan murah hati mempercayakan semuanya itu kepadamu, untuk dilipat gandakan, sehingga mendatangkan sukacita bagimu, serta dipersembahkan demi kemuliaan Allah dan Kerajaan-Nya.
Ini bukan tugas yang membebani, melainkan suatu panggilan cinta Tuhan bagi kita hamba-hamba-Nya. Santo Agustinus dalam kesadaran akan hal ini pun tanpa ragu mengatakan bahwa sesungguhnya, “Cinta tidak pernah membebani“.
Percayalah bahwa bersamaan dengan karunia dan talenta, sebesar apapun itu, Tuhan selalu menyertakan pula rahmat dan kebijaksanaan yang cukup, asalkan kita pun memiliki penyerahan diri total dan cinta bakti yang seutuhnya kepada-Nya.

Semoga Santa Perawan Maria dari Lourdes, Pelindung Perancis dan seluruh dunia, menyertai kita dengan doa-doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita senantiasa menimba dari aliran air kehidupan kekal yang mengalir dari Hati Kudus Putra-Nya, sehingga kita dapat selalu berdiri teguh dalam Iman, melayani dan mengusahakan segala karunia dan talenta dari-Nya dengan hasil yang berlipat ganda, serta menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini bukan dengan kekerasan dan teror, melainkan dengan kuasa Cintakasih.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 10 Agustus 2015 ~ Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir

image

MILIKILAH IMAN YANG BERSAKSI

Bacaan:
2Kor.9:6-10; Mzm.112:1-2,5-6,7-8,9; Yohanes.12:24-26

Renungan:
Hari ini, Gereja Roma mengajak kita untuk merenungkan dalam perayaan suci akan kemartiran St. Laurensius, seorang Diakon Agung dalam Keuskupan Roma yang menerima mahkota kemartiran pada abad-3.
Kemartiran St. Laurensius mengingatkan kita bahwa mengikuti jejak Kristus (imitatio Christi) berarti menyatakan kesiapsediaan menjadi saksi Kristus, apapun risikonya, termasuk bilamana karena iman akan Dia mengakibatkan kita harus kehilangan segala-galanya, bahkan nyawa kita sendiri.
Tertulianus mengatakan, “Darah para Martir adalah Benih bagi Gereja.
Gereja tumbuh dan berkembang karena kesaksian hidup dan kemartiran putra-putri Gereja.
Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes.12:24)

Kekristenan saat ini berada dalam masa paling suram sejak didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun lalu.
Kita dipanggil untuk mewartakan iman kita dengan berbagai cara, melebihi masa-masa sebelumnya.
Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar-tawar. Di tengah krisis dalam hidup beriman saat ini, kita diingatkan akan panggilan kita untuk bersaksi, apapun risikonya.
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yoh.12:25)
Tidak ada ruang untuk bersikap setengah hati dalam beriman, kita tidak pernah boleh mencintai Allah dan Gereja-Nya dengan hati suam-suam kuku.
Sekalipun mungkin tidak semua orang beriman akan mengalami kemartiran sehebat St. Laurensius, kita tidak boleh lengah untuk menyadari bahwa para pengikut Kristus saat ini diperhadapkan pada berbagai bentuk kemartiran baru. Apapun panggilan, profesi kerja, karya kerasulan dan pelayanan yang kita lakukan, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya, dan jadilah seorang Katolik yang sejati.
Seorang dokter harus berani mempertahankan kehidupan bukan melenyapkan kehidupan, yaitu dengan mengatakan tidak pada aborsi, euthanasia, promosi alat kontrasepsi, dan berbagai tindakan medis lainnya yang bertentangan dengan Iman Kristiani.
Orang tua dalam keluarga Kristiani hendaknya membesarkan anak-anak mereka dalam kelimpahan cinta, dan tidak pernah lupa untuk mewariskan iman.
Seorang hakim menjatuhkan keputusan dengan adil atas suatu perkara, bukannya dibutakan oleh uang suap untuk memenangkan pihak yang bersalah.
Apapun profesi kerjamu, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya untuk menguduskan pekerjaanmu, dan memenangkan jiwa-jiwa karena kerasulan di tengah pekerjaanmu.
Gereja Katolik boleh saja memiliki anggota umat yang sukses, sekolah dan universitas yang bermutu, rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang ternama, bangunan Gereja Katedral dan Basilika yang indah dan megah. Akan tetapi, kalau itu semua tidak disemangati oleh karya kerasulan untuk bersaksi dan berbuah, untuk membawa lebih banyak orang menjadi pengikut Kristus, untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, untuk membawa seluruh dunia ke dalam pangkuan Bunda Gereja, maka segala karya itu adalah karya yang mandul, prestise sia-sia, dan ungkapan iman dangkal yang tidak berbuah.

Anda boleh saja menyebut diri seorang rasul Kristus, tetapi kalau tidak ada jiwa yang dimenangkan, tidak ada yang dikurbankan, sesungguhnya anda bukanlah pengikut Kristus.
Semoga St. Laurensius yang kita peringati hari ini mengingatkan kita, bahwa sebagai putra-putri Gereja, kita dipanggil untuk berdiri di tengah dunia bukan untuk kehilangan nyawa dalam kesia-siaan, melainkan kehilangan nyawa guna memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, sehingga pada akhirnya kita beroleh mahkota kemuliaan dalam kehidupan kekal.
Santa Laurensius, Diakon & Martir, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, Ratu para Martir, sertailah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 6 Agustus 2015 ~ Pesta Tuhan Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

image

KALAHKANLAH DUNIA UNTUK KEMULIAAN

Bacaan:
Dan.7:9-10,13-14; Mzm.97:1-2,5-6,9; 2Ptr.1:6-19; Mrk.9:2-10

Renungan:
Hari ini Gereja merayakan peristiwa Yesus berubah rupa dalam kemuliaan, didampingi nabi Musa yang memberikan hukum Tuhan bagi Israel, dan Nabi Elia sebagai yang terbesar dari para Nabi perjanjian lama, serta disaksikan oleh ketiga rasul, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes.
Perayaan ini semakin bermakna dalam hidup kekristenan sekarang ini, yang kini ditandai dengan perjuangan untuk melawan arus dunia, disaat hampir semua orang justru mengikuti dengan tahu dan mau akan nilai-nilai baru yang bertentangan dengan Iman Kristiani, dan disaat semakin banyak jiwa kini terseret arus dunia yang menyesatkan.
Panggilan kita adalah panggilan untuk mengalami misteri salib agar beroleh kemuliaan.
Di masa sekarang ini kita dituntut untuk lebih berani lagi mewartakan iman, apapun konsekuensinya, meskipun harus bertentangan dengan pandangan mayoritas. Untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, membawa damai di tengah konflik, di tengah desakan radikalisme dan fanatisme, memperjuangkan martabat pernikahan dan keluarga yang sejati, mempertahankan nilai-nilai kehidupan, dan melawan budaya kematian. Sementara itu, secara pribadi kita pun bergumul dalam pemurnian diri, untuk melepaskan keterikatan dan persahabatan dengan dosa, sehingga pada akhirnya menjadi pemenang dalam Iman.

Tentu saja, berbagai bentuk pergumulan tadi mengharuskan kita untuk turun ke dalam lembah kekelaman, serta mengalami penderitaan teramat hebat.
Itulah sebabnya kemuliaan dan sukacita Tabor seolah memberikan penghiburan dan penguatan, bahwa bila kita setia menapaki jalan salib dalam peziarahan hidup ini, pada akhirnya kita akan turut serta mengalami kemuliaan bersama Tuhan.
Peristiwa Transfigurasi adalah antisipasi sukacita surga yang memberikan penghiburan rohani bahwa kelak, bagi mereka yang setia dalam karya kerasulan, inilah ganjaran yang akan diterimanya. Ganjaran kebahagiaan tak terkatakan bersama para Kudus, dalam kemuliaan dan persatuan cinta Allah Tritunggal Mahakudus.
Maka, janganlah cemas, kuatir atau gentar. Kuatkanlah hati, sekalipun kamu harus melawan arus, dibenci, menderita, bahkan kehilangan nyawamu karena tidak mau menyamakan diri dengan dunia ini.
Sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita peroleh kelak.
Kalahkanlah dunia, dan engkau akan beroleh ganjaran kemuliaan kekal

Semoga Perawan Suci Maria senantiasa menemani kita dan menjadi Bintang Timur untuk menunjukkan jalan yang aman, agar pada senja hidup kita boleh tiba di tanah air surgawi, serta mengambil bagian dalam kemuliaan Yesus, Putra-nya.

Pax, in aeternum.
Fernando